seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYATUAN
Di tengah ketidakpastian yang mencekam dan aroma maut yang seolah mengintai dari setiap sudut ruangan, rasa takut yang luar biasa itu perlahan bertransformasi menjadi gairah yang primitif dan mendalam. Dalam balutan gaun putih dan jas hitam yang dipaksakan oleh sang penculik, Aris dan Kayla menyadari bahwa tubuh mereka adalah satu-satunya milik mereka yang belum sepenuhnya dirampas.
Aris menatap Kayla dengan tatapan yang membara, seolah ingin merekam setiap inci wajah gadis itu ke dalam ingatannya sebelum cahaya benar-benar padam. Ia menarik Kayla lebih dekat, memperpendek jarak yang tersisa di antara mereka hingga napas mereka menyatu.
"Aku tidak ingin dia memiliki jiwaku, Kayla," bisik Aris di sela ciuman mereka yang semakin intens. "Malam ini, biarlah aku hanya milikmu, dan kamu milikku."
Di atas lantai beton yang dingin, namun beralaskan kain gaun putih yang mulai kusut, mereka menyerahkan diri satu sama lain. Hubungan itu terjadi bukan katna paksaan melainkan keinginan. Setiap sentuhan yang aris berikan membuat kayla meracau melupakan sejenak bebannya, setiap desah napas, dan setiap tetes keringat adalah pernyataan bahwa mereka masih manusia yang mampu mencintai, bukan sekadar subjek eksperimen yang mati rasa.
Dentingan rantai di pergelangan kaki mereka yang sesekali beradu dengan lantai menciptakan melodi yang getir. Di dalam pelukan Aris, Kayla merasakan kehangatan yang luar biasa—sebuah kontras yang tajam dengan dinginnya dinding penjara mereka. Untuk sejenak, dunia di luar ruangan itu lenyap. Tidak ada pria bertopeng, tidak ada jarum suntik, tidak ada trauma pasir yang menguburnya. Hanya ada Aris, dengan dekapannya yang melindungi dan cintanya yang terasa nyata di tengah segala kepalsuan tempat itu.
"ahhhhhh kayla kamu cantik sekali" Aris berkata sambil terus memompa Kayla.
Malam itu, waktu seolah membeku di dalam sel beton yang dingin. Pria bertopeng itu, entah karena alasan apa, memberikan mereka kesunyian yang mutlak. Tidak ada suara sirine, tidak ada gas yang menyembur, bahkan kamera-kamera di sudut ruangan pun tampak berhenti bergerak, seolah sang sutradara gila itu pun terpaku menyaksikan drama manusia yang ia ciptakan sendiri.
Di atas lantai yang beralaskan kain gaun putih yang mewah namun rapuh, Aris dan Kayla saling menemukan satu sama lain. Penyatuan itu tidak dimulai dengan nafsu yang kasar, melainkan dengan sentuhan-sentuhan gemetar yang penuh keraguan sekaligus kerinduan.
Aris membelai wajah Kayla dengan punggung jarinya, menyingkap anak rambut yang menempel di dahi gadis itu. "Kamu adalah hal terindah yang pernah kulihat di tempat terkutuk ini," bisiknya, suaranya berat karena emosi yang tertahan.
Saat mereka saling menyatu, rasa sakit dari luka sayatan di dada Aris dan lebam di pergelangan tangan Kayla seolah sirna, berganti dengan gelombang kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap gerakan mereka diiringi oleh dentingan rantai yang kini terdengar seperti musik pengiring yang sakral. Penyatuan itu terasa begitu intens, begitu nyata, seolah melalui tubuh satu sama lain, mereka sedang mencoba menyerap sisa kehidupan yang mungkin tidak akan mereka miliki esok hari.
Kayla mencengkeram bahu Aris, memejamkan mata rapat-rapat. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia tidak lagi melihat dinding beton. Ia merasakan detak jantung Aris yang selaras dengan miliknya, sebuah bukti bahwa di tengah neraka ini, mereka masih hidup. Ia merasa dicintai, dilindungi, dan untuk pertama kalinya sejak ia diculik, ia merasa utuh.
Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan kedalaman perasaan mereka saat itu. Itu adalah momen yang melampaui logika; sebuah cinta yang mekar di tanah yang beracun. Mereka saling berbagi napas, berbagi keringat, dan berbagi kesunyian yang panjang. Bagi Kayla, Aris bukan lagi sekadar teman tahanan; pria itu adalah sukmanya. Dan bagi Aris, Kayla adalah alasan terakhirnya untuk tetap bernapas.
Setelah semuanya berakhir, mereka tetap berpelukan dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Aris menyelimuti tubuh kecil Kayla dengan jas hitamnya yang masih hangat. Mereka berbaring dalam keheningan yang damai, sebuah kemewahan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Lampu di ruangan itu tetap redup, memberikan mereka privasi yang semu namun sangat berharga. Malam itu, di dalam sel yang sempit, mereka tidak merasa seperti tawanan. Mereka adalah dua orang manusia bebas yang saling memiliki, mengabaikan dunia luar yang penuh dengan kegilaan.
"Jangan pernah pergi dariku," bisik Kayla sebelum akhirnya matanya terpejam karena kelelahan yang manis.
Aris hanya mengeratkan pelukannya dan mencium kening Kayla. "Tidak akan pernah, Kayla. Tidurlah. Aku akan menjagamu sampai pagi tiba."
Malam itu berakhir dengan kedamaian yang asing, tanpa ada gangguan sedikit pun dari sang monster di balik layar.
maaf ya gusy bab nya agak pendekan dikit