Pernikahan yang awalnya tampak sebagai jalan keluar, berubah menjadi jerat paling mematikan. Karena ia terpaksa menerima tawaran kontrak nikah dengan pria asing, demi menyelamatkan keluarganya.
Nadira Azzahra, perempuan sederhana dari Jakarta, menerima pernikahan dengan seorang pria asing bernama Leonardo Valerio demi menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan dan ancaman orang-orang berbahaya. Leonardo adalah pria tenang, tampan, dan nyaris sempurna. Ia tak pernah marah, tak pernah berteriak, selalu tersenyum tipis—namun justru ketenangan itulah yang perlahan membuat Nadira merasa diawasi setiap saat.
Tak ada yang menyangka, bahwa suaminya adalah pemimpin mafia internasional berdarah dingin—dan seorang psikopat fungsional.
Leonardo tidak mengenal rasa bersalah, ia membunuh dengan wajah datar. Bahkan ia menjadikan Nadira tawanan cintanya.
"Aku tidak mencintaimu seperti orang normal, Nadira. Aku mencintaimu seperti aku, memiliki sesuatu yang tak boleh hilang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemburuan
Van itu mengerem mendadak saat melihat Leonardo berdiri di tengah jalan.
Ban berderit keras. Bau karet terbakar menyengat udara.
Tapi terlambat.
Leonardo sudah memberi isyarat.
SWOOOOSH!
Peluncur roket dari sisi kanan hutan melesatkan proyektil.
BOOOOM!
Ledakan menghantam tepat di depan van. Aspal hancur. Api menyala.
Van terpaksa berhenti total.
Pintu samping terbuka. Pria botak dan dua lainnya melompat keluar sambil menyeret aku.
"JANGAN BERGERAK!" teriak pria botak sambil menodongkan pistol ke kepalaku. "ATAU DIA MATI!"
Leonardo berhenti melangkah. Tapi senyumnya tidak hilang.
"Kau pikir aku peduli?" ucapnya dengan nada dingin yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kau pikir ancaman itu akan berhasil?"
Dia mengangkat pistolnya.
Mengarahkan tepat ke kepala pria botak.
"Lepaskan dia," perintahnya. "Atau aku hitung sampai tiga dan kau mati."
"KAU GILA?!" teriak pria botak. "AKU PEGANG ISTRIMU! AKU BISA BUNUH DIA SEKARANG!"
"Satu," ucap Leonardo dengan nada datar.
Jarinya mulai menarik pelatuk.
"DENGARKAN AKU!" pria botak makin panik. Pistolnya bergetar di kepalaku.
"Dua."
Leonardo tidak bergeming. Matanya fokus. Seperti sedang membidik target latihan. Bukan kepala orang yang memegang istrinya sendiri.
"VALERIO BERHENTI!" teriak pria botak putus asa.
"Tiga."
DOOORR!
Tembakan melesatkan peluru tepat melewati telingaku.
Begitu dekat sampai aku merasakan panas peluru.
Dan peluru itu menghantam tepat di antara mata pria botak.
Dia terjatuh ke belakang. Pistolnya terlepas dari tanganku.
Aku jatuh berlutut. Gemetar hebat.
Hampir. Hampir kena.
Leonardo tidak peduli dia hampir bunuh aku. Dia cuma peduli tembakan nya tepat sasaran.
"TEMBAK!" teriak salah satu dari dua pria yang tersisa.
Mereka mengangkat senjata otomatis mereka.
Tapi lebih cepat dari itu, dari belakang mereka, Marco sudah melompat dari atas van.
Katana nya berkilat di bawah cahaya bulan.
SRAASSHH!
Satu kepala terpenggal.
SRAASSHH!
Kepala kedua jatuh sebelum tubuh pertama menyentuh tanah.
Darah menyembur kemana-mana.
Aku berteriak tapi suara tercekat di tenggorokan.
Leonardo berjalan mendekat dengan langkah santai. Seperti sedang jalan-jalan sore. Bukan di tengah pembantaian.
Dia berjongkok di depanku. Melepaskan lakban di mulutku dengan kasar.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Pertanyaan yang sangat absurd mengingat dia baru saja hampir bunuh aku.
"Kau... kau hampir... hampir tembak aku..." suaraku gemetar hebat.
"Tapi aku tidak tembak kau," balasnya sambil memotong tali di tanganku dengan pisau. "Aku tidak pernah meleset, sayang. Kau aman karena aku yang pegang pelatuknya."
Dia menarikku berdiri. Memelukku dengan erat walau bajuku berlumuran darah dari mayat-mayat di sekitar.
"Tidak ada yang boleh ambil kau dariku," bisiknya di telingaku. "Tidak ada. Dan siapapun yang coba... akan berakhir seperti mereka."
Dia menunjuk ke tiga mayat yang masih menggenang darah.
Aku ingin muntah. Ingin pingsan. Tapi tubuhku terlalu shock untuk reaksi apapun.
Andrey datang berlari sambil membawa tablet.
Dia mengetik cepat. Menunjukkan layar pada Leonardo.
"Ada sinyal GPS lain," bunyi suara robot. "Dari tubuh Nyonya. Masih aktif."
Aku menatap Leonardo. "Apa... apa maksudnya?"
Leonardo tersenyum tipis. "Waktu kau tidur dua minggu lalu, aku minta dokter tanam chip GPS kecil di bawah kulitmu. Di belakang leher. Kau tidak akan pernah bisa lepas dari pantauanku, Nadira. Bahkan kalau kau diculik sampai ujung dunia."
Tanganku langsung meraih belakang leherku. Meraba-raba. Dan aku merasakan ada tonjolan kecil di bawah kulit.
Chip.
Dia tanam chip di tubuhku.
Seperti anjing peliharaan.
"Kau... kau monster..." bisikku.
"Ya," balasnya sambil mencium keningku. "Tapi aku monster yang mencintaimu. Dan monster yang akan bunuh siapapun yang coba pisahkan kita."
Marco membersihkan darah di katana nya dengan kain. "Don, apa kita kejar ke markas Damian sekarang?"
Leonardo melepaskan pelukannya. Menatap Andrey.
"Dimana lokasinya?"
Andrey mengetik cepat. Peta muncul di layar.
"Milan. Distrik industri tua. Gudang nomor 47."
Leonardo tersenyum. Senyum pembunuh.
"Kumpulkan semua orang," perintahnya. "Kita ke Milan sekarang. Dan kali ini... kali ini kita tidak tinggalkan siapapun hidup."
Dia menatapku. "Kau ikut. Aku mau Damian lihat apa yang terjadi saat dia berani sentuh milikku."
"Aku... aku tidak mau lihat pembunuhan lagi..." aku menggeleng keras.
"Kau akan lihat," ucapnya dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Karena aku mau kau paham betapa jauhnya aku akan pergi untuk jaga kau tetap bersamaku."
Dia menarikku ke mobilnya. Mendorongku masuk dengan kasar.
Konvoi bergerak lagi. Kali ini menuju Milan.
Perjalanan dua jam terasa seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir.
Leonardo menyetir dengan satu tangan. Tangan satunya menggenggam tanganku dengan erat. Terlalu erat sampai sakit.
"Kau tahu kenapa aku tidak ragu tembak tadi?" tanyanya tiba-tiba.
Aku tidak menjawab.
"Karena aku percaya pada kemampuanku sendiri," lanjutnya. "Aku sudah tembak kepala orang dengan jarak lebih dekat dari itu. Dengan target yang bergerak. Dengan angin kencang. Aku tidak akan pernah meleset kalau target nya orang yang mau ambil kau dariku."
Dia melirik sebentar. "Tapi kalau target nya kau... aku mungkin akan meleset. Karena tanganku akan gemetar. Karena aku tidak akan pernah bisa bunuh kau walau kau khianati aku. Walau kau benci aku. Walau kau coba bunuh aku."
Kata-katanya terdengar seperti pengakuan cinta. Tapi terasa seperti ancaman.
Kami sampai di distrik industri Milan sekitar pukul empat pagi.
Tempat yang gelap. Penuh gudang-gudang tua yang sudah tidak terpakai. Jalanan rusak. Lampu jalan yang mati setengahnya.
Gudang nomor 47 ada di ujung. Bangunan besar dengan dinding beton abu-abu. Pintu besi berkarat. Jendela gelap.
Tapi Andrey menunjukkan ada heat signature di dalam. Banyak.
"Setidaknya lima puluh orang di dalam," jelas suara robot dari tablet. "Bersenjata lengkap. Ada jebakan di pintu depan. Ranjau di beberapa titik. Dan sniper di atap."
Leonardo turun dari mobil. Diikuti Marco dan puluhan anak buahnya.
Mereka semua bersenjata lengkap. Senjata otomatis. Granat. Bahkan ada yang bawa senapan mesin ringan.
"Rencana nya?" tanya Marco.
Leonardo menatap gedung itu dengan mata yang menyala amarah.
"Tidak ada rencana rumit," jawabnya. "Kita masuk. Kita bunuh semua. Kita ambil Damian. Selesai."
"Bagaimana dengan jebakan?" tanya salah satu anak buah.
Leonardo tersenyum. "Andrey, bisa kau matikan sistem keamanan mereka?"
Andrey mengangguk. Langsung duduk di kap mobil dengan laptop terbuka.
Jari-jarinya menari cepat di keyboard. Layar penuh dengan kode-kode yang aku tidak mengerti.
Lima menit kemudian, dia mengangkat ibu jarinya.
"Sistem mati," bunyi suara robot. "Jebakan dinonaktifkan. Kamera aku ambil alih. Dan aku sudah aktifkan hologram."
Tiba-tiba di layar tablet nya muncul gambar. Puluhan hologram versi Andrey muncul di berbagai sudut di dalam gudang.
Dari dalam terdengar teriakan bingung dalam bahasa Rusia.
"Mereka kacau," ucap Andrey lewat tablet sambil tersenyum. Ekspresi langka untuk orang yang biasanya datar.
Leonardo mengangguk puas. "Bagus. Sekarang..."
Dia mengangkat tangan kirinya. Di tangannya ada detonator kecil.
"Mundur semua," perintahnya.
Semua mundur puluhan meter.
Leonardo menekan tombol.
BOOOOOOOM!
Ledakan dahsyat menghancurkan pintu depan gudang. Api menyembur keluar. Asap hitam mengepul.
"SERANG!" teriak Leonardo.
Dan neraka dimulai.
Anak-anak buah RED ASHES menyerbu masuk dengan teriakan perang.
Tembakan langsung bersahutan.
DOOOR! DOOOR! DOOOR! DOOOR!
TAR TAR TAR TAR TAR!
Suara senjata otomatis memenuhi udara.
Marco berlari masuk dengan katana terhunus. Langsung memenggal tiga orang yang mencoba tembak dia.
Leonardo masuk dengan dua pistol. Menembak dengan presisi menakjubkan. Setiap tembakan satu nyawa.
Mayat-mayat mulai berjatuhan.
Anak buah Damian mencoba bertahan tapi mereka kalah jumlah dan kalah persiapan.
Andrey dari luar mengontrol hologram-hologramnya. Membuat musuh bingung menembak bayangan yang tidak nyata.
Lalu dari atas gudang, Andrey mengaktifkan sesuatu lagi.
BZZZZZTTT!
Sinar laser merah menyapu dari atas. Memotong beberapa musuh yang sedang berlindung.
Mesin tembak otomatis yang dia pasang di drone juga mulai menembak dari udara.
TAT TAT TAT TAT TAT!
Ini bukan pertempuran.
Ini pembantaian.
Dalam sepuluh menit, setengah anak buah Damian sudah mati.
Yang masih hidup mencoba kabur tapi pintu belakang sudah dikunci oleh Andrey.
Mereka terjebak.
Leonardo berjalan di antara mayat-mayat dengan wajah berlumuran darah. Tapi bukan darahnya sendiri.
Dia mencari.
Mencari Damian.
"DAMIAN!" teriaknya. "KELUAR KAU PENGECUT! HADAPI AKU!"
Dari sudut gelap, suara tembakan.
DOOOR!
Peluru meleset beberapa senti dari kepala Leonardo.
Leonardo menoleh. Tersenyum.
"Ketemu kau."
Dia berlari ke arah tembakan. Melompat di balik tumpukan kotak kayu.
Di sana, Damian Volkov bersembunyi dengan pistol di tangan. Wajahnya pucat. Mata lebar ketakutan.
"Valerio..." ucapnya dengan napas terengah. "Kita... kita bisa bicarakan ini..."
"Bicara?" Leonardo tertawa. Tawa yang terdengar gila. "Kau mau bicara setelah kau kirim orang untuk culik istriku?"
"Aku... aku cuma mau..."
BRAKK!
Leonardo menendangnya di dada. Damian terjatuh ke belakang. Pistolnya terlempar.
Leonardo melompat ke atasnya. Duduk di dadanya. Tangan mencekik lehernya.
"Kau cuma mau apa?" tanya Leonardo sambil mencekik lebih keras. "Mau ambil dia dariku? Mau gunakan dia untuk hancurkan aku? Mau buat dia jadi mainanmu?"
Damian mencoba melepaskan cekikan tapi tidak kuat.
"Aku... tidak... akan... sentuh... dia..." ucapnya terputus-putus.
"KAU SUDAH SENTUH YANG JADI MILIKKU!" teriak Leonardo. "Kau kirim orang untuk culik dia! Mereka ikat dia! Mereka bungkam mulutnya! Mereka buat dia takut!"
Setiap kalimat diikuti dengan pukulan keras ke wajah Damian.
BRAK! BRAK! BRAK!
Darah muncrat dari hidung dan mulut Damian.
"Dan sekarang," bisik Leonardo sambil mengambil pisau dari ikat pinggangnya. "Sekarang kau akan bayar. Perlahan. Sangat perlahan."
Dia menusukkan pisau ke bahu kanan Damian.
CRASSHH!
Damian berteriak kesakitan.
Leonardo memutar pisaunya. Merobek otot dan urat.
"Ini untuk membuat dia menangis," ucapnya dengan nada dingin.
Dia mencabut pisau. Lalu menusuk bahu kiri.
CRASSHH!
"Ini untuk membuat dia ketakutan."
Mencabut lagi. Menusuk paha kanan.
"Ini untuk membuat dia gemetar."
Mencabut. Menusuk paha kiri.
"Dan ini untuk membuat dia pikir dia akan mati."
Damian sudah tidak berteriak lagi. Hanya mengerang lemah.
Leonardo berdiri. Menatap Damian yang sudah babak belur dan berlumuran darah.
"Tapi aku tidak akan bunuh kau sekarang," ucapnya. "Aku akan biarkan kau hidup. Cukup lama untuk kau rasakan semua lukamu ini. Cukup lama untuk kau menyesal pernah sentuh yang jadi milikku."
Dia menoleh ke Marco yang baru saja masuk setelah habisi musuh terakhir.
"Rantai dia," perintah Leonardo. "Bawa dia ke ruang penyiksaan di markas. Aku akan urus dia besok kalau sudah lebih tenang."
Marco mengangguk. Langsung menarik Damian yang sudah setengah mati.
Leonardo berjalan keluar dari gudang yang sudah penuh mayat.
Anak-anak buahnya berdiri di luar. Semua berlumuran darah tapi tidak ada yang terluka parah.
Kemenangan total.
Leonardo berjalan ke mobilku. Membuka pintu.
Aku masih duduk di dalam. Gemetar hebat walau tidak melihat apa yang terjadi di dalam. Tapi suara tembakan dan teriakan cukup untuk buat aku trauma.
"Sudah selesai," ucap Leonardo sambil masuk ke kursi sopir. "Kau aman sekarang."
Aman.
Kata yang sangat salah untuk situasi ini.
Aku tidak aman.
Aku ada di mobil dengan pembunuh yang baru saja habisi puluhan orang.
Dengan monster yang tanam chip di tubuhku.
Dengan psikopat yang bilang dia mencintaiku sambil menghancurkan segalanya di sekitarku.
Tapi aku tidak bilang itu.
Hanya duduk diam sambil menatap kosong ke depan.
Leonardo menyalakan mesin. Mengendarai mobil keluar dari distrik industri yang sudah jadi kuburan massal.
"Kita pulang," ucapnya dengan nada lembut. Sangat kontras dengan apa yang baru saja dia lakukan. "Kita pulang ke rumah kita. Dan tidak ada yang akan ganggu kita lagi."
Tangannya meraih tanganku. Menggenggam dengan lembut.
"Aku janji," bisiknya. "Aku akan jaga kau. Tidak akan ada yang bisa sentuh kau lagi. Karena kau milikku. Selamanya."
Dan aku tahu.
Ini bukan akhir dari mimpi buruk.
Ini baru permulaan.
Permulaan hidup sebagai milik monster yang tidak akan pernah melepaskanku.
Bahkan kalau aku mati.
Dia mungkin akan tetap pegang mayatku dan bilang itu masih miliknya.
Karena di mata Leonardo Valerio...
Aku bukan manusia.
Aku harta benda.
Yang harus dijaga.
Dikontrol.
Dan dibunuh siapapun yang mencoba mengambilnya.