Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 : Menjenguk Nyonya Wu
Sore itu, langit di atas kediaman Wu berubah warna menjadi jingga kemerahan yang pekat, memberikan kesan mencekam sekaligus agung. Qinqin berdiri di depan cermin besar, merapikan hanfu berwarna merah darah yang sengaja ia pilih untuk memberikan kesan dominan. Ia memulas bibirnya dengan sedikit gincu merah, lalu tersenyum tipis pada pantulannya.
"Xue, panggilkan Si Teratai itu. Katakan padanya, sebagai kakak ipar yang berhati mulia, aku akan menemaninya memenuhi niat sucinya menjenguk Bibi tersayang," perintah Qinqin sambil memainkan gelang perak di pergelangan tangannya.
Tak butuh waktu lama bagi Yan Er untuk muncul. Gadis itu masih mengenakan pakaian putih bersih yang melambangkan kesucian, lengkap dengan bungkusan merah yang tak pernah lepas dari dekapannya. Wajahnya nampak sembab, dengan mata yang sengaja dibuat merah seolah ia baru saja menghabiskan waktu berjam-jam untuk meratapi nasib malang bibinya.
"Nona Xu, benarkah Kakak Sepupu mengizinkan saya melihat Bibi?" tanya Yan Er dengan suara yang bergetar penuh harap.
Qinqin memutar tubuhnya, menatap Yan Er dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan. "Tentu saja, Yan Er-ku sayang. Lagipula, bukankah kau datang jauh-jauh dari Utara hanya demi berbakti? Aku tidak ingin dicap sebagai istri jahat yang menghalangi jalan suci seorang kerabat. Mari, jalanlah di sampingku. Hati-hati, lorong belakang sedikit licin bagi orang yang terlalu sering menunduk sedih."
Mereka berjalan menyusuri selasar panjang menuju paviliun terpencil yang kini dijadikan ruang isolasi. Semakin dekat dengan ruangan itu, suasana terasa semakin pengap. Suara teriakan lirih dan tawa aneh sesekali menembus dinding-dinding kayu yang tebal.
"Kenapa tempatnya begitu tersembunyi?" bisik Yan Er, tangannya gemetar meremas bungkusan merahnya. "Apakah Kakak Sepupu benar-benar tega menempatkan Ibunya sendiri di tempat sesuram ini? Ini... ini sungguh menyayat hati."
Halah, pret. Mana peduli kau dengan si Tua itu!
Qinqin terkekeh, suara tawanya terdengar renyah namun tajam di udara sore yang sunyi. "Oh, ini adalah bentuk perlindungan terbaik, Yan Er. Di sini sunyi, jauh dari gangguan, dan yang terpenting... tidak ada telinga liar yang bisa mendengar rahasia-rahasia kotor yang mungkin diteriakkan oleh Bibi Wu saat ia sedang asyik bercengkrama dengan hantu-hantu masa lalunya. Kenapa? Apa kau khawatir bungkusan merahmu itu tidak cukup kuat untuk menenangkan hantu-hantu itu?"
Yan Er menghentikan langkahnya, menatap Qinqin dengan tatapan yang sangat terluka. "Nona Xu, Anda begitu sinis. Bibi Wu adalah wanita yang baik. Jika beliau jatuh sakit, itu pasti karena tekanan yang ia terima di rumah ini sendiri. Saya hanya ingin memberikan sedikit kedamaian dengan ramuan ini..."
"Iya, iya, kedamaian," potong Qinqin cepat sambil mendorong pintu kayu besar yang dijaga ketat oleh dua prajurit kepercayaan Wu Lian. "Masuklah, Teratai Utara. Tunjukkan keajaiban baktimu."
Begitu pintu terbuka, aroma dupa yang menyengat bercampur dengan bau obat-obatan pahit menyambut mereka. Di sudut ruangan yang remang-remang, Nyonya Besar Wu nampak duduk di atas lantai beralaskan permadani, rambutnya acak-adukan, dan matanya melotot menatap sudut kosong ruangan.
"Darah... singkirkan piring-piring itu! Aku tidak mau memakannya!" teriak Nyonya Wu tiba-tiba saat melihat bayangan orang masuk.
Yan Er terbelalak. Ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan bibinya, mencoba meraih tangan wanita tua itu. "Bibi! Ini Yan Er! Aku datang untuk menjagamu! Lihat, aku membawa apa yang Bibi inginkan..."
Nyonya Wu menoleh lambat, matanya yang merah dan cekung menatap Yan Er. Untuk sekejap, kesadarannya seolah kembali saat melihat wajah yang familiar itu. Ia mencengkeram lengan Yan Er dengan kekuatan yang tak terduga, membuat gadis itu meringis. "Kau... kau membawanya? Cepat... berikan padaku! Wanita jalang itu... dia ada di sini! Dia merusak segalanya!"
Qinqin berdiri di dekat pintu, bersedekap dengan wajah yang sangat santai, mengamati pemandangan mengharukan di depannya. "Wah, lihat itu. Baru bertemu saja sudah kompak sekali chemistry-nya. Benar-benar ikatan darah yang luar biasa. Jadi, Yan Er, bungkusan merah itu isinya benar-benar penenang jiwa, atau sesuatu untuk memastikan Bibi Wu tidak membocorkan rencana kalian berdua tentang siapa yang seharusnya menjadi Nyonya di rumah ini?"
Yan Er menoleh dengan wajah yang basah oleh air mata, nampak sangat menderita. "Nona Xu! Cukup! Bibi sedang dalam kondisi menyedihkan dan Anda masih bisa melontarkan tuduhan seperti itu? Saya hanya ingin Bibi tenang! Tolong, keluarlah jika Anda hanya ingin menambah beban pikiran kami!"
Oh mulai sok berani yah. Batin Qinqin.
Qinqin maju selangkah, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Yan Er yang sedang memeluk bibinya yang meracau. "Aku akan keluar, Sayang. Aku tahu kapan harus memberikan privasi bagi dua orang yang sedang bernostalgia dengan rencana-rencana besar. Tapi ingat satu hal..." Qinqin membisikkan sesuatu tepat di telinga Yan Er dengan nada dingin. "Suamiku punya telinga di mana-mana. Dan aku? Aku punya mata yang bisa melihat menembus kepolosanmu itu."
Qinqin berdiri tegak kembali, merapikan hanfunya yang mewah. "Selamat berbakti, Nona Yan Er. Aku akan menunggu di luar. Jangan lama-lama ya, udara di sini tidak baik untuk kulit porselenmu itu."
Qinqin melangkah keluar dengan langkah angkuh, membiarkan pintu tertutup rapat. Di luar, ia menarik napas dalam-dalam, menyingkirkan bau dupa yang menyesakkan tadi.
"Xue," panggil Qinqin pelan saat dayang setianya mendekat. "Pastikan Han Luo mengawasi pintu belakang paviliun ini. Aku ingin tahu apakah bungkusan merah itu keluar dari ruangan ini dengan isi yang sama atau tidak."
"Baik, Nona. Tapi, apakah Anda tidak takut mereka merencanakan sesuatu di dalam?" tanya Xue cemas.
Qinqin menyeringai licik, menatap arah Paviliun Utama di mana ia tahu Wu Lian sedang mengawasinya dari kejauhan. "Biarkan saja. Semakin mereka merasa aman untuk berbisik, semakin banyak bukti yang akan mereka jatuhkan sendiri. Aku hanya perlu menyiapkan jaring yang tepat untuk menangkap teratai yang akarnya mulai membusuk itu."
"Sebentar lagi, dia akan jadi teratai busuk. Hahahahaha."
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
dan diabaikan🥹