"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.
Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Hujan badai di luar asrama Universitas New York seolah menjadi musik latar yang sempurna untuk apa yang terjadi di dalam kamar 402. Nadine Saville bisa merasakan jantungnya berdegup kencang bahkan sebelum kunci pintu berputar. Begitu pintu terbuka, sosok tinggi Nickholes Teldford menyeruak masuk, membawa aroma maskulin yang bercampur dengan dinginnya air hujan.
Tanpa satu kata pun, Nick menarik Nadine ke dalam pelukannya. Punggung Nadine membentur daun pintu yang tertutup rapat, dan dalam sekejap, bibir pria itu sudah mengunci miliknya dengan tuntutan yang tak terbendung.
Nadine terengah, tangannya meremas jaket kulit Nick yang lembap. Gairah ini bukan lagi sesuatu yang baru, ini adalah api yang sudah mereka pelihara sejak usia tujuh belas tahun. Nickholes tahu persis di mana harus menyentuh, bagaimana harus menekan, dan bagaimana cara membuat Nadine melupakan bahwa ia adalah putri seorang wanita terpandang.
"Nick..." desah Nadine di antara napasnya yang memburu. Suaranya pecah, sebuah campuran antara kerinduan yang menyiksa dan penyerahan diri yang total.
Nick tidak berhenti. Tangannya yang kuat menjelajahi lekuk tubuh Nadine dengan kepemilikan yang absolut.
Setiap sentuhan Nickholes terasa seperti sengatan listrik yang membakar logika Nadine. Pria itu membisikkan kata-kata rendah di telinga Nadine, kata-kata yang seharusnya terdengar posesif dan egois, namun di telinga Nadine yang naif, itu terdengar seperti satu-satunya kebenaran yang ia miliki.
Suasana di kamar itu menjadi sangat panas hingga kaca jendela berembun. Di bawah temaram lampu meja yang redup, bayangan mereka menyatu di dinding. Nadine membenamkan jemarinya ke rambut Nickholes, menariknya lebih dekat saat sensasi yang luar biasa mulai merambat naik, memenuhi setiap sarafnya.
Suara erangan kepuasan yang tertahan berkali-kali lolos dari bibir mereka, beradu dengan suara deru napas yang memenuhi ruangan. Bagi Nadine, saat-saat seperti ini adalah satu-satunya waktu di mana ia merasa benar-benar dimiliki oleh Nickholes, meski ia tahu bahwa setelah matahari terbit, ia akan kembali menjadi rahasia yang tak boleh diakui.
"Kau milikku, Nadine. Jangan pernah lupa itu," bisik Nick dengan suara serak yang penuh kuasa, tepat sebelum ia membawa Nadine ke puncak gairah yang membuatnya tak mampu berpikir lagi.
Beberapa menit kemudian, keheningan menyelimuti ruangan. Nickholes bangkit, merapikan pakaiannya dengan dingin seolah-olah gairah yang baru saja meledak itu hanyalah sebuah transaksi rutin. Nadine tetap berbaring, menatap langit-langit dengan napas yang masih belum teratur, merasakan kekosongan yang perlahan kembali merayap masuk begitu sentuhan Nick terlepas.
Pagi harinya, sinar matahari New England yang dingin menembus celah gorden, memaksa Nadine untuk kembali ke realitas yang pahit. Di sampingnya, sisi tempat tidur sudah dingin. Nickholes selalu pergi sebelum fajar menyingsing, tanpa surat, tanpa pesan, seolah-olah gairah semalam hanyalah mimpi buruk yang indah.
Nadine berjalan menyusuri koridor gedung utama dengan langkah terburu-buru. Ia mengenakan sweater turtleneck tinggi untuk menyembunyikan tanda kemerahan di lehernya, jejak kepemilikan Nickholes yang masih terasa panas.
Tiba-tiba, ia melihatnya. Nickholes berdiri di tengah kerumunan anak-anak populer, tertawa lebar sambil merangkul bahu seorang pemandu sorak. Nickholes adalah definisi bintang kampus, masa depan cerah, atlet kebanggaan, dan incaran semua wanita.
Saat mata mereka bertemu selama sepersekian detik, jantung Nadine mencelos.
Namun, Nickholes hanya menatapnya dengan pandangan kosong,dingin dan tak acuh, seolah Nadine hanyalah orang asing yang lewat. Ia berpaling kembali ke teman-temannya tanpa sedikit pun keraguan.
Sakit. Itu adalah rasa yang sudah menjadi makanan sehari-hari Nadine.
Baru saja Nadine duduk di kelas sosiologi, ponselnya bergetar di dalam saku. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak ia simpan namanya:
"Malam ini. Tempat biasa. Jangan terlambat."
Nadine menatap layar itu dengan jemari gemetar. Tidak ada tanya kabar, tidak ada sapaan hangat. Hanya perintah. Nickholes tahu persis bahwa Nadine tidak akan pernah bisa berkata tidak. Kebergantungan Nadine pada sentuhan Nickholes telah menjadi candu yang lebih berbahaya daripada zat apa pun.
Sore itu, sebuah mobil sedan mewah hitam sudah menunggu di depan gerbang kampus. Itu adalah sopir ibunya. Nadine menghela napas panjang, mencoba menenangkan ekspresi wajahnya sebelum masuk ke dalam mobil.
Di kursi belakang, Victoria Saville sedang memeriksa dokumen di iPad-nya. Ibunya adalah wanita yang auranya bisa mengintimidasi satu ruangan penuh. Tanpa menoleh, Victoria berucap dengan suara tajam yang tenang.
"Nadine, Ibu melihat tagihan kartu kreditmu. Kau sering sekali memesan taksi ke area apartemen di luar kampus pada jam dua pagi. Apa yang kau lakukan di sana?"
Nadine membeku. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Rahasia yang ia jaga mati-matian mulai menunjukkan retakan pertamanya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰😍