Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Wakasa pun menikmati perjalanan pertamanya dengan menaiki kereta kuda. Angin sore menerpa wajahnya, sementara roda kayu berderit pelan menyusuri jalan tanah yang panjang.
“Anu… terima kasih banyak sudah membolehkan aku menumpang. Ngomong-ngomong, namaku Wakasa.”
Pria paruh baya yang memegang kendali kuda itu melirik sekilas lalu tersenyum tipis.
“Kau bisa memanggilku Wolbord. Wakasa… apa kau memang punya urusan di desa tujuan kita?”
“Eem, aku ingin membantu membasmi hama yang sedang menyerang desa itu.”
Wolbord terdiam sejenak. Tatapannya lurus ke depan, seolah menimbang kata-kata Wakasa.
“Apa kau yakin sanggup?” tanyanya pelan. “Jumlah hama di sana tidak sedikit. Banyak petualang memilih menolak.”
Wakasa tersenyum kecil.
“Aku akan berusaha. Lagipula, jika hama itu dibiarkan, desa itu akan gagal panen. Kalau sudah begitu, masalahnya akan jauh lebih besar.”
Wolbord menghela napas, lalu tertawa kecil.
“Kau pemuda yang baik.”
Ia menoleh sedikit. “Perjalanan ke desa itu memakan waktu sekitar satu hari. Sebaiknya kau beristirahat, simpan tenagamu.”
Wakasa mengangguk pelan. Ia menoleh ke belakang, membayangkan ladang-ladang yang mungkin sudah rusak dimakan hama. Tanpa terasa, langit menggelap.
Kereta kuda berhenti di pinggir hutan untuk bermalam. Wolbord turun dan mulai mengumpulkan ranting kering.
“Wolbord-san, itu sudah cukup. Kembalilah ke sini, biar aku yang menyalakan apinya.”
Wolbord mengangkat alis, lalu berjalan mendekat. Wakasa menyusun kayu dan dalam sekejap api menyala stabil.
“Aku akan berburu sebentar untuk makan malam,” ucap Wolbord.
“Tidak perlu.”
Wakasa mengangkat tangannya, lalu membuka Magic Hole. Dari dalamnya, ia mengeluarkan potongan daging besar.
Wolbord membeku di tempat.
“W-Wakasa… apa kau bisa menggunakan sihir Magic Hole?”
Wakasa hanya mengangguk sambil tersenyum santai, lalu mulai memanggang daging itu.
Tak lama kemudian, aroma harum memenuhi udara malam.
“Silakan, Wolbord-san. Aku jamin rasanya akan mengejutkanmu.”
Begitu daging itu masuk ke mulut Wolbord, matanya membelalak.
“Apa… apa ini…?! Juicy, empuk, aromanya—!”
Wakasa tertawa kecil.
“Itu daging Dinoskiller.”
PLAK.
Potongan daging yang belum sempat ditelan Wolbord jatuh ke tanah.
“Apa kau bilang?! Dinoskiller?!”
“Iya. Aku mengalahkannya beberapa hari lalu. Saat itu dia sedang memangsa monster lain.”
Wolbord berkeringat dingin.
Monster ranking S… dikalahkan sendirian…
Namun ia tak berkata apa-apa lagi. Perlahan, ia melanjutkan makan sambil sesekali melirik Wakasa dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
Malam semakin larut. Api unggun mulai meredup.
Tiba-tiba Wakasa membuka percakapan.
“Wolbord-san, apa kau tahu tentang berita pemanggilan pahlawan oleh kerajaan?”
Wolbord terdiam, lalu mengangguk pelan.
“Aku seorang pedagang. Informasi seperti itu cepat sampai ke telingaku.”
“Bisakah kau ceritakan semua yang kau tahu?”
Wolbord menarik napas dalam-dalam.
“Beberapa kerajaan akan bekerja sama. Penyihir tertinggi mereka akan melakukan ritual pemanggilan pahlawan.”
“Berapa kemungkinan keberhasilannya?” tanya Wakasa.
“Lima puluh banding lima puluh. Karena pahlawan itu… berasal dari dunia lain.”
Wakasa mengerutkan dahi.
“Walaupun melibatkan penyihir tertinggi, tetap saja tidak pasti…”
“Benar. Dan tentang Raja Iblis…”
Wolbord menatap api unggun.
“Diperkirakan bangkit sekitar lima tahun lagi. Waktu yang singkat, mengingat pahlawan butuh latihan panjang.”
“Betul juga,” gumam Wakasa sambil memegang dagunya.
“Kekuatan tanpa kendali tidak akan berguna.”
“Terima kasih, Wolbord-san.”
Wolbord tersenyum lalu beranjak tidur lebih dulu. Wakasa tetap terjaga, memikirkan masa depan dunia ini. Tak lama kemudian, ia masuk ke hutan untuk melatih skill penghilang keberadaan.
Ketika kembali, efek skill itu masih aktif—terlalu aktif.
“Sepertinya aku harus lebih mengendalikannya…”
Malam itu pun berlalu.
Pagi hari, Wolbord membangunkan Wakasa.
“Kita berangkat lagi.”
“Selamat pagi, Wolbord-san. Berapa lama lagi sampai?”
“Sekitar tiga jam.”
Tak lama kemudian, mereka tiba di Desa Viloran. Wolbord langsung pergi setelah menurunkan Wakasa.
“Berjuanglah. Aku yakin kau bisa.”
“Heem. Terima kasih atas tumpangannya.”
Wakasa melambaikan tangan hingga kereta itu menghilang.
Memasuki desa, Wakasa melihat ladang rusak, hasil panen tercabik. Di kejauhan, tiga pria tampak berkumpul di dekat bangkai Mouse Black.
Wakasa menghampiri mereka.
“Permisi. Namaku Wakasa. Aku petualang yang datang untuk membantu membasmi hama.”
Ketiganya terkejut. Salah satu pria langsung menggenggam tangan Wakasa dengan wajah haru.
“Jadi… akhirnya ada yang datang…”
“Sungguh terima kasih. Upah kami kecil, tak ada petualang yang mau.”
“Tidak apa-apa,” jawab Wakasa lembut.
“Kami Hamada, Slich, dan Demian.”
“Senang bertemu dengan kalian.”
Mereka lalu mengajak Wakasa ke tempat lain.
Hamada menunduk.
“Setiap malam jumlah hama bertambah. Anak-anak kami takut keluar rumah.”
Slich mengepalkan tangan.
“Mouse Black hanyalah awal. Ada sesuatu yang memimpin mereka.”
Demian menatap Wakasa dengan serius.
“Dan kami yakin… itu bukan hama biasa.”
Wakasa menyipitkan mata, senyum tipis muncul di wajahnya.
“Kalau begitu… sepertinya masalahnya lebih menarik dari yang kuduga.”