NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

⚠️MC NON MANUSIAWI‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembah Gunung Jinting

Perjalanan dari Kota Jinting menuju Lembah Gunung Jinting bukanlah sekadar perpindahan geografis; itu adalah perjalanan dari wilayah peradaban menuju kawasan purba.

Lu Daimeng berjalan kaki.

Dia tidak menggunakan kuda, karena hewan biasa akan ketakutan merasakan aura Anti-Dao yang merembes samar dari pori-porinya. Dia juga tidak berlari dengan kecepatan penuh, karena itu akan menarik perhatian yang tidak perlu.

Dia berjalan dengan ritme seorang pengembara. Langkahnya stabil, napasnya teratur.

Tubuhnya kini terbungkus jubah hitam panjang yang terbuat dari kain kasar—jenis yang biasa dipakai oleh kultivator liar miskin. Di kepalanya, dia mengenakan Topi Bambu Penyembunyian Aura.

Benda ini adalah salah satu jarahan dari tetua keluarga Lu bidang logistik yang dia bunuh. Topi ini memiliki layar kain tipis yang menutupi wajah, ditenun dengan benang perak yang mampu membiaskan pemindaian Jiwa tingkat rendah.

Sangat berguna untuk menyembunyikan sepasang mata yang memiliki enam pupil.

Bau darah dan amis mayat yang selama ini melekat padanya telah hilang. Sebelum meninggalkan Kota Jinting, Lu Daimeng telah masuk ke gudang pribadi Tetua Logistik yang dia bantai. Dia tidak hanya mengambil harta, dia juga mandi dengan Cairan Pembersih Roh—ramuan alkimia mahal yang biasanya digunakan oleh selir-selir ayahnya untuk menghilangkan bau keringat agar wangi sepanjang bulan.

Sekarang, Lu Daimeng tidak berbau seperti darah.

Dua hari perjalanan berlalu dalam keheningan kalkulatif.

Di hari ketiga, muncul sebuah pemandangan yang membuat napas orang biasa tercekat.

Lembah Gunung Jinting.

Ini adalah luka raksasa di permukaan bumi, sebuah cekungan selebar sepuluh mil yang diapit oleh tebing-tebing batu setinggi langit. Berbeda dengan Hutan Kabut Kematian yang suram, lembah ini... hidup. Terlalu hidup.

Pohon-pohon purba dengan daun berwarna ungu dan merah tumbuh subur, akar-akarnya menjuntai dari tebing seperti rambut raksasa. Air terjun jatuh dari ketinggian ribuan meter, menciptakan pelangi abadi di dasar lembah. Udara di sini kental dengan Qi alam, begitu padat hingga terasa manis di lidah.

Bagi kultivator normal, ini adalah surga.

Bagi Lu Daimeng, ini adalah ladang pembantaian yang dihias dengan bunga.

"Tempat yang indah untuk membunuh," gumamnya pelan di balik tirai topinya.

Dia turun ke dasar lembah, bergabung dengan kerumunan.

Ratusan orang sudah berkumpul di pelataran batu alami di depan sebuah gerbang gua raksasa yang masih tertutup segel energi berputar.

Mereka adalah Loose Cultivators (Kultivator Liar). Sampah masyarakat kultivasi. Orang-orang yang tidak memiliki sekte, tidak memiliki latar belakang, dan berkultivasi dengan teknik curian atau pecahan kitab rusak.

Mereka berisik, kotor, dan serakah.

"Hei, Saudara! Kau sendirian?" sapa seorang pria kurus dengan gigi kuning, mencoba mengakrabkan diri dengan Lu Daimeng. Matanya licik, melirik pedang hitam di pinggang Lu Daimeng. "Alam Rahasia ini berbahaya. Mau bergabung dengan kelompok kami? Kami bagi hasil 40-60."

Lu Daimeng berhenti. Dia menoleh sedikit.

Di balik kain penutup wajahnya, Triple Pupil di mata kanannya berputar.

Dia melihat pria itu bukan sebagai manusia, tapi sebagai kantong daging.

Ranah Pembentukan Qi Tahap 3. Meridian paru-parunya rusak karena teknik pernapasan yang salah. Senjata racun di lengan baju kiri. Niat membunuh tersembunyi.

"Aku tidak tertarik berbagi jarahan," jawab Lu Daimeng. Suaranya rendah, serak, dan membawa getaran frekuensi yang membuat bulu kuduk pria itu berdiri.

Pria kurus itu mundur selangkah, insting binatangnya menjerit bahaya. "Cih, sombong sekali! Mati saja kau di dalam sana!"

Lu Daimeng mengabaikannya. Dia berjalan ke sudut pelataran yang teduh, bersandar pada batu besar, dan melipat tangan di dada.

Dia menjadi penonton.

Dia mengamati setiap wajah, setiap senjata, setiap kelompok. Dia sedang membangun database ancaman di dalam kepalanya.

Tiba-tiba, kerumunan kultivator liar itu terdiam. Suara riuh rendah berubah menjadi kesunyian yang tegang.

Dari langit timur, suara siulan tajam memecah udara.

WUUUZZZZ!

Enam berkas cahaya biru melesat turun dari balik awan, membelah atmosfer dengan arogansi yang tak tertutupi.

Mereka mendarat di posisi paling strategis di depan gerbang segel lalu menyimpan artefak terbang mereka. Debu beterbangan, memaksa para kultivator liar mundur sambil menutup mata.

Sekte Awan Biru (Blue Cloud Sect).

Enam orang. Semuanya mengenakan jubah putih-biru yang bersih tanpa noda, kontras dengan para kultivator liar yang dekil. Pedang terbang mereka melayang di punggung, dikendalikan oleh telekinesis tingkat dasar.

Lu Daimeng menyipitkan mata di balik topinya.

Dia memindai mereka satu per satu.

Pembentukan Qi Tahap 7. Tahap 7. Tahap 8. Tahap 8. Tahap 8.

Dan pemimpinnya...

Seorang wanita muda. Cantik, dingin, dengan rambut hitam yang diikat tinggi menggunakan tusuk konde perak. Kulitnya seputih porselen, matanya tajam seperti elang.

Bi Yue. Murid elit Aula Luar. Pembentukan Qi Tahap 9 Puncak.

Aura wanita itu tajam. Di sekeliling tubuhnya, udara bergetar sedikit seolah-olah takut menyentuhnya.

"Minggir," ucap Bi Yue pelan. Suaranya tidak keras, tapi mengandung infus Qi yang membuatnya terdengar jelas di telinga ratusan orang.

Para kultivator liar buru-buru menyingkir, memberikan ruang luas bagi murid sekte besar itu. Tidak ada yang berani menatap matanya.

"Domba-domba yang patuh," pikir Lu Daimeng sinis. "Mereka lebih takut pada seragam daripada pada pedang."

Belum sempat kehebohan mereda, tanah bergetar.

DUM! DUM! DUM!

Suara langkah kaki yang berat, seolah raksasa sedang berjalan, datang dari arah hutan barat.

Enam sosok muncul. Mereka tidak terbang dengan pedang. Mereka berjalan kaki, membawa peti-peti hitam atau senjata berukuran besar di punggung mereka.

Sekte Bambu Hitam (Black Bamboo Sect).

Sekte ini terkenal dengan teknik penguatan tubuh dan penggunaan senjata berat. Mereka adalah antitesis dari Sekte Awan Biru yang elegan.

Pemimpin mereka adalah seorang pria raksasa setinggi dua meter, bertelanjang dada, memperlihatkan otot-otot yang diselimuti tato totem berwarna hijau gelap. Dia memanggul sebuah pedang besar yang terbuat dari Batang Bambu Hitam Milenium—benda yang beratnya pasti ratusan kilogram.

Zian Qin. Pembentukan Qi Tahap 9 Akhir. Fokus pada kekuatan fisik dan pertahanan.

Lu Daimeng merasakan sedikit ketertarikan. Fisik Zian Qin kuat. Mungkin Dantian-nya memiliki rasa yang lebih "Kuat" dan padat.

"Oh si Jalang Bi Yue!" seru Zian Qin, suaranya menggelegar seperti guntur. "Kau datang cepat sekali, Nona Kecil. Apa kau takut semua rumput spiritual diambil olehku?"

Bi Yue meliriknya dengan jijik. "Jaga bicaramu binatang. Ototmu menghambat otakmu, Zian Qin. Kami datang untuk memastikan sampah-sampah tidak mengotori jalan masuk."

Ketegangan antara dua sekte besar membuat udara di lembah itu terasa berat. Kultivator liar menahan napas, takut terjebak dalam pertarungan gajah.

Namun, perhatian Lu Daimeng segera teralihkan.

Dari arah selatan, rombongan ketiga tiba.

Mereka tidak sekuat dua sekte sebelumnya, tapi kedatangan mereka disertai dengan kemewahan yang norak. Kereta-kereta yang ditarik oleh Kuda Spirit bertanduk satu, dikawal oleh pelayan dan penjaga.

Bendera berlambang Ouroboros.

Keluarga Lu.

Lu Daimeng tidak bergerak, tapi otot di rahangnya menegang.

Enam pemuda dan pemudi turun dari kereta. Mereka mengenakan jubah sutra emas yang mahal, dihiasi dengan berbagai artefak pelindung yang berkilauan. Mereka bukan kultivator yang ditempa oleh darah dan keringat; mereka adalah kultivator yang dibesarkan oleh pil dan uang.

Dan yang memimpin mereka...

Seorang pemuda berusia sembilan belas tahun. Wajahnya tampan tapi memiliki garis mulut yang kejam. Dia memegang kipas lipat dari baja, matanya menyapu kerumunan dengan tatapan seolah dia sedang melihat kotoran.

Lu Duo.

Cucu kesayangan dari Tetua Logistik yang baru saja dibunuh Lu Daimeng dua hari lalu.

Lu Duo mengenakan jubah hitam sendiri—tanda berkabung. Tapi wajahnya tidak menyiratkan kesedihan. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang sombong.

"Dengar!" teriak Lu Duo, suaranya cempreng dan angkuh. "Keluarga Lu mengklaim area timur Alam Rahasia ini! Siapapun kutu busuk yang berani mendekat ke sana, akan kubunuh sebagai persembahan untuk roh Kakekku!"

Para kultivator liar saling pandang, kesal tapi takut. Keluarga Lu bukan hanya kekuatan lokal di Kota Jinting, tapi kekayaan mereka membuat mereka memiliki banyak artefak berbahaya, menurut rumor keluarga Lu kota Jinting hanyalah cabang kecil.

Di sudut bayangan, Lu Daimeng menatap Lu Duo.

Waktu seolah melambat. Suara riuh lembah meredup, digantikan oleh suara masa lalu yang mendesis di telinganya.

Flashback - Lima Tahun Lalu.

Musim dingin di Kota Jinting sangat kejam. Salju setebal lutut menutupi halaman belakang kediaman Keluarga Lu.

Lu Daimeng, saat itu berusia dua belas tahun, sedang merangkak di atas salju.

Kakinya yang pincang (akibat dipukul oleh para saudaranya) diseret dengan susah payah. Bibirnya biru, giginya bergemeretak. Dia hanya mengenakan pakaian linen tipis yang penuh lubang.

Di depannya, Lu Duo yang berusia empat belas tahun sedang berdiri, mengenakan jubah bulu rubah yang hangat dan memegang semangkuk sup ayam panas yang mengepul.

"Kau lapar, Sepupu?" tanya Lu Duo sambil tersenyum. Senyum yang polos namun jahat.

"L-lapar..." bisik Lu Daimeng kecil. "Tolong... sedikit saja..."

"Tentu saja," kata Lu Duo. "Kakek bilang kita harus berbagi dengan anjing peliharaan."

Lu Duo menuangkan sup panas itu.

Bukan ke mangkuk Lu Daimeng.

Dia menuangkannya ke tanah, ke atas salju yang kotor.

"Makanlah," perintah Lu Duo. "Sebelum membeku."

Lu Daimeng kecil menatap sup yang meresap ke dalam salju, bercampur dengan tanah. Harga dirinya menjerit menolak, tapi perutnya menjerit lebih keras. Dia mulai menunduk, mencoba menjilat kuah yang belum membeku.

Tepat saat lidahnya hampir menyentuh salju...

BUKK!

Kaki Lu Duo menginjak kepala Lu Daimeng, membenamkan wajah anak itu ke dalam campuran lumpur dan salju dingin.

"Hahahaha!" Lu Duo tertawa, menekan tumitnya lebih keras, menggesek wajah Lu Daimeng ke tanah kasar. "Lihat! Dia benar-benar makan seperti anjing! Kau pikir kau manusia, Daimeng? Kau itu aib! Kau cuma ada di dunia ini untuk menjadi alas kaki keluarga Lu!"

Lu Daimeng tidak bisa bernapas. Hidung dan mulutnya penuh lumpur es. Dia meronta, mencakar kaki sepupunya dengan tangan kurusnya yang lemah.

Lu Duo berjongkok, menjambak rambut Lu Daimeng dan menarik kepalanya ke atas.

Dia meludahi wajah Lu Daimeng yang kotor dan menangis.

"Jangan pernah lupa rasa lumpur ini, Daimeng," bisik Lu Duo. "Karena itulah rasa takdirmu."

Masa Kini.

Bayangan masa lalu itu pecah, digantikan oleh realitas lembah yang cerah.

Lu Daimeng masih berdiri di posisi yang sama, bersandar pada batu. Tidak ada ledakan aura. Tidak ada niat membunuh yang bocor.

Hanya bibirnya, di balik kain penutup wajah, yang bergerak perlahan.

Terukir sebuah senyum.

Itu bukan senyum sinis yang biasa dia berikan pada musuhnya. Itu adalah senyum yang tenang, lembut, dan tulus. Senyum seorang seniman yang baru saja akan membuat lukisan yang sempurna.

Tangan kanannya, di balik lengan jubah yang lebar, membelai gagang pedang hitamnya.

"Lu Duo..." bisiknya. Suaranya seringan angin, namun memuat bobot dosa yang tak terukur. "Kakekmu sudah menunggu di neraka. Dia pasti kesepian."

"Kau bilang aku hanya alas kaki?"

Mata Tiga Pupil-nya berputar, membedah struktur tubuh Lu Duo dari kejauhan. Dia melihat celah di baju zirah mewahnya. Dia melihat aliran Qi-nya yang manja dan rapuh. Dia melihat ketakutan yang disembunyikan di balik arogansi itu.

"Kali ini, Sepupu... aku akan memastikan kau memakan tanah. Bahkan berharap untuk mati."

Lu Daimeng melangkah maju sedikit, memisahkan diri dari bayangan batu, bersiap untuk momen ketika segel gerbang itu terbuka.

"Aku akan membuatmu merasakan kematian adalah berkah."

Di langit, matahari tertutup awan hitam yang mendadak berkumpul, seolah alam semesta sendiri sedang bersiap menutup mata atas kekejian yang akan segera terjadi.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!