menceritakan seorang siswi bernama Aria putri siswi dingin dan Sasha arka siswi berandalan, menceritakan keseharian mereka di sekolah dan teman baru di tahun terakhir sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 17
Ketegangan di depan kantor OSIS mencapai puncaknya. Raka masih terus menghujani Aria dengan kata-kata pedas yang menyudutkan
, sementara Aria hanya bisa terdiam menahan malu di depan puluhan pasang mata.
Namun, kerumunan itu mendadak terbelah saat Yudas melangkah maju dengan aura yang sangat berbeda dari biasanya.
Raka, yang merasa posisinya kuat, menoleh ke arah Yudas. "Yudas? Ada apa? Ini urusan internal OSIS, kau tidak perlu—"
Belum sempat Raka menyelesaikan kalimatnya, Yudas mengambil langkah lebar. Tanpa aba-aba dan tanpa basa-basi, ia melayangkan tinju kanannya dengan sangat kuat.
*BUGH!*
Suara hantaman itu terdengar sangat nyaring. Pukulan telak itu mendarat tepat di pipi Raka, membuatnya terhuyung ke belakang dan hampir tersungkur ke lantai.
Seluruh murid yang melihatnya berteriak histeris. Suasana yang tadinya penuh bisikan berubah menjadi sunyi senyap karena syok.
Raka memegangi pipinya yang mulai membiru, menatap Yudas dengan kemarahan sekaligus kebingungan. "Apa-apaan kau, Yudas?! Apa maksudnya pukulan ini?!"
Yudas mengibaskan tangannya pelan, menatap Raka dengan tatapan dingin yang menusuk. "Tidak ada maksud khusus. Aku hanya sedikit kesal saja mendengar mulut tajammu itu terus-menerus menyalak tanpa bukti. Kau berisik sekali pagi-pagi begini."
Yudas kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah sedikit terlipat.
Ia mengangkat kertas itu tinggi-tinggi agar semua orang bisa melihatnya. "Apakah kertas ini yang kalian cari-cari sampai harus membuat keributan seperti di pasar?"
Raka menyambar kertas itu dengan kasar, matanya membelalak saat memeriksa isinya.
Itu adalah lembar rekapitulasi akhir laporan keuangan dana OSIS—dokumen yang hilang tersebut. "Di mana... di mana kau mendapatkan ini?" tanya Raka dengan suara yang mengecil.
Yudas melirik ke arah Lily yang masih mematung. "Kemarin sore, Lily berlari terburu-buru membawa kardus dan menabrakku di koridor. Dia menjatuhkan kertas-kertasnya, dan saat dia pergi, kertas satu ini tertinggal di bawah loker. Aku ingin memberikannya, tapi dia sudah menghilang."
Mendengar penjelasan itu, Lily langsung lemas.
Ia menyadari kelalaiannya yang hampir menghancurkan reputasi Aria. Lily jatuh terduduk, berjongkok di lantai sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah seketika.
"Maafkan aku... Maafkan aku, Kak Aria! Aku benar-benar panik kemarin sampai tidak sadar ada yang tertinggal," isak Lily di tengah kerumunan.
Suasana mencekam itu perlahan mencair. Para siswa yang tadi ikut menyalahkan Aria mulai merasa bersalah dan satu per satu membubarkan diri.
Raka, yang kini sadar bahwa dirinya telah bertindak terlalu jauh, menundukkan kepalanya di hadapan Aria.
"Aria... aku minta maaf. Aku terlalu emosional karena tenggat waktu hari ini. Aku tidak seharusnya menyudutkanmu seperti tadi," ucap Raka dengan nada menyesal.
Aria hanya menghela napas panjang, matanya menunjukkan rasa lelah yang luar biasa namun juga lega.
Di sudut koridor, Sasha yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal hingga akhir hanya berdecak lidah.
"Cih, drama picisan yang membosankan," gumam Sasha sinis.
Ia memutar tubuhnya, memasukkan tangan ke saku seragam, dan berjalan pergi menuju kelasnya tanpa memedulikan permintaan maaf yang sedang berlangsung.
Baginya, keadilan sudah ditegakkan, dan ia tidak perlu berlama-lama di sana.
---
Suasana di dalam kelas 3-1 perlahan mulai kembali normal setelah badai keributan di depan kantor OSIS mereda.
Aria duduk di bangkunya, mencoba mengatur napas dan menenangkan pikirannya yang sempat kacau. Namun, ketenangannya tidak bertahan lama ketika Sasha datang menghampiri.
Tanpa mempedulikan tata krama, Sasha langsung melompat dan duduk di atas meja yang tepat berada di samping meja Aria.
Ia menatap Aria dengan pandangan tidak puas, matanya menyipit tajam.
"Hoi, Ketua OSIS," panggil Sasha dengan nada sinis. "Kenapa pula kau memaafkan si kacamata itu begitu saja? Dia sudah mempermalukanmu di depan semua orang, menuduhmu seperti pencuri, dan kau hanya bilang 'tidak apa-apa'?"
Aria mendongak, menatap Sasha dengan sisa kelelahan di matanya. "Itu hanya salah paham karena situasi yang mendesak, Sasha. Untuk apa membesarkan masalah yang sudah jelas ujung pangkalnya? Menyimpan dendam hanya akan membuang energiku saja."
Indah, yang rupanya mengikuti mereka hingga ke kelas, berdiri di samping meja mereka sambil tersenyum lega.
Ia menoleh ke arah Yudas yang baru saja meletakkan tasnya di kursi belakang.
"Syukurlah masalahnya cepat selesai," ujar Indah riang sambil menyenggol bahu Yudas dengan akrab. "Ini semua berkat bantuanmu, Kak Yudas. Kalau bukan karena kertas yang kau simpan itu, entah apa yang akan terjadi pada Kak Aria."
Yudas hanya tertawa kecil, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gaya khasnya yang santai. "Ah, itu hanya kebetulan saja, Indah. Kebetulan aku lewat sana, kebetulan dia menabrakku, dan kebetulan kertas itu jatuh di dekat kakiku. Anggap saja keberuntungan sedang berpihak pada kita."
Sasha mendengus keras mendengar jawaban rendah hati Yudas. Ia mengepalkan tangannya di atas lutut, memberikan tatapan yang sangat mengancam. "Kebetulan atau tidak, kau beruntung karena sudah mendahuluiku. Jika saja kau tidak datang dan memukulnya duluan, sudah kupastikan aku yang akan maju dan mematahkan tangan anak sombong itu di depan semua orang."
Mendengar ancaman brutal yang keluar dari mulut Sasha, Indah dan Yudas justru tertawa terbahak-bahak.
Mereka tahu bahwa Sasha tidak main-main dengan ucapannya, namun cara Sasha menyampaikannya di tengah situasi yang baru saja tenang terasa sangat konyol.
"Kau benar-benar tidak punya rem ya, Sasha?" goda Yudas sambil masih tertawa.
Bahkan Aria pun tak tahan untuk tidak menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tulus.
Meski Sasha kasar dan penuh kekerasan, Aria tahu bahwa di balik itu semua, Sasha adalah orang pertama yang siap pasang badan untuk membelanya.
Kelas yang tadinya tegang kini dipenuhi oleh tawa ringan, menutup drama pagi itu dengan kehangatan yang tak terduga.
Bersambung...