Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur dari perintah
"Bunuh dia."
"Bunuh."
Tangan yang tengah menggenggam pedang bergetar hebat. "Aku tidak bisa membunuhnya. Tidak, aku tidak bisa."
Kedua mata yang terpejam itu mengeluarkan air mata tanpa henti. Wajah dalam tidur yang lelap bahkan membuat guratan ketakutan. Dia terus bergumam tanpa henti. "Aku tidak ingin membunuhnya. Jangan memaksaku."
Kaisar Xiao Chen meletakkan buku yang ada di tangannya. Dia mendekat, berlutut tepat di depan wajah yang di penuhi keringat. Kedua alisnya mengerut karena baru kali ini melihat Selir Yu terlihat berbeda. Ia meraih tangan yang mencengkram kuat pinggiran meja. Menepuknya lembut agar wanita itu lebih tenang.
'Apa kau benar-benar wanita yang aku kenal selama ini?'
Hati pria itu berkecamuk tanpa henti. Dia tidak pernah menyangka akan melihat sisi berbeda. Yang lebih murni dan jelas memperlihatkan hati wanita di depannya.
"Kau tidak perlu membunuhnya." Satu kalimat yang pria itu ucapakan. Membuat wanita di depannya melemaskan tubuh yang menegang.
Setelah Selir Yu kembali terlelap dalam tidurnya. Kaisar Xiao Chen bangkit dan kembali ketempat duduknya. Dia terus memandangi selirnya. 'Akan aku temukan sendiri jawabannya.'
Di jam dua siang, Selir Yu terbangun dari tidurnya. Di saat dia membuka kedua matanya. Dirinya sudah dalam keadaan telentang di lantai. Jubah Kaisar Xiao Chen juga melilit tubuhnya. "Ahhh..." Ia duduk. "Jam berapa sekarang?"
"Melewati waktu siang," ujar Kaisar Xiao Chen.
"Cukup lama juga aku tidur." Selir Yu berusaha melepaskan jubah yang masih melilit tubuhnya. Setelah berhasil, dia bangkit. "Aaaaaaa..." Merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. "Yang Mulia, aku juga sudah puas tidur. Apa aku boleh pergi sekarang?" Berbicara dengan sopan dengan suara lembut.
"Hari ini kau tidak di izinkan jauh dariku." Kaisar Xiao Chen menutup buku di tangannya. Lalu melihat kearah Selir Yu.
"Kenapa!?" Selir Yu membentak.
Kedua alis Kaisar Xiao Chen terangkat.
"Tidak, maksudku. Yang Mulia, Selir ini harus pergi untuk mandi." Mencoba melembutkan nada bicaranya. Selir Yu mendekat. Dia langsung mengangkat tangannya mendekatkan ketiaknya ke wajah Kaisar Xiao Chen.
"Apa yang kau lakukan?" Kaisar Xiao Chen segara menghindar.
"Bagaimana baunya?"
"Busuk." Kaisar Xiao Chen menutup hidungnya. "Minggir."
"Ini baru benar." Selir Yu menurunkan tangannya. "Jika aku tetap di sini bersamamu. Tidak hanya ketiakku yang busuk. Tapi juga seluruh tubuhku. Apa Yang Mulia masih ingin membiarkan Selir tercintamu ini berbau busuk. Ini sama saja merusak citra Yang Mulia. Dan aku tidak menginginkan hal itu."
Setiap perkataannya tidak lagi bisa di bantah.
"Kau bisa pergi. Setelah selesai berbenah segara datang ke istana timur." Kaisar Xiao Chen bangkit dari tempat duduknya. Dia melangkah pergi keluar dari perpustakaan istana. Meninggalkan Selir Yu yang masih berada di sana.
Melihat pria itu telah hilang dari pandangan matanya. Selir Yu berjalan santai keluar dengan tubuh yang segar kembali. "Tidur di sini ternyata membuatku lebih bersemangat."
Dia melompat di saat melewati ambang pintu. "Kembali ke kediaman." Berlari dengan cukup kencang.
Semua pelayan wanita mengikuti setiap langkahnya.
Di depan pintu halaman kediaman pribadinya. Selir Yu menghentikan langkahnya. "Guyi dan semua pelayan yang ikut dengan ku sejak kemarin malam. Kalian semua bisa beristirahat selama satu hari."
"Selir Yu, jika kami libur bagaimana dengan anda. Kami tidak bisa melakukannya." Pelayan Guyi menolak.
"Guyi, kau lihat diri mu dan semua orang saat ini. Kalian kelelahan dan butuh istirahat. Jika kau tidak beristirahat bagaimana bisa menjaga orang lain. Dengarkan perintahku. Kau bisa libur untuk satu hari bersama semua pelayan. Tenang saja, aku bisa melakukan semuanya sendiri." Selir Yu mencoba meyakinkan.
"Baik. Selir Yu, terima kasih." Pelayan Guyi berterima kasih di ikuti semua pelayan lainnya.
"Selir Yu, terima kasih."
"Kalian bisa pergi." Selir Yu masuk kedalam kamarnya.
Semua pelayan pergi untuk menikmati waktu mereka. Beristirahat selama satu hari seperti perintah Selir Yu.
Sedangkan Selir Yu sendiri, segara melepaskan setiap helai gaun yang melekat di tubuhnya. Dia melangkah menuju kamar mandi yang langsung terhubung dengan kamarnya.
Setelah semua gaun yang ia kenakan terlepas. Wanita itu membiarkan tubuhnya masuk kedalam bak mandi. "Wah... Ini sangat dingin."
Meskipun begitu Selir Yu tetap berendam di dalamnya.
Tanpa taburan bunga, minyak wangi, rempah-rempah. Atau pun susu murni tanpa campuran bahan lain.
Dia masih dapat menikmati kesegaran air yang ada di dalam bak mandi. "Ahhh... Menyegarkan."
Bbyuurrr...
Selir Yu bangkit setelah berendam selama sepuluh menit. Dia turun dari bak mandi lalu mengambil kain bersih. Untuk ia gunakan menyeka sisa air di tubuhnya.
Dengan tubuh yang masih basah wanita itu berjalan santai menuju ke kamarnya. Dia mengambil gaun bersih lalu mengenakannya.
Bruukkk...
Setelah selesai dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Bodo amat dengan Kaisar. Aku hanya ingin beristirahat tenang untuk hari ini."
Tokk...
Suara ketukan pintu terdengar.
Selir Yu bangkit berjalan menuju kearah pintu. Dia membukanya dan melihat pelayan wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Kau siapa?"
"Selir Yu, saya di perintahkan Tuan besar untuk mengirimkan surat ini. Nyonya besar berharap anda bisa kembali kekediaman besok pagi," jelas pelayan itu.
Selir Yu menerima surat yang di berikan untuk dirinya.
Pelayan wanita itu pergi.
Dan wanita di dalam kamar mulai membuka isi surat yang ia terima.
'Qianlu putriku, Ibu dan Ayah sangat merindukanmu. Kami harap kau dapat datang menjenguk kami untuk beberapa waktu.'
Isi surat jelas menyatakan keinginan kedua orangtuanya.
"Jika aku pergi sekarang. Mungkin Kaisar tidak akan lagi bisa memaksaku untuk bersamanya. Lebih baik menghindar sementara waktu dari istana yang dingin ini." Surat di letakkan di meja. Dia segera berbenah. Namun yang menjadi masalah. Dia tidak bisa menata rambutnya sendiri. "Pelayan."
Seorang pelayan wanita masuk. Hanya satu pelayan saja yang masih bisa ia andalkan.
"Selir Yu." Memberikan hormatnya.
"Bantu aku menata rambutku," ujar Selir Yu.
"Baik."
Tangan Pelayan wanita itu sangat cekatan. Dia mampu membuat tatanan rambut yang indah dan menarik.
"Sangat bagus." Selir Yu memperhatikan setiap ikatan yang indah dari rambut panjangnya melalui cermin. "Siapkan kereta. Hari ini aku harus pergi menjenguk kedua orangtua ku. Beritahu Guyi, dia bisa menyusul setelah hari liburnya berakhir."
"Baik." Pelayan wanita itu pergi mengikuti perintah dari Selir Yu. Tidak selang lama dia kembali setelah menyelesaikan semua tugasnya. "Selir Yu, semua telah siap."
Selir Yu bangkit dari tempat duduknya. Dia melangkah keluar dari ruangan kamarnya.
Kereta yang telah di siapkan di depan gerbang utama istana. Terlihat cukup mewah dengan tatanan emas, manik-manik mutiara dan permata.
Ciahhhh...
Kereta melaju setelah Selir Yu berada di dalamnya.
Di istana timur, Kaisar yang masih di sibukkan dengan dokumen resmi. Mendapatkan kabar jika Selir Yu telah pergi dari istana.
"Tetap awasi. Jangan sampai lengah. Masih ada benda yang harus aku dapatkan darinya," ujar Kaisar Xiao Chen memberikan perintah.
"Baik." Prajurit bayangan itu segera pergi setelah mendapatkan perintah.
Pria yang masih ada di atas tahtanya memutar cincin giok hijau zamrud di jari manisnya. Tatapan matanya tajam, dingin dan penuh keinginan untuk menjatuhkan setiap lawan yang ada di hadapannya.
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana