Lanjutan novel kultivator pengembara
Jian Feng berakhir mati dan di buang ke pusaran reinkarnasi dan masuk ke tubuh seorang pemuda sampah yang di anggap cacat karena memiliki Dantian yang tersumbat.
Dengan pengetahuannya Jian Feng akan kembali merangkak untuk balas dendam dan menjadi yang terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Perpustakaan Terlarang
Langkah kaki Jian Feng bergema di lorong sunyi menuju Paviliun Pustaka Terlarang milik Keluarga Xiao.
Tempat ini adalah jantung dari pengetahuan klan, sebuah menara batu kuno yang dilindungi oleh segel energi tingkat menengah yang bagi Jian Feng terlihat seperti anyaman bambu rapuh. Namun, bagi praktisi biasa, segel ini adalah batas antara kehidupan dan kematian.
Dengan token perak yang ia paksa dapatkan dari ayahnya, Jian Feng melewati pintu gerbang besar berbahan kayu eboni.
Aroma kertas tua, debu, dan energi murni yang terperangkap segera menyambut indranya.
"Satu bulan," gumam Jian Feng sembari menatap ribuan gulungan yang tersusun rapi hingga ke langit-langit. "Waktu yang cukup untuk mengubah raga sampah ini menjadi senjata pemusnah."
Di sudut ruangan, tumpukan sepuluh ribu batu energi dan puluhan botol pil Qi tingkat menengah sudah tersusun rapi, diantar oleh Xi Lian yang gemetar.
Pelayan itu kini menjadi satu-satunya orang yang dipercaya Jian Feng untuk masuk ke zona pribadinya.
Tanpa membuang waktu, Jian Feng duduk bersila di tengah formasi batu energi tersebut, menciptakan pusaran hisap yang mulai melahap esensi alam secara rakus.
Di minggu pertama, saat energi Qi mulai membanjiri meridiannya untuk menembus ranah Arus Qi, Jian Feng memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat berisiko: Infiltrasi Jiwa terdalam.
Ia memejamkan mata dan menarik kesadarannya jatuh ke dalam kegelapan total di pusat pikirannya.
Di sana, di sebuah ruang kosong yang luas dan dingin, Jian Feng melihat sebuah gumpalan cahaya kecil yang bergetar hebat di pojok ruangan.
Itu adalah jiwa Xiao Feng yang asli.
Sosok itu tampak seperti remaja yang hancur, meringkuk memeluk lututnya sendiri dengan wajah yang dipenuhi trauma.
Ia tidak musnah saat Jian Feng masuk; ia hanya terdorong ke sudut paling gelap oleh dominasi jiwa sang penguasa langit.
"Jadi, kau masih di sini, bocah?" suara Jian Feng bergema di ruang batin tersebut.
Jiwa Xiao Feng mengangkat wajahnya yang pucat. Matanya kosong, mencerminkan penderitaan bertahun-tahun akibat penghinaan dan pemukulan. "Siapa... siapa kau? Kenapa kau begitu kuat? Kenapa kau menggunakan tubuhku?"
Jian Feng berjalan mendekat, langkah jiwanya memancarkan otoritas yang menenangkan namun tak tergoyahkan. "Aku adalah jawaban atas harapan-harapan putus asamu. Kau menyerah pada hidup karena kau pikir dunia ini hanya berisi kegelapan. Aku di sini bukan untuk membantaimu, tapi untuk menunjukkan padamu bagaimana seorang raja membalas dendam."
"T-tapi... mereka adalah keluargaku..." bisik Xiao Feng dengan ragu.
"Keluarga?" Jian Feng tertawa dingin. "Keluarga tidak membiarkan anggotanya mati kelaparan dan memukulinya hingga sekarat. Tidurlah, bocah. Biarkan aku menanggung beban kemarahan ini. Saat kau bangun nanti, kau akan mendapati namamu telah mengguncang benua ini."
Dengan satu sentuhan lembut, Jian Feng menidurkan sisa kesadaran Xiao Feng, mengintegrasikan sebagian ingatan asli tubuh tersebut tanpa menghancurkan esensinya. Ia kini memiliki akses penuh pada memori otot dan rahasia kecil keluarga Xiao.
Kembali ke dunia nyata, tubuh Jian Feng mulai memancarkan cahaya biru dan emas yang bergantian.
Dalam dua minggu pertama, ia berhasil melompati ranah Arus Qi (Tingkat 1-10) dengan kecepatan yang akan membuat jenius mana pun muntah darah karena iri.
Strateginya sederhana namun mematikan: Ia mengonsumsi sepuluh ribu batu energi bukan untuk disimpan, melainkan untuk meledakkan sumbatan di setiap titik meridiannya.
Setiap kali pembuluh darahnya pecah karena tekanan energi, ia menggunakan Teknik Penyatuan elemen air untuk menyembuhkannya secara instan, menciptakan siklus penghancuran dan regenerasi yang memperkuat raganya sepuluh kali lipat.
Memasuki minggu ketiga, Jian Feng mulai menyentuh ranah Inti Qi.
KRIIIIET!
Suara gesekan energi terdengar dari dalam tubuhnya. Di pusat Dantian-nya, uap Qi yang bergejolak mulai memadat, membentuk sebuah pusaran cair yang perlahan-lahan mengeras menjadi sebuah kristal bening.
"Baru tingkat 3 Inti Qi?" Jian Feng mengernyitkan dahi, tidak puas dengan kemajuannya. "Energi di tempat ini terlalu tipis. Aku butuh pemicu yang lebih ekstrem."
Ia mengambil gulungan teknik terlarang dari rak tertinggi perpustakaan—sebuah teknik bernama "Napas Guntur Surgawi: Pemadatan Paksa". Teknik ini sangat berbahaya karena jika gagal, jantung penggunanya akan meledak. Namun bagi Jian Feng, ini hanyalah permainan anak kecil.
Di bawah guyuran energi dari batu-batu yang tersisa, ia mulai memutar intinya dengan kecepatan cahaya.
Hari ke-28.
Seluruh perpustakaan terlarang bergetar hebat. Buku-buku beterbangan tertiup badai Qi yang tercipta dari tubuh Jian Feng.
Xi Lian yang berdiri di depan pintu hanya bisa jatuh terduduk, merasakan tekanan yang bahkan lebih mengerikan daripada saat ia berhadapan dengan Kepala Keluarga.
Jian Feng membuka matanya. Pupilnya kini memiliki pola lingkaran emas yang rumit.
"Inti Qi... Tingkat 7," desisnya.
Dalam satu bulan, ia telah melompat dari praktisi sampah ke tingkat yang setara dengan para murid jenius.
Namun, ia tahu ini baru permulaan. Masih ada tiga tingkat lagi sebelum ia bisa menyentuh ranah Penyatuan Roh, dan bagian kedua dari transformasinya baru saja akan dimulai.
"Sekarang," Jian Feng berdiri, debu di sekelilingnya langsung terlempar menjauh. "Mari kita lihat teknik tempur apa yang bisa kuhancurkan hari ini."
thor lu kaya Jiang Feng