Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula
Kilas-Balik
Di Lampu merah itu adalah awal dari segalanya, namun sekolah adalah tempat di mana kutukan itu benar-benar dimulai.
Seantero SMA Garuda tahu satu hukum tidak tertulis: Jangan menyentuh Zayden Abbey. Bukan hanya karena dia bisa meratakan hidung orang dalam hitungan detik, tapi karena dia adalah personifikasi dari es kutub.
Dingin, kaku, dan tidak peduli.
Zayden tidak pernah pacaran, tidak pernah melirik siswi secantik apa pun, dan hanya bicara pada empat pengawalnya yang berisik.
Sampai hari itu tiba. Hari di mana Dia Melihat Gadis Cantik Bermata Dingin, di lampu Merah.
Dan Ternyata, Gadis Lampu merah itu, Juga Anak Baru Di sekolahnya, bernama Anastasia Amy.
Amy datang dengan mobil mewah yang berhenti tepat di depan gerbang, membuat barisan motor geng Zayden harus menepi. Dia turun dengan sepatu tinggi yang mengetuk aspal dengan angkuh. Wajahnya cantik, namun tatapannya seolah mengatakan bahwa semua orang di sekolah ini hanyalah butiran debu.
"Itu cewek yang di lampu merah kemarin, kan?" bisik Dio, menyikut Zayden. "Gila, ternyata dia pindah ke sini? Habis lo, Bos. Dia lebih dingin dari freezer warung mpok Siti."
Zayden terdiam. Jantungnya yang biasanya sedingin es, mendadak terasa seperti mesin motor yang dipaksa stater berkali-kali. Ada sesuatu yang aneh. Zayden yang dikenal sebagai Panglima Dingin, mendadak merasa identitasnya terancam.
"Gue harus samperin," ucap Zayden datar.
Zayden berjalan mencegat Amy di koridor utama. Murid-murid lain menahan napas. Mereka mengira akan ada perang besar. Dua kutub es akan bertabrakan.
"Lo... cewek lampu merah," kata Zayden, berusaha menjaga suaranya tetap berat dan berwibawa.
Amy berhenti. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Zayden dengan pandangan yang bisa membekukan aliran darah. "Dan kamu... cowok polusi. Minggir. Kamu menghalangi jalan saya menuju kelas."
"Gue Zayden. Penguasa di sini," Zayden mencoba menekan.
Amy mendengus remeh. "Penguasa? Kamu bahkan nggak bisa menguasai tata bahasa kamu sendiri. Minggir, atau saya beli sekolah ini dan saya jadikan kamu satpam parkir."
Amy menabrak bahu Zayden dan berjalan terus. Teman-teman Zayden berlari mendekat, siap membela bos mereka.
"Bos! Kurang ajar banget itu cewek! Mau kita kempesin bannya?" seru Gara emosi.
Namun, mereka berhenti saat melihat wajah Zayden. Sang Panglima tidak marah. Matanya kosong, mulutnya sedikit terbuka, dan pipinya... memerah.
"Bos? Lo oke?" tanya Bima heran.
"Guys..." suara Zayden berubah. Tidak lagi berat dan mengancam, tapi lembut dan rapuh seperti kapas. "Gue rasa... gue baru aja ketemu malaikat maut yang cantik banget. Dada gue sesek. Ini yang namanya jatuh cinta?"
Dio melongo. "Bos, lo jangan jadi dua orang gini dong! Tadi garang, sekarang kok jadi kayak anak TK kehilangan permen?"
Inilah rahasia yang hanya diketahui gengnya, Zayden Abbey adalah anomali. Di luar dia adalah bad boy tak tersentuh, tapi di dalam, dia adalah cowok yang terlalu perasa, puitis, dan sedikit... soft.
.
.
Sore itu, tawuran pecah di area konstruksi belakang sekolah. Lawan sudah siap dengan kayu dan batu. Zayden berdiri di depan, wajahnya kembali ke mode Panglima. Dingin dan mematikan.
"Serang!" teriak Zayden.
Namun, di tengah hiruk pikuk teriakan, Zayden melihat mobil Amy lewat di jalan raya samping area konstruksi.
Seketika, Zayden berhenti di tengah lapangan. Seorang lawan berlari ke arahnya sambil membawa balok kayu.
"BOS! AWAS!" teriak Hendi panik.
Zayden menghindar dengan gerakan refleks yang gila, lalu menangkap balok kayu itu dengan satu tangan. Tapi bukannya membalas, Zayden malah melamun menatap mobil Amy yang menjauh.
"Satu derajat celcius..." gumam Zayden di tengah tawuran.
"Bos! Fokus! Lo mau mati?!" Dio menendang lawan yang mendekat.
Zayden menghela napas puitis. "Gimana gue bisa fokus berantem, kalau bayangan Amy terus-terusan tawuran di pikiran gue?"
Zayden tiba-tiba melempar balok kayu itu ke sembarang arah. "Woi semua! Berhenti! Gue nggak mood berantem!"
Lawan dan kawan sama-sama bingung. Zayden mengambil secarik kertas dari kantong tersembunyi di jaket kulitnya, kertas yang sudah ia siapkan sejak jam istirahat.
"Dengerin ya, lawan-lawan ku yang budiman," Zayden berdehem. "Daripada kita memar, mending kita dengerin sajak gue buat Amy.
Wahai gadis pindahan yang hatinya sedingin salju..."
"KABURRR! BOS KITA RESMI GILA!" teriak lawan-lawannya yang malah lari ketakutan karena mengira Zayden sedang merapalkan mantra ilmu hitam.
Zayden cemberut. "Padahal rima-nya udah dapet. Dasar manusia nggak punya selera seni."
Ia menoleh ke arah Dio. "Yo, menurut lo, Amy suka nggak ya kalau gue kirimin bunga mawar tapi tangkainya gue ganti sama kabel kopling?"
Dio menepuk jidatnya keras-keras. "Bos, mending lo pukul gue aja sekarang. Sumpah, gue lebih milih liat lo berantem daripada liat lo jatuh cinta!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 😍😍