Hanya satu persen dari populasi global, manusia yang memiliki warna mata heterochromia. Lunar salah satunya.
Memiliki warna mata hijau dan biru, Lunar menyembunyikannya ketika hidup di luar Silvanwood yang terisolasi dari teknologi.
Untuk menyambung hidup, Lunar tak menduga menjadi aktris di perusahaan entertainment milik Jackson Adiwangsa dan menjadi kesayangannya.
Hingga kejadian tak terduga membuat apa yang disembunyikan Lunar terkuak. Bagaimana kehidupan Lunar, apakah dia akan tetap tinggal atau kembali ke Silvanwood?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Introvert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima
Lunar baru ke luar dari kamar mandi. Dia merasa jijik karena disentuh Aaron. Lunar menatap pantulan dirinya di cermin, ada beberapa tanda kepemilikan Aaron di lehernya.
Lunar meringis, mata hijau dan biru miliknya berkaca-kaca. Gadis itu bersyukur, untung saja tidak ada maid yang mau berbagi kamar dengannya.
Namun yang terjadi di gudang tak sepenuhnya menakutkan. Lunar jadi geer karena menganggap pria yang menolongnya menganggap Jackson Adiwangsa. Tanpa sadar Lunar tersenyum, jantungnya pun berdebar.
Lunar terperanjat karena tiba-tiba pintu digedor kencang. Lunar bergegas memakai lensa hitam kemudian membuka pintu.
Kepala maid berdiri angkuh tanpa permisi masuk ke dalam. Dia meneliti Lunar dari atas hingga bawah kemudian duduk di tepi ranjang.
"Aku kasihan sama kamu, Lunar. Orang-orang di sini memperlakukanmu dengan buruk dan tuan Aaron tidak akan membiarkanmu lolos. Lunar, aku hidup lebih lama darimu. Kau terlalu naif tinggal di sini," ujar kepala maid.
Lunar bergeming.
"Kau tidak cocok memakai baju pelayan. Jika jujur, kau jauh lebih cantik dari nona Alice. Kalau kau mau aku bisa membantumu mendapatkan pekerjaan layak, menghasilkan banyak uang dan dihargai. Semua orang akan memujamu!" tambahnya membuat Lunar tertarik.
Seperti apa kata Aling, Lunar harus mencari identitasnya sendiri. Lunar putuskan menerima tawaran kepala maid. Mereka pun berjabat tangan tanda deal dan saat sore Lunar dibawa pergi jauh.
Awalnya Lunar tak curiga, tapi akhirnya dia bisa merasakan niat kepala maid tidaklah baik. Terlanjur, Lunar tak bisa lari. Jika hanya dia seorang, Lunar mampu melarikan diri tapi di tiap sisi Lunar dijaga bodyguard.
Lunar berada di tempat asing. Bahasanya pun dia tak mengerti dan bertemu orang dari berbagai ras. Gadis itu dipaksa masuk ke dalam ruangan, Lunar terbelalak karena di dalam sana banyak gadis selain dirinya.
Sama seperti Lunar, gadis-gadis muda itu menunjukan wajah ketakutan. Sementara di ruangan lain terdengar jeritan perempuan kesakitan.
Dari semua gadis, hanya Lunar yang diikat dengan kain sutera dan diberi makanan layak. Meskipun ditawan sepertinya Lunar tidak boleh terluka.
Lunar prihatin melihat gadis lain, tapi mereka mengatakan kecantikan Lunar telah menyelamatkannya. Lunar semakin mengerti apa yang terjadi pada dirinya, ketika kepala maid kembali menemuinya.
"Daripada menjadi pembantu terhina di keluarga Erina, kau akan mendapat kebahagiaan dunia dimulai dari tempat ini Lunar," ujar kepala maid.
"Tapi bukan pekerjaan ini yang kumau," lirih Lunar.
Kepala maid menatap sinis. Dia menjawab pekerjaan Lunar tidak capek dan hanya menemani kencan pria VIP saja.
"Karena kau masih perawan jadi hargamu dibandrol fantastis. Mulai saat ini belajarlah ramah pada seorang pria, ayo tersenyum! Kau punya mata yang indah, mainkan matamu!" ujar kepala maid menggoda.
Lunar meneguk ludah, dia tak bisa melakukannya. Namun saat itu juga kepala maid merias Lunar, dia disuruh memakai dress merah dan rambutnya dibuat bergelombang. Lunar tak diberi kesempatan bercermin karena matanya langsung ditutupi kain hitam.
Hanya decakan kagum karena kecantikannya yang dia dengar. Lunar pun ditarik kepala maid untuk mengikutinya. Kini Lunar merasa berada di ruangan lain. Dingin AC membuat gadis itu menggigil.
Lunar mendengar orang berbicara bahasa asing. Cekikikan perempuan dan lenguhan pria menodai kepolosan Lunar.
Lunar dilelang dengan harga satu juta SGD. Nilai yang fantastis. Kepala maid tersenyum simpul lantas mendorong Lunar pada pemiliknya.
Selain matanya ditutup, tangan Lunar pun diborgol. Dia diminta duduk manis di samping seorang pria. Mereka pun menyodorkan gepokan uang ke meja bundar berukuran besar lalu dealer membagikan kartu.
Permainan kasino yang dihadiri bukan sembarang orang, membuat pria yang memenangkan Lunar frustasi. Uang dan harta bendanya habis lalu didudukkan Lunar ke atas meja untuk dijadikan taruhan dengan nilai sepuluh juta SGD.
"Wow! She is mine now!"
Seorang pria memenangkan perjudian, lalu asisten sang pria menarik Lunar beserta triliunan uang ke dalam koper aluminium custom.
......................
Penutup mata gadis itu masih belum dibuka dan tangannya masih diborgol. Lunar kembali dibawa pergi. Gadis itu hanya bisa pasrah, hatinya menjerit ternyata menjadi orang miskin tidaklah menyenangkan.
Mereka yang mempunyai uang bertingkah semaunya. Jika seperti itu, Lunar bertekad akan mencari uang sebanyak mungkin agar tidak ditindas.
Namun sekarang Lunar hanya bisa duduk di ranjang. Gadis itu meraba seprai selembut sutra. Aroma ruangan pun berbeda, kali ini aroma cedarwood yang cocok untuk relaksasi.
"Tolong lepaskan borgol di tanganku," lirih Lunar.
Dia tahu ada yang masuk. Meskipun dengan mata tertutup, tapi Lunar bisa merasakan kehadiran seseorang.
Jantung Lunar berdebar kencang ketika aura hangat terasa di bagian punggungnya. Lunar yakin ada seseorang di belakangnya. Entah akan di apakan dirinya, Lunar tetap berusaha lari.
"Apa kau masih virgin?"
Suara pria membisik di telinga Lunar. Gadis itu mengangguk takut. Lunar mengiba belas kasihan, dia mengatakan bukan pekerjaan seperti ini yang diminta. Dia pun terang-terangan telah dijual tanpa persetujuan darinya.
"Lalu apa peduliku?" tanya pria itu datar.
Lunar bergeming.
Gadis itu menyesali karena terlalu banyak bicara. Seharusnya Lunar sadar dari semenjak datang ke kota ini selalu dipertemukan dengan orang licik.
Penutup mata dihempas pria di belakangnya asal. Mata Lunar mengerjab sesekali berdehem menetralkan tenggorokannya terasa pedas.
Lunar ingin menangis.
Tak lama kemudian, pria di belakangnya menarik tangan Lunar lalu dibukalah borgol yang sudah membelenggunya selama berjam-jam.
"Terimakasih tuan, a-aku akan segera pergi dari sini. Aku akan pulang ke tempat asalku," ucap Lunar terburu-buru.
Dia turun dari ranjang hendak pergi tapi tak bisa. Pintu kamar memakai password membuat Lunar frustasi.
Lunar membatin ternyata semua pria sama saja. Lunar pun hanya mematung sementara si pria tiduran tanpa canggung.
Sial
Kenapa, harus canggung? Sementara kamar ini miliknya.
"Tolong, pijat kakiku!" perintahnya membuat Lunar gagap.
Gadis itu melangkah pelan lalu duduk di bawah seraya menyentuh kaki si pria yang menjuntai. Lunar mulai memijatnya pelan.
Lunar seakan lupa bahwa pria itu sudah memenangkannya di meja judi. Jadi, secara harfiah Lunar miliknya.
"Aku tak mengerti, kenapa kita selalu bertemu di saat kau terkena masalah," ucap pria itu membuat Lunar mendongak.
Jika diingat-ingat, suaranya tidaklah asing di telinga Lunar. Spontan pria itu bangun membuat Lunar terkejut.
"Tuan Jackson," Lunar sampai membulatkan matanya.
Gadis itu meneguk ludah. Jackson mengangkat sudut bibirnya, dia pun mengatakan tidaklah minat berjudi pada saat itu dan dia tidak tahu bahwa Lunar lah gadis yang jadi taruhan. Jackson tertarik begitu Tom menyebut gadis perawan.
Jackson menyuruh Lunar duduk di sampingnya. Pria itu melihat Lunar sedemikian teliti membuat gadis itu gugup.
"Lalu apa aku harus menyentuhmu?" Jackson mengangkat kedua alis.