Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kecurigaan
Mobil baru itu meluncur di jalanan dengan kecepatan sedang. Di dalamnya, Gerard tersenyum kecil sambil menikmati setiap detik berkendaranya. Saat musik dinyalakan dan lagu acak mulai mengalun, perjalanan pun terasa semakin menyenangkan—meski di baliknya ada misi aneh yang harus ia selesaikan.
Hari sudah siang, tak lama lagi akan bergulir ke sore. Mungkin karena banyak orang masih sibuk di dalam ruangan, jalanan terasa lengang. Tapi Gerard justru memanfaatkannya untuk mengenal lebih jauh daerah sekitar rumahnya. Ia berkeliling pelan, dan tanpa sengaja memasuki sebuah kawasan yang hampir sepi.
Pohon-pohon tinggi berjajar di sisi jalan, menciptakan suasana asri yang menenangkan. Sesekali ada kendaraan lain melintas, tapi setelah itu, jalanan kembali kosong—hanya tinggal Gerard dan mobil barunya.
Hmm… Gerard menatap jalan sambil jari-jarinya mengetuk ringan setir. Irama musik yang melow turut memperdalam suasana sunyi di sekitarnya. "Aku baru tahu ada tempat seperti ini di sini. Jangan-jangan ini taman?" gumamnya dalam hati, menyadari ada hamparan luas di sekitar yang tampak cocok untuk berkemah atau sekadar bersantai.
Namun, ketika mobilnya semakin masuk ke dalam area tersebut, tiba-tiba—sekitar sepuluh meter di depannya—sebuah mobil van berhenti mendadak. Pintunya terbuka sesaat, lalu tampak sebuah tangan terayun liar sebelum dengan cepat ditarik kembali ke dalam. Setelah keheningan singkat yang terasa menegangkan, van itu tiba-tiba melaju lagi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu dan pertanyaan di udara.
Gerard mengernyit, pikirannya langsung bekerja membentuk berbagai kemungkinan. Namun tak ada waktu untuk berpikir panjang—secara naluriah, kakinya menekan pedal gas lebih dalam, membuat mobilnya melesat untuk mengejar van yang mulai menjauh.
Melihat van itu menyadari kehadirannya dan semakin mempercepat laju, Gerard terus menggumamkan sesuatu, baik dalam hati maupun lirih. “B 4512 ENG…” plat nomor itu terus ia ulangi, memaksanya melekat kuat dalam ingatan.
Tanpa ia tahu, di dalam van itu sendiri, suasana sedang kacau-balau. Sopir van menoleh ke belakang, berteriak pada dua pria yang tampak kesulitan menahan seorang wanita yang terus memberontak.
“Gara-gara kalian, ada orang yang curiga!” hardiknya penuh amarah, berusaha menahan suaranya agar tak terlalu keras.
Sementara itu, kedua pria itu berusaha menahan tubuh wanita yang terus menggeliat di pelukan mereka. Meski tenaganya tak seberapa, sikapnya yang pantang menyerah cukup merepotkan.
Salah satu dari mereka menatap tajam ke arah sopir. “Dia nggak bisa diam! Lu yang bawa mobilnya yang bener, biar kami fokus nahanin ni cewek!”
Sopir van mendengus kesal, pandangannya terus beralih antara jalan di depan dan kaca spion yang memantulkan mobil Gerard—yang tak kunjung menjauh, bahkan semakin mendekat.
“F*ck!” teriaknya sambil memukul setir, membuat mobil sedikit oleng. Sebelum teman-temannya berkomentar, ia membentak lagi, “Urusin dulu tuh cewek! Gua bisa ngejauh kalo mobil ini nggak lelet!”
Jarak antara mereka semakin tipis, membuat detak jantung kedua pengemudi berdegup kencang dipacu adrenalin. Sementara para penghuni van itu kalang kabut oleh kehadiran Gerard yang pantang menyerah, Gerard sendiri justru melenyapkan semua keraguan dari pikirannya. Fokusnya menyatu dengan jalan, dan dalam sekejap, mobilnya berhasil menyalip van dari jalur kiri.
Kepanikan pengemudi van terlihat semakin jelas. Beberapa kali mereka mencoba memotong atau menghadang laju Gerard, memaksanya menginjak rem dan memperumit situasi.
Namun justru aksi itulah yang semakin meyakinkan Gerard bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Keputusannya untuk mengejar ternyata tepat. Dengan nyali yang kini membara, ia tak lagi ragu untuk mendempetkan mobilnya ke badan van, membuat bodi keduanya bersentuhan dan saling dorong dalam kecepatan.
Gerard sudah tak peduli dengan kondisi mobil barunya. Tanpa ragu, ia terus mendesak van semakin dekat ke pembatas jalan. Saat kecepatan mereka mulai turun, ia melesat lebih cepat dan memotong jalur van dengan sigap, memojokkan para penjahat yang sudah kehabisan akal.
"Sial! Jalan cuma satu!" geram pengemudi van, pikirannya sudah diselimuti kabut amarah dan kepanikan. Ia tak lagi peduli dengan umpatan teman-temannya yang sama-sama dilanda ketakutan.
Pengemudi van semakin terdesak oleh situasi. Tak ada jalan belok, ruang terlalu sempit untuk berputar balik. Dengan segala kemungkinan yang mentok, ia pun menyerah, perlahan mengurangi kecepatan dan mengikuti tekanan Gerard yang bersikeras menghentikan mereka.
“Gue udah nggak ada pilihan,” gumam pengemudi itu dengan wajah muram.
Mendengar itu, salah satu temannya tak sengaja mengendurkan pelukannya, tubuhnya condong ke depan. “Terus gimana dong? Kita nggak bisa cuma nyerah gini aja!”
“Ya gue juga nggak tahu!” balas pengemudi dengan nada sengit. “Sekarang gue juga dalam bahaya, bukan cuma kalian!”
Menyadari situasi sudah tak bisa diubah, mereka pun berhenti berdebat. Ekspresi marah berubah jadi pasrah, meski masih tersisa kekesalan di wajah mereka. Saat mereka bersiap menghadapi konsekuensi yang tak terhindarkan, tiba-tiba wanita yang mereka tahan menggigit tangan salah satu penculiknya—dalam dan singkat. Cukup untuk membuatnya menjerit kesakitan dan melepaskan cengkeramannya.
“Aduh!”
Memanfaatkan celah itu, wanita itu bergerak cepat. Ia memberontak ke arah pria satunya yang masih terdiam memproses dua kejadian yang tiba-tiba bertubrukan di depannya. “Eh!” pria itu berusaha meraihnya, tapi wanita itu sudah mendorong pintu van dan melompat keluar—dengan posisi yang membuat lutut dan sikunya tergores, tapi ia tak peduli.
Melihat wanita itu berguling di jalan dan kesulitan bangkit, salah satu penculik keluar dari van dengan gerakan cepat, berniat menarik korbannya kembali. Namun saat mereka sama-sama terdesak, Gerard sudah melompat keluar dari mobilnya dan berlari mendekat.
Sosok Gerard terlihat sekilas dari sudut mata wanita itu, yang langsung menoleh dengan tatapan penuh ketakutan. Dalam kepanikan yang mendesak, ia berteriak: "Tolong!"
Suaranya melengking nyaring, membuat pria itu sejenak terhenti. Tangannya berhenti di udara sebelum ia sempat menoleh. Tiba-tiba, tubuhnya terhempas ke samping setelah dorongan kuat mendarat di bahunya.
"Jangan sentuh dia!" geram Gerard sambil menatap pria yang tersungkur dan meringis kesakitan. Tapi ia tak langsung menolong wanita itu—justru berteriak padanya: "LARI!" Perintahnya tegas, karena dari dalam van, pria lainnya sudah melompat keluar membawa tongkat.
Mendengar teriakan itu, tubuh wanita itu malah membeku. Rasa sakit di sekujur tubuhnya terasa semakin panas, dibayangi ketakutan yang belum juga reda. Melihat pria kedua menghampiri dengan tongkat di tangan, kakinya terasa seperti tertanam di aspal. Jantungnya berdebar kencang tak beraturan, napasnya tersengal.
Matanya membulat, tak bersuara. Di dalam benaknya hanya ada satu kata yang berulang: Tolong…