Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Kembali Pulang.
Kenzo, Damian, dan juga Andre mendengarkan cerita Rania dengan khusyuk. Wajah ketiga lelaki itu tampak tetap datar, tetapi sorot mata mereka menunjukkan sebuah kemarahan saat mendengar semua yang telah terjadi pada Rania.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya akan melakukan semua yang terbaik untuk Anda," ucap Andre saat Rania sudah selesai menceritakan semuanya. "Saya pastikan Anda mendapat hak atas putra Anda, dan saya juga akan mengurus laporan Anda di kantor polisi." sambungnya sembari memasukkan kembali alat tulis dan perekam suara ke dalam tas.
"Terima kasih banyak," balas Rania sembari tersenyum senang, dia merasa sedikit lega karena sudah bertemu dengan pengacara.
Kemudian Kenzo mengajak Rania untuk keluar dan langsung diikuti oleh wanita itu tanpa bertanya, meninggalkan Damian dan Andre yang masih berada di sana.
"Heh, nona Rania itu siapanya tuan muda?" tanya Andre sambil menyenggol lengan Damian yang masih melihat ke arah sang tuan.
Damian lalu menoleh. "Aku tidak tau, aku baru bertemu dengannya hari ini." jawabnya jujur.
Andre berdecih, dia menyipitkan kedua matanya menatap Damian dengan tidak percaya. "Cepat katakan padaku, apa nona Rania itu pacar tuan muda?" desaknya penasaran.
Damian mendengus kesal dan langsung meninggalkan Andre membuat laki-laki itu berteriak marah. Dia sendiri pun tidak tahu siapa wanita bernama Rania dan sudah sejak kapan berhubungan dengan tuannya, padahal baru beberapa hari saja dia tidak berada di sisi sang tuan.
"Aku harus segera mencari tau," gumam Damian. Dia berjalan masuk ke dalam ruang kerja untuk mencari tahu semua hal tentang Rania dan kenapa wanita itu bisa bersama dengan tuannya.
Sementara itu, Kenzo dan Rania sudah berada di dalam mobil. Suasana terlihat sunyi karena belum ada yang buka suara mulai dari saat mereka berangkat.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada Anda, Tuan," ucap Rania, memecahkan keheningan yang ada di dalam mobil.
Kenzo menoleh sekilas. "Panggil aku Kenzo." katanya datar.
Rania mengernyitkan kening, tidak mungkin dia memanggil nama saja pada seseorang yang sangat dihormati oleh Damian dan juga Andre. Dia juga tahu jika Kenzo pasti bukan orang sembarangan, bahkan dari rumahnya saja sudah sangat terlihat.
"Sa-saya tidak mungkin bersikap lancang pada An-"
"Kenzo," potong Kenzo membuat ucapan Rania terhenti. "Panggil aku Kenzo." perintahnya dengan penuh penekanan.
Rania terdiam, kedua tangannya saling bertautan. Dia yang semula memperhatikan Kenzo, tampak memalingkan wajah dan melihat lurus ke depan.
"Ba-baiklah, Kenzo," ucapnya pelan, lidahnya terasa kaku menyebut nama laki-laki itu.
Kenzo tersenyum tipis, kemudian dia menepikan mobilnya membuat Rania seketika menatap heran. "Di mana rumahmu?" tanyanya seraya melihat ke arah wanita itu.
"Rumahku di... " ucapan Rania menggantung, dia tidak tahu harus pulang ke mana sekarang. Apalagi barang-barangnya masih berada di rumah Rangga, tapi semua surat-surat berharga dan dokumen sudah berhasil dia bawa. "A-aku pulang ke daerah blok M." katanya menyebutkan alamat rumah lamanya.
Kenzo mengangguk, kemudian kembali melajukan mobilnya menuju alamat yang baru saja Rania sebutkan.
"Ta-tapi, berapa uang yang harus saya siapkan untuk pengacara tadi?" tanya Rania, tiba-tiba dia teringat dengan Andre. Sepertinya laki-laki itu adalah pengacara terkenal, jadi pasti bayarannya tidak sedikit.
"Bayarlah kalau semuanya sudah selesai," jawab Kenzo.
Rania diam, mencoba untuk menerka-nerka uang yang harus dia siapkan. Jangan-jangan uangnya tidak cukup untuk membayar jasa pengacara itu?
"Iya tapi berapa? Supaya aku bisa menyiapkannya," ucap Rania kembali, dia sudah menggunakan bahasa tidak formal sekarang.
Kenzo mengendikkan bahu seolah berkata jika dia tidak mengetahuinya, tentu saja hal itu membuat Rania berdecih sebal.
"Baiklah, akan aku tanya sendiri nanti sama Andre." Rania mencebikkan bibirnya.
Dalam perjalanan, Rania meminta berhenti sebentar ke supermarket untuk berbelanja karena tidak ada bahan masakan di rumah lamanya. Dia juga membeli belanjaan yang lain untuk digunakan sehari-hari.
"Totalnya empat ratus dua puluh sembilan, Nona," ucap kasir sembari memberikan struk belanjaan pada Rania.
Rania segera menerima struk itu dan segera membuka dompetnya untuk mengambil uang. Namun, belum sempat dia membayar, tiba-tiba Kenzo menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam pada petugas kasir yang langsung diterima dan diproses.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rania, kedua mata Rania membelalak lebar saat melihat bahan belanjaannya di bayar oleh Kenzo.
"Aku membayar belanjaanku," jawab Kenzo santai, dia menunjuk ke arah meja kasir di mana ada dua minuman kaleng di sana.
"Tapi dia masih menghitung belanjaanku, jadi tunggu sebentar," balas Rania. Dia segera memberikan uang pada petugas kasir, tapi petugas itu mengatakan jika sudah di bayar oleh Kenzo.
Rania langsung melotot tajam ke arah laki-laki itu. "Kenzo!" bentaknya dengan suara tertahan, merasa tidak suka dengan apa yang laki-laki itu lakukan.
"Nanti kau bisa gantian membayar belanjaanku," ucap Kenzo asal, dia segera mengambil semua belanjaan Rania dan juga membawa minumannya untuk keluar dari sana.
Rania berdecih, dia segera mengikuti langkah Kenzo untuk keluar sembari bersungut-sungut marah, tanpa sadar jika ada seseorang yang sedang memperhatikan.
Dua orang lelaki memakai pakaian serba hitam tampak memperhatikan Rania dan Kenzo dari dalam mobil. Salah satu dari mereka segera menghubungi sang atasan untuk memberi laporan.
"Bagaimana? Apa kalian melihatnya di sana?" tanya seseorang di seberang telepon.
"Iyah, Bos. Kami melihatnya di supermarket yang berada tidak jauh dari rumah wanita itu," lapornya.
"Baiklah, tetap ikuti dia dan jangan sampai kehilangan jejaknya."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda