Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katak Penghuni Danau
Koper besar milik Noah sudah tergeletak di ruang tengah, siap untuk perjalanan panjang menuju Singapura. Proyek pembangunan mall raksasa, hadiah sekaligus tanggung jawab dari keluarga Willey atas kesediaannya menikahi Viona, sudah menanti untuk segera dieksekusi.
Viona berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan Noah yang sedang mengecek paspor dan dokumennya dengan sangat tenang. Ketegangan aneh mulai merayap di dada Viona.
"Noah! Kok perginya lama sih? Seminggu itu lama tahu! Gue nggak berani sendirian di rumah segede ini!" rengek Viona. Ia berjalan mendekat, menendang pelan kaki koper Noah sebagai bentuk protes.
Noah melirik sekilas tanpa menghentikan kegiatannya. "Yaelah, Vio. Rumah ini sistem keamanannya udah high-end. Kalau lo masih takut, lo tinggal balik ke rumah Skylar aja. Nginep di sana."
Viona mendengus, langsung menghempaskan dirinya ke sofa. "Yang ada Mama malah ceramah dan suruh gue ikut ke Singapura buat nemenin lo. Lo tahu sendiri kan Mama gimana?"
Noah menutup tas dokumennya, lalu berdiri tegak menghadap Viona. Ia menatap istrinya itu dengan tatapan datar yang sulit ditebak.
"Yaudah, ayo ikut kalau gitu. Gue bisa pesenin tiket tambahan sekarang."
Viona terdiam sejenak. Tawaran itu menggiurkan, tapi jiwa "bebas"-nya mendadak berontak. Ia teringat daftar rencana yang ingin dia lakukan tanpa pengawasan ketat dari sang 'dosen'.
"Enggak ah! Malas!" sahut Viona cepat, berusaha terlihat antusias. "Ini justru kesempatan emas gue buat party dan main sepuasnya tanpa ada lo yang ngatur-ngatur gue harus minum jus atau melarang ke club!"
Mendengar itu, rahang Noah sedikit mengeras. Ia melangkah mendekat ke arah Viona, membungkuk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma parfum maskulin Noah yang sebentar lagi akan hilang dari rumah ini tercium begitu kuat.
"Oh, gitu? Mau merayakan kebebasan nih?" bisik Noah, suaranya rendah dan terdengar berbahaya. "Lihat aja seberapa tenang hidup lo tanpa gue di sini, Viona. Jangan cari-cari gue kalau tiba-tiba lo nggak bisa tidur atau kalau ada kecoa di kamar mandi."
Viona mencibir, meski jantungnya berdebar kencang karena jarak mereka yang terlalu intim. "Gue punya pest control dan gue bisa telpon Zayn buat nemenin gue party. Jadi, sori ya, Bapak Noah, gue bakal baik-baik aja."
Noah tersenyum miring, senyum yang membuat Viona merasa ada sesuatu yang salah. "Oke. Kita lihat siapa yang bakal telpon duluan sambil nangis-nangis di jam dua pagi nanti."
Noah menarik kembali tubuhnya, menyambar gagang kopernya. "Gue berangkat. Kunci pintu, jangan lupa aktifkan alarm, dan... jangan berani-berani masuk ke club atau lo bakal tahu konsekuensinya pas gue balik."
"Dadah, Pak Dosen! Selamat bekerja!" seru Viona sambil melambai dengan ceria, pura-pura tidak peduli.
Namun, begitu pintu depan tertutup dan suara mesin mobil Noah perlahan menjauh, keheningan rumah besar itu langsung menyergap Viona. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang mendadak terasa terlalu luas dan terlalu sepi.
"Satu minggu doang, Vio. Cuma tujuh hari. Lo bisa!" gumamnya pada diri sendiri, meski hatinya mulai merasa hampa bahkan sebelum jam pertama keberangkatan Noah berakhir.
Hujan turun seperti tumpah dari langit, mengubah pemandangan danau pribadi di depan rumah menjadi kabur dan mencekam.
Suara guntur yang menggelegar sesekali membuat kaca jendela besar di ruang tengah bergetar. Dan yang paling buruk bagi Viona? Suara "orkestra" kodok dari arah danau yang terdengar sangat nyaring, seolah-olah ribuan hewan licin itu sedang berpesta di halaman rumahnya.
Viona meringkuk di atas sofa dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga ke hidung. Setiap kali kilat menyambar, ia memejamkan mata rapat-rapat.
"Sialan, kenapa sepi banget sih!" gerutunya dengan suara gemetar.
Ia mencoba menyalakan TV dengan volume maksimal untuk meredam suara alam di luar, tapi justru kilatan petir yang makin menjadi-jadi membuatnya ketakutan setengah mati.
Rasa berani yang ia pamerkan di depan Noah dua hari lalu menguap tak berbekas.
Gengsi? Persetan dengan gengsi.
Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya. Nama 'Pak Dosen' adalah orang pertama yang muncul di daftar panggilannya. Tanpa berpikir dua kali, ia menekan tombol hijau.
Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum panggilan itu diangkat.
📞 Noah: "Halo," suara bariton Noah menyapa. Terdengar tenang, jernih, dan, entah kenapa, sangat menenangkan di telinga Viona.
Mendengar suara itu, pertahanan Viona hancur. Air matanya hampir luruh.
📞 Viona: "Gue takut..." ungkap Viona dengan suara lirih yang hampir tenggelam oleh suara guntur di latar belakang.
Hening sejenak di seberang sana. Viona bisa membayangkan Noah yang mungkin sedang duduk di meja kerjanya di Singapura, sedang menahan senyum kemenangannya.
📞 Noah: "Takut apa? Katanya mau party sepuasnya?" sindir Noah, tapi nadanya tidak sinis, melainkan ada kekhawatiran yang terselip di sana.
📞 Viona: "Noah, jangan bercanda! Di luar hujan deras banget, ada petir, terus suara kodoknya... suara kodoknya serem banget, Noah! Berisik! Gue ngerasa mereka mau masuk ke rumah!" Viona mulai meracau, tidak peduli lagi betapa konyol kedengarannya.
📞 Noah: "Tarik napas, Vio. Kodok nggak akan bisa buka pintu rumah yang harganya milyaran itu," ucap Noah pelan, suaranya kini melunak. "Lo di mana sekarang? Masih di sofa?"
📞 Viona: "Iya... gue nggak berani naik ke kamar. Gelap di tangga."
📞 Noah: "Oke, dengerin gue. Jangan dimatiin teleponnya. Gue bakal temenin lo sampai lo tidur. Sekarang, pelan-pelan jalan ke kamar atas sambil bawa ponsel lo. Gue tetep di sini."
Viona menurut seperti anak kecil. Mendengar suara Noah di telinganya membuat ketakutannya perlahan berkurang. Ia berjalan menaiki tangga dengan cepat, memeluk ponselnya seolah itu adalah satu-satunya pegangannya.
📞 Noah: "Udah di kamar?"
📞 Viona: "Udah... Noah, jangan dimatiin ya? Please?"
📞 Noah: "Iya, cerewet. Gue nggak akan matiin. Tidur sana. Besok pagi kalau hujan udah reda, gue minta sekretaris gue kirim orang buat cek area danau biar lo nggak keganggu lagi."
📞 Viona: "Noah..."
📞 Noah: "Hmm?"
📞 Viona: "Lo... kapan balik?"
Terdengar kekehan rendah dari seberang sana.
📞 Noah: "Baru dua hari, Vio. Udah kangen ya?"
Viona tidak membantah. Ia hanya memejamkan mata, memeluk guling erat-erat, dan mendengarkan suara napas Noah di telepon sampai ia perlahan terlelap. Ternyata, kebebasan yang ia impikan tidak ada apa-apanya dibanding rasa aman yang Noah berikan.
Noah masih belum beranjak dari kursi kerjanya di Singapura. Di layar laptopnya, rekaman CCTV memperlihatkan Viona yang sudah meringkuk tenang di bawah duvet tebal mereka. Di luar sana, hujan yang mengguyur Seoul di awal musim gugur ini pasti terasa sangat menusuk tulang.
Suara napas halus Viona yang masih tersambung di telepon genggamnya menjadi backsound paling menenangkan bagi Noah.
Walau di depan publik mereka sering terlihat seperti rival abadi, kenyataannya mereka saling ketergantungan sejak kecil. Dulu, saat mereka masih tinggal bersebelahan di kawasan elit Gangnam, Noah adalah orang pertama yang akan membawakan cokelat hangat jika Viona ketakutan karena petir. Sekarang, meski status mereka sudah berubah menjadi suami-istri dan tinggal di rumah baru yang lebih privat di pinggiran Seoul, polanya tetap sama.
Noah menghela napas, jemarinya mengetuk meja kayu hotel. Ia teringat bagaimana Viona selalu berusaha terlihat kuat di depan staf hotelnya di Seoul, tapi berakhir jadi "bayi" penakut saat hanya ada Noah di sampingnya.
"Dasar penakut," gumam Noah pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Ia melihat jam di sudut layar. Di Singapura masih tengah malam, tapi di Seoul sudah hampir jam dua pagi. Noah kembali menatap layar CCTV yang menunjukkan kamar mereka.
Ia memastikan sistem pemanas ruangan di rumah mereka berfungsi dengan baik lewat aplikasi pintar di ponselnya. Ia tidak mau Viona bangun besok pagi dengan kondisi flu.
"Tidur yang nyenyak, Vio," bisik Noah pada ponselnya yang masih terhubung.
Noah kemudian beralih ke tab lain di laptopnya. Ia tidak mencari data proyek mall. Ia justru sedang membuka situs maskapai penerbangan, mencari jadwal paling awal untuk kembali ke Incheon.
Persetan dengan rencana seminggu di Singapura. Melihat Viona yang ketakutan sendirian di rumah sebesar itu membuatnya sadar bahwa proyek sebesar apa pun tidak akan tenang ia kerjakan jika "pusat dunianya" sedang tidak baik-baik saja di Seoul.