Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Bersalin
Dokter UGD memutuskan bahwa Maggie belum berada di tahap persalinan yang akan terjadi dalam waktu dekat. Jadi, dengan tenang, tim medis menyuruh semua orang keluar untuk menunggu, kecuali kakaknya, sampai ruang bersalin siap.
“Suruh dokter itu balik ke sini,” kata Maggie pada Jennie. “Bayi ini bisa keluar kapan aja.” Ia mendengus di tengah kontraksi berikutnya.
“Apa?” kata Maggie akhirnya ketika Jennie tetap diam. “Kenapa mukamu begitu?”
Maggie masih mengenakan gaun hitam yang panjangnya hanya sampai pinggang. Apa ia benar-benar akan melahirkan Junior dengan gaun pesta yang ukurannya terlalu kecil itu?
Maggie menutup wajahnya dengan lengan.
“Kamu baru pembukaan tiga sentimeter dan kontraksinya belum teratur,” kata Jennie.
“Di limusin jaraknya tiga menit,” bantah Maggie. Ia sendiri tidak tahu kenapa. Air mata mengalir, lalu cepat dihapusnya. Tidak ada waktu untuk drama menyedihkan.
“Itu bisa terjadi di awal,” kata Jennie lembut. “Sepertinya kamu masih punya waktu beberapa jam.”
“Berarti aku sebenarnya masih bisa menyelesaikan kencanku?”
Ya, itu pikiran yang tidak masuk akal.
Sunyi.
Jennie mengangkat bahu. “Mungkin kamu perlu pakai pampers.” Ia berbalik ke lemari, satu-satunya perabot di ruang bersekat tirai itu. “Mungkin ada stok cadangan. Mau aku ambilin dan kita telepon limusinnya lagi?”
Maggie tidak bisa menahan tawa. “Kenapa ini semua harus terjadi?”
Jennie menyandarkan pinggulnya ke pagar ranjang. “Karena kamu cewek liar, agak gila, dan emang ditakdirkan hidup dengan kerumitan.”
Seorang perawat berseragam merah muda datang bersama dua pria muda berbaju biru. “Maggie, saya perawat Lissa. Dua pria ini akan membawa kamu ke ruang bersalin. Kamar sudah siap,” katanya sambil memegang gelang putih. “Bisa dicek, ini benar atas nama kamu?”
Maggie melihatnya. Maggie Barros. Tanggal lahir 14 Mei 1994. “Iya.”
Lissa memasangkan gelang itu ke pergelangannya. “Nanti kamu akan dapat gelang pasangan untuk bayinya. Kamu sudah tahu jenis kelaminnya?”
“Laki-laki,” jawab Maggie. Ia mulai merasa lebih tenang.
“Bagus.” Lissa memberi isyarat pada dua pria itu, dan mereka menunduk untuk membuka kunci ranjang. “Sudah pilih nama?”
Maggie menggeleng. Ia sudah punya daftar, tapi sulit membayangkan kalau bayi itu benar-benar akan lahir. Selama ini, seluruh energinya tercurah ke toko baru mereka.
Jennie berjalan di samping mereka saat melewati tirai-tirai UGD. “Aku bawa buku nama bayi. Ada di tas.”
Maggie menoleh. “Tasnya di mana?”
“Sama Papa.”
“Bisa bilang ke dia buat ke ruang bersalin?”
“Orang tuamu sudah di sana,” kata Lissa. “Sepertinya mereka menyiapkan segalanya untukmu.”
Oh, benar. Ia samar-samar teringat tentang janji Papa. Musik, jubah sutra, tisu beraroma lavender. Ia bahkan bisa saja minta patung air mancur kecil. Persalinan ini membuat semua ide itu terdengar konyol.
Mereka masuk ke lift. “Ini anak pertama kamu, ya?” tanya Lissa.
Maggie mengangguk.
“Kamu masih nunggu kedatangan orang lain?” Itu jelas, cara halus menanyakan soal Papanya.
“Enggak.” Rasa tenggelam muncul lagi. Bayi sungguhan ini tidak akan punya ayah sungguhan dalam hidupnya.
“Nenek pasti datang nanti,” kata Jennie. Maggie tahu kakaknya sedang berusaha mengalihkan pikirannya. Ia tidak boleh tenggelam dalam rasa kasihan pada diri sendiri.
Butuh waktu lama untuk meyakinkan keluarganya agar tidak bertanya soal ayah dari bayi itu. Tapi Jennie tahu. Dan ia bersumpah akan membawa rahasia itu sampai mati.
Bukan berarti pria itu akan selamanya disingkirkan. Tapi saat ini, ia ada di penjara. Dan karena Maggie bahkan tidak tahu nama panjangnya saat mereka melakukan kebodohan itu.
Kalau suatu hari pria itu merapikan hidupnya, mungkin Maggie akan memberi tahu. Atau kalau si Junior suatu hari membutuhkannya, misalnya untuk transplantasi ginjal atau hal sejenisnya, mungkin ia akan melacak manusia itu.
Tapi untuk sekarang, pria itu tidak ada. Ia orang yang mengerikan dan pantas berada di tempatnya. Lagipula, rasanya mustahil penjara akan mengizinkan seseorang keluar hanya untuk menonton kelahiran bayinya.
Maggie sendirian.
Jennie menggenggam lengannya saat mereka keluar dari lift menuju warna-warna cerah ruang maternitas. Tapi tidak sepenuhnya sendirian. Ia punya kakaknya. Dan orang tuanya.
Keluarga Davis juga sangat terlibat sejak Jennie bertunangan dengannya. Dia yakin, semuanya akan baik-baik saja.
Para petugas membuka pintu kamarnya. Mama dan Papa sudah ada di sana, sesuai janji. Musik mengalun, udara beraroma lavender, dan air mancur batu kecil berbunyi pelan di meja samping.
Air mata kembali menggenang. “Kalian menyiapkan semuanya,” katanya.
Papa membungkuk dan mencium kepalanya. “Apa pun untuk gadis kecil kita.”
“Dan cucu kitaa,” kata Mama.
Dua pria itu menurunkan pagar ranjang. “Kamu kuat?” tanya Lissa.
Maggie mengangguk. Sudah cukup lama tidak ada kontraksi. Tadi rasanya teratur. Ini awal dari malam yang panjang.
Ia mengayunkan kaki, tetap membungkus tubuhnya dengan seprai, lalu berpindah ke ranjang yang lebih besar.
Papa keluar agar perawat, Mama, dan Jennie bisa membantunya berganti pakaian dan berbaring dengan nyaman. Ia mengenakan gaun katun, jubah sutra, dan sarung bantal bordir bergambar bintang.
Mata Mama berbinar saat mengatur bantalnya. “Kamu lahir dengan bantal ini di tempat tidurmu,” katanya. “Begitu juga kakakmu.” Ia menelan ludah. “Mama senang kamu ada di sini untuk cucu pertama Mama.” Ia menggenggam tangan Maggie.
Jennie pergi memanggil Papa. Kontraksi berikutnya akhirnya datang, dan Maggie bernapas mengikutinya.
“Pintar,” kata Mama.
Dokter anestesi datang dan mereka membahas pilihan. Maggie memilih epidural, dan semua orang keluar, sementara pria itu menyemprotkan sesuatu ke punggungnya.
Sesuatu yang dingin mengalir di pembuluh darahnya. Awalnya ia tidak merasa ada yang berbeda, tapi ketika kontraksi berikutnya datang, rasanya jauh lebih baik.
Keluarganya kembali, dan mereka bersiap menghadapi malam yang panjang dan kacau, malam yang akan mengubah hidup Maggie sepenuhnya.
...𓂃✍︎...
...Dari semua kebohonganmu, 'I LOVE YOU' adalah favoritku....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .