NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: LAWAN JUARA BERTAHAN

#

Malam berikutnya. Arena penuh sesak. Lebih rame dari kemarin. Mungkin ada tiga ratus orang lebih. Mereka berdesakan. Teriak-teriak. Asap rokok tebal kayak kabut. Bau keringat campur alkohol menyengat.

Bayu berdiri di sudut ring. Tangannya dibebat perban putih lusuh. Tubuhnya masih penuh luka. Lengannya yang kemarin kena parang masih sakit. Rusuknya masih berdenyut tiap kali napas. Tapi dia harus naik ring.

Harus.

Karena kalau nggak... dia bakal mati.

"Lu yakin mau lanjut?" tanya Pak Guntur yang berdiri di samping. Wajahnya serius. Nggak kayak kemarin yang santai. "Gue bisa cancel. Gue bilang lu sakit."

Bayu menggeleng. "Nggak usah. Gue baik-baik aja."

"Lu nggak baik-baik aja, bocah. Gue bisa lihat lu masih luka parah. Benny itu... dia nggak main-main. Dia bukan Big Joe yang cuma gede doang tapi lamban."

Bayu menatap ring di depannya. "Gue tau."

Pak Guntur menghela napas panjang. "Kalau lu mati, gue nggak tanggung jawab."

"Gue nggak akan mati."

"Lu nggak tau Benny."

"Dan dia nggak tau gue."

Pak Guntur terdiam. Lalu menepuk bahu Bayu keras. "Oke. Semoga dewa lo ngasih keberuntungan."

Dia pergi. Meninggalkan Bayu sendirian.

Bayu menatap tangannya yang gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena tubuhnya masih lemah. Belum sembuh. Belum siap.

Tapi gue nggak punya pilihan.

Lalu... pintu arena terbuka. Suara musik keras meledak. Bass-nya menggelegar. Penonton langsung bersorak histeris.

"BENNY! BENNY! BENNY!"

Dari pintu, muncul seorang pria. Besar. Sangat besar. Tingginya mungkin seratus sembilan puluh sentimeter. Berat badannya... mungkin seratus dua puluh kilogram. Tapi bukan gendut. Otot semua. Lengannya sebesar paha orang normal. Dadanya bidang. Rahangnya kotak. Kepalanya botak mengkilap. Di lengan kanannya, tato tengkorak. Di punggungnya, tato naga hitam besar.

Brutal Benny.

Dia berjalan santai ke ring. Senyum lebar terpasang di wajahnya. Tapi senyum itu... menyeramkan. Seperti predator yang udah cium bau darah.

Dia naik ring dengan lompatan satu kali. Ringan. Meski tubuhnya sebesar gajah.

Penonton makin histeris.

"BUNUH DIA, BENNY!"

"HAJAR SAMPAI MATI!"

Benny berdiri di tengah ring. Meregangkan leher kiri kanan. Bunyi tulang retak terdengar keras. Dia memutar bahu. Otot-ototnya bergerak kayak ular di bawah kulit.

Lalu matanya menatap Bayu.

Dan dia tertawa.

Tawa keras yang menggelegar di arena.

"INI LAWANKU?!" teriaknya sambil nunjuk Bayu. "BOCAH KURUS INI?!"

Penonton ikut ketawa.

"BENNY BAKAL MENANG CEPAT!"

"SATU PUKULAN LANGSUNG MATI TUH!"

Benny berjalan ke sudut ring tempat Bayu berdiri. Dia berhenti tepat di depan. Menatap dari atas. Karena dia lebih tinggi.

"Heh, bocah." Suaranya berat. Dalam. "Lu tau gue udah bunuh berapa orang di ring ini?"

Bayu menatapnya datar. Nggak jawab.

"Tiga orang." Benny ngangkat tiga jari di depan wajah Bayu. "Satu gue patahkan lehernya. Satu gue hancurin kepalanya sampe otak keluar. Satu lagi... gue lempar keluar ring sampe kepalanya pecah di lantai beton."

Dia menyeringai. "Lu mau jadi yang keempat?"

Bayu masih diam. Tapi tangannya mengepal.

Benny tertawa lagi. Lalu berbalik. Kembali ke sudutnya.

Wasit masuk ring. Pria botak yang sama kayak kemarin.

"PERATURAN SAMA!" teriaknya. "NGGAK ADA ATURAN! YANG PINGSAN ATAU MATI... KALAH!"

Dia mundur cepat.

"MULAI!"

Benny langsung maju. Cepat. Terlalu cepat buat ukuran tubuh sebesar itu.

Tinju kanannya meluncur. Keras. Lurus ke wajah Bayu.

Bayu menghindar. Kepala miring ke samping.

Tinju itu meleset. Tapi anginnya aja udah bikin pipi Bayu panas.

Kalau kena... pasti langsung pingsan.

Benny nggak berhenti. Tinju kirinya menyusul. Ke perut Bayu.

Bayu mundur cepat. Tinju itu cuma nyenggol sedikit.

Tapi cukup buat bikin Bayu ngos-ngosan. Rasa sakit meledak dari rusuknya yang udah retak.

"Ngg..."

Bayu mundur lagi. Napasnya pendek.

Benny menyeringai. "Lari terus, bocah? Mau sampe kapan?"

Dia maju lagi. Kali ini lebih cepat.

Tendangan kaki kanannya meluncur ke pinggang Bayu.

Bayu nggak sempat nghindar. Tendangan itu kena. Telak.

BRAK!

Tubuh Bayu terlempar. Punggungnya membentur tali ring. Terpental balik. Jatuh ke lantai.

Penonton bersorak.

"ITUUUU! HAJAR TERUS!"

Bayu mencoba bangun. Tapi perutnya sakit luar biasa. Rasanya kayak tulang rusuknya patah tambah banyak.

Nggak. Gue nggak boleh kalah.

Dia bangkit setengah berdiri.

Tapi Benny udah di depannya. Tangannya mencengkram rambut Bayu. Angkat kepalanya paksa.

"Lu pikir lu bisa lawan gue?" bisik Benny dengan senyum sadis.

Lalu dia hantam kepala Bayu dengan kepalanya sendiri.

BRAK!

Kepala bertabrakan. Bayu langsung pusing. Penglihatannya kabur. Darah keluar dari hidungnya.

Benny lepas rambutnya. Bayu jatuh ke lantai lagi.

"BERDIRI! BERDIRI, BOCAH! GUE BELUM SELESAI!"

Bayu terbaring di lantai. Napasnya tersengal. Darah mengalir dari hidung ke mulut. Rasanya asin. Pahit.

Gue... gue bakal mati di sini?

Memori tiba-tiba muncul. Paksa.

Kenzo kecil. Dipukuli Raka di kamar. Jatuh ke lantai. Darah keluar dari bibir.

"Bangun, pecundang! Bangun!"

Kenzo mencoba bangun. Tapi Raka tendang lagi. Keras. Ke rusuk.

"BANGUN!"

Kenzo nangis. "Maaf... maaf... aku nggak akan ganggu lagi..."

"MAAF LU PIKIR CUKUP?!"

Tendangan lagi. Lagi. Lagi.

Sampai Kenzo nggak bisa bangun lagi.

Valerie masuk. Lihat Kenzo tergeletak. Darah di mana-mana.

Tapi dia nggak nolong.

Dia cuma menatap dingin. "Bersihkan dirimu. Kau mengotori lantai."

Lalu dia pergi.

Kenzo terbaring sendirian. Menangis dalam diam.

"Kenapa... kenapa aku harus lahir..."

Bayu membuka matanya. Air mata keluar tanpa sadar. Bercampur darah.

Bukan air matanya. Air mata Kenzo.

Kesedihan yang nggak pernah hilang.

Rasa sakit yang mengendap bertahun-tahun.

"Gue... nggak akan jadi lu lagi, Kenzo..."

Bisikan itu keluar pelan.

"Gue nggak akan kalah lagi..."

Bayu menekan lantai dengan tangan. Mencoba bangun.

Benny menatap dari atas. Tertawa. "Oh, masih bisa bangun? Bagus! Gue suka mainan yang tahan lama!"

Dia angkat kakinya. Mau injak kepala Bayu.

Tapi tiba-tiba...

**[PERINGATAN: KESEHATAN 10 PERSEN]**

**[ANCAMAN KEMATIAN TERDETEKSI]**

**[AKTIVASI MODE DARURAT]**

**[MODE PEMBUNUH: AKTIF]**

Sesuatu berubah di dalam diri Bayu.

Seperti sakelar yang dibalik.

Rasa sakit menghilang. Tiba-tiba. Total.

Tubuhnya terasa ringan. Sangat ringan.

Matanya... berubah. Dari sayu jadi tajam. Dingin. Seperti predator.

Kaki Benny meluncur turun.

Tapi Bayu guling cepat. Lebih cepat dari sebelumnya.

Kaki Benny cuma hantam lantai. BRAK!

Lantai ring retak.

Bayu bangkit. Cepat. Seperti nggak ada luka.

Benny mengernyit. "Apa...?"

Bayu menatapnya. Matanya kosong. Tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang menakutkan.

Aura membunuh.

Penonton mulai hening. Merasakan sesuatu yang berbeda.

Benny mundur satu langkah. Pertama kalinya dia mundur.

"Lu... lu berubah..."

Bayu tersenyum. Tapi senyum itu dingin. Seperti maut.

"Sekarang... giliran gue."

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!