NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan dari Mr. A

Suasana di VIP lounge klub malam itu terasa lebih intim dari biasanya. Dentuman musik di luar hanya terdengar samar, tertutup oleh gelak tawa Henry dan gumaman Clark yang masih saja menatap tabletnya, menganalisis fluktuasi pasar saham seolah-olah grafik itu adalah hiburan paling menarik di dunia.

Lucia, yang sedari tadi menyesap koktailnya, tiba-tiba meletakkan gelasnya dengan denting yang tajam. Ia menatap Julius yang duduk tenang di sofa tunggalnya, tampak seperti raja yang sedang beristirahat.

"Jules, jujur deh," Lucia memajukan tubuhnya. "Lo punya perasaan kan sama Jane?"

Julius tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap es batu yang berputar di gelas wiskinya. Namun, Clark mendongak dari tabletnya, menyela sebelum Julius sempat membuka suara.

"Mana mungkin dia nggak punya perasaan, Lucia. Lo pikir Julius itu kurang kerjaan?" Clark mendengus. "Dia pesan khusus liontin kristal itu pakai nama gue. Dan tahu nggak apa yang terjadi? Mommy gue langsung nelpon, dia ngomel-ngomel! Dia bilang gue diikutin gadis matre karena gue dianggap gila beli barang semahal itu cuma buat satu cewek. Gue yang kena semprot, padahal yang bayar si es batu ini."

Henry tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak. "Serius, Clark? Tante Maria sampai turun tangan? Wah, Jules, lo bener-bener niat banget nyembunyiin jejak, ya."

Julius akhirnya menoleh, sebuah senyum miring yang langka muncul di wajahnya. "Aku butuh kerahasiaan. Dan Clark adalah tameng yang paling meyakinkan."

"Tapi sampai kapan?" Lucia mendesak. "Si nenek sihir Grace itu makin agresif di kampus. Kasihan Jane, dia kelihatan bingung antara kenyataan dan drama yang lo buat."

Henry tiba-tiba menjentikkan jarinya, matanya berkilat nakal. "Gue punya ide brilian! Gimana kalau kita ngerencanain perjalanan lagi? Tapi kali ini bukan pantai yang manja. Kita pergi berkemah di hutan atau mendaki gunung. The wild! Di sana nggak ada kamera paparazzi, nggak ada Grace, dan cuma ada kita. Lo bisa bener-bener jadi diri sendiri di depan Jane tanpa takut naskah lo bocor."

"Mendaki gunung?" Patrick menyahut dari pojok. "Lo mau nyiksa Jane atau mau PDKT, Hen?"

"Justru itu seninya!" Henry bersemangat. "Di gunung, insting pelindung bakal keluar. Jane bakal butuh sandaran, dan siapa lagi sandarannya kalau bukan si Matahari kita ini?"

Julius terdiam. Ia membayangkan Jane yang mungil harus berjuang mendaki jalan setapak yang terjal. Ia membayangkan dinginnya udara hutan dan bagaimana ia bisa menyelimuti Jane dengan jaketnya tanpa ada mata-mata keluarga Randle yang mengawasi.

"Hutan, ya..." Julius bergumam pelan. Idenya mulai berputar di kepalanya. "Persiapkan semuanya, Henry. Pastikan lokasinya privat. Aku yang akan mengatur agar Profesor Han memberikan izin riset botani atau semacamnya."

"Nah, gitu dong! Ini baru bos gue!" Henry bersulang.

Jane yang sedang berada di apartemennya, baru saja selesai mencuci muka ketika ponselnya bergetar.

Mr. A: Ms. J, siapkan sepatu botmu. Aku meramalkan dalam waktu dekat, 'Matahari' akan membawamu ke tempat di mana pohon-pohon lebih tinggi dari gedung pencakar langit. Tempat di mana udara dingin akan memaksamu untuk mencari kehangatan pada orang yang paling dekat dengannya.

Jane mengerutkan kening. Gunung? Hutan?

Ms. J: Mr. A, ramalanmu mulai aneh. Julius Randle itu orang kota yang sangat bersih. Mana mungkin dia mau berkotor-kotor di hutan? Kau pasti salah lagi.

Di klub, Julius tersenyum melihat balasan Jane di ponsel rahasianya.

Mr. A: Mungkin dia memang suka kebersihan, tapi dia jauh lebih suka melihatmu tersipu di bawah cahaya api unggun di tengah hutan yang sunyi. Kita lihat saja, siapa yang kali ini salah meramal.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!