NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 13

​Keheningan yang mencekam kini menyelimuti medan pertempuran yang baru saja dilanda kekacauan besar. Kabut hitam yang sebelumnya memenuhi udara, yang terasa seperti napas dari neraka itu sendiri, telah sepenuhnya menghilang ditiup angin malam. Yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan berupa tanah yang retak-retak hebat, bebatuan yang hancur berkeping-keping akibat hantaman tenaga dalam, dan genangan darah merah pekat yang masih mengeluarkan uap hangat di tengah udara dingin. Di tengah kehancuran itu, tujuh tetua Perguruan Awan Mengalir berdiri terpaku.

Wajah mereka muram, kulit mereka pucat, dan sorot mata mereka dipenuhi oleh campuran antara amarah yang membara serta keterkejutan yang belum sepenuhnya sirna dari benak mereka.

Salah satu dari mereka, sang Tetua Agung yang merupakan pria paling tua di sana dengan janggut putih panjang dan aura yang paling menekan, mengepalkan tinjunya dengan sangat keras. Urat-urat di tangannya menonjol seperti akar pohon tua, dan napasnya terdengar berat serta serak. Dadanya naik turun dengan tidak teratur, seolah-olah amarah yang bergejolak di dalam dirinya sedang mencari celah untuk meledak dan menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya.

​“Sialan! Benar-benar sialan!” teriaknya lantang, suaranya menggelegar membelah sunyi dan menggema di antara celah-celah bebatuan. “Dia melarikan diri begitu saja... setelah mempermainkan kita semua seperti badut di panggung sirkus!”

​Tatapannya menyapu area pertempuran, tertuju pada tiga mayat kering yang tergeletak mengenaskan tak jauh dari sana, lalu beralih pada jasad-jasad lain yang baru saja ditutupi kain seadanya oleh para murid yang tersisa.

Satu Pendekar Guru Suci tewas dengan cara yang paling menghinakan, menjadi mayat kering tanpa esensi. Dua Pendekar Guru biasa menyusul dengan nasib yang sama. Ditambah lagi dengan satu Pendekar Ahli dan dua Pendekar Terlatih yang tewas dalam kipas maut yang sangat presisi. Jumlah korban ini bukan sekadar angka kehilangan nyawa, melainkan pukulan telak yang meruntuhkan martabat serta menggoyahkan fondasi kekuatan Perguruan Awan Mengalir yang telah dibangun selama ratusan tahun.

Menyerang satu gadis muda dengan kekuatan kolektif sebesar ini, namun justru dipaksa mundur dengan kerugian yang sangat memalukan, adalah sebuah penghinaan yang akan terukir dalam sejarah perguruan mereka.

​“Tetua...” salah satu tetua akhirnya angkat bicara dengan suara yang sangat rendah dan penuh kehati-hatian. “Aku rasa... Dewi Kematian itu bukan lagi berada di tingkat Pendekar Guru biasa.”

​Tetua senior itu menoleh dengan gerakan kaku, sorot matanya yang dingin seolah-olah ingin menusuk jantung rekan sejawatnya itu. “Apa maksudmu dengan ucapan itu? Kau ingin mengatakan bahwa penilaian kita sepenuhnya sampah?”

​“Dilihat dari densitas tekanan auranya yang mampu membekukan aliran darah kita, kendali teknik kabut ilusinya yang sangat licik, dan kecepatan luar biasa dalam menyerap energi kehidupan tanpa hambatan... sepertinya dia sudah benar-benar melangkah masuk ke dalam Tingkat Pendekar Guru Suci yang sesungguhnya,” lanjut tetua itu dengan nada bergetar.

​Ucapan tersebut membuat para tetua lainnya terdiam dan mengerutkan kening dalam-dalam. Keheningan yang menyesakkan tercipta sesaat, seolah-olah kebenaran pahit itu sedang meresap ke dalam logika mereka. Tetua lain akhirnya menyahut dengan nada yang tak kalah berat.

​“Aku pun merasakan hal yang sama saat pedangku tertahan oleh auranya,” katanya perlahan. “Namun meskipun dia telah mencapai Tingkat Pendekar Guru Suci, skenario ini seharusnya tetap mustahil terjadi. Empat Pendekar Guru Suci dan enam Pendekar Guru biasa, didukung oleh hujan anak panah bertenaga dalam serta formasi kepungan tanpa celah... secara teori, tidak ada pendekar di tingkat yang sama yang bisa bertahan hidup, apalagi melakukan serangan balik hingga membunuh tiga dari kita.”

​“Namun faktanya tergeletak kaku di depan mata kita saat ini,” sahut tetua ketiga dengan suara yang penuh dengan kegetiran. “Menang atau kalah dalam pelarian ini, Dewi Kematian benar-benar membuktikan bahwa reputasinya bukan sekadar isapan jempol belaka. Masih sangat muda, namun sudah menguasai kekuatan setingkat Pendekar Guru Suci dengan yang melampaui nalar. Bakat ini bahkan melampaui orang paling jenius sekalipun yang pernah tercatat dalam sejarah kerajaan Liungyi.”

​Kalimat itu terasa seperti sembilu yang perlahan mengiris-iris harga diri mereka sebagai pendekar yang lebih lama di dunia persilatan. Tetua senior mendengus keras, melepaskan kepalan tangannya meski kemarahannya tidak menemukan jalan keluar yang tepat. Menghancurkan hutan di sekitarnya pun tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa hari ini mereka telah dipermalukan oleh seorang gadis.

​Pada akhirnya, mereka tidak memiliki pilihan lain selain menelan kenyataan pahit tersebut. Dengan wajah yang tampak lebih tua sepuluh tahun dan langkah kaki yang terasa seberat timah, para tetua mulai menginstruksikan murid-muridnya untuk mengumpulkan jasad rekan-rekan mereka yang telah gugur. Tidak ada sorak-sorai kemenangan, tidak ada bualan tentang keberanian. Yang tersisa hanyalah rasa malu yang merayap dan menggerogoti hati mereka masing-masing.

Kekuatan tempur Perguruan Awan Mengalir kini telah merosot drastis, menempatkan posisi mereka dalam ancaman serius di bawah bayang-bayang Perguruan Lembah Teratai yang sebelumnya mereka prediksi akan runtuh lebih dulu.

​Semua bencana ini berawal dari satu keputusan arogan. Keinginan haus darah dari Tetua Besar Awan Mengalir untuk membantai Dewi Kematian sebagai bentuk balas dendam atas kematian dua tetua sebelumnya di Lembah Teratai telah menjadi bumerang yang mematikan.

Dengan keyakinan buta bahwa jumlah personel akan mampu menutupi kesenjangan teknik, mereka mengirimkan unit elite hanya untuk dikirim kembali sebagai mayat atau pecundang yang terluka. Kekalahan ini bukan lagi rahasia, berita tentang kegagalan mereka akan segera menyebar luas di dunia persilatan seperti api yang melahap rumput kering.

​Tak lama kemudian, rombongan yang tampak lesu itu benar-benar pergi meninggalkan lokasi, menghilang di balik hutan dan meninggalkan medan pertempuran yang kini kembali sunyi senyap. Namun, di tengah kesunyian itu, sang Dewi Kematian sebenarnya belum benar-benar pergi menjauh.

​Di balik gugusan batu besar yang retak dan tertutup oleh semak-semak kering yang lebat, sebuah aura hitam samar tersembunyi dengan sangat rapat, menyatu sempurna dengan bayangan. Cao Yi bersandar dengan sisa tenaganya, punggungnya menempel pada permukaan batu yang sedingin es. Wajahnya yang biasanya datar kini tampak sangat pucat, hampir transparan di bawah sinar matahari, sementara nafasnya ditahan dengan susah payah agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

​Ia perlahan mengangkat tangan kanannya yang gemetar, meraih pangkal anak panah yang masih menancap dalam di bahu kirinya. Dengan satu tarikan nafas pendek yang tertahan, ia mencabut benda tajam itu dengan satu sentakan kuat.

​“Gh...!”

​Sebuah erangan tertahan keluar dari sela-sela giginya. Rasa sakit yang luar biasa hebat menyambar seluruh sarafnya, seolah-olah ada kilat yang menyambar hingga ke sumsum tulang. Otot-otot di sekujur tubuhnya bergetar hebat menahan trauma fisik tersebut, namun ia tetap tidak membiarkan dirinya berteriak. Begitu anak panah itu tercabut, darah segar yang kental langsung mengalir deras membasahi tangannya.

Tanpa membuang waktu, Cao Yi segera menyalurkan energi Qi-nya ke titik luka tersebut, menggunakan tekanan energi murni untuk menutup lubang aliran darah hingga perlahan-lahan pendarahan hebat itu berhenti. Ia mengusap sisa darah yang mengering di tepi bibirnya dengan punggung tangan, sementara matanya yang berwarna merah darah kembali berkilat dengan kedinginan yang mematikan.

​“Perguruan Awan Mengalir...” gumamnya dengan nada yang sangat rendah, namun setiap kata yang keluar mengandung niat membunuh yang cukup untuk membuat hutan sekitarnya terasa membeku. “Kalian telah membuat kesalahan terbesar dengan membiarkanku hidup hari ini. Tunggu saja, aku pasti akan datang ke gerbang kalian dan mengambil setiap nyawa yang tersisa sebagai bayaran untuk luka-luka ini.”

​Setelah memastikan melalui indra tajamnya bahwa seluruh musuh telah benar-benar menjauh dan area sekitarnya sudah aman, Cao Yi mengatur posisi duduknya menjadi bersila secara sempurna. Ia mulai memejamkan mata dan masuk ke dalam kondisi meditasi yang dalam.

Fokus utamanya kini adalah memurnikan energi kehidupan yang sangat liar dan tidak stabil, hasil rampasan dari tiga tetua yang ia hisap tadi. Sembari memurnikan energi tersebut, ia juga mulai memicu proses penyembuhan internal untuk menutup sayatan-sayatan pedang, tusukan tombak, dan bekas panah yang masih menganga di sekujur tubuhnya.

​Tubuh Cao Yi bukanlah tubuh manusia biasa yang tunduk pada hukum alam pada umumnya. Sejak menerima warisan kekuatan dari sang Dewi Iblis Zia Yuxi, anatomi tubuhnya telah bermutasi menjadi wadah bagi energi kematian. Setiap luka yang ia terima memang memberikan rasa sakit yang nyata dan menyiksa, namun ia memiliki kemampuan regenerasi yang mengerikan tanpa memerlukan bantuan obat-obatan atau pil penyembuh. Selama serangan tersebut tidak langsung menghancurkan jantung atau kepalanya secara instan, ia bisa memperbaiki jaringan tubuhnya sendiri, meskipun harga yang harus dibayar adalah konsumsi Energi Qi yang cukup lumayan.

​Perlahan-lahan, cairan hitam pekat yang beraroma seperti sulfur mulai merembes keluar dari celah-celah luka di kulitnya. Daging yang tadinya terbelah dan rusak mulai bergerak sendiri, serat-seratnya menyatu kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Kulitnya yang pucat perlahan menutup, merapat dengan mulus seolah-olah logam panas atau mata pedang tak pernah menyentuhnya. Tak lama kemudian, seluruh bekas luka mengerikan itu menghilang tanpa meninggalkan cacat sedikitpun, menyisakan kulit halus yang kembali seperti semula.

​Cao Yi tetap berada dalam kondisi meditasinya selama beberapa jam, menenangkan gejolak nafasnya dan mengubah esensi kehidupan para tetua menjadi tetesan-tetesan Energi Qi yang murni dan padat di dalam pusaran energinya.

Aura hitam di sekeliling tubuhnya kini berputar perlahan, menciptakan ritme yang stabil dan tenang, menandakan bahwa sang Dewi Kematian telah berhasil melewati ambang maut sekali lagi. Namun, dendam yang kini tertanam di dalam lubuk hatinya telah berakar jauh lebih dalam dan gelap.

Siapapun yang berani mengusik dirinya di masa depan, tidak akan lagi mendapatkan Kematian yang mudah, mereka akan merasakan penderitaan abadi di tangan sang penguasa kematian.

1
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!