NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERHANA DI JANTUNG EMAS

"Gue nggak percaya sepatah kata pun yang keluar dari mulut lo, Julian! Lo cuma bagian dari sistem yang mau bikin gue ragu!"

Suara Nirmala melengking di atas puncak Monas, memecah kesunyian malam yang mencekam. Ia mencoba berdiri tegak meskipun jantungnya berdegup dengan ritme yang kacau. Di depannya, Julian berdiri dengan tenang, payung merah di tangannya berputar perlahan, memancarkan gelombang energi yang terasa sangat berat dan menekan.

Lukas, yang sejak tadi berusaha memperbaiki gawainya, ikut angkat bicara. "Eh, Mas Penagih! Kalau lo mau nipu, cari taktik yang lebih oke dikit kek! Video tadi bisa aja kan cuma hasil editan algoritma Ordo buat ngerusak mental Kak Nirmala?"

"Algoritma tidak bisa meniru rasa sakit yang asli, Lukas," jawab Julian tanpa mengalihkan pandangan dari Nirmala. "Coba kamu lihat baik-baik ekspresi Elena di video itu. Itu bukan ekspresi seorang penguasa yang kehilangan barang, itu ekspresi seorang ibu yang kehilangan anaknya. Nathan Mahendra memanfaatkan ambisi Elena di Ordo untuk merebutmu, lalu dia menghapus sebagian memori Elena agar wanita itu berubah menjadi monster yang kamu benci sekarang."

Nirmala merasakan dunianya seolah berputar. Setiap kata-kata Julian seperti palu yang menghantam fondasi keyakinannya. Ia melirik Alfred, berharap pria tua itu akan membantah semua ucapan Julian. Namun, Alfred hanya diam, menundukkan kepala dengan tangan yang terkepal kuat pada gagang payung gagaknya.

"Kek... kasih tau Vio... ini semua bohong, kan?" tanya Nirmala dengan suara parau.

Alfred menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terdengar sangat melelahkan. "Kebenaran di Ordo Chronos itu seperti cermin yang pecah, Nirmala. Setiap orang memegang satu kepingan dan mengklaim itu adalah gambaran yang utuh. Nathan memang melakukan kesalahan besar, tapi tujuannya... tujuannya adalah memberimu kesempatan untuk memilih."

"Kesempatan untuk memilih di atas penderitaan orang lain?!" sela Julian tajam. "Nirmala, jika kamu memasukkan pena itu ke titik sinkronisasi, kamu akan mengunci garis waktu di mana Elena tetap menjadi monster, Nathan tetap dianggap pahlawan yang hilang, dan kamu akan hidup dalam kebohongan abadi. Apa itu yang kamu sebut kebebasan?"

Nirmala menatap pena perak di tangannya. Benda itu kini terasa sangat berat, seolah membawa beban ribuan tahun sejarah yang bengkok. Ia melihat ke arah bawah, ke arah kota Jakarta yang masih membeku. Ia melihat jutaan orang yang hidupnya bergantung pada keputusan yang akan ia ambil dalam hitungan detik.

"Terus kalau gue nggak lakuin ini, apa yang bakal terjadi?" tanya Nirmala, matanya kini menatap lurus ke arah Julian.

"Realitas ini akan runtuh, dan Ordo akan melakukan reset total," sahut Julian. "Tapi kali ini, saya punya tawaran lain. Gunakan payung merah ini. Dia bisa membalikkan efek 'Penghapusan Memori' pada Elena. Kita bisa mengembalikan Arsitek yang asli, wanita yang sebenarnya mencintaimu, dan bersama-sama kita hancurkan Ordo dari dalam."

"Kak, jangan! Itu jebakan!" teriak Lukas. "Kalau lo pake payung merah itu, lo bakal terikat kontrak sama Julian! Dia itu penagih utang, nggak ada yang gratis dari dia!"

"Lukas benar," Alfred akhirnya bersuara, langkahnya kini maju satu langkah menutupi posisi Nirmala. "Julian bukan ingin menyelamatkan Elena. Dia ingin menggunakan Elena sebagai kunci untuk mengambil alih kendali Ordo. Dia ingin menjadi Arsitek yang baru."

Julian tertawa, sebuah tawa kering yang menggema di antara pilar-pilar emas. "Setidaknya saya jujur dengan ambisi saya, Alfred. Tidak seperti kamu yang bersembunyi di balik jubah 'Penjaga' padahal kamu sendiri adalah orang yang memberikan ide pada Nathan untuk mencuri materi itu."

Nirmala merasa kepalanya ingin pecah. Semua orang di sekelilingnya memiliki agenda masing-masing. Tak ada yang benar-benar peduli padanya sebagai manusia; mereka hanya peduli pada apa yang ada di dalam nadinya.

Tiba-tiba, langit di atas Monas bergetar. Retakan perak yang tadi sempat mengecil kini terbuka lebar kembali. Sosok Sera muncul dari balik cahaya, kali ini ia tidak berjalan di tanah. Ia melayang dengan sayap yang terbuat dari ribuan jarum jam yang berputar.

"Cukup drama keluarganya!" suara Sera menggelegar, sanggup meruntuhkan nyali siapa pun. "Waktu untuk bernegosiasi sudah habis. Auditor Pusat sudah memerintahkan penghapusan total. Area ini akan di-format dalam enam puluh detik!"

Sera mengangkat tangannya, dan ribuan benang perak meluncur turun dari langit, mengunci posisi Nirmala, Julian, Alfred, dan Lukas. Energi penghapus itu mulai memakan pelataran emas Monas, mengubahnya menjadi abu putih yang beterbangan.

"Nirmala, sekarang!" teriak Alfred sambil membuka payung gagaknya untuk menahan benang perak yang menyerang mereka. "Jangan pedulikan masa lalu! Amankan masa depan!"

"Kak, buruan! Gue nggak bisa nahan serangan data sebanyak ini!" Lukas mencoba menggunakan gawainya sebagai perisai, namun alat itu mulai meledak dan mengeluarkan asap hitam.

Nirmala melihat ke arah titik sinkronisasi. Ia tinggal melangkah dua langkah lagi. Namun, ia juga melihat ke arah payung merah di tangan Julian. Jika ia memilih sinkronisasi, ia menyelamatkan dunia tapi membunuh kebenaran. Jika ia memilih Julian, ia mungkin menemukan ibunya tapi menyerahkan dunia pada tiran baru.

Di tengah kekacauan itu, sebuah memori kecil muncul di kepala Nirmala—bukan memori buatan Nathan, melainkan memori saat ia pertama kali merasakan air hujan di halte bus. Ia ingat betapa jujurnya air itu; ia jatuh tanpa memihak, membasahi siapa pun tanpa peduli status mereka.

"Gue nggak pilih Alfred, gue nggak pilih Julian, dan gue juga nggak bakal tunduk sama lo, Sera!" teriak Nirmala.

Nirmala tidak memasukkan penanya ke titik sinkronisasi. Ia juga tidak mengambil payung merah Julian. Sebaliknya, ia menusukkan pena peraknya tepat ke tengah payung biru miliknya sendiri yang sedang terbuka.

"Kak! Apa yang lo lakuin?!" Lukas berteriak kaget.

Ledakan energi biru dan perak menyatu, menciptakan pusaran angin yang luar biasa kencang. Nirmala menggunakan payungnya sebagai antena untuk menyerap seluruh benang perak penghapus milik Sera. Ia menjadikan dirinya sendiri sebagai wadah bagi seluruh data yang akan dihapus.

"Kamu gila! Kamu akan hancur kalau mencoba menampung seluruh sejarah Jakarta sendirian!" Sera tampak panik, mencoba menarik kembali serangannya, namun sudah terlambat.

Tubuh Nirmala mulai bercahaya sangat terang, retakan-retakan cahaya muncul di sekujur kulitnya. Rasa sakitnya melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan, namun ia tetap bertahan. Ia merasakan setiap memori penduduk kota, setiap detik yang terbuang, masuk ke dalam jiwanya.

"Alfred, Lukas... lari!" perintah Nirmala dengan suara yang kini terdengar ganda, bercampur dengan ribuan suara lain.

"Gue nggak bakal ninggalin lo, Kak!" Lukas mencoba mendekat, namun ia terlempar oleh tekanan energi yang sangat besar.

"Pergilah, Lukas! Jaga Buku Besar itu!" Alfred menarik Lukas menjauh, matanya menatap Nirmala dengan rasa hormat yang mendalam. "Kamu benar-benar menjadi Arsitek yang sesungguhnya, Nirmala. Kamu membangun jembatan dengan dirimu sendiri."

Julian mencoba menyerang Nirmala dengan payung merahnya, namun kekuatan Nirmala saat ini sudah melampaui level Auditor mana pun. Dengan satu lambaian tangan, payung merah Julian hancur menjadi debu.

"Selesai," bisik Nirmala.

Ia menutup payung birunya yang kini sudah dipenuhi oleh cahaya perak. Seluruh benang perak di langit terhisap masuk ke dalam payung itu. Langit Jakarta kembali menjadi gelap secara alami. Hujan yang membeku mendadak jatuh kembali sebagai air biasa. Waktu kembali berdetak.

Namun, di puncak Monas, Nirmala mulai memudar. Tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi butiran cahaya biru yang halus.

"Vio... Kak Vio!" Lukas berlari menghampiri tempat Nirmala berdiri, namun tangannya hanya menembus udara kosong. "Kak, lo di mana?!"

Nirmala sudah tidak memiliki raga fisik lagi. Ia telah menyatu dengan aliran waktu Jakarta. Suaranya kini terdengar seperti bisikan angin yang lewat di telinga Lukas dan Alfred.

"Gue ada di setiap detik yang kalian jalani sekarang. Jaga kota ini baik-baik."

Sera berteriak murka karena misinya gagal total, namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, sebuah portal waktu terbuka di bawah kakinya, menariknya kembali ke pusat Ordo untuk menerima hukuman. Julian pun menghilang di balik bayangan, melarikan diri sebelum Alfred sempat menangkapnya.

Pagi mulai menjelang di ufuk timur. Sinar matahari pertama menyentuh puncak Monas yang kini sudah kembali normal. Lukas duduk di lantai emas yang dingin, memeluk gawai dan Buku Besar Ordo yang diberikan Alfred.

"Kek... dia beneran pergi?" tanya Lukas dengan mata berkaca-kaca.

Alfred menatap langit yang mulai membiru. "Dia tidak pergi, Lukas. Dia hanya memilih untuk tidak menjadi materi lagi. Dia menjadi 'Waktu' itu sendiri."

Di bawah, di jalanan Jakarta yang mulai macet oleh orang-orang yang berangkat kerja, seorang wanita paruh baya berhenti di sebuah halte bus. Wanita itu adalah Elena. Ia berjalan tanpa kursi roda, tampak sehat namun wajahnya terlihat bingung, seolah ia baru saja bangun dari mimpi yang sangat panjang.

Elena merasakan sebuah rintik hujan jatuh di pipinya. Ia mendongak ke langit, dan entah mengapa, sebuah senyuman muncul di wajahnya. Ia merasa seolah ada seseorang yang baru saja memeluknya dan membisikkan kata 'Maaf'.

Di dekat kakinya, Elena menemukan sebuah payung lipat berwarna biru tua yang tergeletak di bangku halte. Ia mengambil payung itu, membukanya, dan berjalan menembus gerimis dengan langkah yang mantap.

Di dalam payung itu, tertulis sebuah nama dengan tinta biru safir yang tidak akan pernah luntur:

Nirmala Putri Mahendra—Arsitek dari Detik yang Bebas.

Alfred dan Lukas berdiri di puncak Monas, melihat ke bawah. Lukas menyadari sesuatu saat ia membuka halaman pertama Buku Besar itu. Nama Nirmala tidak lagi tertulis di sana. Sebagai gantinya, tertulis sebuah kalimat baru:

"Waktu tidak untuk dimiliki, tapi untuk dirasakan. Dan hari ini, hujan terasa sangat jujur."

Lukas menoleh ke arah Alfred. "Kek, terus sekarang kita harus gimana?"

Alfred tersenyum, menutup payung gagaknya dan menatap matahari yang semakin tinggi. "Sekarang? Sekarang kita cari halte bus berikutnya. Masih banyak orang yang butuh bantuan buat nemuin jalan pulang di tengah hujan."

Namun, tepat saat mereka hendak turun, gawai Lukas bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari pengirim yang identitasnya terenkripsi dalam kode yang sangat rumit—kode yang hanya diketahui oleh satu orang.

Isi pesannya singkat:

"Lukas, jangan liat ke bawah. Liat ke cermin di sebelah lo."

Lukas menoleh ke arah pilar emas yang mengkilap di sampingnya. Di dalam pantulan cermin itu, ia melihat Nirmala berdiri tepat di belakangnya, mengenakan jaket denim Nathan dan memegang sebuah pena perak yang baru.

Nirmala di dalam cermin itu mengedipkan mata, lalu meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

"Petualangan yang sebenarnya baru aja dimulai, Lukas," bisik suara Nirmala dari dalam cermin.

Lukas ternganga. Ia menyadari bahwa Nirmala tidak hanya menyatu dengan waktu, tapi dia telah berhasil menciptakan dimensinya sendiri di balik setiap permukaan yang memantulkan cahaya.

"Kek... kayaknya kita nggak usah nunggu bus," ucap Lukas dengan seringai lebar. "Kita punya Arsitek yang bisa bikin jalan tol sendiri."

Alfred tertawa lepas, sebuah tawa yang jarang sekali terdengar dari pria tua misterius itu. Bersama-sama, mereka melangkah masuk ke dalam pantulan cermin di pilar Monas, menghilang dari dunia nyata menuju petualangan baru yang melintasi batas-batas takdir.

Di kejauhan, Jakarta terus bergerak. Hujan telah berhenti, namun di setiap genangan air yang tersisa di aspal, bayangan sebuah payung biru tua tampak melintas dengan sangat cepat, menjaga setiap detik yang berdetak di jantung kota.

TAMAT... ATAU MUNGKIN BARU DIMULAI?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!