Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 PAMIT PADA BAYANGAN
Matahari terbit dengan keraguan yang nyata di ufuk timur. Cahayanya yang pucat merayap perlahan melewati gedung-gedung tua universitas yang dibangun dari batu granit kelabu, seolah-olah sinar itu sendiri takut untuk menyentuh sisa-sisa kehancuran di pusat alun-alun. Kabut tipis sisa pembakaran semalam masih menggantung rendah, membawa aroma pengap kertas terbakar yang bercampur dengan kelembapan embun pagi.
Abimanyu berdiri diam di depan gundukan abu itu. Ia tidak lagi mengenakan jas tweed cokelatnya yang selalu rapi, simbol statusnya selama dua dekade. Ia mengenakan kemeja katun tua yang sudah agak pudar warnanya dan tas ransel kanvas yang dulunya ia gunakan untuk penelitian lapangan di masa mudanya—sebuah masa sebelum ia terjebak dalam tumpukan administrasi dan kursi empuk.
Ia tampak lebih kurus di bawah cahaya pagi yang jujur, namun pundaknya tidak lagi membungkuk karena beban ekspektasi. Matanya, yang biasanya letih karena membaca ribuan baris teks, kini memiliki ketajaman yang asing, seolah-olah api semalam telah membakar selaput yang selama ini menghalangi pandangannya.
"Kau masih di sini, Abimanyu?"
Suara itu datang dari balik kabut. Itu adalah suara yang sangat dikenal—halus, terukur, dan selalu memiliki nada otoritas yang tenang namun mematikan. Profesor Danu, sang Kepala Departemen sekaligus sahabat lama Abimanyu, melangkah maju. Ia mengenakan mantel wol panjang yang mahal, tangannya terbungkus sarung tangan kulit yang mengkilap.
Danu berhenti beberapa langkah dari Abimanyu. Ia menatap tumpukan abu hitam itu dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara rasa jijik, kasihan, dan ketakutan yang disembunyikan dengan rapi.
"Polisi kampus ingin menyeretmu semalam," kata Danu tanpa menoleh ke arah sahabatnya. "Mereka ingin mendakwamu dengan pasal perusakan properti dan gangguan ketertiban umum. Aku harus menggunakan seluruh pengaruhku untuk menahan mereka. Aku bilang pada mereka bahwa kau hanya sedang mengalami nervous breakdown. Kelelahan mental. Aku bilang bahwa kau adalah aset berharga yang sedang 'sakit'."
Abimanyu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Kau selalu pandai merangkai kata untuk menutupi kenyataan yang tidak nyaman, Danu. Itulah alasan kau menjadi Kepala Departemen yang sangat sukses."
Danu akhirnya menoleh, matanya menatap tajam di balik kacamata berlapis emasnya. "Aku menyelamatkanmu, Abimanyu! Kau menghancurkan koleksi yang bernilai miliaran! Buku-buku langka, edisi pertama Heidegger, disertasi aslimu... kau membakar masa lalumu seolah itu sampah!"
"Karena itu memang sampah," jawab Abimanyu tenang. "Selama bertahun-tahun, aku menyimpan mayat-mayat pikiran itu di dalam rak-rak mahoni. Aku memuja mereka, aku mengutip mereka, aku merawat mereka agar tidak berdebu. Tapi aku lupa satu hal: mayat tetaplah mayat, tidak peduli seberapa indah kau membalsemnya dengan catatan kaki."
"Kau sudah gila," desis Danu. ia melangkah maju, suaranya merendah menjadi bisikan yang mendesak. "Dengar, aku sudah mengatur semuanya. Aku akan memberikanmu cuti medis selama satu semester. Pergilah ke vila milik universitas di kaki gunung. Istirahatlah. Makanlah dengan baik. Dan saat kau kembali, kita akan bilang bahwa insiden semalam adalah protes seni atau kecelakaan laboratorium. Kita bisa memulihkan reputasimu. Kau masih bisa menjadi Dekan tahun depan. Jangan buang semuanya demi kegilaan sesaat ini."
Abimanyu menatap Danu seolah-olah ia sedang melihat spesimen di bawah mikroskop. Ia melihat pria yang ada di hadapannya bukan sebagai kawan, melainkan sebagai peringatan hidup. Danu adalah prototipe sempurna dari apa yang ia takuti: Manusia Terakhir. Manusia yang telah menemukan "kebahagiaan" dalam tatanan yang rapi, yang lebih takut pada ketidakteraturan daripada kematian jiwa.
"Kau menawarkan aku sebuah peti mati yang lebih mewah, Danu," kata Abimanyu. "Vila di kaki gunung, jabatan Dekan, pengakuan kolega... itu semua adalah paku-paku yang akan mengunci jiwaku di dalam tembok ini selamanya. Kau bilang kau menyelamatkanku? Tidak, kau sedang berusaha menyelamatkan dirimu sendiri. Jika aku bisa keluar dari sini, itu artinya tembok-tembok yang kau bangun untuk dirimu sendiri juga bisa diruntuhkan. Dan itu membuatmu ketakutan."
Wajah Danu memerah, otot rahangnya mengeras. "Kebebasan yang kau bicarakan itu adalah delusi! Kau ingin menjadi apa? Pengembara? Pertapa? Di luar sana tidak ada perpustakaan, Abimanyu. Tidak ada asisten yang membuatkanmu kopi. Tidak ada dana penelitian. Kau akan menjadi orang asing yang kotor dan kelaparan."
"Aku lebih suka menjadi orang asing yang lapar di jalan setapak, daripada menjadi narapidana yang kenyang di dalam ruang seminar," jawab Abimanyu.
Beberapa dosen lain mulai berdatangan dari arah gedung administrasi. Mereka berhenti di kejauhan, membentuk setengah lingkaran seperti penonton di teater kuno. Ada Dr. Hardi, yang selalu membawa map tebal berisi laporan kehadiran; ada Profesor Linda yang sibuk dengan ponselnya; dan beberapa asisten dosen yang tampak ragu-ragu.
Mereka berbisik-bisik. Suara mereka seperti gesekan daun kering di musim gugur.
"Dia benar-benar akan pergi?" "Sayang sekali, padahal indeks Scopus-nya paling tinggi di fakultas." "Mungkin dia benar-benar tertekan karena masalah pendanaan kemarin."
Abimanyu mendengar bisikan-bisikan itu. Ia menoleh ke arah mereka. Wajah-wajah itu tampak seragam—pucat, datar, dan dipenuhi oleh kepuasan diri yang sempit. Mereka adalah manusia-manusia yang hidup dalam dua dimensi: panjang kertas dan lebar layar. Mereka tidak memiliki kedalaman; mereka tidak memiliki api.
"Kalian mencibirku karena aku melakukan apa yang kalian impikan di dalam mimpi buruk kalian yang paling rahasia," suara Abimanyu meninggi, bergema di antara gedung-gedung batu. "Kalian menyebut kenyamanan ini sebagai 'keamanan', padahal ini adalah kelumpuhan. Kalian takut pada api semalam karena api itu tidak bisa dimasukkan ke dalam tabel Excel. Kalian takut pada abu ini karena abu tidak memiliki nomor induk pegawai!"
Ia melangkah mendekati kerumunan itu, membuat mereka mundur satu langkah secara serempak—sebuah tarian ketakutan yang terkoordinasi.
"Kalian merasa aman karena kalian memiliki gelar di depan nama kalian. Tapi jika aku mengambil ijazah itu, jika aku membakar sertifikat itu, siapa kalian? Apakah ada sesuatu yang tersisa di dalam diri kalian selain kutipan dari orang lain? Kalian adalah bayangan yang menganggap diri kalian adalah cahaya."
"Cukup, Abimanyu!" teriak Danu, suaranya gemetar karena amarah yang tertahan. "Jika kau melangkah melewati gerbang itu hari ini, namamu akan dihapus dari semua sejarah fakultas ini. Kau akan dianggap tidak pernah ada. Semua hakmu, semua penghargaanmu, akan ditarik kembali!"
Abimanyu tertawa, sebuah tawa yang jernih dan bebas, tawa yang tidak pernah didengar oleh tembok-tembok universitas itu selama seabad.
"Dihapus?" ia mengulangi kata itu dengan rasa geli. "Danu, kau tidak paham. Aku justru membakar buku-buku itu agar namaku tidak lagi terjebak di dalamnya. Aku ingin menjadi 'tidak ada' menurut standar kalian, agar aku bisa menjadi 'sesuatu' menurut standar hidup yang sesungguhnya."
Ia membalikkan badan, memunggungi mereka semua. Ia mulai berjalan menuju gerbang besar besi yang menjulang di ujung jalan setapak. Angin pagi kini bertiup lebih kencang, menyibakkan rambutnya yang mulai memutih. Setiap langkah menjauh dari kerumunan itu terasa seperti melepaskan lapisan kulit lama yang sudah mati.
Ia melewati gedung perpustakaan untuk terakhir kalinya. Ia melihat melalui jendela kaca besar, ribuan punggung buku yang tertata rapi berdasarkan alfabet. Dulu, ia menganggap tempat itu sebagai kuil kebijaksanaan. Sekarang, ia melihatnya sebagai gudang mayat-mayat pemikiran yang diawetkan.
"Selamat tinggal, para bayangan," bisiknya.
Saat ia mencapai gerbang besi, ia berhenti sejenak. Ia melihat ke jalanan kota yang mulai dipenuhi oleh kendaraan dan manusia yang terburu-buru. Mereka semua sedang mengejar sesuatu yang tertulis di atas kertas: uang, status, jadwal, berita. Sebuah peradaban yang dibangun di atas fondasi selulosa yang rapuh.
Di kejauhan, Gunung Kehendak tampak menantang di balik kabut. Puncaknya yang tajam seolah mengiris langit, mengundang siapa pun yang berani meninggalkan lembah.
"Abimanyu!"
Ia menoleh satu kali terakhir. Profesor Danu masih berdiri di tengah alun-alun, tampak kecil di samping gundukan abu hitam. Pria itu tampak kesepian di tengah kemegahan institusinya.
"Kau akan kembali!" teriak Danu dengan nada yang terdengar seperti doa yang putus asa. "Semua orang selalu kembali ke lembah saat mereka mulai merasa lapar dan dingin!"
Abimanyu tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawab. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah pulpen emas yang merupakan hadiah dari universitas atas pengabdian dua puluh tahunnya. Pulpen itu berkilau tertimpa cahaya matahari.
Ia meletakkan pulpen itu di atas tumpuan gerbang besi, meninggalkan benda itu di sana sebagai titik akhir dari sebuah kalimat panjang yang sudah selesai ia tulis.
"Lembah ini tidak lagi memiliki cukup ruang untuk pria yang sudah melihat api," gumamnya.
Ia melangkah melewati garis batas gerbang. Suara gemuruh kota menyambutnya, namun di dalam kepalanya, hanya ada keheningan yang megah. Ia tidak lagi memiliki gelar, tidak memiliki jadwal, dan tidak memiliki jaminan. Ia hanya memiliki kakinya yang akan mendaki dan jiwanya yang akan bertransformasi.
Bayangan-bayangan di belakangnya mulai memudar ditelan kabut pagi. Sang Profesor benar-benar telah mati, dan di jalanan berdebu itu, seorang Pendaki baru saja lahir.