Elara Vance mengira hidupnya di London akan tenang setelah lulus kuliah seni. Namun, satu kesepakatan rahasia ayahnya menyeret Elara ke dunia Julian Moretti—pengusaha muda dengan pengaruh luar biasa yang gerak-geriknya selalu dipenuhi misteri. Demi melindungi keluarganya, Elara setuju untuk masuk ke dalam sebuah pernikahan kontrak.
Julian itu dingin dan penuh kendali, namun ia memiliki satu aturan: tidak boleh ada yang menyentuh Elara selain dirinya. Di balik kemewahan mansion Moretti, Elara harus mencari tahu siapa pria itu sebenarnya, sambil menyembunyikan cincin rahasia di jarinya yang menjadi tanda bahwa ia adalah milik sang penguasa bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KONFRONTASI DI BALIK PINTU JATI
Mansion Moretti malam itu terasa lebih seperti makam daripada rumah. Begitu pintu depan tertutup, Julian melepas jasnya dan melemparkannya ke kursi tanpa mengalihkan pandangan dari Elara. Suasana sunyi di lobi terasa mencekam, seolah-olah udara pun takut untuk bergerak.
"Masuk ke ruang kerjaku, Elara. Sekarang," perintah Julian. Nada suaranya tidak tinggi, namun mengandung getaran otoritas yang membuat Elara refleks merapatkan mantelnya.
Elara tidak bergerak. Ia berdiri kokoh di tengah lobi, tangannya mencengkeram tas kecil tempat ponselnya masih menyala dengan pesan mengerikan itu. "Nggak. Aku mau penjelasan sekarang."
Julian berhenti melangkah. Ia berbalik perlahan, menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara amarah yang tertahan dan kekecewaan. "Penjelasan tentang apa? Tentang pria di pesta tadi? Atau tentang alasan kenapa kau mencoba mematikan pelacak di cincinmu?"
Jantung Elara mencelos. Dia tahu segalanya.
"Kau menjadikanku umpan, kan?" tuduh Elara, suaranya naik satu oktav. "Kau bilang Ayah aman. Kau bilang ini demi bisnis. Tapi nyatanya, kau cuma menggunakanku untuk mendapatkan sesuatu yang Ayah simpan!"
Julian melangkah mendekat. Kali ini, ia tidak berhenti sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Dominasinya terasa menyesakkan. "Aku melindungimu, Elara. Tanpa aku, orang seperti pria tadi sudah akan menguliti informasi darimu dengan cara yang jauh lebih kasar."
"Melindungiku atau mengurungku?" Elara mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan koordinat itu tepat di depan wajah Julian. "Seseorang bilang kau bohong soal Ayah. Di mana dia sebenarnya, Julian? Katakan yang jujur!"
Wajah Julian mengeras. Ia merebut ponsel itu dari tangan Elara dengan gerakan secepat kilat. Matanya membaca pesan itu, dan untuk sesaat, Elara melihat kilatan emosi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—keraguan yang sangat tipis.
"Siapa yang mengirim ini?" tanya Julian, suaranya kini berubah menjadi bisikan tajam.
"Kenapa? Kau takut kebohonganmu terbongkar?" tantang Elara, matanya mulai berkaca-kaca karena marah dan takut yang bercampur menjadi satu. "Kalau kau memang jujur, antar aku ke tempat Ayah sekarang juga. Buktikan kalau dia aman!"
Julian mencengkeram bahu Elara. Bukan genggamannya yang membuat Elara takut, tapi keyakinan dalam tatapan Julian bahwa pria itu merasa dirinya benar.
"Kau tidak mengerti dunia ini, Elara. Kebenaran adalah kemewahan yang tidak bisa kuberi padamu malam ini. Jika kau pergi ke koordinat itu, kau sama saja menyerahkan nyawamu secara sukarela."
"Aku lebih memilih mati mencari Ayah daripada hidup dalam kebohonganmu!" Elara mencoba melepaskan diri, namun Julian justru menariknya lebih dekat.
"Dengarkan aku baik-baik," ucap Julian, napasnya terasa hangat namun atmosfer di antara mereka tetap membeku. "Ayahmu berada di tempat yang paling aman yang bisa disediakan oleh uang dan kekuasaan. Pesan ini adalah umpan yang sebenarnya. Mereka ingin kau keluar dari perlindunganku."
"Aku nggak percaya lagi padamu," bisik Elara pedih.
Julian menatap mata Elara dalam-dalam. Ada keheningan panjang di antara mereka, di mana hanya suara detak jam besar di lobi yang terdengar. Tiba-tiba, Julian melepaskan Elara. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kuno berukuran kecil.
"Kau ingin bukti?" Julian memberikan kunci itu pada Elara. "Gunakan kunci ini untuk membuka laci paling bawah di meja kerjaku. Ada satu dokumen di sana yang ayahmu titipkan padaku sebelum dia pergi."
Elara menatap kunci itu dengan ragu. "Apa isinya?"
"Kejujuran yang kau minta," jawab Julian dingin. "Tapi ingat satu hal, Elara. Sekali kau membukanya, kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi gadis biasa. Kau akan resmi menjadi bagian dari permainan ini."
Julian berbalik dan berjalan menuju tangga tanpa menoleh lagi. Elara berdiri sendirian, menggenggam kunci itu seolah itu adalah jantung dari rahasia keluarga Moretti. Dengan langkah berat, ia menuju ruang kerja Julian. Saat kunci itu memutar dan laci terbuka, aroma kertas tua menyeruak.
Elara menarik sebuah map hitam. Tangannya refleks menutup map itu saat melihat foto pertama—lalu membukanya lagi dengan napas tertahan, memastikan ini bukan ilusi.
Di foto itu, ayahnya berdiri gagah di samping seorang pria yang sangat mirip dengan Julian. Keduanya mengenakan seragam taktis hitam tanpa atribut resmi. Di bawahnya, tertulis tinta merah yang sudah mengering:
PROYEK SILK & STEEL - JAMINAN ASET 01.
Dunia Elara seolah runtuh. Ia bukan sekadar anak dari seorang pecundang yang berutang. Ada sejarah berdarah yang menghubungkan keluarganya dengan Moretti jauh sebelum ia lahir. Dan nama 'Silk' yang disebut pria misterius di pesta tadi... ternyata merujuk pada dirinya sendiri.