Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14Meja Makan Penuh Tanya
Matahari pagi di California menyelinap masuk melalui celah gorden rumah kediaman Kiai Hamzah, ayah dari Gus Malik. Di rumah ini, Hannan selama ini mengabdi dan tinggal sebagai bagian dari keluarga besar mereka. Suasana pagi yang biasanya hangat dengan aroma kopi dan diskusi kitab, kini terasa sedikit canggung dan berat.
Di meja makan kayu jati yang besar, telah duduk Kiai Hamzah dan Ummi Halimah—ibu dari Gus Malik yang dikenal sangat penyayang namun tegas dalam urusan prinsip. Hannan dan Amara duduk berdampingan, sementara Gus Malik duduk di seberang mereka, sesekali melirik Hannan dengan tatapan simpati.
Amara menunduk dalam. Tangannya meremas ujung jilbab merah mudanya. Ia tahu bahwa status Hannan sebagai seorang Gus yang mengabdi di sini membuat kabar pernikahannya menjadi beban moral tersendiri bagi keluarga Kiai Hamzah.
"Makanlah, Amara. Jangan hanya diaduk nasinya. Di rumah ini, tamu adalah raja, apalagi sekarang kamu adalah istri dari putra pengabdian kami," suara Ummi Halimah memecah keheningan. Nadanya tenang, namun ada getaran selidik di sana.
"Terima kasih, Ummi," bisik Amara pelan, mencoba menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya yang terasa hambar karena rasa gugup.
Kiai Hamzah meletakkan sendoknya, lalu menatap Hannan dengan lekat. "Hannan, semalam aku sudah bicara lewat telepon dengan Abahmu di Jawa Timur. Beliau sangat terpukul. Kamu tahu sendiri bagaimana watak Abahmu jika menyangkut marwah pesantren."
Hannan menghentikan makannya. Ia menunduk hormat. "Nggih, Kiai. Hannan tahu. Hannan siap menerima segala konsekuensi atas keputusan ini. Hannan tidak bermaksud mengecewakan siapapun, namun keadaan kemarin benar-benar di luar kendali."
Ummi Halimah menghela napas panjang, tatapannya beralih ke Amara. "Amara, menjadi istri seorang Gus itu tidak mudah. Apalagi Gus yang seperti Hannan; alim, cerdas, dan menjadi harapan banyak orang. Hidupmu akan selalu berada di bawah mikroskop umat. Apakah kamu sudah siap dengan itu semua? Termasuk mengesampingkan duniamu yang lama?"
Amara mendongak, menatap mata Ummi Halimah yang tajam namun teduh. "Saya sadar saya banyak kekurangan, Ummi. Saya tidak punya latar belakang agama yang kuat seperti kalian. Tapi saya mencintai Mas Hannan, dan saya ingin belajar. Saya ingin menjadi makmum yang baik bagi beliau, meski saya harus merangkak dari nol."
Mendengar jawaban jujur itu, raut wajah Ummi Halimah sedikit melunak. Ia melihat ketulusan di mata Amara, bukan sekadar kata-kata manis.
"Hannan," panggil Kiai Hamzah lagi. "Abahmu meminta agar kiriman bulanan untuk studimu dihentikan sementara sampai kamu mau membawa Amara pulang untuk menghadap beliau secara langsung. Beliau ingin menguji, apakah pernikahanmu ini didasari nafsu atau kesungguhan."
Gus Malik tersedak kopinya. "Apa? Tapi Kiai, biaya hidup di California sangat mahal! Belum lagi biaya kuliah Hannan yang masuk semester akhir."
Hannan hanya tersenyum tenang, sebuah ketenangan yang membuat Amara merasa aman sekaligus sedih.
"Tidak apa-apa, Gus. Ini ujian dari Allah melalui Abah. Saya tidak boleh marah. Justru ini saatnya saya membuktikan bahwa saya bisa menjadi imam yang bertanggung jawab bagi Amara tanpa mengandalkan fasilitas orang tua."
"Lalu apa rencanamu, Nan?" tanya Kiai Hamzah.
"Saya akan mencari pekerjaan sampingan di kampus, Kiai. Mungkin menjadi asisten peneliti atau penerjemah dokumen di perpustakaan. Apapun yang halal. Dan Amara..." Hannan melirik istrinya dengan penuh kasih, "dia akan terus belajar mengaji dengan bimbingan saya dan mungkin mohon bantuan Ummi Halimah jika berkenan."
Ummi Halimah tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus pagi itu. "Datanglah ke kamarku setiap sore, Amara. Kita belajar dasar-dasar fikih wanita. Jika kamu benar-benar ingin menjadi istri seorang Gus, kamu harus punya bekal yang kuat."
Amara merasa matanya panas. Harapan mulai muncul. "Terima kasih, Ummi. Terima kasih banyak."
Namun, di tengah momen haru itu, Gus Malik tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, Nan. Soal Ryan dan Papa tiri Amara... polisi memang menahan mereka, tapi pengacara mereka sedang mengusahakan penangguhan penahanan. Kita harus tetap waspada. Mereka orang-orang yang licin."
Meja makan itu kembali hening. Hannan menggenggam tangan Amara di bawah meja, seolah memberi isyarat bahwa apapun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama.
"Selama kita berada di jalan Allah, tidak ada yang perlu ditakutkan," ucap Hannan menutup sarapan pagi itu dengan penuh wibawa.
Setelah sarapan, Hannan mengajak Amara berjalan-jalan di taman belakang rumah. Angin pagi yang segar menyapu wajah mereka.
"Mas... maafkan aku. Gara-gara aku, Mas jadi kesulitan ekonomi. Beasiswa Mas terancam, dan kiriman dari Indonesia dihentikan," ujar Amara dengan nada penuh penyesalan.
Hannan menghentikan langkahnya, ia membalikkan tubuh Amara agar menghadapnya. "Amara, dengarkan aku baik-baik. Rezeki itu sudah diatur bahkan sebelum kita lahir. Uang yang hilang bisa dicari, tapi kehormatan dan keselamatanmu tidak bisa digantikan dengan emas sekalipun. Jangan pernah merasa terbebani. Justru aku bersyukur, dengan begini, aku benar-benar merasa menjadi laki-laki sejati yang berjuang untuk keluarganya."
Amara memeluk Hannan erat. "Aku akan bantu, Mas. Aku bisa desain grafis, aku bisa bekerja freelance dari rumah. Aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian."
Hannan mencium puncak kepala Amara yang terbalut jilbab. "Terima kasih, istriku. Bersabarlah, ini baru babak awal dari perjuangan kita."