NovelToon NovelToon
Imam Pilihan Bunda.

Imam Pilihan Bunda.

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Nikahmuda / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Nung

Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Haikal Cemburu.

Senja turun perlahan di desa terpencil itu.

Langit berubah jingga keemasan, lalu meredup menuju kelabu. Bayangan pepohonan memanjang di tanah, angin membawa aroma dedaunan dan tanah basah. Desa tampak damai—terlalu damai untuk sebuah tempat yang dijaga ketat oleh tentara.

Haikal berjalan menyusuri jalan tanah bersama dua rekannya.

Langkahnya stabil. Posturnya tegak. Senjatanya tergantung rapi di dada. Dari luar, ia tampak seperti prajurit yang tidak terganggu apa pun. Namun di dalam, pikirannya belum sepenuhnya tenang.

Bayangan siang tadi masih tertinggal.

Pelukan itu.

Bukan karena Lian membalasnya—

melainkan karena Haikal tahu, ada luka lama yang belum sempat ditutup.

“Gue ambil sisi timur,” ujar Haikal singkat pada dua rekannya.

Mereka mengangguk dan berpisah.

Haikal melangkah sendiri.

Dan di ujung jalan desa—

ia melihat seseorang berdiri.

Vano.

Pria itu berdiri dengan tas selempang khas mahasiswa medis. Kemejanya digulung sampai siku, wajahnya sedikit pucat, matanya masih merah samar—bekas tangis yang belum sepenuhnya hilang.

Mereka saling melihat.

Tidak ada yang langsung mendekat.

Tidak ada yang langsung bicara.

Hanya jarak beberapa meter, dan udara yang terasa semakin berat.

Haikal berhenti.

Vano juga.

Detik itu memanjang, seolah waktu memberi ruang bagi dua pria yang berdiri dengan posisi berlawanan—bukan sebagai musuh, tapi juga bukan sebagai teman.

Vano yang lebih dulu membuka suara.

“Kamu Haikal.”

Bukan pertanyaan.

Haikal mengangguk tipis. “Iya.”

Nada suaranya datar. Profesional. Tanpa emosi berlebihan.

Vano menelan ludah, lalu tersenyum kecil—senyum yang getir, bukan mengejek.

“Aku Vano,” katanya. “Teman lama Lian.”

Haikal sudah tahu.

Ia sudah menebaknya sejak siang. Sejak melihat cara Lian menepuk punggung pria itu—cara yang hanya dilakukan pada seseorang yang pernah berarti.

“Istriku,” jawab Haikal pelan, namun tegas.

Kata itu melayang di udara senja.

Vano mengangguk, tidak membantah.

“Iya,” katanya lirih. “Istri kamu.”

Ada keheningan lagi.

Burung-burung beterbangan kembali ke sarang. Anak-anak desa berlarian menjauh dari jalan utama. Desa mulai bersiap menyambut malam.

Vano melangkah satu langkah mendekat—bukan menantang, melainkan memastikan jarak bicara.

“Dia baik-baik saja sama kamu?” tanyanya.

Haikal menatap lurus ke depan, bukan ke mata Vano.

“Dia lebih kuat dari yang terlihat,” jawabnya. “Dan dia aman.”

Vano tersenyum lagi, kali ini lebih tulus.

“Syukurlah.”

Haikal akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu—tajam, tenang, sama-sama dewasa.

“Apa kamu masih mencintainya?” tanya Haikal tanpa basa-basi.

Vano terdiam.

Beberapa detik.

Lalu ia mengangguk kecil. “Iya. Tapi itu urusan aku.”

Haikal tidak menyangkal.

“Dan aku suaminya,” kata Haikal. “Itu urusan aku.”

Tidak ada nada ancaman. Tidak ada gertakan.

Hanya fakta.

Vano menghela napas panjang. “Aku nggak berniat merusak apa pun.”

“Aku tahu,” jawab Haikal.

Ia tahu—

karena jika pria itu berniat, siang tadi Lian tidak akan berdiri setenang itu.

“Aku cuma butuh pamit,” lanjut Vano. “Pada masa lalu.”

Haikal mengangguk pelan.

“Dan aku nggak akan menghalangi itu,” katanya. “Selama dia tidak diseret kembali.”

Vano menatap Haikal lama.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Vano tersenyum dengan hormat.

“Kamu prajurit yang baik,” katanya. “Dan suami yang cukup berani buat ninggalin istrinya demi tugas.”

Ada penekanan di kata berani—

bukan pujian kosong, tapi pengakuan yang pahit.

Haikal menjawab dengan jujur. “Atau cukup bodoh.”

Vano tertawa kecil—pendek, tanpa suara.

“Dia menunggu kamu lama,” katanya. “Jangan bikin dia nunggu lagi.”

Haikal mengepalkan tangan sebentar, lalu mengendurkannya.

“Aku akan pulang,” katanya. “Kali ini.”

Vano mengangguk.

“Kalau begitu,” katanya sambil melangkah mundur, “aku bisa pergi dengan tenang.”

Mereka berpapasan.

Bahu hampir bersentuhan—

dua dunia yang berjalan berlawanan arah.

Saat Vano melangkah pergi, Haikal berhenti sejenak.

Ia menoleh sedikit. “Terima kasih.”

Vano tidak menoleh. Hanya mengangkat tangan kecil sebagai balasan.

Senja benar-benar jatuh.

Dan di bawah langit yang semakin gelap, Haikal berdiri lebih tegak dari sebelumnya.

Karena ia tahu—

malam ini, ia tidak lagi sendirian menanggung beban.

Dan Lian…

tidak lagi berdiri di antara masa lalu dan masa kini.

 _____

Senja belum benar-benar turun ketika Haikal kembali berpatroli.

Langit masih menyimpan sisa warna jingga, namun hawa mulai dingin. Desa terlihat tenang—terlalu tenang, seolah alam sendiri ikut menahan napas. Haikal berjalan dengan langkah terukur, senjatanya tergantung di dada, matanya awas menelusuri setiap sudut.

Baru saja ia menyelesaikan satu pertemuan yang menguras batin.

Vano.

Masa lalu Lian yang akhirnya berdiri nyata di hadapannya, bernapas, berbicara, mencintai—namun memilih mundur dengan caranya sendiri. Haikal mengira setelah itu, dadanya akan terasa lebih ringan.

Ternyata tidak.

Dari kejauhan, Haikal melihat kerumunan kecil di dekat lapangan desa.

Anak-anak masih bermain meski matahari hampir tenggelam. Tawa mereka pecah, berlarian tanpa alas kaki, mengejar layangan yang talinya hampir putus. Di tengah mereka—

Lian.

Kemeja lengan panjangnya digulung, rambut panjangnya diikat seadanya. Wajahnya berkeringat, pipinya memerah, tawanya lepas—bukan tawa halus, tapi tawa penuh hidup yang jarang ia tunjukkan di kota.

Haikal berhenti melangkah.

Bukan karena Lian.

Melainkan karena seseorang yang berdiri terlalu dekat dengannya.

Seorang pemuda desa.

Usianya mungkin awal dua puluhan. Kulitnya gelap terbakar matahari, tubuhnya ramping namun berotot karena kerja ladang. Ia membawa sebilah bambu panjang—alat untuk bermain layangan, atau sekadar alasan untuk berdiri di sana.

Pemuda itu mencondongkan tubuh ke arah Lian, berbicara sesuatu.

Lian menjawab singkat. Tangannya tetap sibuk mengikat tali layangan milik anak kecil di depannya.

Pemuda itu tertawa.

Haikal merasakan rahangnya mengeras.

Ia mengenali bahasa tubuh itu—

bukan agresif, bukan berbahaya.

Tertarik.

Pemuda desa itu mencoba lagi. Memberikan sesuatu—entah air minum atau potongan bambu. Lian menoleh, menggeleng pelan, lalu kembali pada anak-anak.

Pemuda itu tidak menyerah.

Ia melangkah lagi, berdiri di sisi Lian. Terlalu dekat.

Haikal menghela napas dalam.

Tenang, katanya pada diri sendiri.

Ini bukan medan perang.

Namun tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya.

Tangannya mengepal.

Bukan karena takut kehilangan—

melainkan karena sadar, betapa mudahnya Lian menarik perhatian.

Seorang tentara mendekat dari belakang Haikal. “Aman, Pak. Cuma warga.”

“Aku tahu,” jawab Haikal singkat.

Matanya tetap tertuju pada satu titik.

Pemuda desa itu kini berbicara lebih lama. Gesturnya canggung, jelas tidak terbiasa berbicara dengan perempuan seperti Lian—yang tidak tunduk, tidak tersenyum manis, tidak berpura-pura lemah.

“Teh, besok masih di sini, kan?” tanya pemuda itu, suaranya terdengar samar dari kejauhan.

Lian berhenti bergerak.

Ia menoleh, menatap pemuda itu datar. “Saya ke sini buat kerja sukarelawan. Bukan buat kenalan.”

Nada suaranya tidak kasar—

tapi jelas.

Pemuda itu menggaruk tengkuk, tersenyum malu. “Iya… maksud saya cuma—”

“Saya sudah menikah,” potong Lian.

Singkat. Tegas. Tanpa penjelasan.

Pemuda itu terdiam.

Wajahnya memerah—antara malu dan kaget. Ia melirik sekeliling, lalu mengangguk kecil.

“Oh… maaf, Teh.”

Ia melangkah mundur, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Haikal akhirnya bisa bernapas lega—namun ada sesuatu yang masih mengganjal.

Bukan cemburu yang berisik.

Melainkan cemburu yang sunyi.

Ia melihat Lian kembali tertawa bersama anak-anak, seolah kejadian barusan tidak berarti apa-apa. Seolah penolakan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Berapa banyak yang mencoba mendekat selama aku pergi?

Dan berapa banyak yang dia tolak sendirian?

Senja benar-benar turun.

Lian mengajak anak-anak pulang, merapikan sandal mereka, mengusap kepala kecil yang berdebu. Saat ia berdiri, pandangannya akhirnya bertemu dengan Haikal.

Tatapan mereka terkunci.

Tidak lama.

Namun cukup.

Lian membeku sesaat—seperti terkejut menyadari Haikal melihat semuanya.

Haikal tidak mendekat. Tidak menegur. Tidak menunjukkan apa pun.

Ia hanya mengangguk kecil.

Isyarat sederhana—

aku di sini.

Lian membalas dengan anggukan pelan.

Saat Lian berjalan menjauh menuju tenda mahasiswa, Haikal tetap berdiri di tempatnya. Dadanya terasa penuh oleh perasaan yang bertabrakan.

Masa lalu telah selesai berpamitan.

Namun masa kini terus menguji.

Dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun lebih, Haikal benar-benar sadar—

Menjadi suami Lian bukan hanya soal bertahan hidup di medan perang,

tetapi juga soal menjaga hati di dunia yang terus bergerak.

Dan ia tidak berniat kalah.

Malam di desa itu turun cepat.

Angin membawa bau tanah lembap dan dedaunan. Tenda-tenda mahasiswa sudah lebih sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali tawa kecil dari kejauhan. Di dalam tenda sederhana yang diterangi lampu bohlam kecil, Lian duduk bersila di atas alas tidur, melipat pakaian dengan gerakan tenang.

Ketukan pelan terdengar.

Lian mengangkat wajahnya.

Haikal berdiri di depan pintu tenda. Seragam militernya sudah berganti kaus gelap dan celana lapangan. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya keras—terlalu tenang untuk disebut biasa.

“Masuk,” ucap Lian singkat.

Haikal melangkah masuk, menutup ritsleting tenda sebagian. Ruang di dalam terasa lebih sempit begitu tubuhnya berada di sana. Lian bisa merasakan perubahan udara—lebih berat, lebih tegang.

Haikal tidak langsung bicara.

Ia berdiri beberapa detik, memperhatikan Lian yang tetap melipat pakaian seolah tidak menyadari sorot matanya. Lian tahu—ia sangat tahu—tatapan itu. Tatapan yang menahan sesuatu.

Akhirnya Haikal membuka suara.

“Dalam dua tahun terakhir…”

Nada suaranya rendah. Terlalu terkendali.

“…selama aku tidak ada, sudah berapa banyak yang mendekatimu?”

Tangan Lian berhenti sejenak.

Hanya sepersekian detik—tapi Haikal menangkapnya.

Lian mengangkat wajah, menatap suaminya. Bibirnya melengkung tipis. Bukan senyum ceria. Bukan pula senyum nakal terang-terangan.

Senyum kecil yang penuh rahasia.

“Tidak kuhitung, Mas,” jawabnya pelan.

Haikal mengernyit.

Lian kembali melipat kaus di tangannya, suaranya terdengar ringan namun datar, seolah sedang membicarakan cuaca.

“Ada juga yang datang ke rumah. Niatnya melamar.”

Tangan Haikal mengencang di sisi tubuhnya.

“Ada yang serius,” lanjut Lian, kini mengangkat kepala, menatap Haikal lurus. Wajahnya tenang. Terlalu tenang.

“Bunda hampir saja menerima. Dikira aku sudah jadi janda… soalnya kamu nggak pernah ngabarin.”

Kalimat itu jatuh pelan—

namun menghantam keras.

Dada Haikal terasa seperti diremas.

Jantungnya berdetak satu kali lebih cepat. Lalu dua. Lalu tak beraturan.

“Bunda…” suaranya serak, “hampir menerima?”

Lian mengangguk kecil.

Tatapan Haikal berubah.

Bukan marah.

Bukan juga kecewa.

Melainkan sesuatu yang lebih dalam—

cemburu yang bercampur rasa bersalah.

Ia menoleh sedikit, menarik napas dalam. Rahangnya mengeras, otot di lehernya menegang jelas. Ia mencoba bicara, namun kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokan.

“Kapan?” tanyanya akhirnya. Pendek. Berat.

“Beberapa bulan lalu,” jawab Lian cepat. Terlalu cepat. Namun Haikal tidak menangkapnya.

“Ada yang masih datang?” tanya Haikal lagi.

Nada suaranya lebih dingin sekarang.

Lian mengangkat bahu. “Ada yang coba. Ada yang mundur. Ada yang… ngotot.”

Haikal menutup mata sesaat.

Dalam benaknya, bayangan itu muncul begitu jelas—

Lian berdiri sendirian, menghadapi orang-orang yang mencoba mengambil tempatnya. Menghadapi Bunda Maya yang hampir menyerah pada anggapan bahwa menantunya telah hilang selamanya.

Dan ia?

Menghilang.

Tanpa kabar.

Tanpa penjelasan.

Haikal melangkah maju satu langkah.

“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyanya pelan. Ada tekanan di sana.

Lian akhirnya berdiri. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. Ia mendongak sedikit untuk menatap wajah Haikal.

“Mau bilang ke siapa?” tanyanya balik lembut.

“Kamu nggak bisa dihubungi, Mas.”

Haikal terdiam.

Itu bukan tuduhan.

Tapi justru itu yang membuatnya lebih menyakitkan.

Tangannya mengepal.

“Aku istrimu,” lanjut Lian, masih dengan nada yang sama. “Aku nunggu. Jadi… ya kuhadapi sendiri.”

Ada sesuatu yang bergejolak di mata Haikal.

Cemburu.

Rasa memiliki.

Dan rasa takut—yang baru ia sadari sekarang.

“Aku nggak suka itu,” katanya akhirnya, tegas.

“Apa?” tanya Lian pura-pura polos.

“Orang lain datang melamarmu,” jawab Haikal.

“Bunda hampir menerima. Kamu sendirian.”

Lian hampir tertawa.

Hampir.

Ia menahan diri dengan susah payah. Hatinya justru hangat melihat reaksi Haikal—pria yang selalu menahan perasaan, kini jelas-jelas tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya.

Ia melangkah mendekat satu langkah.

“Mas,” ucapnya lembut.

Haikal menatapnya.

Dan di situlah Lian akhirnya membiarkan senyum aslinya muncul—nakal, kecil, penuh kepuasan.

“Aku bohong.”

Haikal membeku.

“Apa?” suaranya rendah.

Lian tersenyum lebih lebar. “Nggak ada yang sampai melamar. Datang? Iya. Bunda hampir menerima? Enggak.”

Ia menatap wajah Haikal yang kini tampak… terpukul.

“Aku cuma pengin lihat reaksi kamu,” lanjutnya ringan. “Ternyata kamu cemburu juga.”

Hening.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu Haikal menghela napas panjang—sangat panjang—dan mengangkat tangan menutup wajahnya sebentar.

“Humairah…” gumamnya lirih, campur aduk antara lega dan kesal.

Lian terkikik kecil.

Namun saat Haikal menurunkan tangannya, matanya serius.

“Jangan bercanda soal itu lagi,” katanya pelan tapi dalam.

“Aku… nggak siap kehilangan kamu tanpa sadar.”

Senyum Lian perlahan memudar.

Ia mengangguk kecil.

“Iya, Mas.”

Dan malam itu, di tenda sederhana tanpa dinding kokoh, dua hati yang lama terpisah akhirnya berdiri di jarak yang sama—

tanpa perang, tanpa senjata,

hanya kejujuran yang nyaris terlambat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!