Cerita mengikuti Chen Wei, seorang pemuda dari keluarga Cina yang menjadi penerus kekuatan Mata Naga Biru – salah satu dari tiga artefak kuno yang mampu membangkitkan atau mengalahkan Kaisar Naga, makhluk yang pernah hampir menghancurkan dunia. Setelah kampung halamannya dihancurkan oleh Sekte Darah Naga yang mencari ketiga mata naga untuk menguasai dunia, Chen Wei memulai perjalanan panjang untuk melindungi artefak tersisa, belajar mengendalikan kekuatan naga dalam dirinya, dan mengumpulkan sekelompok sahabat yang setia.
Melalui ujian yang penuh bahaya, pertempuran dengan musuh yang kuat, dan pengungkapan rahasia sejarah keluarga serta hubungan dengan musuhnya, Chen Wei harus memilih antara menggunakan kekuatan untuk membalas dendam atau untuk melindungi keseimbangan alam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Air Mata Dan Api Perang
Setelah gerbang benteng runtuh, Chen Wei dan kelompoknya memasuki jantung kegelapan yang telah menyiksa dunia ini selama berabad-abad. Koridor-koridor yang panjang dan kelam mengarah ke dalam kedalaman yang tidak terbayangkan, dindingnya dihiasi dengan lukisan-lukisan mengerikan yang menceritakan sejarah kehancuran dan penderitaan. Udara terasa berat dengan kesedihan dan dendam, seolah setiap batu di benteng ini menyimpan luka dari jiwa-jiwa yang tertindas.
Di sudut koridor yang gelap, mereka menemukan seorang wanita muda yang terluka parah, mengenakan gaun putih yang kini penuh dengan kotoran dan darah. Dia duduk bersandar pada tembok, mata matanya tertuju pada sesuatu yang tidak terlihat, tangan kirinya erat memegang sebuah kalung dengan liontin berbentuk bunga mawar.
"Ada seseorang di sini!" teriak Liu Qing yang baru saja menyusul kelompok setelah menangkap beberapa penjaga yang kabur. Dia segera berlari ke arah wanita itu, tas penyembuhannya sudah terbuka sebelum dia sampai di sana.
Saat Liu Qing mulai merawat lukanya, wanita itu perlahan membuka mata. Matanya yang dulu jelas kini penuh dengan kesedihan yang mendalam. "Kalian tidak boleh datang ke sini," bisiknya dengan suara yang lemah tapi jelas. "Dia akan menghancurkan kalian semua, seperti dia menghancurkan dunia ini."
"Siapa dia?" tanya Chen Wei dengan lembut, jongkok di depan wanita itu. "Mengapa dia melakukan semua ini?"
Wanita itu melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan kenangan menyakitkan. "Namanya adalah Xiang Yu – mantan penjaga dunia ini, yang dulunya adalah orang yang paling baik dan paling penuh kasih yang pernah aku kenal." Air mata mulai mengalir di pipinya. "Kami saling mencintai. Dia berjanji akan selalu melindungi dunia ini dan semua yang ada di dalamnya. Tapi kemudian..." dia menutup wajahnya dengan tangan, menangis terisak-isak. "...kemarahan dan kesedihan menguasainya."
Ceritanya mengalir seperti sungai yang meluap. Beberapa abad yang lalu, dunia ini telah dihancurkan oleh perang saudara yang memilukan. Xiang Yu telah kehilangan semua yang dia cintai – keluarganya, teman-temannya, dan harapannya akan masa depan. Dalam kesedihan yang luar biasa, dia telah mencari kekuatan yang melampaui batas, berharap bisa membalas dendam dan membangun dunia yang lebih baik. Namun kekuatan itu telah memutarbalikkan hatinya, mengubah cinta yang tulus menjadi keinginan untuk menguasai dan memaksa dunia sesuai keinginannya.
"Sekarang dia berencana untuk membuka gerbang ke dunia kalian," lanjut wanita itu, menatap Chen Wei dengan mata yang penuh harapan. "Dia berpikir bahwa dengan menyatukan kedua dunia itu di bawah kekuasaannya, dia bisa membuat 'keadilan' yang dia impikan. Tapi aku tahu dia masih bisa diperbaiki – cinta kita yang dulu ada masih hidup di dalam dirinya. Tolong... tolong bantu dia sebelum terlambat."
Sebelum mereka bisa menjawab, suara langkah kaki yang berat menggema di koridor. Seorang pria tinggi dengan rambut hitam yang menggelombang dan mata yang menyala dengan kilatan ungu muncul dari bayangan. Dia mengenakan baju besi hitam yang mengkilap dengan ukiran naga hitam yang mengerikan di dadanya. Di tangannya, dia memegang pedang besar dengan bilah yang tampak terbuat dari kegelapan itu sendiri.
Xiang Yu – penguasa dunia yang hancur ini.
"Tian Yi," katanya dengan suara yang dalam dan penuh dengan kesedihan, melihat wanita yang terluka di lantai. "Kau harus tinggal di kamarmu seperti yang kubilangkan. Aku tidak ingin membahayakanmu."
"Kau sudah menyakiti aku dengan cara yang jauh lebih menyakitkan, Xiang Yu," jawab wanita itu – Tian Yi – dengan suara yang kuat meskipun tubuhnya lemah. "Kau telah menyakiti semua orang dengan apa yang kau lakukan. Berhentilah sebelum terlambat!"
Xiang Yu mengangkat kepalanya, dan matanya yang menyala menemukan Chen Wei dan kelompoknya. "Aku tahu mengapa kalian datang," katanya dengan suara yang penuh dengan kebencian dan rasa sakit. "Kalian datang untuk menghentikanku, seperti orang-orang di dunia ini yang mencoba menghentikanku dulu. Tapi kali ini tidak akan berhasil. Aku akan membangun dunia yang sempurna, bahkan jika harus menghancurkan segalanya untuk mencapainya!"
Tanpa peringatan, dia melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa, pedangnya menyilang udara dengan suara siulan yang mematikan. Chen Wei dengan cepat menghadang serangannya, Hati Naga bersinar terang saat bertabrakan dengan pedang kegelapan. Ledakan energi yang dahsyat meledak dari titik kontak, menerangi koridor dengan cahaya putih menyilaukan dan memaksa semua orang untuk mundur.
Pertempuran epik segera pecah. Xiang Yu bergerak seperti badai yang tak terkendali, setiap serangannya penuh dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan gunung. Chen Wei, Zhang Tian, dan Wu Chen bekerja sama dengan koordinasi yang luar biasa, mencoba untuk mengimbangi kekuatan dan kecepatannya. Mei Hua dan Lin Xue melepaskan mantra-mantra dengan intensitas yang belum pernah ada sebelumnya, menggabungkan kekuatan elemen untuk menciptakan tembok perlindungan dan menyerang dari kejauhan.
Tian Chen berdiri di sisi Tian Yi, menggunakan kekuatan pemulihannya untuk menyembuhkan lukanya sambil juga membantu melindungi kelompok dari serangan Xiang Yu. "Aku mengenali rasa sakit yang dia rasakan," bisik Tian Chen kepada Liu Qing yang sedang membantu menyembuhkan yang terluka. "Aku pernah berada di tempat yang sama. Tapi aku telah belajar bahwa kekuatan sendirian tidak akan pernah mengisi kekosongan di dalam hati kita."
Saat pertempuran semakin sengit, koridor mulai runtuh di sekeliling mereka. Batu-batu besar jatuh dari langit-langit, dan lantai mulai retak. Xiang Yu tampaknya tidak peduli dengan bahaya yang mengancam untuk menghancurkan mereka semua – dia hanya fokus pada tujuan akhirnya.
"Dunia ini telah menyakitiku terlalu banyak!" teriaknya dengan kemarahan yang membara, melepaskan serangan penuh kekuatan yang mengirimkan Chen Wei terbang beberapa meter jauhnya. "Aku hanya ingin membuat semuanya benar!"
Chen Wei berdiri dengan susah payah, tubuhnya terluka namun tekadnya tetap bulat. Dia melihat ke arah Xiang Yu, dan di tengah kebencian yang membara di matanya, dia melihat kesedihan yang dalam dan rasa sakit yang tak tertahankan. "Kau salah besar, Xiang Yu!" teriaknya dengan suara yang penuh dengan belas kasihan dan kekuatan. "Kekuatan tidak akan pernah menghilangkan rasa sakitmu. Hanya cinta dan pengampunan yang bisa melakukannya!"
Dia mengangkat Hati Naga ke atas kepalanya, dan energi dari artefak itu menyebar ke seluruh ruangan. Cahaya pelangi mulai menyala dari kristal itu, dan suara nyanyian Tian Yi yang lembut mulai menyatu dengan nyanyiannya. Semua anggota kelompok bergabung, menyanyikan lagu harapan dan cinta yang mampu menghancurkan bahkan kegelapan paling dalam.
Xiang Yu berdiri terpaku, pedangnya tergoyangkan di tangannya. Suara nyanyian itu menusuk ke dalam hatinya yang terluka, membawa kenangan dari masa lalu ketika dia masih baik dan penuh kasih. Dia melihat ke arah Tian Yi, yang kini telah mampu berdiri dengan bantuan Tian Chen dan Liu Qing, matanya penuh dengan cinta dan harapan.
Air mata mulai mengalir di pipinya, mencuci kotoran dan darah dari wajahnya yang keras. "Aku... aku tidak tahu apa yang aku lakukan," bisiknya dengan suara yang goyah. "Aku hanya ingin menghentikan rasa sakit..."
Chen Wei melangkah maju dengan hati-hati, tangannya terbuka untuk menunjukkan bahwa dia tidak memiliki niat jahat. "Kita semua pernah merasakan rasa sakit, Xiang Yu. Tapi kita tidak bisa membiarkannya mengubah kita menjadi orang yang kita benci. Mari kita bekerja sama untuk membangun dunia yang lebih baik – bukan dengan kekuatan, tapi dengan cinta dan kerja sama."
Xiang Yu menatapnya selama beberapa saat yang tampak sangat lama, kemudian dengan gemetar, dia menjatuhkan pedangnya ke tanah. Suara logam yang menggema mengakhiri pertempuran yang dahsyat itu. "Aku siap untuk mengubah diri," katanya dengan suara yang penuh dengan penyesalan dan harapan baru.
Namun saat itu, gemuruh yang kuat mengguncang seluruh benteng. "Kekuatan yang kukendalikan telah keluar dari kontrol!" teriak Xiang Yu dengan kegembiraan yang bingung. "Ketika aku menyerah padanya, ia mulai tumbuh dengan sendirinya! Benteng ini akan runtuh, dan jika kita tidak cepat, gerbang ke dunia kalian akan terbuka dengan sendirinya!"
Chen Wei tahu bahwa mereka memiliki pekerjaan baru yang harus dilakukan – tidak hanya untuk menyelamatkan dunia ini, tapi juga untuk mencegah bencana yang akan mengancam dunia mereka. Perjalanan mereka belum selesai, dan tantangan terbesar mereka masih menunggu di depan.
"Kita tidak akan pernah menyerah!" teriak Chen Wei dengan semangat yang membara. "Bersama-sama, kita akan menemukan cara untuk menyelamatkan kedua dunia ini!"