NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: GARIS START YANG BERBEDA

​Bandung, dua minggu setelah pesta ulang tahun.

​Kamar kos Fatih yang biasanya hening kini berubah menjadi markas komando darurat. Tumpukan kertas A3 berserakan di lantai, maket-maket setengah jadi berdesakan dengan buku-buku tebal, dan aroma kopi saset yang diseduh air dispenser memenuhi ruangan berukuran 3x3 meter itu.

​Di layar laptop tua yang kipasnya menderu kepanasan, Fatih sedang melakukan rendering gambar 3D. Matanya merah, kantung matanya menebal, namun ada binar semangat yang berbeda di sana. Binar yang sempat redup saat Pak Darma mencabut proyeknya, kini menyala kembali berkat "bahan bakar" baru.

​Ponselnya berbunyi. Panggilan video masuk. Nama "Partner - Zalina" tertera di layar.

​Fatih buru-buru merapikan kerah kaosnya, menyisir rambut dengan jari, lalu menekan tombol hijau. Ia memposisikan ponsel agar latar belakang jemuran handuknya tidak terlihat.

​"Assalamu'alaikum, Bu Direktur," sapa Fatih, mencoba bergurau untuk menutupi gugupnya.

​Wajah Zalina muncul di layar. Ia mengenakan mukena yang baru saja dilepas bagian kepalanya, menandakan ia baru selesai shalat Dhuha. Latar belakangnya adalah ruang tamu rumah mewahnya yang elegan. Kontras sekali dengan tembok kamar kos Fatih yang catnya mengelupas.

​"Wa'alaikumussalam, Pak Arsitek," balas Zalina sambil tersenyum cerah. "Gimana progres desain 'Kopi Tuang'? Laptop Mas Fatih aman? Nggak nge-lag lagi?"

​Fatih melirik laptopnya yang sedang berjuang keras memproses gambar. "Alhamdulillah, masih napas, Zal. Dikit lagi kelar. Kamu gimana? Udah dapet info soal kliennya?"

​"Udah," Zalina mengangkat sebuah buku catatan. "Aku udah riset. Pemilik 'Kopi Tuang' itu suka gaya industrial tapi yang banyak tanamannya. Dia nggak suka warna neon. Jadi konsep Mas Fatih yang 'Rustic Green' itu udah tepat banget. Oh iya, Nisa juga udah bantu sebar portofolio kita ke grup UMKM Bandung."

​Fatih terdiam sejenak menatap wajah Zalina di layar. Ada rasa hangat sekaligus nyeri di dadanya.

​Dua minggu lalu, Zalina benar-benar menepati janjinya. Dia mencairkan tabungannya—uang hasil kerja paruh waktu menjadi penerjemah lepas dan sisa uang jajannya—untuk diserahkan pada Fatih sebagai "modal awal".

​Awalnya Fatih menolak keras. Harga dirinya sebagai laki-laki tercabik. Bagaimana mungkin dia menerima uang dari wanita yang ingin ia lamar? Tapi Zalina dengan cerdas membungkusnya dalam akad Mudarabah (bagi hasil).

​"Ini bukan sedekah, Mas," kata Zalina waktu itu. "Ini investasi. Aku pemodal, Mas pengelola. Nanti kalau untung, kita bagi dua. Kalau rugi, kita tanggung bareng. Profesional."

​Dan di sinilah mereka sekarang. Membangun biro desain kecil-kecilan bernama "Langit Arsitektur". Tanpa kantor fisik, tanpa karyawan. Hanya Fatih sebagai otak desain, dan Zalina sebagai manajemen sekaligus marketing.

​"Mas? Kok melamun?" tegur Zalina.

​Fatih tersentak. "Eh, nggak. Saya cuma... kagum. Kamu cepet banget belajarnya. Padahal background kamu bukan bisnis."

​"Kepepet, Mas," Zalina terkekeh. "Kalau kita nggak dapet klien bulan ini, uang kas kita habis buat bayar listrik kosan Mas sama kuota internet. Jadi aku harus gercep."

​Fatih tersenyum getir. Zalina, putri seorang dosen terpandang yang biasa hidup nyaman, kini ikut memikirkan tagihan listrik kos-kosan murahnya.

​"Maafin saya ya, Zal," ucap Fatih lirih. "Harusnya kamu nggak perlu repot-repot gini. Harusnya kamu fokus skripsi aja."

​Wajah Zalina di layar berubah serius. "Mas, kita udah bahas ini. Ini pilihanku. Aku lebih seneng capek mikirin strategi bisnis sama Mas daripada capek hati dengerin Erlangga pamer harta."

​Nama itu disebut lagi. Erlangga.

​"Ngomong-ngomong soal dia," Fatih ragu-ragu. "Dia nggak ganggu kamu lagi?"

​"Dia lagi sibuk ke luar kota sama papanya. Jadi aman. Tapi..." Zalina menggigit bibir bawahnya. "Ayah mulai curiga. Ayah nanya kenapa aku sering sibuk di depan laptop dan jarang ikut acara keluarga. Aku belum berani bilang kalau aku bikin usaha sama Mas."

​"Jangan bilang dulu," potong Fatih cepat. "Tunggu sampai kita dapet proyek pertama. Tunggu sampai saya bisa tunjukin hasil nyata ke Ayah kamu. Saya nggak mau Ayah kamu mikir saya manfaatin anaknya."

​"Siap, Bos. Yaudah, lanjut gih kerjanya. Jangan lupa makan siang. Assalamu'alaikum."

​Sambungan terputus.

​Fatih menghela napas panjang. Ia menatap sketsa desain di depannya. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Proposal desain untuk renovasi kedai kopi kecil di daerah Dago Pakar. Nilai proyeknya tidak seberapa, tapi ini adalah batu loncatan pertama. Jika ini gol, portofolio mereka akan bertambah.

​"Bismillah," bisik Fatih. Ia kembali menggerakkan mouse-nya, menyalurkan seluruh sisa energi dan doanya ke dalam setiap garis piksel di layar.

​Tiga hari kemudian. Kedai Kopi "Tuang".

​Fatih dan Zalina duduk berhadapan dengan Pak Burhan, pemilik kedai kopi tersebut. Pak Burhan adalah pria paruh baya bertubuh tambun yang wajahnya terlihat skeptis.

​Di atas meja, Fatih menggelar hasil cetak desainnya. Ia tidak punya tablet canggih untuk presentasi seperti Erlangga. Ia hanya punya kertas A3 yang di-print di tempat fotokopi, namun Fatih menempelnya di atas karton tebal agar terlihat rapi dan profesional.

​"Jadi konsepnya unfinished, Pak," Fatih menjelaskan dengan tenang, menunjuk gambar perspektif interior. "Kita biarkan tembok batanya terekspos, tapi kita cat putih tipis biar nggak kusam. Lantainya kita pakai semen poles biar hemat biaya tapi tetap estetik. Dan di bagian atap, kita kasih skylight supaya siang hari Bapak nggak perlu nyalain lampu. Hemat listrik 40%."

​Pak Burhan mengernyitkan dahi, menatap gambar itu, lalu menatap Fatih.

​"Mas... yakin ini biayanya masuk akal? Arsitek lain nawarin saya harga dua kali lipat buat desain kayak gini," tanya Pak Burhan curiga.

​Fatih tersenyum sopan. "Saya mendesain sesuai budget Bapak. Kami menggunakan material lokal yang mudah didapat, bukan impor. Dan karena kami biro baru, kami tidak membebankan biaya overhead kantor yang besar."

​"Tapi kalian masih mahasiswa, kan? Pengalamannya gimana?" serang Pak Burhan lagi.

​Fatih sempat tercekat. Inilah kelemahan terbesarnya.

​Tiba-tiba, Zalina yang sejak tadi diam angkat bicara.

​"Justru karena kami mahasiswa, Pak, kami punya semangat yang beda," ucap Zalina dengan nada persuasif yang mengejutkan Fatih.

​Zalina mengeluarkan sebuah map lain. "Kami sudah survei lokasi Bapak tiga kali. Kami hitung traffic pengunjung Bapak kebanyakan mahasiswa yang butuh tempat nugas. Desain Mas Fatih ini menyediakan banyak colokan listrik yang tersembunyi tapi mudah diakses, dan meja yang ergonomis buat laptop. Arsitek lain mungkin bikin tempat Bapak bagus difoto, tapi Mas Fatih bikin tempat Bapak nyaman diduduki berjam-jam. Dan pelanggan yang nyaman, pasti akan pesan kopi lagi dan lagi."

​Pak Burhan terdiam. Penjelasan Zalina masuk akal. Itu sudut pandang bisnis, bukan sekadar estetika.

​Fatih menatap Zalina dengan kagum. Partnernya ini benar-benar jenius.

​"Oke," Pak Burhan akhirnya mengangguk pelan, senyum tipis muncul di wajahnya. "Saya suka semangat kalian. Dan saya suka harganya. Kapan bisa mulai?"

​Jantung Fatih serasa mau meledak. Di bawah meja, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

​"Secepatnya, Pak. Kontraknya sudah kami siapkan," jawab Zalina sigap sambil menyodorkan map berisi draf kontrak yang sudah ia pelajari dari internet.

​Hari itu, saat keluar dari kedai kopi dengan kontrak yang sudah ditandatangani dan uang muka 30% di tangan, Fatih merasa langit Bandung lebih cerah dari biasanya.

​"Kita berhasil, Zal..." bisik Fatih tak percaya.

​"Kita berhasil, Mas!" seru Zalina, matanya berbinar-binar. Saking senangnya, ia hampir refleks ingin memegang lengan Fatih, tapi ia segera sadar dan menarik tangannya. Mereka hanya saling melempar senyum lebar dengan jarak satu meter yang aman.

​"Uang muka ini... kita putar buat beli bahan, ya. Mas nggak usah ambil gaji dulu nggak apa-apa?" tanya Zalina.

​"Nggak apa-apa. Yang penting biaya operasional aman. Makasih ya, Zal. Makasih banyak."

​"Jangan makasih ke aku. Makasih sama Allah. Doa tahajjud Mas Fatih tembus tuh ke langit," canda Zalina.

​Mereka tertawa renyah. Tawa lepas pertama mereka setelah berminggu-minggu tegang.

​Namun, tawa itu tidak bertahan lama.

​Sore harinya, kediaman Keluarga Zalina.

​Sebuah mobil sedan hitam yang sangat familiar terparkir di halaman rumah Zalina saat gadis itu pulang. Mobil Erlangga.

​Dada Zalina bergemuruh. Firasat buruk menyergapnya. Ia melangkah masuk ke ruang tamu dengan langkah waspada.

​Di sana, di sofa ruang tamu, duduk Ayahnya (Pak Yusuf), Ibunya (Bu Ratih), dan Erlangga. Suasananya tegang. Wajah Pak Yusuf terlihat kaku dan dingin, sementara Erlangga memasang wajah prihatin yang dibuat-buat.

​"Assalamu'alaikum..." sapa Zalina pelan.

​"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Yusuf berat. Ia tidak menatap anaknya, matanya terpaku pada sebuah amplop cokelat di atas meja.

​"Zalina, duduk," perintah Pak Yusuf.

​Zalina duduk di sofa tunggal, jauh dari Erlangga. "Ada apa, Yah? Angga ngapain ke sini?"

​"Aku cuma mampir, Zal," jawab Erlangga halus. "Kebetulan tadi lewat abis meeting, sekalian bawain martabak kesukaan Om Yusuf. Terus... ya ngobrol sedikit soal kabar di kampus."

​"Kabar apa?" tanya Zalina tajam.

​Pak Yusuf mengambil amplop di meja itu, mengeluarkan selembar foto. Foto itu diambil secara diam-diam (candid). Foto Zalina dan Fatih sedang duduk berdua di Kedai Kopi "Tuang" tadi siang. Meskipun di foto itu mereka duduk berjarak dan ada Pak Burhan (yang terpotong di frame), sudut pengambilannya membuat mereka terlihat seperti sedang kencan berdua di kafe.

​"Ini apa, Zalina?" tanya Pak Yusuf, suaranya menahan amarah. "Kamu bilang tadi siang kamu bimbingan skripsi sama dosen. Kenapa malah berduaan sama laki-laki ini di warung kopi?"

​Darah Zalina berdesir. Ini ulah Erlangga. Dia pasti menyuruh orang memata-matai mereka.

​"Yah, itu bukan kencan!" bela Zalina cepat. "Itu Fatih. Kami lagi ketemu klien. Kami lagi ngerjain proyek desain interior!"

​"Proyek?" Ibu Ratih menyela dengan nada tinggi. "Sejak kapan kamu jadi tukang desain? Kamu itu calon Sarjana Sastra, Zalina! Ngapain ikut-ikutan kerja kasar begitu sama mahasiswa yang... maaf ya, beasiswanya saja dicabut karena bermasalah!"

​Zalina menatap ibunya tak percaya. "Fatih beasiswanya dicabut karena dicurangi, Bu! Dan itu bukan kerja kasar. Itu usaha rintisan!"

​"Usaha rintisan apa?" sela Erlangga dengan nada meremehkan yang halus. "Zal, aku denger dari anak-anak kampus, si Fatih itu lagi kesulitan ekonomi parah. Ibunya di kampung terlilit utang kontrakan. Aku cuma takut... kamu dimanfaatin. Kamu itu polos, Zal. Jangan sampai uang tabungan kamu diporotin sama cowok yang mau cari jalan pintas."

​Kata-kata Erlangga itu racun yang sangat efektif. Wajah Pak Yusuf semakin gelap. Sebagai seorang ayah, ketakutan terbesarnya adalah putrinya dimanfaatkan laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

​"Zalina," suara Pak Yusuf menggelegar. "Jawab jujur Ayah. Apa kamu ngasih uang ke laki-laki itu?"

​Zalina terdiam. Lidahnya kelu. Jika ia bilang "iya", itu akan membenarkan tuduhan Erlangga. Jika ia bilang "tidak", ia berbohong pada ayahnya.

​"Itu... itu investasi, Yah. Akadnya mudarabah..." cicit Zalina.

​"Astaghfirullah!" Ibu Ratih menepuk dada dramatis. "Bener kan kata Nak Erlangga! Kamu udah diguna-guna apa gimana sih, Nak? Uang tabungan kamu itu buat masa depan kamu!"

​"Cukup!" Pak Yusuf berdiri. Karismanya membuat seisi ruangan hening.

​Ia menatap Zalina dengan tatapan kecewa yang dalam. Tatapan yang lebih menyakitkan daripada bentakan.

​"Ayah tidak pernah melarang kamu berteman dengan siapa saja. Ayah juga tidak melihat harta orang. Tapi Ayah tidak suka kamu berbohong, dan Ayah tidak suka kamu dimanfaatkan. Mulai hari ini, berhenti menemui laki-laki itu."

​"Tapi Yah, kami sudah tanda tangan kontrak dengan klien! Zalina harus profesional!" Zalina mencoba membela diri, air mata mulai menggenang.

​"Biar Erlangga yang urus!" putus Pak Yusuf. "Angga, kamu bisa bantu selesaikan kontrak itu, kan? Ganti rugi atau alihkan ke tim kamu?"

​Erlangga tersenyum tipis, penuh kemenangan. "Bisa, Om. Gampang. Nanti tim kantor aku yang take over. Biar kliennya nggak rugi. Zalina nggak usah pusing."

​"Nggak! Zalina nggak mau!" Zalina berdiri, air matanya tumpah. "Ayah nggak adil! Ayah cuma dengerin satu pihak! Fatih itu orang baik, Yah. Dia jauh lebih terhormat daripada Erlangga yang licik ini!"

​PLAK!

​Suara tamparan itu menggema di ruang tamu.

​Bukan, Pak Yusuf tidak menampar Zalina. Ia memukul meja kaca dengan telapak tangannya saking marahnya karena Zalina meninggikan suara.

​"Masuk kamar," perintah Pak Yusuf dingin. "Serahkan HP dan laptop kamu. Sampai kamu sadar mana yang intan mana yang kerikil, kamu tidak boleh keluar rumah selain kuliah."

​Zalina terisak. Ia menatap Erlangga dengan tatapan benci, lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

​Erlangga menatap kepergian Zalina dengan wajah pura-pura sedih. "Maafin Angga ya, Om, Tante. Angga cuma nggak mau Zalina salah jalan."

​"Nggak apa-apa, Nak Erlangga. Terima kasih sudah memberitahu kami," ucap Ibu Ratih lembut, seolah Erlangga adalah pahlawan.

​Malam harinya.

​Fatih sedang sujud dalam shalat Isya di masjid dekat kosnya ketika perasaannya mendadak tidak enak. Dadanya sesak, seolah ada ikatan batin yang tersentak.

​Selesai shalat, ia mengecek ponselnya. Ada pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal.

​Sebuah foto.

​Foto Zalina yang sedang menangis di balik jendela kamarnya.

Dan pesan teks di bawahnya:

​Game over, Fatih. Akses lu udah gue tutup. HP-nya disita, modalnya gue balikin besok, dan proyek lu bakal gue ambil alih. Sadar diri lah. Lu mau ngajak dia hidup susah sampe kapan? Jauhin dia kalau lu emang sayang sama dia.

- Erlangga

​Fatih meremas ponselnya. Tangannya gemetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang memuncak. Erlangga tidak hanya menyerang ekonominya, tapi sekarang mengisolasi Zalina dan membuatnya menangis.

​"La haula wala quwwata illa billah..." bisik Fatih berulang-ulang, mencoba mendinginkan kepalanya yang mendidih.

​Setan membisikkan untuk membalas dendam. Datangi rumahnya. Ajak berkelahi. Tunjukkan siapa laki-laki sebenarnya.

​Tapi Fatih tahu, itu jebakan. Jika ia main fisik, ia kalah. Erlangga punya backing hukum dan uang. Fatih hanya punya badan.

​Fatih menarik napas panjang, menatap langit malam yang gelap gulita.

​"Ya Allah," lirihnya. "Jalan bumi hamba buntu lagi. Hamba nggak bisa menghubungi dia. Hamba nggak bisa ke rumahnya. Hamba nggak punya kuasa apa-apa."

​Fatih berjalan pelan kembali ke dalam masjid, bukan pulang ke kosan.

​"Maka hamba kembali mengetuk pintu-Mu. Hamba adukan kesombongan ini pada-Mu. Jika Engkau ridho dengan usaha hamba dan Zalina yang ingin mencari rezeki halal, maka tolong... hancurkan makar mereka dengan cara-Mu yang tak terduga."

​Malam itu, Fatih tidak tidur. Ia menghabiskan malam dengan membaca Surah Yasin dan Al-Waqiah. Ia mengirimkan "sinyal" lewat jalur langit, satu-satunya jalur yang tidak bisa diblokir oleh Erlangga maupun Pak Yusuf.

​Dan di kamarnya yang terkunci, Zalina juga melakukan hal yang sama. Di atas sajadahnya yang basah oleh air mata, ia berdoa.

​Dua hati yang terpisah jarak dan tembok kekuasaan, kini terhubung oleh frekuensi doa yang sama. Dan biasanya, doa orang yang didzalimi tidak memiliki hijab (penghalang) menuju langit.

​Sesuatu yang besar akan terjadi. Sesuatu yang akan membalikkan keadaan dengan cara yang tidak pernah diperhitungkan oleh logika Erlangga

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!