Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Gibran Pradikta adalah anak bungsu dari dua bersaudara, ia terlahir hidup dalam kemewahan dan kekayaan sejak kecil. Ayahnya Anggana Pradikta, adalah seorang konglomerat ternama yang kaya dan terkenal, pemilik perusahaan Pradikta Group yang memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia. Tak heran ia memiliki banyak jaringan dan relasi dari kalangan pejabat hingga miliader dan selebriti ternama.
Gibran tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tampan, cerdas dan berbakat dalam segala hal, tetapi juga memiliki sifat yang dingin dan ambisius. Ia lebih suka bekerja dari pada menghabiskan waktunya untuk bermain atau sekedar bersantai.
Namun kehidupan Gibran berubah ketika Ayahnya meninggal secara tiba-tiba. Gibran di hadapkan pada kenyataan bahwa ia harus mengambil alih perusahaan keluarga yang memiliki banyak musuh dan persaingan.
Gibran harus menghadapi tantangan dari kakaknya, Arya, yang selalu ingin mengambil alih perusahaan dan menghancurkan Gibran. Ia juga harus menghadapi tekanan dari Ibunya, yang ingin melihat Gibran menjadi pemimpin yang kuat dan sukses.
Namun pada suatu hari, saat sedang dalam perjalanan pulang setelah menghadiri acara bisnis, kakaknya Arya yang selalu ingin mengambil alih perusahaan telah merencanakan sesuatu yang jahat, Arya telah menyabotase sistem keamanan mobil Gibran, yang menyebabkan kecelakaan tunggal dan jatuh ke sungai.
Gibran mengalami luka yang parah dan menyebabkan dirinya hilang ingatan. Ia tidak ingat siapa dirinya, apa yang terjadi, atau bagaimana ia bisa berada di sungai. Untungnya Gibran di selamatkan oleh seorang gadis muda bernama Nadia, yang kebetulan sedang mencari ikan di sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya hingga pulih. Nadia tidak mengetahui asal usul Gibran, ia hanya tahu jika Gibran adalah korban kecelakaan yang hanyut di sungai.
Gibran membuka mata perlahan-lahan, merasa kebingungan dan sakit kepala. Ia mencoba untuk mengingat apa yang terjadi, tapi ingatannya kosong. Ia tidak tahu siapa dirinya, di mana ia berada, atau bagaimana ia bisa berada di sana.
Ia melihat sekeliling, tapi semuanya terlihat asing. Ia berada di sebuah kamar kecil yang sederhana, dengan dinding yang dicat putih dan jendela kecil yang membiarkan sinar matahari masuk. Ia merasa seperti berada di dalam sebuah mimpi buruk.
Gibran mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya terasa lemah dan sakit. Ia melihat ke bawah dan melihat bahwa ia terbaring di atas sebuah tempat tidur kecil, dengan selimut yang lembut dan bantal yang empuk.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut terdengar dari arah pintu. "Kamu sudah siuman?" kata suara itu.
Gibran menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang gadis muda dengan rambut panjang dan mata yang indah. Ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi ada sesuatu yang membuat ia merasa nyaman di dekatnya.
"Siapa... siapa kamu?" Gibran bertanya, suaranya lemah.
Gadis itu tersenyum dan mendekati Gibran. "Aku Nadia. Aku yang menemukanmu di sungai tiga hari yang lalu. Kamu mengalami kecelakaan dan hilang ingatan," katanya dengan lembut.
Gibran mencoba untuk mengingat, tapi ingatannya masih kosong. Ia hanya bisa melihat wajah Nadia dan merasa bahwa ia harus percaya padanya.
"Kecelakaan?"ulang Gibran, ia berusaha mengingat kejadian malam itu, tapi semakin ia mengingat kepalanya semakin sakit bak di hantam batu besar.
" Shhttt.... "ringisnya sambil memegangi kepala.
Nadia langsung mendekati Gibran dan menenangkan laki-laki itu."Tidak usah di paksakan, kata Mbak Dian kamu kehilangan ingatan karna benturan yang cukup keras di kepala kamu, oleh sebab itu kamu bingung dan lupa dengan apa yang terjadi,"jelasnya.
"Mbak Dian itu siapa?"tanya Gibran.
"Mbak Dian itu, tetanggaku disini, dia adalah seorang Dokter. Waktu Aku menemukanmu di sungai, Aku segera memanggil Mbak Dian dan menyuruhnya mengobati dan merawatmu, karna selama tiga hari kamu tidak sadar,"jawab Nadia.
" Jadi.... kamu yang menolongku?"
Nadia mengangguk pelan."Aku tidak tahu kenapa kamu bisa hanyut dan terluka parah seperti ini, tapi Mbak Dian meyakini kalau kamu korban kecelakaan yang hanyut ke sungai."
Gibran menghela napas panjang, ia benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Tapi kepalanya yang masih di perban benar-benar sakit saat ini.
"Apa kamu lapar?"tanya Nadia.
Gibran mengangguk sebagai jawaban.
"Baiklah, Aku akan membuatkanmu makanan, tapi.... jangan komen ya kalau makanannya tidak enak, karna Aku tidak tahu selera masakanmu."
Gibran hanya diam memperhatikan Nadia yang sedang berceloteh.
"Yasudah, Aku buatkan sekarang, jangan kemana-mana, karna ini di kampung. Jika kamu keluar dan preman di kampung ini melihat tampangmu yang terkesan orang berada, mungkin mereka akan memalakmu."peringat Nadia, lalu gadis itu berlalu pergi ke dapur.
Gibran memperhatikan setiap sudut ruangan itu, kamar kecil namun sangat rapih. Banyak buku dan lukisan yang belum selesai di sebuah meja sudut ruangan dan beberapa foto yang menampilkan gadis kecil dan seorang wanita dewasa yang tengah berswafoto, tapi sayangnya, fotonya sudah buram terkena tetesan air, hingga tidak begitu jelas.
GONJRENG!!
Gibran terlonjak kaget saat mendengar suara bising dari arah dapur, ia ingin melihat dan memastikannya, tapi tubuhnya masih sakit dan lemah sehingga menyulitkannya bergerak.
Tidak lama kemudian Nadia masuk ke dalam kamar, membawa nampan berisi semangkuk bubur, air putih dan beberapa potong buah apel. Tampak sekali penampilannya sangat lusuh setelah dari dapur. Gadis itu masih mengenakan celemek yang sudah kotor dan di penuhi sisa-sisa bubur yang tumpah.
"Ini makanannya." Ayudi menaruh nampan makanan itu di meja samping tempat tidur.
Lagi dan lagi, Gibran hanya diam memperhatikan Nadia. Hal itu membuat Nadia geram sendiri."Kenapa tidak di makan? makananku kelihatan tidak enak ya? atau.... kamu jijik denganku! mangkanya nggak mau makan."
Gibran menghela napas berat,"Bukan begitu, tanganku masih sakit, jadi......"
"Jadi......?"sela Nadia, alisnya menukik tajam ke atas seolah mempetanyakan ucapan Gibran."Kamu mau Aku suapin, gitu?"
"Jika kamu bersedia," balas Gibran.
Nadia berdecih pelan,"Dasar modus!"
"Aku tidak modus, tanganku memang benar-benar sakit, kamu sendiri yang mengobatiku pasti tahu, jika tanganku belum sembuh total."
Nadia memutar bola matanya malas,"Iya, iya! Aku suapin, dasar menyusahkan Orang aja! cepat sembuh ah!"
Meskipun dengan ogah ogahan, Nadia tetap menyuapi Gibran, dengan perlahan gadis itu meniup bubur yang masih panas, lalu menyuapinya kepada Gibran.
Semua perlakuan lembut Nadia terekam jelas di otak Gibran, laki-laki yang masih lemah itu memperhatikan Nadia dengan lekat. Nadia memang benar-benar gadis yang baik, selain baik dan tulus, gadis itu juga memiliki paras yang menawan membuat Gibran ingin berlama-lama menatapnya.
Nadia yang sadar di tatap terus menerus oleh Gibran merasa grogi."Nggak usah lihat-lihat! nanti Aku colok matamu!"ujarnya galak."Aku tahu Aku cantik, tapi nggak usah berlebihan menatapku, nanti kamu suka loh."
"Pede! kamu itu terlalu narsis!" ejek Gibran.
Nadia melotot tak terima,"Enak aja! Aku nggak narsis ya. Emang benar Aku cantik kok, kalo Aku nggak cantik kenapa kamu lihatin terus??"
Gibran reflek tertawa, hal itu membuat Nadia heran.
"Kenapa kamu ketawa? ada yang lucu, kah?" tanyanya heran.
"Aku memperhatikanmu bukan karna kamu cantik," ujar Gibran sesaat tawanya berhenti.
"Terus??"
"Itu karna di matamu ada belek!" ujar Gibran seraya tersenyum terbahak-bahak.
Nadia melebarkan matanya tak percaya , ia langsung berlari keluar dengan perasaan yang sangat malu.
"Ampun deh Nadia, kenapa bego banget!" katanya malu sendiri.
**********
Tiga hari pasca hilangnya Gibran, Tina Ibunya sangat sedih dan terpukul begitu mendengar kabar anak bungsunya kecelakaan dan hilang terbawa arus sungai. Seluruh orang telah di kerahkan untuk mencari Gibran, mulai dari polisi dan basarnas. Namun nihil, selama tiga hari mereka mencari, pencarian Gibran masih belum menemukan titik terang.
Tina jatuh sakit, keadaannya sekarang sangat lemah hingga mengharuskannya di rawat inap di rumah sakit. Ia masih memikirkan putra kesayangannya yang ntah hilang kemana. Tina yakin, Gibran masih hidup dan akan kembali.
"Sudahlah, Bu. Ikhlaskan saja Gibran, sudah tiga hampir empat hari dia belum di temukan, mungkin dia sudah meninggal," ujar Karlina.
Tina menggeleng lemah."Tidak! adikmu belum meninggal, Ibu yakin dia masih hidup dan akan kembali kerumah kita."
Karlina mendesah pelan,"Bu, tapi kecil kemungkinan untuk manusia yang kecelakaan terluka parah lalu bertahan di dalam air selama tiga hari. Itu sangat mustahil selamat."
"KARLINA!" bentak Tina."Bisa tidak? kamu jangan berbicara adikmu mati, mati, mati dan mati. Sesekali kamu berharap jika dia masih hidup dan akan kembali ke rumah kita. Dia juga berhak hidup dan bahagia bersama kita."
"Tapi Bu.... "
"STOP!" sentaknya."Sebaiknya kamu keluar dari ruangan ini, Ibu tidak mau mendengar orang-orang yang tetus menganggap Gibran sudah mati."
"Baiklah, Aku pergi." pamit Karlina, perempuan itu melenggang pergi keluar ruangan.
Di dalam hatinya ia bersorak senang, karna Gibran adik bungsunya sudah mati. Ia tidak perlu repot-repot mengotori tangannya untuk menyingkirkan Gibran. Karna tidak di singkirkan pun, adik bungsunya itu mati mengenaskan. Dan dengan begitu, harta warisan keluarga akan jatuh kepadanya.
Baru saja keluar dari ruangan Ibunya, di hadapannya sudah ada Arya, kakak sulungnya beserta dua orang bodyguard bertubuh besar.
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Arya.
"Lumayan membaik, hanya masih lemah. Sejak tadi Ibu menangis terus memikirkan Gibran," terang Karlina.
"Kau tidak memberitahunya jika Gibran sudah mati."
Karlina mendesah pelan,"Aku sudah memberitahunya, tapi Ibu tidak percaya. Dia malah membentaku dan menyuruhku berhenti berbicara jika Gibran sudah mati. Ibu percaya kalau Gibran masih hidup dan akan kembali ke rumah."
"Wajar saja, Gibran anak kesayangan Ibu. Mungkin sulit bagi Ibu menerima kenyataan jika Gibran sudah mati."
Karlina mengangguk setuju."Bagaimana pencariannya?"
"Aku sudah menghentikannya,"balas Arya."Toh, mustahil dia masih hidup, tenggelam dalam air selama tiga hari. Pasti mayatnya sudah membusuk dan di makan hewan."
Kejam dan tidak berprasaan, itulah Arya dan Karlina. Bahkan dengan adik kandung mereka sendiri, mereka tega berbicara demikian di saat semua orang sedang berduka atas kejadian yang menimpa Gibran.
"Tapi Aku penasaran, kenapa tiba-tiba dia bisa kecelakaan dan hanyut di sungai. Setahuku dia bukan tife orang yang ceroboh. Kau tahu sendiri, Gibran adalah orang yang sangat teliti. Jika mengantuk, dia akan berhenti di pinggir jalan, lalu tidur sejenak. Kalau pun mobilnya rusak, itu tidak mungkin, karna setiap bulan dia selalu memeriksa dan menyerpisnya,"ujar Karlina agak penasaran.
Arya mengedikan bahunya acuh, seolah tidak tahu menahu atas kejadian yang menimpa Gibran. Padahal, otak di balik semua ini adalah dirinya, yang sangat berambisi menghabisi Gibran.
"Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Mungkin itu sudah nasibnya,"ujarnya kemudian.
bersambung...