Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Tak Terduga
Libur itu tiba tanpa banyak persiapan. Sebenarnya, Alvaro hanya berniat untuk menolak—seperti beberapa tawaran lainnya yang datang belakangan—namun nama kliennya membuatnya terhenti sejenak sebelum memberikan jawaban.
Sebuah brand lokal kecil yang baru mulai berkembang meminta sesi pemotretan santai di Jakarta Barat. Konsepnya sederhana, di luar ruangan dan dalam ruangan, menggunakan cahaya alami, dan modelnya pun tidak terlalu ribet. Hal yang membuat Alvaro akhirnya setuju adalah jadwalnya yang kebetulan jatuh pada hari libur Aurellia.
“Aku ikut, ya,” kata Aurellia saat Alvaro menceritakan hal itu sambil duduk di kafe, malam sebelumnya.
Alvaro merasa terkejut sejenak. “Ikut ke lokasi? ”
“Iya. Penasaran aja. Lagipula aku kan libur,” jawab Aurellia dengan santai, seolah itu keputusan yang biasa.
Namun di dalam hatinya, Aurellia sendiri juga tidak yakin mengapa ingin ikut. Mungkin ia ingin lebih mengenal dunia Alvaro. Atau bisa jadi ia ingin melihat Alvaro saat ia benar-benar menjalani passion-nya.
Pagi itu, Jakarta Barat tidak begitu ramai. Langit bersih, tanpa silau. Lokasinya adalah sebuah bangunan tua yang telah diperbarui menjadi studio semi-kafe, dengan jendela besar dan dinding putih yang memantulkan cahaya dengan lembut.
Aurellia berdiri di dekat pintu masuk, mengamati Alvaro yang sibuk menyiapkan kamera. Cara Alvaro bekerja sangat berbeda dibandingkan saat ia duduk santai di kafe. Gerakan tangannya lebih tegas, fokus di matanya lebih tajam, dan suaranya terdengar lebih percaya diri.
“Cahaya dari sini aja,” ucap Alvaro kepada tim. “Jangan terlalu dekat biar bayangannya tetap lembut. ”
Aurellia menyilangkan tangannya di dada, tanpa sadar tersenyum. Oh… ini Alvaro yang berbeda, pikirnya. Dan anehnya, ia suka versi ini juga.
Para model mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka adalah wanita, dengan gaya yang kasual namun terencana. Salah satunya—seorang perempuan berambut pendek dengan senyum penuh percaya diri, sangat menarik perhatian. Bukan karena berlebihan, tetapi karena penampilannya yang kuat.
Alvaro mengarahkan pemotretan, mengambil gambar, sesekali menunjukkan hasilnya di layar kamera. Wanita itu mendekat, melihat foto-fotonya, lalu tertawa kecil.
“Wow, ini bagus banget,” ujarnya dengan bersemangat. “Serius, ini salah satu foto terbaikku. ”
Alvaro tersenyum dengan sikap profesional. “Cahaya emang bantu banget. Kamu juga fotogenik. ”
Aurellia, yang berada beberapa langkah dari mereka, merasakan sesuatu bergolak di dalam dirinya. Bukan rasa marah. Juga bukan sedih. Lebih kepada… cemburu.
"Ia menarik napas pelan. Biasa saja, Rel. Itu hanya pekerjaan. Apalagi kamu kan cuma temen, bukan pacar. " Ujarnya dalam hati.
Pemotretan berlanjut. Aurellia berusaha menikmati suasana, duduk sejenak, lalu berdiri kembali. Ia tidak ingin terlihat canggung. Tetapi tanpa disadari, matanya terus mengikuti Alvaro.
Hingga saat itu tiba.
Setelah sesi pertama selesai, wanita tadi kembali menghampiri Alvaro. Wajahnya tampak cerah dan puas.
“Makasih, ya,” katanya. Lalu—secara refleks, ia mencium pipi Alvaro dengan cepat.
Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari dua detik.
Alvaro terdiam.
Aurellia pun tertegun.
Suara di sekeliling tampak meredup. Aurellia merasakan dadanya berdesir, seolah ada sesuatu yang menekan jantungnya. Ia tahu itu merupakan tindakan spontan. Ia juga menyadari itu tidak memiliki maksud lain. Namun, tubuhnya bereaksi lebih cepat dibandingkan pikirannya.
Ia beralih menatap ke arah lain, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Alvaro tersenyum canggung, mundur setengah langkah. “Eh—iya, sama-sama,” jawabnya dengan agak kikuk.
Setelah momen tersebut, suasana tetap berjalan normal. Tidak ada yang terlihat berbeda secara fisik. Namun, sesuatu telah berubah.
Dalam perjalanan pulang, mereka duduk berdampingan di mobil online. Tidak ada pembicaraan ringan seperti biasanya. Hanya terdengar suara jalanan dan musik tenang dari radio.
Alvaro melirik Aurellia. “Rel… kamu kenapa? ”
“Gapapa,” jawab Aurellia terburu-buru. Terlalu terburu-buru.
Alvaro terdiam sejenak. Meskipun ia bukan orang yang ahli dalam membaca emosi, suasana tenang ini terasa berbeda.
“Kalo aku ngelakuin kesalahan, tolong kasih tau,” ujarnya akhirnya.
Aurellia memandang keluar jendela. Lampu jalan tampak berkelip. Dada nya masih terasa sesak, tapi ia juga merasa malu kepada diri sendiri.
“Aku cuma… kaget,” ucapnya pelan. “Tadi. ”
Alvaro langsung menangkap maksudnya. “Maksud kamu yang tadi itu? ”
Aurellia mengangguk perlahan.
“Itu cuma spontan,” jelas Alvaro cepat. “Aku juga kaget tadi. ”
“Aku ngerti,” balas Aurellia. “Itu alasannya aku kesal sama diri aku sendiri. ”
Alvaro tertawa pelan, bukan karena mengejek, tapi lebih kepada rasa lega. “Jadi… kamu merasa cemburu? ”
Aurellia menoleh dan menatapnya tajam. “Aku nggak ngomong gitu. ”
“Tapi keliatan gitu,” jawab Alvaro lembut.
Aurellia terdiam lama. Kemudian, dengan suara hampir berbisik, ia berkata, “Iya. Dikit. ”
Pengakuan itu menggantung di ruang di antara mereka.
Alvaro tidak segera merespon. Ia menghela napas, lalu perlahan berkata, “Aku nggak keberatan kalo kamu ngerasain hal itu. ”
Aurellia memandangnya dengan terkejut.
“Soalnya,” lanjut Alvaro, “aku juga akan ngerasa cemburu kalo situasinya dibalik. ”
Motor berhenti. Mereka keluar dan berdiri di trotoar yang mulai sepi.
Aurellia memasukkan tangan ke dalam saku jaketnya. “Aku belum pernah ngerasain cemburu kayak gini. Rasanya… nggak nyaman. ”
Alvaro memberikan senyuman kecil. “Cemburu bukan masalah ketidakpercayaan. Kadang-kadang itu cuma nunjukin kalo kita peduli. ”
Mereka berjalan perlahan. Jarak di antara mereka lebih dekat dari biasanya, meskipun tidak bersentuhan.
“Aku nggak mau ngerusak apa pun,” kata Aurellia.
“Ini nggak rusak,” balas Alvaro. “Ini cuma… bagian dari proses saling mengenal. ”
Aurellia sejenak berhenti. “Apa kamu yakin? ”
Alvaro menoleh dan menatapnya dengan serius. “Yakin banget malah. ”
Malam itu, masalah kecil tidak diselesaikan dengan janji besar atau pelukan yang dramatis. Hanya dengan kejujuran yang canggung, dan kesadaran bahwa perasaan mereka cukup nyata untuk saling memengaruhi.
Dan bagi Aurellia, walaupun rasa cemburu itu terasa tidak nyaman, ia pulang dengan satu keyakinan kecil yang tanpa sadar membuatnya tersenyum:
Ia tidak lagi berada di pinggiran hidup Alvaro. Ia sudah terlibat—perlahan, namun pasti.
Rasa bersalah itu datang perlahan, namun menghantui. Alvaro baru sadar sepenuhnya saat malam sudah larut dan ia sendirian di kamar kosnya. Kamera tergeletak di atas meja, belum sempat ia sentuh lagi setelah pulang. Setiap kali matanya terpejam, yang terbayang bukan hasil foto yang diambil hari itu—melainkan wajah Aurellia saat ia berusaha menahan diri di dalam mobil.
Seharusnya gue lebih aware, pikirnya. Gue seharusnya jaga jarak yang lebih jelas.
Ia mengerti bahwa Aurellia mengatakan itu bukan kesalahannya. Namun Alvaro juga memahami bahwa perasaan tidak selalu sejalan dengan logika. Dan membiarkan seseorang yang ia sayangi pulang dengan berat hati—itu bukan pengalaman yang ingin ia ulang.
Esok harinya, ia mengirim pesan singkat.
Boleh aku ajak kamu ke suatu tempat? Aku ingin minta maaf… secara langsung.
Tak lama kemudian, balasan pun diterima.
Boleh. Ke mana?
Alvaro menatap layar sejenak sebelum mulai mengetik.
Kita naik motor. Lebih nyaman. Nanti aku jemput pulang kerja kan kamu shift pagi hari ini.
Hari itu, Alvaro menjemput Aurellia menggunakan motornya, bukan dengan jarak aman yang terasa terlalu kaku. Aurellia naik tanpa banyak tanya, helm sudah dipakai, dan tangannya berpegangan ringan di sudut jaket Alvaro. Tidak terlalu erat, tetapi cukup untuk membuat Alvaro lebih tegak dan berhati-hati dari biasanya.
Mereka berhenti di suatu tempat yang tenang—bukan lokasi ramai, juga tidak terlalu sepi. Hanya terdapat bangku kayu, pepohonan, dan sinar sore yang menyinari lembut.
“Aku mau motret kamu,” ucap Alvaro akhirnya. “Bukan buat kerja. Bukan buat apa-apa. Cuma… pengen aja. ”
Aurellia menatapnya lama, kemudian mengangguk. “Oke. ”
Alvaro pun tampak sangat serius memotret Aurellia yang masih menggunakan seragam kerjanya. Kecantikannya tetap memancar meskipun wajahnya tampak lelah. Alvaro merasa sangat beruntung bisa dekat dengan Aurellia.
Saat Alvaro mengangkat kameranya, tangan terasa sedikit bergetar. Tapi kali ini bukan karena masalah teknis. Melainkan karena niat sederhana yang akhirnya ia akui sepenuhnya: menjaga perasaan seseorang yang sudah ia biarkan mendekat, terlalu dekat untuk terluka, bahkan tanpa disengaja.