NovelToon NovelToon
The Librarian'S Midnight Guest

The Librarian'S Midnight Guest

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Fantasi Wanita / Harem
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Reaksi Tubuh yang Terkhianati

Pagi itu, sinar matahari yang menusuk masuk melalui celah gorden terasa seperti sembilu yang menyayat mata Genevieve. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun rasa nyeri yang tumpul dan berat langsung menyergap dari arah bahu dan dada. Tubuhnya terasa seperti habis dihantam badai; otot-ototnya pegal, dan sendi-sendinya terasa kaku.

"Mmh..." rintihnya, suaranya terdengar parau dan jauh.

Ia meletakkan punggung tangannya di dahi. Panas. Genevieve menyadari dirinya sedang terserang demam. Kepalanya berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang masih terasa berpacu aneh.

Namun, yang lebih membingungkan adalah sensasi di bagian bawah tubuhnya.

Dengan sisa tenaga yang ada, Genevieve menyibakkan selimut. Ia tertegun saat menyadari gaun tidur sutranya sudah terbuka kancingnya hampir sepenuhnya, menyingkap dada dan perutnya yang kini penuh dengan bercak ungu kemerahan yang lebih gelap dari kemarin.

Saat ia mencoba bangkit, ia merasakan sensasi lembap yang tidak nyaman di antara kedua pahanya. Dengan wajah yang perlahan memerah meski sedang demam, ia memeriksa bagian bawahnya. Celananya basah.

Benar-benar basah.

Dengan perasaan takut dan bingung, ia mencoba membaui sisa cairan itu. Bukan urine. Cairan itu tidak berbau pesing sama sekali, melainkan memiliki aroma yang asing namun samar-samar ia kenali—perpaduan antara wangi mawar liar yang memabukkan dan aroma tubuh pria yang dingin.

"Apa yang terjadi denganku?" bisiknya dengan suara gemetar.

Ia ingat semalam ia hanya tidur karena kelelahan setelah pulang dengan Julian. Ia ingat ia belum sempat mengganti baju. Namun sekarang, ia mengenakan gaun tidur, dan tubuhnya mengeluarkan reaksi yang hanya terjadi jika seseorang mengalami gairah yang hebat.

Ingatan samar tentang tangan dingin yang meremas dadanya, lidah yang menyapu perutnya, dan cubitan di putingnya mulai muncul ke permukaan bagaikan potongan puzzle yang menakutkan.

Genevieve memeluk dirinya sendiri, gemetar hebat di tengah panas demamnya. Ia merasa seolah-olah dirinya telah dikhianati oleh tubuhnya sendiri—tubuh yang merespon sentuhan sang monster dengan begitu jujur di bawah alam sadarnya.

Genevieve berusaha menepis pikiran-pikiran liar yang mulai meracuni otaknya.

Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa cairan itu mungkin hanya keringat karena demam tinggi, atau reaksi aneh tubuhnya terhadap kelelahan yang luar biasa. Meski jejak di leher dan dadanya sulit dijelaskan secara logika, ia menolak untuk percaya bahwa ada sosok yang masuk ke kamarnya dan melakukan hal-hal sedemikian jauh.

"Fokus, Genevieve. Kau hanya sedang sakit," bisiknya pada diri sendiri, suaranya terdengar lemah dan pecah.

Dengan tangan gemetar, ia merangkak ke tepian ranjang. Setiap gerakan membuat otot dadanya terasa seperti ditarik, mengingatkannya pada sensasi remasan yang ia rasakan dalam "mimpi" semalam. Ia meraih ponsel atau kertas surat di atas nakas—mana pun yang biasa ia gunakan untuk menghubungi sang pemilik perpustakaan.

Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada palu yang menghantam pelipisnya setiap kali ia mencoba memfokuskan pandangan. Penglihatannya agak kabur, tertutup kabut tipis akibat suhu tubuh yang terus meningkat.

“Selamat pagi, Mr. Henderson. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kondisi fisik saya sedang sangat tidak memungkinkan untuk membuka perpustakaan hari ini. Saya terserang demam mendadak dan membutuhkan istirahat total...”

Setelah mengirimkan pesan atau surat izin tersebut, Genevieve menjatuhkan kembali tubuhnya ke bantal. Ia merasa sangat rapuh.

Di dalam kesunyian kamar yang berbau sisa semprotan serangga dan mawar itu, ia merasa sangat sendirian.

Namun, di sudut matanya yang mulai terpejam karena kantuk demam, ia melihat sesuatu yang aneh di atas meja kecilnya.

Ada sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru bening dan selembar kain kompres yang sudah basah, seolah-olah seseorang telah menyiapkannya tepat sebelum ia bangun.

Pikiran itu melintas seperti kilat yang menyambar di tengah badai demamnya. Genevieve menatap botol biru dan kain kompres itu dengan pandangan nanar. Siapa lagi yang bisa masuk ke sini tanpa merusak pintu? Siapa lagi yang tahu persis di mana rasa nyerinya berada?

"Valerius...?" bisiknya lirih, hampir tidak terdengar.

Nama itu terasa asing namun sekaligus memberikan getaran aneh di dadanya.

Jika benar sosok itu ada di sini, itu berarti semua "mimpi" semalam—sentuhan di dadanya, jilatan di perutnya, dan rasa basah di antara pahanya—adalah kenyataan yang terjadi saat ia tak sadar. Bulu kuduknya meremang, bukan karena dingin, melainkan karena rasa ngeri yang bercampur dengan sensasi terlarang yang sulit ia lukiskan.

Ia mencoba duduk tegak, namun kepalanya seolah berputar 180 derajat. Tepat saat ia memejamkan mata untuk menahan rasa mual, ia merasakan suhu udara di kamarnya turun drastis.

Wangi mawar liar yang tadinya samar kini meledak, memenuhi indra penciumannya hingga mengalahkan bau tajam semprotan serangga yang ia semprotkan kemarin.

"Kau memanggilku, Puan kecil?"

Suara itu rendah, berat, dan terasa seperti beludru yang menggesek kulitnya yang sedang sensitif.

Genevieve membuka matanya dengan susah payah dan mendapati sosok tinggi itu sudah berdiri di sudut tempat tidur, membelakangi cahaya matahari sehingga ia tampak seperti siluet gelap yang agung namun mengancam.

1
Yusry Ajay
semangat trus kk Thor 🤗
May Maya
lanjut Thor
May Maya
baru kali ini aku baca novel ada kata2 kiasan sekuat batu nisan biasanya kan sekeras n sekuat baja atau beton 🤭
May Maya
kacian velerius 😄
Afri
alur cerita nya bagus. . tidak buru buru .. mengalir dgn perlahan
keren
Afri
aku suka karya mu thor ..
cerita nya manis
May Maya
suka dgn genre ini
May Maya
vieve di dekati vampir tampan tp namanya makhluk gaib pasti takut jg ya vie🤭
May Maya
mulai baca Thor
treezz: semoga suka kakak🤭
total 1 replies
Afri
bagus
Afri
cerita nya bagus thor
fe
mantapp
anggita
👍👆 sip.,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!