Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Aula Menjadi Ruang Penghakiman
Ingatan Aresha langsung datang, menghantam pikirannya tanpa ampun.
Suara pintu besi yang dibanting. Tawa kasar yang menggema di lorong sempit. Bau apek bercampur keringat dan darah. Lututnya ditekan ke lantai dingin, rambutnya ditarik tanpa belas kasihan. Perintah rendah itu , hina, dan menjijikkan masih terpatri jelas di kepalanya.
"Menggonggong!" Ingatan itu terlalu nyata hingga dadanya terasa sesak. Jari-jarinya bergetar sesaat, namun wajahnya tetap kosong. Ia sudah terlalu sering mengunci perasaannya sendiri.
“Cukup!” Teriak Reno akhirnya, suaranya pecah. Tangannya terangkat seolah ingin menghentikan bayangan yang hanya bisa dilihat Aresha. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras. Ia benar-benar tidak sanggup mendengarnya lagi.
“Kamu diully sseperti ini, mengapa tidak melawan?” Tambah Reno. Nada suaranya tinggi, bercampur marah, bingung, dan frustasi.
“Aku melawan balik, semakin aku menolak, mereka akan menindasku lebih keras lagi.” Jawab Aresha tanpa emosi. Suaranya datar, seolah ia sedang menceritakan kisah orang lain, bukan penderitaannya sendiri.
Beberapa tamu menahan napas. Ada yang menunduk, ada yang berpura-pura menelan ludah. Kata menindas terdengar terlalu ringan untuk apa yang sebenarnya terjadi.
“Bahkan jika Samba memiliki semua kekuatan, tapi ada hukum, bagaimana bisa dia melakuka ini?” Tanya Reno masih tidak habis pikir. Kepalanya menggeleng pelan, seolah menolak kenyataan yang berdiri tepat di depannya.
Aresha tertawa pahit. Tawanya singkat, tanpa humor, lebih mirip luka yang terbuka kembali.
“ Apakah kakak tidak akan berfikir bahwa penderitaan ini dilakukan dengan sengaja?” Tanya Aresha.
Pertanyaan itu jatuh seperti palu.
“Simpan simpati anda nyonya linda.” Aresha dengan cepat menoleh ke arah Mama.
Mama Linda tertegun. Bibirnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Ia hanya bisa mengeleng-geleng kepala seakan tidak setuju dengan permintaan Aresha, seakan ingin mengatakan bahwa dia tetap seorang ibu meski terlambat.
Aresha tertawa sakit. Ada getir yang merambat di senyumnya.
“Jangan konyol, aku tahu siapa aku,” Ucap Aresha terdiam sejenak. Tatapannya melayang, seolah melihat masa lalu yang tak pernah diberi keadilan.
“Mungkin aku akan merasa bersalah, tapi didalam hatiku aku senang.” Terus Aresha.
Reno dan Mama menatapnya tak percaya.
“Beruntungnya akulah yang dijebloskan ke penjara selama empat tahun, jika tidak, rasa sakit dan cidera ini, dia harus menanggungnya selamanya.” Lanjut Aresha sembari melihat wajah Rhea yang berdiri tepat didekat mama.
Wajah Rhea menatap Aresha dengan senyum mengejek puas. Senyum itu tipis, hampir tak terlihat. Namun penuh kemenangan. Suasana yang mencekam membuat hal itu tidak terlihat oleh Mama dan Reno mereka terlalu fokus pada Aresha. Hanya Aresha yang menyadarinya.
Tatapan mereka bertemu dan Aresha mengerti segalanya.
Setelah Aresha berbicara, Reno menyadari yang dimaksud Aresha tentang Rhea. Dengan cepat dia menoleh ke arah Rhea. Namun reaksi Rhea lebih cepat dia langsung memeluk tangan Mama, wajahnya berubah sendu seketika, rapuh, seolah membutuhkan perlindungan.
“Kami telah mengabaikanmu sebelumnya, tapi pikirkan tentang dirimu sendiri, apakah kamu tidak memiliki tanggung jawab sama sekali tentang hidupmu.” Ucap Reno. Nada suaranya dingin, penuh penghakiman.
Aresha menunduk, melihat tangan dan pergelangan tangannya yang penuh bekas luka yang tidak pernah sembuh sempurna. Ia tersenyum kecil, senyum yang lebih menyakitkan daripada tangis.
“Aku salah?” Tanya Aresha sembari tersenyum pahit, kemudian kembali ke wajah datarnya.
“ Bahkan kamu terluka di penjara, apa hubungan dengan kita dan Rhea?” Reno memalingkan wajahnya, masih membela adik kandungnya.
“Semua ini terjadi karena kamu mendorong Stefani dar lantai 2.” Tambah Reno, mengubah ekspresinya kembali ke mode kesal.
“ kamu layak mendapatkanya.” Bentak Reno dengan mata melotot.
“Aku paing tahu dengan sifatmu.” Tambah Reno.
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada luka fisik mana pun.
Aresha menatap Reno dengan wajah marah serta pandangan yang tajam. Dadanya naik turun menahan amarah yang menggelegak.
“Kamu selalu cemburu, dan balas dendam atas semua penghinaan, saat kita masih sekolah, kamu sengaja tidak sarapan, dan mengendarai sepeda butut kesekolah dengaja tidak mau masuk kemobil pengantar, karena kesal denganku.” ucap Reno membela diri, mencari alasan untuk membersihkan dirinya sendiri.
Aresha mengepalkan tangan. Kukunya menekan telapak, menahan ledakan emosi yang hampir tak terbendung.
“Tuan Reno benar - benar orang mulia yang mudah meupan segala hal, kamu baru saja menyibakan pakainku.” Jawab Aresha dengan nada tinggi.
“Dipesta ini kamu yang mengundangku.” Tambah Aresha menunjuk semua ruangan.
Aula keluarga Hartono terasa semakin sempit.
Tak ada yang berani berbicara. Di antara lampu kristal dan gaun mahal, satu kebenaran berdiri telanjang, Aresha bukan hanya korban penjara dia adalah korban keluarganya sendiri.
Suasana aula semakin mencekam setelah kata-kata Aresha menggantung di udara. Tidak ada satu pun tamu yang berani bersuara. Bahkan bisikan yang tadi sempat muncul kini lenyap sepenuhnya, seolah semua orang takut mengganggu kebenaran yang perlahan terbuka.
Beberapa tamu pria menelan ludah, tatapan mereka beralih dari wajah Aresha ke Reno, lalu ke Mama Linda. Ada rasa canggung bahkan bersalah yang tak terucap. Mereka datang untuk merayakan wisuda, bukan untuk menyaksikan luka-luka yang tak pernah diumumkan.
Reno berdiri kaku. Dadanya terasa sesak. Setiap kata Aresha barusan seperti palu yang menghantam keras keyakinannya sendiri.
"Apakah aku benar-benar salah selama ini? Atau… aku hanya tidak mau percaya?" Batin Reno.
Namun ketika matanya menangkap senyum Rhea yang cepat disembunyikan terlalu cepat, hati Reno kembali mengeras. Dia menolak kemungkinan yang membuatnya terlihat kejam sebagai kakak.
Mama Linda berbeda. Tangannya bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh satu per satu. Da ingin memeluk Aresha, ingin bertanya lebih banyak, ingin meminta maaf… tetapi kakinya terasa berat, seolah lantai aula menahannya.
"Empat tahun…Empat tahun aku membiarkan anak ini sendirian." Batin mama,
Rhea, yang kini mencengkeram lengan Mama, menyadari perubahan arah suasana. Hatinya berdegup tidak nyaman. Untuk pertama kalinya, cerita Aresha tidak membuatnya puas sepenuhnya, ada sesuatu yang mengganggu.
"Terlalu jauh, Kenapa dia menceritakan semuanya? Bukankah aku seharusnya yang menang?" Batin Rhea.
Aresha sendiri berdiri tegak meski kakinya gemetar menahan nyeri. Tangannya mengepal kuat, kuku-kukunya hampir menembus telapak. Ia tahu, setelah ini tidak akan ada jalan kembali.
Tatapan matanya menyapu ruangan sekali lagi. Para tamu. Keluarga. Orang-orang yang dulu percaya begitu saja bahwa ia adalah penjahat.
"Dengar baik-baik.' batinnya dingin.
"Ini bukan pengakuan. Ini pengingat,kamu harus kuat Aresha" Tambahnya.
Ketika Reno kembali meninggikan suara, sesuatu di dalam dada retak, bukan karena sakit, melainkan karena amarah yang telah dia tahan terlalu lama. Dia tidak lagi ingin dimengerti. Dia hanya ingin kebenaran tidak terkubur sendirian bersamanya.
Dan di saat yang sama, jauh di rumah sakit negara, sebuah keputusan telah diambil, keputusan yang perlahan akan menyeret seluruh keluarga Hartono ke pusaran yang tak bisa mereka hindari lagi.
***