NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting 3

Kemenangan melawan Lu Duo dan dominasi di Zona Luar memberikan ilusi kekuatan. Namun, Alam Rahasia Lembah Gunung Jinting memiliki cara kejam untuk mengingatkan kesombongan bahwa dia hanyalah daging.

Setelah menghabisi pasukan keluarga Lu, Lu Daimeng tidak berhenti. Dia langsung menerobos batas vegetasi yang memisahkan Zona Luar dengan Zona Dalam.

Perubahan itu instan.

Cahaya biru nebula di langit meredup, digantikan oleh kegelapan pekat yang menekan. Suhu turun drastis. Gravitasi di sini dua kali lebih berat daripada di luar.

Dan dalam tiga hari.

Itulah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah Dewa Perang menjadi buronan yang berdarah.

Hari Pertama di Zona Dalam:

Lu Daimeng berhadapan dengan Tanaman Pemakan Manusia Beracun. Akar-akarnya setebal paha, bergerak tanpa suara di bawah tanah lumpur. Saat Lu Daimeng melangkah, tanah meledak. Ratusan akar berduri melilit kakinya, mencoba menariknya ke dalam perut bumi.

Dia selamat dengan cara meledakkan Dark Null dari pori-pori kakinya, menghancurkan akar-akar itu. Namun, duri-duri beracun telah menembus kulit padatnya, menyuntikkan neurotoksin yang memperlambat refleks sarafnya. Lu Daimeng terus menerobos ke zona yang lebih dalam.

Hari Kedua:

Dia bertemu dengan predator puncak pertamanya: Ular Bayangan berekor Dua (Two-Tailed Shadow Snake).

Binatang buas ranah Pembentukan Jiwa Tahap Awal. Sisiknya menyatu dengan bayangan, karena mencapai tahap jiwa tubuhnya dapat menghilang total karena teknik garis darahnya, membuatnya hampir tidak terlihat bahkan oleh Triple Pupil sekalipun.

Pertarungan itu terjadi di tepi jurang.

Ular itu menyergap dari titik buta. Taringnya yang sebesar belati mengincar leher. Lu Daimeng hanya sempat memiringkan tubuhnya.

SLAASSH!

Bahu kirinya robek total. Otot deltoid putus, tulang selangka retak, memperlihatkan tulang abu-abunya.

"Sialan!!" Lu Daimeng meraung, bukan karena sakit, tapi karena marah. Dia membiarkan ular itu melilit tubuhnya, meremukkan tulang rusuknya. Dalam pelukan maut itu, Lu Daimeng menggigit leher ular itu—menggunakan giginya sendiri—dan merobek sisik sekeras berlian itu, lalu menumpahkan Dark Null langsung ke dalam aliran darah ular tersebut.

Ular itu mati membusuk dalam hitungan detik. Lu Daimeng memakan jantungnya untuk memulihkan diri, tapi luka di bahunya terlalu dalam. Regenerasinya melambat karena kehabisan energi cadangan.

Hari Ketiga (Sekarang):

Lu Daimeng berjalan terhuyung.

Napasnya berat dan kasar, terdengar seperti gesekan dua lempeng besi berkarat.

Tubuhnya yang setinggi 2,3 meter kini penuh dengan luka menganga. Bahu kirinya yang robek belum pulih sempurna, darah hitam menetes, menandakan racun ular itu masih bertarung melawan sistem imunnya. Ada lubang di paha kanannya, bekas gigitan tanaman karnivora.

Dia bukan dewa. Dia hanyalah monster yang kelelahan.

“Aku harus memulihkan diri,” perintahnya pada dirinya sendiri, mempertahankan kesadaran di tengah kabut rasa sakit.

Dan bencana belum selesai.

KIK... KIK... KIK...

Suara itu datang dari belakang. Cepat. Banyak. Dan lapar.

Di balik pepohonan purba yang rimbun, bayangan-bayangan kecil melesat.

Kera Hantu Wajah Merah (Red-Faced Ghost Mandrills).

Binatang buas setinggi pinggang manusia, dengan bulu hitam berminyak dan wajah merah darah tanpa kulit. Mereka mencium bau darah Lu Daimeng yang bocor. Mereka tahu mangsa ini kuat, tapi mereka juga tahu mangsa ini sekarat.

Ada sekitar dua puluh ekor yang mengejarnya.

"Mereka tidak berhenti," desis Lu Daimeng. Dia meludahi darah kental ke tanah.

Lu Daimeng tidak bisa melawan dua puluh ekor sekaligus dalam kondisinya saat ini. Jika dia dikepung, dia akan dicabik-cabik dalam hitungan detik.

Dia harus lari.

Triple Pupil-nya berputar gila-gilaan, memindai medan di depan. Dia mencari tempat di mana aliran Qi alam terputus—tanda adanya bahaya yang lebih besar yang ditakuti oleh kera-kera ini.

Dia melihatnya.

Dua ratus meter di depan, di kaki sebuah tebing batu hitam yang menjulang vertikal, ada sebuah Zona Mati.

Tanah di sana tandus, tertutup abu vulkanik kuno. Tidak ada tanaman. Tidak ada suara angin.

Lu Daimeng memaksakan otot kakinya yang robek untuk meledak.

BOOM!

Dia melompat, menghancurkan batu pijakannya, melesat menuju tebing itu.

KIK! KIK!

Tiga ekor kera melompat ke punggung Lu Daimeng, mencakar punggungnya yang sudah terluka.

Lu Daimeng tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya di udara, menabrakkan punggungnya sendiri ke batang pohon besar dengan brutal.

BAM!

Ketiga kera itu tergencet menjadi bubur daging.

Lu Daimeng mendarat berguling, lalu berlari lagi. Dia mencapai batas zona mati itu dan melompat masuk.

Seketika... hening.

Di belakangnya, kawanan Kera Hantu berhenti mendadak. Mereka memekik, memamerkan taring, tapi tidak ada satu pun yang berani melangkah ke atas abu vulkanik itu. Mereka takut.

Lu Daimeng berdiri di sana, terengah-engah. Dia berbalik menatap tebing hitam itu.

Di dasarnya, menganga sebuah mulut gua yang simetris, seperti gerbang kuil kuno yang runtuh.

Sebuah tekanan tak kasat mata memancar dari dalam.

Bukan tekanan Qi. Ini adalah tekanan Garis Darah (Bloodline Pressure). Tekanan yang membuat lutut Lu Daimeng—yang biasanya kokoh—terasa ingin menekuk.

"Dominasi spesies," analisis Lu Daimeng, menyeka darah dari matanya. "Hanya makhluk di puncak rantai makanan yang bisa memancarkan aura sisa sekuat ini."

Dia melangkah masuk.

Kegelapan menelannya. Gua itu luas seperti katedral. Udara di dalamnya kering, dingin, dan berbau logam tua.

Semakin dalam dia masuk, semakin banyak dia melihat tulang belulang. Kerangka harimau purba, ular raksasa, bahkan kerangka manusia dengan sisa jubah kuno. Semuanya mati di sini, seolah diremukkan oleh gravitasi.

Di tengah gua, di atas altar batu alami, terdapat sebuah benda.

Sebuah telur setinggi dua meter.

Cangkangnya hitam pekat, kasar, dan bersisik. Di beberapa bagian, bintik ungu berdenyut lemah.

Telur Naga Hitam Kuno.

Lu Daimeng berdiri sepuluh meter dari telur itu. Tekanan gravitasi di sekitar telur itu luar biasa. Setiap langkah terasa seperti memikul gunung. Ini adalah mekanisme pertahanan alami telur naga.

Tulang-tulang Lu Daimeng berderit. Anti-Dao di perutnya berputar melawan tekanan itu.

Dia sampai di depan telur itu. Dia menyentuhnya.

DUM.

Resonansi lapar menghantam pikirannya. Telur ini hidup, tapi sekarat karena kekurangan energi. Yatim piatu, sama sepertinya.

Namun, momen hening itu pecah.

Krak.

Suara langkah kaki di atas tulang kering.

Bukan satu. Banyak.

Lu Daimeng tidak berbalik. Senyum tipis dan mematikan perlahan terukir di wajahnya yang pucat.

"Tikus-tikus akhirnya keluar dari selokan," ucapnya pelan.

Di mulut gua, delapan sosok muncul dari kegelapan.

Mereka adalah Kultivator Liar. Spesialis penyergapan. Mereka telah mengikuti jejak darah Lu Daimeng, menggunakan jimat penghapus bau agar tidak terdeteksi kera hantu, menunggu saat Lu Daimeng sekarat.

Pemimpin mereka adalah pria tua kerdil berpunuk dengan tongkat tengkorak (Ranah Pembentukan Qi Tahap 9 Puncak).

"Kau sudah terluka, kami sudah mengamati pergerakanmu selama beberapa hari ini,..." bisik si Kerdil serakah, melihat telur naga dan harta karun berserakan. "Kerja bagus, Nak. Kau membuka jalan bagi kami."

"Cincin keluarga Lu, Teknik aneh milikmu, dan telur naga itu. Kami akan mengambilnya"

"Bunuh dia," perintah si Kerdil pada anak buahnya. "Dia sudah setengah mati."

Lu Daimeng perlahan memutar tubuhnya, bersandar pada telur naga seolah tidak kuat berdiri, energinya telah banyak terbuang beberapa hari ini.

"Kalian... mengikuti jejakku..." ucapnya lemah.

"Itu strategi, bodoh," ejek pria besar berkapak ganda. "Sekarang mati saj—"

"Kalian salah," potong Lu Daimeng. Suaranya berubah dingin dan stabil. "Bukan kalian yang mengamatiku, tapi aku yang mengamati kalian, jika saja tidak banyak beast pengganggu kepala kalian sudah berjatuhan di tanah."

"Banyak jalan menuju surga tapi kalian memilih satu jalan menuju neraka." Lu Daimeng menegakkan tubuhnya. Dia menghentakkan kakinya ke lantai gua, mengirimkan gelombang Dark Null ke dalam tanah.

Dia merusak segel alami penahan tekanan telur itu.

BOOOOOM!

Gelombang gravitasi dan Niat Naga meledak keluar tanpa filter.

"ARGHHH!"

Tiga kultivator terdepan langsung jatuh berlutut, tulang kaki mereka patah karena berat tubuh mereka sendiri meningkat sepuluh kali lipat.

Si Kerdil dan empat sisanya terhuyung, wajah merah padam, Qi pelindung mereka berkedip-kedip menahan beban.

"K-kau gila! Kau juga akan hancur!" teriak si Kerdil.

"Tidak masalah aku hancur," Lu Daimeng mencabut pedang hitamnya, "Aku sudah terbiasa hancur."

Lu Daimeng menerjang.

Dalam medan gravitasi berat ini, gerakan semua orang melambat. Tapi otot Lu Daimeng bekerja dengan hidrolik biologis, aliran Darknull lebih cepat mengalir di bawah tekanan.

Target pertama: Pria Kapak Ganda.

SLAASH.

Kaki pria itu putus. Lu Daimeng menusuk tenggorokannya. Satu mati.

"FORMASI!" jerit si Kerdil.

Tapi formasi mereka kacau karena tekanan telur naga. Lu Daimeng bergerak seperti hantu, menggunakan mayat musuh sebagai tameng, melempar tulang tajam disekitarnya sebagai proyektil.

Dia membunuh wanita bercambuk dengan membenturkan kepalanya ke tanduknya sendiri. Dia membunuh pemanah dengan lemparan pisau ke mata.

Tiga mati. Lima tersisa.

Tapi Lu Daimeng juga mencapai batasnya. Sebuah pedang musuh menembus perut sampingnya. Dia batuk darah. Visinya kabur.

Si Kerdil melompat, melepaskan serangan mental Hantu Jiwa dari tongkatnya.

"Mati kau, Iblis!"

Serangan itu menghantam kepala Lu Daimeng.

"ARGH!" Lu Daimeng jatuh berlutut. Otaknya serasa dibelah. Kelemahan terbesarnya adalah pertahanan jiwa.

Si Kerdil mendarat di depannya, mengangkat tongkat untuk menghancurkan kepala Lu Daimeng.

Tapi di detik terakhir, Triple Pupil Lu Daimeng berputar terbalik.

Dia membuka mulutnya lebar-lebar. Singularitas di perutnya menciptakan daya hisap vakum.

Dia memakan serangan jiwa itu. Menelannya bulat-bulat sebelum mencapai otaknya.

Si Kerdil ternganga.

Lu Daimeng menerjang, menggigit leher si Kerdil.

Gigitan monster. Dia merobek arteri karotis pemimpin itu, mengguncang kepalanya sampai si Kerdil berhenti bergerak.

Empat kultivator tersisa, melihat pemimpin mereka dimakam, kehilangan nyali. Mereka lari keluar gua.

Tapi di luar, Kera Hantu Wajah Merah sudah menunggu. Teriakan mengerikan terdengar, lalu senyap. Mereka mati diserang oleh pasukan kera tanpa sempat melawan.

Di dalam gua, Lu Daimeng menjatuhkan mayat si Kerdil.

Dia berdiri terhuyung-huyung di tengah tumpukan mayat. Tubuhnya berlubang di tiga tempat baru. Darahnya hampir habis.

Dia menatap telur naga hitam itu.

"Ranah ini masih terlalu lemah..." bisiknya.

Pandangannya menggelap. Kakinya menyerah.

Lu Daimeng ambruk. Jatuh telungkup di lantai gua yang dingin.

Kesadarannya melayang pergi ke dalam kegelapan. Di gua yang sunyi itu, hanya ada suara detak jantung lemah dari telur naga, dan napas putus-putus dari seorang monster yang menolak untuk mati.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!