"Perpisahan kita bukan salah siapa2. Bukan sepenuhnya salahmu, salah ku , salah dia ataupun salah waktu. Kita adalah dua orang yg tepat, tapi tepat disini bukan sebagai pasangan melainkan sebagai pembelajaran untuk kita menjadi lebih dewasa"
Nada Ageta Putri
"Jika kesalahan ini sebagai pembelajaran. Bisakah aku tetap belajar bersama mu sehingga kita bisa dewasa bersama"
Juna Genio Lin
"Apakah perasaan cinta sebuah kesalahan? Jika memang iya, aku tak ingin perasaan ini. Perasaan ini terus menggerogoti kewarasan ku dan membuat ku menjadi jahat yang menyakiti orang di sekeliling ku"
Senar Anggriani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moms F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Zero
Nada memasuki bangsal VVIP. Dapat Nada lihat lelaki yang kemarin ia jenguk masih terbaring dengan infus terpasang di lengannya sedang menatapnya dengan intens.
Nada menyesal, kenapa ia menyetujui permintaan Melody untuk menjaga sepupunya. Dengan alasan bahwasanya dirinya dan asisten sepupunya sedang memantau proyek yang mereka kerjakan.
Lelaki itu yang sedang bersandar menatapnya dengan sorot tajam dan wajah yang serius. Sungguh Nada takut sekaligus gugup. Dengan menelan ludah kasar. Nada berjalan perlahan menghampiri ranjang lelaki tersebut.
"Maaf pak saya menganggu" Ujar Nada setelah berada di samping ranjang lelaki itu.
"maaf sebelumnya perkenalkan saya Nada, sahabat sepupu anda Melody. Kebetulan Melody dan asisten anda sedang pergi. Melody meminta saya untuk menjaga anda jika anda berkenan pak" jelas Nada pelan dan menggenggam erat tali tas yang ada di bahu nya. Demi apapun Nada sangat gugup di tatap oleh pria tampan dengan aura yang tak dapat di jelaskan tanpa berkedip.
"hmm" suara serak terdengar dari lelaki tersebut dan memalingkan wajahnya dari Nada dan kembali di sibukkan dengan laporan yang ada di laptop nya.
Nada melotot kan matanya. Capek-capek dia menjelaskan hanya di jawab "hmm". Astaga, ingin rasanya Nada menelpon Melody sekarang dan bertanya padanya. Apa suara sepupunya begitu mahal atau pas pembagian suara sepupunya hanya mendapatkan jatah yang sedikit.
Menit berganti jam, Nada yang sedari tadi duduk di kursi tak jauh dari ranjang hanya sesekali memperhatikan lelaki yang sibuk dengan laptopnya.
Nada tak habis fikir, gimana tuh orang bisa sembuh. Kalau waktu istirahat nya di pakai untuk bekerja. Apa tubuhnya terbuat dari besi tak kenal lelah.
"khmmmm" Nada tak sadar jika ia menatap lelaki itu terlalu lama. Dan mendengar deheman lelaki itu. Ia memalingkan kan wajahnya malu dengan rona merah di pipi nya.
"khmm...khmm,, Maaf pak Zero" Panggil Nada yang tak betah lama-lama dengan kesunyian ini. Dapat Nada lihat lelaki itu hanya menaikkan alisnya.
"Apa anda tidak lelah sedari tadi menatap laptop terus menerus. Apa anda tidak istirahat, gimna pasien seperti anda bisa sembuh jika terus menerus bekerja di saat tubuh anda perlu istirahat" Nada tanpa sadar mengeluarkan bakat ngomelnya yang sering ia lakukan pada para Abang nya.
Lelaki itu yang di panggil Nada dengan pak Zero. Menutup laptop nya dengan perlahan dan menatap gadis tak jauh darinya sembari menggodanya menaikan alisnya "khawatir"
Nada yang mendengar gelagapan merutuk dirinya dalam hati "bodoh Nada, kenapa nih mulut ngak bisa di jaga. Kan malu sendiri"
"bukan..bukan itu maksud saya. Maksud saya, kalau anda kurang istirahat. Anda bakal lama sembuhnya. Dan buat Melody maupun Tante Cici khawatir " Nada mencari alasan dan semakin gugup saat melihat lelaki tersebut terkekeh.
Nada sempat terpesona sejenak. Tapi Nada menundukkan pandangan segera. Takut jika ia terus menatapnya. Ia akan semakin malu.
"Kemari , mendekat lah" panggil Zero
"saya" tunjuk Nada pada dirinya sendiri
"Jika bukan kamu, siapa lagi. Hanya kamu dan aku di ruangan ini"
Nada merutuki kebodohan nya.
"buat apa saya kesana" bukannya Nada tidak ingin mendekat. Nada hanya tidak mau menambah rasa malu nya di hadapan lelaki tampan ini.
"Bukannya kamu kemari buat menjaga pasien seperti ku. Jadi kemari lah, bantu aku berbaring" jelas lelaki itu dengan wajah serius
"ooo.. Baik lah" ucap Nada berjalan mendekat.
"Lalu saya harus apa" tanya Nada bingung saat sampai di samping ranjang Zero.
"Bantu saya berbaring" Nad hanya mengangguk kepalanya.
"Maaf pak " ucap Nada saat menyentuh tubuh Zero
Zero tak peduli apa yang di lakukan Nada pada dirinya. Dia hanya menatap gadis di dekatnya dan mencium aroma manis dari dirinya.
Nada yang sedikit kesusahan membantu membaringkan tubuh besar Zero. Tanpa sengaja jatuh kedalam pelukannya.
"nyaman kah" Suara serak terdengar dari atas kepalanya.
Nada langsung buru-buru melepaskan dirinya dan salah tingkah.
"hmm,, anda bisa istirahat sekarang pak. Saya keluar sebentar" Nada mencari alasan dan buru-buru keluar dari pintu.
Zero menatap lama punggung Nada yang hilang di balik pintu. Tatapan nya sangat dalam. Lalu ia menutup matanya dengan kedua tangan nya. Menghirup aroma manis yang tertinggal.
#tbc
semangat nada!!!💪💪💪
ini othor nya yang keren nih bisa memainkan emosi para pembaca nya.... good job,Thor ...🫰🫰🫰🫰
lari lah sejauh mungkin.... tinggalkan sumber rasa sakit itu & cari kebahagiaan mu ditempat yang baru...
semoga setelah patah hati karena tiga orang ini, nada bisa bangkit lagi melupakan kesakitannya, bila mungkin jauhkan nada dari orang2 yang kejam ini Thor