NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

"

Koridor SMA Nusantara pagi itu sudah ramai, tapi suasana di depan mading OSIS terasa sedikit lebih gaduh dari biasanya. Di sana, berdiri Ayrania Johan, atau yang akrab dipanggil Ayra. Dengan seragam yang rapi, rambut dikuncir kuda, dan senyum yang tak pernah luntur, ia sedang sibuk menempelkan pengumuman rapat. Sebagai sekretaris OSIS kelas 10 IPS 1, Ayra adalah definisi "anak emas" guru-guru: pintar, ramah, dan sangat disiplin.

"Ayra, ini berkas yang dari Pak Gunawan sudah aku rapihin ya," ucap seorang teman seorganisasinya.

Ayra menoleh, memberikan senyum manis yang membuat siapapun merasa dihargai. "Makasih banyak ya, nanti biar aku yang bawa ke ruang guru habis istirahat."

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari ujung koridor, suara pantulan bola basket yang beradu dengan lantai keramik terdengar ritmis, diikuti oleh gelak tawa beberapa cowok. Ayra menghela napas tanpa menoleh. Ia sudah hafal suara langkah itu.

"Woi, minggir-minggir! Ketua Tim Basket mau lewat!" seru salah satu cowok di sana.

Dan di tengah kerumunan itu, muncullah Alano. Cowok kelas 11 IPS 2 itu berjalan dengan gaya santai, jersey basketnya tersampir di bahu, memperlihatkan kaus putih yang sedikit basah oleh keringat. Wajahnya yang tampan seringkali menjadi kutukan bagi siswi-siswi di sekolah—karena Alano dikenal sebagai playboy kelas kakap yang hobi tebar pesona.

Begitu melihat punggung mungil Ayra, seringai nakal muncul di wajah Alano. Ia mempercepat langkahnya, lalu tanpa peringatan, ia merangkul bahu Ayra dengan sangat akrab.

"Pagi, Ay... Ay... Ayang!" serunya tepat di telinga Ayra.

Sontak, beberapa siswa di koridor menoleh. Ayra mengerutkan kening, mencoba melepaskan rangkulan lengan Alano yang berat. "Lano! Berhenti panggil aku kayak gitu. Malu tau dilihat orang!"

Alano justru tertawa lepas, matanya menyipit jenaka. "Lho, emang salah? Kan panggilannya 'Ay', dari Ayrania. Kalau ditambahin dikit jadi 'Ayang' kan lebih akrab, sepupuku yang paling cantik."

Ayra memutar bola matanya. "Kita emang sepupu, tapi nggak usah pake drama 'ayang-ayangan' bisa nggak? Dan kamu bau keringat, Lano! Sana pergi ke lapangan lagi atau ke kantin kek!"

Alano hanya menjulurkan lidahnya, lalu berlari menjauh bersama teman-temannya sambil tetap melambaikan tangan ke arah Ayra. Namun, begitu ia berbelok di tikungan koridor menuju kelasnya, senyum jahil itu perlahan berubah menjadi senyum yang lebih tulus—dan sedikit perih.

Tidak ada yang tahu bahwa bagi Alano, Ayra bukan sekadar sepupu angkat.

Ingatannya melayang ke enam tahun yang lalu. Saat itu, Alano yang berusia 10 tahun merasa dunianya runtuh. Ia adalah anak yatim piatu yang tidak punya siapa-siapa, sampai akhirnya Om Malik (adik dari Papa Johan, ayah Ayra) dan Tante Sandra datang menjemputnya dan mengangkatnya sebagai anak.

Hari pertama Alano menginjakkan kaki di kompleks perumahan mereka—di mana rumah Om Malik dan Papa Johan hanya berjarak beberapa langkah—seorang gadis kecil dengan pita merah muda di rambutnya berlari menghampirinya.

"Halo! Namaku Ayra. Kamu kakak baru aku ya? Jangan takut, di sini seru kok! Mau cokelat?"

Sejak saat itu, di mata Alano, hanya ada Ayra. Namun, status mereka sebagai "keluarga" dan fakta bahwa Ayra adalah anak dari Papa Johan dan Mama Aura yang sangat menyayanginya, membuat Alano mengunci rapat perasaannya. Ia memilih menjadi si jahil, si playboy yang hobi gonta-ganti pacar hanya untuk menutupi fakta bahwa hatinya sudah "terisi" sejak lama.

Sore di Batas Pagar

Sore harinya, Ayra baru saja turun dari mobil jemputannya. Saat ia hendak membuka pagar rumah, sebuah bola basket menggelinding tepat di depan kakinya.

"Woi, Ay! Oper sini!"

Ayra menoleh ke arah rumah sebelah. Di sana, di lapangan basket pribadi rumah Om Malik, Alano sedang berdiri tanpa kaus, hanya mengenakan celana pendek olahraga.

"Ambil sendiri!" sahut Ayra ketus, tapi ia tetap memungut bola itu dan melemparkannya dengan asal ke arah Alano.

Alano menangkapnya dengan satu tangan dengan gaya yang sangat cool. "Galak amat, Tuan Putri. Gimana mau dapet pacar kalau sama kakak sendiri judes?"

Ayra berjalan mendekat ke pagar pembatas yang hanya setinggi pinggang. "Aku nggak butuh pacar sekarang. Aku sibuk OSIS, nggak kayak kamu yang sibuk koleksi mantan."

Alano tertawa, ia berjalan mendekat ke arah Ayra, menyandarkan sikunya di pagar. "Aku cari yang pas, Ay. Tapi kayaknya yang pas itu justru yang paling deket, cuma susah digapai."

Ayra mengernyit, tidak menangkap maksud tersirat dari ucapan Alano. "Hah? Ngomong apa sih? Ngaco. Oiya, Mama Aura bilang nanti malem kita makan bareng di rumah aku. Om Malik sama Tante Sandra juga dateng. Kamu jangan telat!"

"Siap, Bos! Asal menunya bukan hati kamu yang keras kayak batu, aku pasti dateng," canda Alano lagi sambil mengacak rambut Ayra.

"LANO! RAMBUTKU BERANTAKAN!" teriak Ayra kesal, sementara Alano sudah berlari masuk ke rumahnya sambil tertawa puas.

Ayra mendengus, merapikan rambutnya. Ia tidak sadar, di balik jendela lantai dua rumahnya, Mama Aura memperhatikan mereka dengan senyum tipis. Mama Aura tahu betapa protektifnya Alano pada Ayra, meski caranya selalu lewat ejekan dan kejahilan.

Di sisi lain, di dalam kamarnya, Alano menyandarkan punggung di balik pintu. Jantungnya berdegup kencang. “Cuma susah digapai,” bisiknya pada diri sendiri. Baginya, jarak dari rumahnya ke rumah Ayra mungkin hanya sepuluh langkah, tapi jarak dari "kakak" ke "kekasih" terasa ribuan kilometer jauhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!