Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.
Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.
Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DULU... SEBELUM MEMUTUSKAN MENIKAH DENGAN ERWIN
Malam ini gaun yang dikenakan Salma tak begitu istimewa. Potongannya sederhana, warnanya lembut, nyaris tak mencuri perhatian. Setelah cukup lama ia berdiri di depan cermin dan merapikan ujung kainnya, ia meraih sling bag dan mulai melangkah keluar kamar.
"Sudah siap?" Tanya Desi, sang Ibu yang nampak lebih anggun malam ini. Rambutnya tersanggul rapi, balutan blouse bernuansa lembut melekat serasi di tubuhnya, memancarkan wibawa sekaligus kehangatan khas seorang ibu. "Sebentar..." Langkahnya mendekat ke arah Salma, bahkan aroma parfumnya lebih wangi dari yang Salma kenakan.
Desi menatap riasan yang dikenakan Salma. Tatapannya lama, tajam, penuh penilaian, bak seorang juri yang tengah menimbang hasil akhir sebelum keputusan dijatuhkan. "Lipstik kamu tipis banget!" Protesnya. "Tambah lagi dong... biar lebih segar!"
"Aduh, Ma. Mau tebel gimana lagi, si? Udah cukup, ah!" Bantah Salma. "Nanti di kira aku menor atau berlebihan!"
"Kamu kira Mama bodo?" Balas Desi cepat. "Mama juga bisa bedain, Salma... mana warna nude sama yang pucat. Dan, yang Mama lihat sekarang... itu kayak kamu gak pakai lipstik."
Desi menggeleng pelan, lalu meraih sesuatu dari dalam tas tangannya. Ia mengeluarkan sebuah lipstik berwarna merah menyala dan langsung menyodorkannya pada Salma.
“Nih, pakai!”
Salma membelalak, refleks mundur setengah langkah. “Hah? Pakai lipstik emak-emak? Gak mau ah!”
Desi menaikkan alis, sorot matanya menajam. “Lipstik emak-emak gimana maksud kamu? Emang ada jenis lipstik beda usia?”
Salma manyun, bibirnya terkatup rapat seperti anak kecil yang keras kepala. Namun Desi tak memberi ruang tawar-menawar. “Pakai! Kalau enggak, mama yang pakaiin,” Ancamnya ringan tapi tegas.
Salma mendengus kesal. Dengan gerakan terpaksa, ia membuka lipstik itu dan mengoleskannya ke bibir. Tak tebal, hanya tipis-tipis—sekadar memberi warna. Merahnya kontras dengan riasan lembut yang sebelumnya ia pilih, membuat wajahnya tampak lebih dewasa, lebih tegas… dan entah kenapa, terasa bukan dirinya.
Desi mengamati hasilnya, lalu mengangguk kecil, puas. "Nah gini kan... putri Ibu yang paling cantik. Kita itu akan bertemu keluarga Mahendra yang terhormat."
"Bu... Erwin itu gak suka sama cewek yang make-up nya berlebihan. Dia itu suka cewek yang biasa-biasa aja, Bu."
"Iya!" Sanggah Desi. "Ibu paham, kok. Erwin itu udah biasa lihat kamu berpenampilan biasa. Dan, malam ini... kamu harus tampil luar biasa!"
Desi menggeleng sambil memeriksa semua pintu kamar dan memeriksa tasnya, sebelum akhirnya ia mengambil kunci mobil di atas meja dan mengajak Salma beranjak. "Lagipula... Mama tuh heran sama kamu..." Lanjutnya, mengunci pintu rumah sesaat sebelum akhirnya mereka keluar dan berjalan menuju pelataran. "... Erwin itu kan pacar kamu, selama ini Mama nilai sikap kamu ke Erwin biasa aja."
Salma mengkerutkan dahi dan masuk ke dalam mobilnya lebih dulu. Matanya memandang Desi yang berjalan melewati kap mobil sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kursi kemudi. "Biasa gimana si maksud Mama?" Balasnya. "Hubungan kami baik-baik aja. Pertemuan malam ini juga kan... untuk menetapkan hari pernikahan aku dan dia."
Desi mulai menyalakan mesin sambil mengenakan seat belt. Di saat itu juga, mobilnya melaju dengan kecepatan stabil saat keluar dari pekarangan rumah, membelah malam yang lengang, nyaris tanpa aktivitas di sepanjang jalan raya. "Sebenarnya… kamu menerima ajakan Erwin untuk menikah itu karena benar-benar cinta, atau cuma pelampiasan dari rasa sakitmu terhadap Randi, si?"
Pertanyaan itu menyambar telinga Salma, seolah mengelupas rahasia yang selama ini susah payah ia sembunyikan rapat-rapat. Pelampiasan? Tidak. Ia tak pernah berniat menjadikan pernikahan sebagai pelarian. Erwin baik, terlihat tulus. Namun entah mengapa, setiap kali Salma mencoba membuka hati untuknya, selalu terasa sulit—seakan perasaannya telah terkuras habis oleh masa lalu bersama Randi, hingga ia mati rasa dan tak lagi tahu bagaimana caranya jatuh cinta.
****