Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Jangkar
Keputusan itu akhirnya datang, tidak dengan ledakan kemarahan, melainkan dengan keheningan yang jauh lebih menyakitkan. Sore itu, udara di rumah baru kami terasa begitu berat, seolah-olah awan mendung terjebak di antara langit-langit ruang tamu. Bayu duduk di sofa di depanku, sementara Sari berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap, wajahnya menunjukkan keteguhan yang tak bisa ditawar lagi.
"May, kami sudah memutuskan. Kami akan pindah akhir bulan ini," ujar Bayu. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun gema dari kalimat itu menghantam dinding-dinding rumah yang kubayar cicilannya setiap bulan dengan rasa perih yang baru.
Aku tertegun, menatap Mas Aris yang duduk di sampingku. Mas Aris menggenggam tanganku erat, seolah tahu bahwa duniaku baru saja diguncang oleh gempa yang tak kasat mata. "Abang mau pindah ke mana? Tabungan Abang sudah cukup untuk kontrak rumah sendiri?" tanyaku, mencoba menahan getaran di suaraku.
"Kami akan menyewa rumah kecil di dekat tempat kerja Sari. Sederhana saja, May. Yang penting kami bisa mulai hidup mandiri. Sari merasa lebih baik kita punya dapur masing-masing supaya nggak ada lagi gesekan," jawab Bayu sambil melirik istrinya.
Aku mengerti arti di balik kalimat itu. Ini bukan tentang dapur; ini tentang harga diri. Ini tentang Sari yang tak lagi sanggup melihatku sebagai matahari di rumah ini, sementara ia merasa hanya sebagai bayangan yang memudar.
Hari kepindahan mereka tiba dengan sangat cepat. Karung-karung pakaian dan beberapa perabotan yang dibeli Bayu dari sisa gajinya diangkut ke dalam mobil bak terbuka. Ibu menangis sesenggukan di depan pintu, sementara Ayah hanya bisa terduduk diam di teras, matanya menatap kosong ke arah pagar.
"Jaga diri kalian baik-baik ya, Bayu, Sari," ucap Ibu di sela tangisnya.
Bayu memelukku erat sebelum masuk ke mobil. "Maafkan Abang, May. Abang harus mendahulukan kebahagiaan istri Abang. Kamu punya Aris sekarang, kamu pasti sanggup menjaga Ayah dan Ibu."
Aku hanya bisa mengangguk kaku. Saat mobil itu bergerak menjauh, meninggalkan kepulan asap tipis di depan rumah baru kami, aku merasakan sebuah lubang besar di dadaku. Selama bertahun-tahun, aku dan Bayu adalah satu tim. Kami adalah kawan seperjuangan yang saling menguatkan saat Paman menghina kami, saat kami harus menahan lapar demi membayar cicilan bank, dan saat kami harus mengupas bawang hingga jari-jari kami mati rasa.
Kini, aku berdiri di sini sebagai "pemenang" yang memiliki rumah ini sepenuhnya, namun aku merasa kehilangan bagian dari diriku sendiri.
Setelah kepergian Bayu, dinamika rumah berubah total. Mas Aris secara otomatis mengambil alih peran sebagai kepala rumah tangga yang baru. Namun, kepergian Bayu berarti bantuan finansial darinya benar-benar terhenti. Segala biaya rumah tangga, pengobatan Ayah, dan cicilan bank kini jatuh sepenuhnya ke pundakku dan Mas Aris.
"Jangan dipikirkan, Maya. Kita sanggup," Mas Aris mencoba menenangkanku malam itu saat kami sedang menghitung ulang anggaran bulanan. "Aku akan ambil proyek tambahan di kantor. Kita akan pastikan rumah ini tetap milik kita."
Namun, masalah bukan hanya soal uang. Ibu menjadi sangat pemurung setelah Bayu pergi. Ia sering melamun di kamar Bayu yang kini kosong. Di matanya, aku seolah menjadi penyebab perginya anak laki-lakinya. Meskipun aku yang membiayai makan dan tempat tinggalnya, Ibu seolah-olah lebih merindukan sosok Bayu yang mungkin secara finansial lebih terbatas, namun secara emosional lebih dekat dengannya.
"Kalau saja kamu sedikit lebih lunak sama Sari, May... mungkin mereka masih di sini," gumam Ibu suatu sore saat kami sedang melipat pakaian.
Aku hanya bisa menggigit bibir. Rasa sakit hati itu kembali berdenyut. Kenapa aku yang selalu harus "lunak"? Kenapa aku yang sudah memberikan masa mudaku, tenagaku, dan uangku tetap dipandang sebagai pihak yang salah hanya karena aku kuat? Rasa tidak adil ini seolah-olah merupakan cicilan rasa sakit yang tidak akan pernah lunas.
Di kantor, aku bekerja dengan lebih giat lagi. Kemandirian finansial yang dulu menjadi obsesiku kini menjadi kebutuhan yang mendesak. Aku tidak ingin Mas Aris merasa terbebani sendirian. Aku ingin membuktikan bahwa meski Bayu pergi, aku tetap bisa menjaga istana ini tetap tegak.
Mas Aris adalah pilar pendukungku yang luar biasa. Ia tidak hanya membantuku secara finansial, tapi ia juga membantuku menghadapi perasaan bersalahku terhadap Ibu.
"Maya, kamu tidak bisa menyenangkan semua orang," ucap Aris suatu malam saat kami sedang duduk di balkon atas, melihat bintang-bintang. "Kamu sudah melakukan lebih dari cukup untuk keluarga ini. Kamu membangunkan mereka rumah, kamu menyelamatkan Ayah. Jika itu semua masih belum cukup bagi mereka, maka itu bukan salahmu. Itu adalah keterbatasan mereka dalam memahami cintamu."
Aku bersandar di bahunya, merasakan kehangatan yang perlahan-lahan mencairkan kebekuan di hatiku. Aku menyadari bahwa babak baru kehidupanku ini adalah tentang "pembersihan". Tuhan sedang menjauhkan orang-orang yang mungkin tidak siap melihatku tumbuh lebih tinggi, agar aku bisa fokus pada orang yang benar-benar mau tumbuh bersamaku.
Malam itu, aku berjalan mengelilingi rumah. Aku menyentuh dinding-dindingnya yang kokoh. Rumah ini kini terasa lebih luas, lebih sunyi, namun juga lebih jujur. Tidak ada lagi bisikan kebencian di dapur, tidak ada lagi tatapan iri di ruang tamu. Yang ada hanyalah aku, suamiku, dan kedua orang tuaku yang perlahan-lahan harus belajar menerima kenyataan baru ini.
Aku mengambil buku catatan keuanganku. Aku mencoret nama Bayu dari daftar penyumbang dana, dan menuliskan namaku serta Mas Aris dalam satu kolom yang sama.
Aku adalah Maya. Wanita yang dulunya memanjat pohon jambu monyet dan mencari besi tua demi sesuap nasi. Kini, aku adalah nyonya di rumahku sendiri. Meski jalanku kini lebih sunyi tanpa kehadiran kakakku, aku tahu bahwa setiap rupiah yang kusetorkan ke bank adalah bukti bahwa aku tidak pernah menyerah pada keadaan.
Aku akan terus membayar cicilan ini, bukan hanya cicilan rumah, tapi juga cicilan kebahagiaan untuk orang-orang yang tetap memilih tinggal di sampingku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa sebagai gadis kecil yang malang. Aku adalah wanita yang telah melepas jangkar dari masa lalu, siap berlayar menuju masa depan yang lebih tenang, meski harus mendayung sendiri.