NovelToon NovelToon
Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Datang Untuk Mengabdi, Pulangnya Trauma.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / TKP / Komedi
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.16

...RONDA MALAM PENUH DRAMA...

Malam di desa itu tidak pernah benar-benar gelap. Ia hanya memilih bagian mana yang ingin disembunyikan. Seolah kegelapan di desa itu punya kesadaran sendiri. Bukan menutup semuanya sekaligus, tapi menyeleksi, menyisakan cukup cahaya agar manusia merasa masih aman, sambil menyembunyikan cukup banyak agar rasa aman itu rapuh. Langit terlihat kelabu tua, bukan hitam pekat. Bintang-bintang enggan muncul sepenuhnya, seolah ikut menjaga jarak dari desa yang terlalu banyak menyimpan rahasia. Lampu-lampu rumah warga menyala jarang-jarang, seperti titik-titik kecil yang lebih berfungsi sebagai penanda keberadaan manusia, bukan sebagai penerang.

Dari kejauhan, desa itu tampak seperti papan permainan tua yang sebagian lampunya mati. Tidak ada pusat terang yang menjadi titik aman. Hanya cahaya-cahaya kecil yang berdiri sendiri, seolah setiap rumah memilih bertahan dengan caranya masing-masing. Udara dingin merambat perlahan menempel di kulit, masuk ke sela-sela pakaian, lalu menetap di tulang. Bau tanah masih tertinggal sejak sore, bercampur dengan aroma kayu tua dari posko yang seakan tidak pernah benar-benar kering sejak puluhan tahun lalu.

Kayu posko itu mengeluarkan bau khas, bau rumah lama yang sudah terlalu banyak mendengar rahasia tapi tidak pernah bisa menceritakannya kembali. Setiap papan lantai berderit pelan saat diinjak, seperti mengeluh karena kembali harus menahan beban manusia. Jam dinding di ruang tengah posko menunjukkan pukul 22.47 ketika Udin berdiri di depan papan tulis kecil yang entah sejak kapan ada di sana. Jarum jamnya tidak berdetak keras, tapi cukup jelas terdengar ketika semua orang sedang diam dan pikiran mereka mulai mengisi kekosongan dengan hal-hal yang tidak diminta.

Papan itu putih kusam, penuh bekas spidol lama yang tidak pernah benar-benar terhapus, seperti trauma posko itu sendiri. Ada garis-garis samar, bekas tulisan nama orang, angka, bahkan gambar tak jelas yang bisa jadi hasil iseng penghuni sebelumnya atau sesuatu yang lebih tua dari itu. Juned sempat memperhatikan satu coretan aneh di sudut bawah papan. Mirip lingkaran dengan garis-garis keluar. Ia menatapnya lama, lalu cepat-cepat berpaling. Tidak ada gunanya memberi makna pada hal-hal yang tidak minta dimaknai.

Di atasnya tertulis satu judul besar:

...JADWAL RONDA MALAM...

Tulisan Udin sedikit miring, menandakan ia menulis dengan tangan gemetar tapi berusaha terlihat tegas. Spidol hitam itu beberapa kali berhenti di tengah huruf, seolah ragu mau melanjutkan kalimatnya atau tidak. Ia menarik napas sebelum berbalik menghadap yang lain. Gerakannya kaku, seperti MC acara yang tahu acara ini salah konsep tapi sudah terlanjur jalan.

"Baik," katanya, berdehem. "Sesuai arahan desa, kita wajib ikut ronda malam. Ini buat keamanan, juga buat pendekatan dengan warga. Santai aja. Ronda itu bukan hal menyeramkan."

Kalimat terakhir jelas bohong, dan terlalu rapi untuk dipercaya oleh mereka. Bahkan sebelum ia selesai bicara, angin berdesir lewat celah jendela, membuat daun pintu bergetar pelan. Bunyi krek kecil itu cukup untuk membuat Susi menoleh refleks. Ia menoleh terlalu cepat, lalu pura-pura membetulkan rambut agar tidak terlihat panik. Bodat melipat kedua tangan dengan menyilang di dada.

"Santai katamu? Posko kita aja sunyinya kayak kuburan premium."

"Kuburan nggak premium," sahut Palui refleks. "Masuknya gratis."

"PALUI," bentak Bodat.

Palui mengangkat kedua tangan. "Refleks. Maaf."

Udin pura-pura tidak mendengar dan menunjuk ke arah papan.

"Aku sudah bagi kelompok. Kita bagi dua shift."

Ia membaca dengan suara lantang, seolah suara keras bisa mengusir rasa takutnya sendiri, atau setidaknya menekannya ke sudut pikiran yang paling belakang. Suara Udin terdengar sedikit terlalu cepat, seperti orang membaca syarat dan ketentuan tanpa benar-benar ingin tahu isinya.

Shift pertama, jam 23.00–01.00:

Udin

Paijo

Juned

Ithay

Juleha

Beberapa orang menelan ludah bersamaan. Paijo menggaruk tengkuk. Juned mengecek jam tangannya lagi, padahal baru dicek dua menit lalu. Juleha menarik jaketnya lebih rapat.

Shift kedua, jam 01.00–03.00:

Surya

Palui

Anang

Moren

Bodat

Bodat mendengus. Palui langsung gelisah. Moren terlihat santai, seperti orang yang belum sepenuhnya sadar risiko keputusan hidupnya. Sisanya, Susi, Aluh, Wati, dan Ani, bertugas di posko sebagai cadangan secara resmi. Namun secara tidak resmi mereka menjadi penonton yang akan menilai siapa yang paling panik lewat cerita besok pagi.

"Aku mau protes," kata Surya cepat, bahkan sebelum Udin menurunkan spidol. "Kenapa aku shift kedua?"

"Karena kamu cowok," jawab Udin tanpa mikir panjang.

"Ithay juga cowok?" balas Surya.

Ithay mengibaskan rambut panjangnya dengan gaya dramatis.

"Aku mentalnya cowok." Ia tersenyum lebar. "Plus aku bawa gitar."

"Itu bukan poin plus," gumam Juned sambil mengecek baterai kamera.

Susi menyilangkan kaki.

"Yang penting aku nggak ronda."

Ani mengangguk setuju.

"Aku jaga moral."

Wati bergumam setengah tidur,

"Bangunin kalau ada hantu beneran."

Namun tidak ada satupun dari mereka yang tertawa saat Wati mengucapkan kalimat tersebut.

...🍃🍃🍃...

Keheningan setelah kalimat itu terasa lebih berat daripada sebelumnya. Bahkan Bodat tidak melontarkan lelucon lanjutan. Palui tidak nyeletuk. Seolah semua orang sadar, kalimat Wati barusan terdengar terlalu seperti doa atau tantangan. Angin kembali berdesir di luar lebih lama kali ini. Membuat dedaunan bergesek satu sama lain, menghasilkan suara seperti bisikan yang gagal menjadi kata.Udin menepuk tangan sekali. Plak!

"Oke. Persiapan. Shift pertama siap-siap. Kita jalan keliling desa sesuai rute warga."

Paijo berdiri terlalu cepat, kursinya bergeser kasar di lantai. Ia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.

Juned memasukkan ponsel dan kamera ke tas kecilnya. Ithay menyampirkan gitar seperti akan tampil di kafe, bukan ronda malam. Juleha menarik napas panjang, seperti akan menyelam.

Sementara itu, di posko, Susi, Ani, Aluh, dan Wati berkumpul di sudut. Secara teknis sebagai cadangan tapi secara mental bertindak sebagai komentator.

"Kalau mereka nggak balik?" bisik Aluh.

"Balik," jawab Ani cepat. "Kalau nggak, kita ramein aja posko."

Susi melirik ke arah pintu.

"Bu Marni bilang jangan ribut."

Semua kembali terdiam mendengar ucapan Susi. Sementara jam dinding kini berdetak bergeser ke pukul 23.00. Shift pertama melangkah keluar posko, disambut jalan desa yang tampak lebih sempit di malam hari. Lampu senter dinyalakan. Bayangan mereka memanjang dan tumpang tindih di tanah, bergerak seperti makhluk lain yang berjalan bersama mereka, sedikit terlambat, sedikit tidak sinkron.

Dan dari kejauhan, entah dari arah mana, terdengar suara yang sangat pelan seperti angin atau seperti seseorang yang hampir menyebut nama tapi berubah pikiran di tengah jalan. Malam itu masih panjang, dan ronda baru saja dimulai.

...🍃🍃🍃...

1
Bunga Matahari
Nama-namanya keren, tapi panggilannya cocok banget untuk horor komedi 😄
Bunga Matahari
baru juga baca, udah kebawa aura 😄😄🤣🤣
Putri Nabila
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!