NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Gigi Susu

Fajar memucat di cakrawala Lentera Hitam, namun alih-alih membawa kehangatan, cahaya matahari yang baru terbit itu justru tampak seperti luka lama yang terbuka kembali—pucat dan tidak memiliki saturasi warna yang alami. Arlan berdiri di depan pintu kaca Kantor Kurir Logistik Utama, merasakan sisa dingin dari kereta tanpa lampu yang membawanya pergi dari stasiun semalam. Bahu kirinya masih berdenyut perih, bekas luka bakar yang ia sentuh di ruang arsip pusat tadi kini terasa seperti kompas moral yang mengingatkannya bahwa ia masih nyata di tengah kota yang mulai memudar.

Ia mendorong pintu kaca itu. Suara denting bel di atas pintu terdengar diredam, seolah-olah udara di dalam kantor telah berubah menjadi zat cair yang menelan suara. Arlan mengernyit saat indra penciumannya menangkap bau ozon yang tajam, aroma yang biasanya tertinggal setelah sambaran kilat atau kegagalan arus pendek pada mesin-mesin besar. Namun, di sini, bau itu bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih mengganggu: aroma organik yang samar, seperti daging mentah.

"Selamat pagi, Arlan. Anda terlambat lima menit dari jadwal pemindaian rutin," suara itu menyapa dari balik meja resepsionis.

Arlan menoleh dan mendapati seorang rekan kerja—atau entitas yang menyerupainya—sedang menatapnya dengan mata yang terlalu jernih. Pria itu adalah petugas sortir yang biasanya penuh tawa, namun kini ia duduk dengan tegak yang kaku. Arlan memperhatikan dada pria itu; gerakan napasnya terlalu disengaja, naik dan turun dengan jeda satu detik yang presisi, seolah-olah ia sedang mengikuti instruksi manual di dalam kepalanya agar terlihat seperti manusia yang bernapas.

"Arloji saya mungkin terpengaruh oleh suhu di stasiun kota yang tidak stabil, Pak," jawab Arlan, menggunakan protokol formal-kaku yang biasa ia gunakan untuk menjaga jarak aman.

"Suhu stasiun adalah variabel yang sudah diprediksi oleh pusat. Ketidakteraturan adalah bibit anomali," petugas itu berdiri, tangannya yang licin tanpa sidik jari menggeser sebuah kotak logam kecil ke arah Arlan. "Ada paket prioritas untuk Anda. Dikirim secara anonim, namun kode resinya menggunakan protokol tahun 2012."

Arlan merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia teringat kembali pada manifes kematian yang ia temukan semalam, yang mencantumkan namanya sebagai korban jiwa dalam kebakaran apartemen Sektor 7 dua belas tahun silam. Tangannya bergetar saat menyentuh permukaan kotak itu. Dingin. Bukan dingin logam biasa, melainkan dingin yang menyerap panas dari ujung jarinya—sebuah fenomena endotermik lokal yang sangat kuat.

"Siapa yang mengirimkannya? Tidak ada nama pengirim di labelnya?" Arlan mencoba memancing informasi, matanya menatap tajam ke arah petugas sortir.

"Pengirim adalah masa lalu yang menolak untuk dihapus," jawab petugas itu dengan nada monoton yang dingin. "Saran saya, segera lakukan audit konten. Paket ini memancarkan frekuensi yang mengganggu sistem sinkronisasi kami."

Arlan membawa kotak itu ke ruang sortir belakang yang sunyi. Ia meletakkannya di atas meja kayu yang biasanya keras, namun saat tangannya menekan permukaan meja, kayu itu terasa sedikit empuk, seolah-olah jaringan selulosa di dalamnya sedang berubah menjadi jaringan lunak yang hangat. Perubahan realitas fisik ini mulai merayap ke benda-benda mati di sekitarnya, sebuah replikasi organik yang menjijikkan.

Ia menarik napas panjang, menenangkan gemuruh di dadanya, lalu membuka pengunci kotak tersebut.

Di dalamnya, terbungkus dalam kain beludru hitam yang sudah lapuk, terdapat sebuah wadah transparan berisi dua butir gigi susu manusia. Gigi itu kecil, putih kekuningan, namun yang membuat Arlan nyaris berteriak adalah cairan perak kental yang menyelimuti gigi tersebut. Cairan itu bergerak secara mikroskopis, seperti organisme hidup yang sedang mencoba melindungi atau justru mengonsumsi objek di dalamnya.

"Gigi ini... milikku," bisik Arlan. Ia ingat pernah menyembunyikan gigi susunya di bawah bantal sebelum ayahnya mengambilnya untuk disimpan sebagai bagian dari memori keluarga.

Tiba-tiba, permukaan logam meja di depannya mulai memantulkan bayangan yang salah. Arlan melihat pantulan dirinya di sana, namun pantulan itu bukan seorang pria dewasa berseragam kurir. Di dalam pantulan itu—sebuah Echo yang muncul tiba-tiba—seorang anak kecil berusia tujuh tahun dengan wajah berlumuran abu hitam menatapnya balik. Anak itu menangis tanpa suara, air matanya berwarna perak cair yang seolah melubangi permukaan meja dalam penglihatan pantulan tersebut.

"Apa yang ingin kau tunjukkan?" Arlan bertanya pada bayangannya sendiri, suaranya parau oleh luapan trauma yang bangkit kembali.

Bayangan anak kecil itu menunjuk ke arah resi pengiriman yang masih menempel di kotak. Di sana, tertulis sebuah koordinat geografis yang tidak lagi dikenali oleh peta digital kota Lentera Hitam sekarang. Arlan merasakan kunci rumah tua di sakunya bergetar hebat, seolah-olah benda itu memiliki nyawa yang bereaksi terhadap kehadiran fragmen masa lalu tersebut.

"Data ini nyata. Mereka mencoba mengirimkan traumaku kembali sebagai umpan agar aku menyerah pada realitas ini," gumam Arlan, jemarinya mengepal hingga buku-bukunya memutih.

Ia menyadari bahwa paket ini bukan sekadar kiriman. Ini adalah suar pelacak. Bau ozon di ruangan itu semakin tajam, menandakan bahwa pasukan yang bertugas menghapus sisa-sisa kemanusiaan sedang mengunci posisinya. Arlan melihat ke arah pintu ruang sortir; bayangan di bawah celah pintu mulai memanjang secara tidak wajar, meski tidak ada sumber cahaya yang bergerak di luar sana.

"Anda sedang berkomunikasi dengan residu memori yang seharusnya sudah musnah, Arlan. Itu adalah tindakan yang merusak integritas kota," suara dari arah pintu mengejutkannya.

Seorang kurir lain berdiri di sana. Wajahnya tampak belum selesai disalin; kulit di bagian rahangnya masih terlihat transparan, memperlihatkan struktur perak di dalamnya. Ia tidak memiliki bayangan sama sekali di bawah lampu neon yang berkedip di langit-langit.

"Saya hanya sedang memastikan bahwa martabat seorang kurir mencakup hak untuk memeriksa paketnya sendiri," Arlan membalas dengan tajam, tangannya diam-diam meraih botol cairan pemantik api di rak alat tulis.

"Martabat hanyalah sisa data dari era sebelum penyalinan dunia dimulai. Berikan kotak itu kepada saya, atau Anda akan dihapus bersama dengan gigi susu tak berguna itu sekarang juga," kurir itu melangkah maju, gerakannya tanpa suara gesekan kain, seolah-olah ia meluncur di atas hampa udara.

Arlan menatap gigi susu di depannya. Itu adalah potongan fisik terakhir dari masa kecilnya yang tidak terbakar habis dalam insiden 2012. Dilema batin mencabiknya; menyimpan bukti keberadaannya yang nyata namun berbahaya bagi keselamatannya, atau memusnahkannya demi memutus jejak musuh.

"Masa lalu saya mungkin bisa Anda salin ke dalam kertas arsip yang salah," Arlan berkata dengan suara yang lebih dalam, penuh tekad yang mulai mengeras. "Tapi rasa sakit saat gigi ini tanggal adalah milik saya sendiri. Dan entitas seperti Anda tidak akan pernah bisa menduplikasi rasa perih itu."

Dengan satu gerakan cepat, Arlan menyiramkan cairan pemantik ke dalam kotak logam itu dan memicu korek apinya. Api biru segera berkobar, melahap kain beludru dan cairan perak yang mencoba melawan panas tersebut. Bau ozon kini tertutup oleh bau hangus yang sangat autentik.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!