NovelToon NovelToon
Rahasia Jarum Naga Emas

Rahasia Jarum Naga Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Dokter Ajaib / Ahli Bela Diri Kuno / Roh Supernatural / Mata Batin / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: O'Liong

Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.

Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.

Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.

Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.

Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Datang

Pada mulanya, Fauzan Arfariza sama sekali tidak menaruh perhatian pada gelang yang melingkar di pergelangan tangan Natasya Dermawan. Bagi mata orang awam, gelang itu tampak berkilau lembut, memancarkan warna kehijauan yang menipu, seolah-olah ia terbuat dari permata bermutu tinggi yang telah diasah oleh tangan pengrajin berpengalaman. Namun Fauzan bukanlah manusia biasa. Sebagai pewaris ajaran kuno yang diturunkan oleh Leluhur Tua, ia memiliki kemampuan untuk menembus tabir kepalsuan dunia fana.

Ketika kesadarannya meluas dan indra ilahiah—yang selama ini terlatih membaca denyut Energi Vital—menyapu gelang tersebut, alis Fauzan sedikit berkerut. Tidak ada sedikit pun getaran Energi Vital yang seharusnya terkandung dalam permata asli. Yang ia temukan justru sesuatu yang berlawanan: lapisan energi abu-abu yang tipis namun merayap, seperti kabut racun yang tak kasatmata. Energi itu tidak langsung mematikan, tetapi perlahan-lahan akan menggerogoti tubuh pemakainya, mengganggu aliran darah, merusak keseimbangan organ, dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan penyakit kronis yang sulit disembuhkan.

“Ini bukan perhiasan,” gumam Fauzan dalam hati. “Ini alat perusak.”

Sementara itu, Nora Ananta memperhatikan wajah Natasya Dermawan yang masih menyimpan keraguan. Wanita itu tampak terombang-ambing antara kepercayaan dan penyangkalan, antara kenyataan pahit dan ilusi manis yang selama ini ia peluk erat. Nora memahami perasaan itu. Kadang, kebohongan yang indah terasa jauh lebih mudah diterima daripada kebenaran yang menusuk.

Dengan langkah tenang, Nora meraih sebuah sendok dari atas meja. Ia kemudian melepas gelang permata diyang melingkar di pergelangan tangannya sendiri. Gerakannya anggun, penuh keyakinan, seolah ia sedang mempersiapkan sebuah ritual sederhana namun menentukan.

Ia mengetukkan sendok itu perlahan ke gelang miliknya.

Ting.

Suara jernih dan nyaring menggema lembut di udara, bersih, panjang, dan beresonansi dengan harmoni alami batu mulia sejati.

“Perhatikan baik-baik,” ujar Nora dengan suara tenang namun tegas. “Sebenarnya, cara mengidentifikasi keaslian permata itu sangat sederhana. Batu asli akan menghasilkan suara jernih dan hidup ketika diketuk. Sebaliknya, batu palsu hanya mengeluarkan suara mati, kusam, tanpa jiwa.”

Ragu-ragu, Natasya Dermawan mengikuti instruksi itu. Ia melepaskan gelang dari pergelangan tangannya sendiri. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengangkat sendok, lalu mengetukkannya pada gelang tersebut.

Gedebuk.

Suara yang muncul tumpul dan pendek, seolah-olah dua bongkah batu mati saling bertabrakan. Tidak ada resonansi, tidak ada keindahan, tidak ada kehidupan.

Wajah Natasya seketika memucat. Harapan terakhir yang selama ini ia genggam runtuh dalam sekejap.

“Herlambang Supriadi…” desisnya lirih, penuh amarah yang tertahan. “Dasar penipu tak tahu diri.”

Amarah yang terpendam selama ini akhirnya meledak. Dengan gerakan kasar, ia menghempaskan gelang itu ke lantai. Sebuah suara retakan tajam terdengar, dan dalam sekejap gelang tersebut pecah berkeping-keping. Lapisan cat kehijauan terkelupas, memperlihatkan bagian dalam yang pucat dan kasar—jelas bukan permata, melainkan granit murahan yang disamarkan dengan pewarna.

Kenyataan berdiri telanjang di hadapannya, tanpa ampun.

Belum sempat Natasya menenangkan napasnya, Nora melangkah maju sekali lagi. Kali ini, ia menunjuk ke arah tas bermerek yang tergeletak di kursi—tas yang selama ini dibanggakan Natasya seolah-olah itu adalah lambang status dan kemenangan hidupnya.

“Lalu bagaimana dengan itu?” tanya Nora datar. “Apakah Anda benar-benar percaya ia akan memberikan barang asli kepada Anda?”

“Apa maksudmu?” suara Natasya meninggi, nyaris histeris. “Itu tas LV edisi terbatas! Katanya dibawa oleh temannya dari luar negeri. Harganya lebih dari empat puluh juta Rupiah—tidak mungkin palsu!”

Nora menghela napas pelan. Tidak ada ejekan di wajahnya, hanya rasa iba yang tak tersamar.

“Jelas Anda belum pernah menggunakan tas LV asli sebelumnya,” katanya. “Baiklah, saya akan memberi Anda penilaian gratis hari ini.”

Ia menunjuk ukiran merek pada tas tersebut. “Pada tas LV asli, huruf ‘R’ yang melingkar di dalam logo adalah yang paling kecil di antara tiga baris huruf Inggris. Namun milik Anda? Justru yang paling besar. Itu kesalahan fatal.”

Ia lalu mengangkat bagian logam tas itu, membiarkannya terkena cahaya. “Bagian logam asli dipoles dengan presisi tinggi, ukirannya tajam, dan kilauannya lembut. Ini? Dicelup. Tulisan kabur. Murahan.”

Namun Nora belum selesai.

“Yang paling penting,” lanjutnya, suaranya kini dingin, “tas ini bahkan bukan kulit asli.”

Ia mengambil setengah cangkir air yang ditinggalkan Fauzan di meja. Tanpa ragu, ia menuangkan air itu ke permukaan tas. Dengan dua jari, ia mengusapnya perlahan.

Warna merah keunguan luntur seketika, menodai jari-jarinya.

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan.

Natasya Dermawan terhuyung mundur, seolah seluruh kekuatan dalam tubuhnya direnggut sekaligus. Dunia yang selama ini ia bangun—dari kemewahan palsu, janji manis, dan pengorbanan harga diri—runtuh menjadi debu dalam satu sore yang kejam. Gelang yang merusak tubuhnya. Tas yang membohongi matanya. Dan seorang pria bernama Herlambang Ahda, yang ternyata tak lebih dari bayangan kosong berbalut tipu daya.

Di sisi lain, Fauzan Arfariza memandang semua itu dengan tatapan tenang. Di dalam hatinya, ia tidak merasa puas, apalagi gembira. Ia hanya melihat satu pelajaran lama kembali terulang: bahwa keserakahan dan pemujaan pada materi adalah racun yang paling halus, paling mematikan, karena ia bekerja tanpa suara—hingga segalanya terlambat.

Dan di bawah cahaya senja yang meredup, kebenaran akhirnya berdiri tegak, tak tergoyahkan, meninggalkan luka yang akan lama sembuh, namun juga membuka jalan bagi kebangkitan yang sesungguhnya.

--------

Pada titik ini, bahkan orang paling dungu sekalipun akan langsung memahami satu kenyataan pahit: tas itu palsu tanpa sedikit pun keraguan.

Kesadaran itu menghantam Natasya Dermawan bagaikan palu godam yang menghancurkan sisa-sisa kewarasannya. Dadanya naik turun hebat, matanya merah membara, napasnya terengah seolah udara di sekelilingnya telah dirampas.

“Ah… kau… Herlambang Ahda!”

“Aku akan membunuhmu—!”

Jeritan itu pecah menjadi lolongan putus asa. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekelilingnya, Natasya berbalik dan berlari keluar dari ruang pribadi itu seperti wanita yang telah kehilangan segalanya—akal, harga diri, dan masa depan yang ia kira telah digenggam erat.

Telah menyerahkan kehormatan dan harga diri demi dua barang palsu yang bahkan tak bernilai, guncangan semacam itu jelas bukan sesuatu yang mampu ditanggung oleh siapa pun dengan hati yang rapuh.

Keheningan menyelimuti ruangan setelah kepergian Natasya. Sejenak, hanya denting halus peralatan makan dan napas manusia yang terdengar.

Fauzan Arfariza menggelengkan kepalanya perlahan. Nada suaranya datar, namun mengandung makna yang dalam.

“Mengapa harus melalui semua ini?”

Jika kebohongan itu tidak terbongkar, mungkin Natasya masih dapat menyimpan dua barang palsu tersebut sebagai penghiburan murahan bagi hatinya. Namun kini, bahkan ilusi terakhirnya telah hancur tanpa sisa.

Nora Ananta tersenyum tipis. Senyum itu tidak kejam, tetapi juga jauh dari lembut.

“Wanita itu mencampakkanmu demi uang,” katanya perlahan. “Aku hanya ingin dia memahami, dengan sangat jelas, betapa bodohnya pilihan yang telah ia buat.”

Fauzan menarik napas dalam, lalu berkata pelan, “Biarlah berlalu. Terima kasih telah membantuku hari ini.”

Nora menatapnya. Sorot matanya menyala terang, seakan menyimpan bara api yang belum padam.

“Lalu… bagaimana caramu berterima kasih padaku?” tanyanya.

“Kau tahu, itu adalah ciuman pertamaku.”

Fauzan sedikit terkejut, lalu menjawab dengan nada setengah bercanda, “Kalau begitu, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku memberimu ciuman pertamaku juga?”

“Siapa yang peduli,” jawab Nora cepat.

Namun pipinya memerah. Ia sendiri tidak mengerti mengapa hari ini pikirannya dipenuhi oleh pria di hadapannya. Bahkan di tempat kerja, fokusnya sempat goyah—sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi sebelumnya.

Ia teringat bagaimana ia bertahan hingga akhir giliran kerja, lalu tanpa ragu melangkah maju ketika mendengar bahwa Fauzan tidak memiliki pasangan. Seolah-olah hatinya telah lama menanti kesempatan ini. Bahkan ciuman pertamanya yang ia simpan selama lebih dari dua puluh tahun, ia serahkan tanpa pertimbangan panjang.

Untuk menyembunyikan rasa malunya, Nora segera mengalihkan pembicaraan.

“Sebenarnya, apa yang dilakukan Tianda Baskara?” tanyanya.

“Dia benar-benar memberimu restoran ini?”

“Putranya terinfeksi virus tak dikenal waktu itu,” jawab Fauzan. “Aku yang menyelamatkannya.”

Ia lalu menceritakan kejadian di Rumah Sakit Jakarta, bagaimana wabah misterius itu berhasil dikendalikan.

“Sebagai ungkapan terima kasih, dia menyerahkan restoran ini sebagai bayaran atas keterampilan medis yang kumiliki.”

Nora terperangah.

“Kau benar-benar memiliki keterampilan medis sehebat itu?”

Fauzan tersenyum tipis, penuh keyakinan.

“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih unggul dariku dalam hal pengobatan.”

“Dasar pembual,” ujar Nora, meski di dalam hatinya muncul keraguan yang bercampur kagum.

Pada saat itu, ponsel Fauzan berdering. Ia melihat layar, lalu mengangkatnya.

“Bapak Hendarto, ada apa?”

Di seberang sana, suara Rahmat Hendarto, Kepala Biro Kesehatan, terdengar penuh semangat.

“Dokter Fauzan, di mana Anda sekarang? Saya ingin mengundang Anda makan malam ini.”

Ia melanjutkan dengan nada penuh rasa syukur,

“Insiden virus misterius yang menyerang siswa sekolah dasar berhasil ditangani dengan sangat baik. Tidak ada dampak negatif yang meluas. Saya baru saja menerima pujian dan bonus besar dari atasan.”

“Seseorang tidak boleh melupakan penggali sumur saat meminum air,” lanjutnya.

“Semua ini berkat Anda. Tentu saja saya harus berterima kasih kepada anda dalam dunia pengobatan.”

“Itu hanya tugas saya sebagai ahli medis,” jawab Fauzan tenang.

“Namun jika Bapak telah memberi pujian, memang pantas dirayakan. Saya sedang berada di Restoran Pasar Baru. Silakan datang ke sini.”

“Baik, saya tidak jauh dari sana. Saya segera ke sana.”

Tak lama setelah panggilan berakhir, seorang pria paruh baya berusia sekitar empat puluh tahun memasuki ruang pribadi, didampingi beberapa manajer menengah restoran.

“Selamat malam, Bapak Fauzan,” katanya sopan.

“Nama saya Pardi Sugara. Bapak Tianda Baskara menugaskan saya untuk sementara mengelola restoran ini, menggantikan Irman Sudrajat”

“Oh? Kalau begitu, terima kasih atas kerja keras Anda,” jawab Fauzan.

Ia dapat melihat bahwa Pardi Sugara adalah sosok yang cekatan dan berpengalaman. Pengaturan Tianda Baskara ini membuatnya cukup puas.

Di dalam benaknya, Fauzan telah menyusun rencana. Ibunya selama ini berjualan kecil-kecilan, bekerja keras menghadapi panas dan hujan demi penghidupan sederhana. Dengan adanya restoran ini, ibunya bisa menikmati hidup dengan lebih layak. Namun jelas, sang ibu tidak cocok menjadi manajer umum. Pardi Sugara hanyalah pengaturan sementara; jika kelak ada orang yang lebih tepat, ia akan mengembalikannya kepada Tianda Baskara.

Setelah pengaturan selesai, restoran kembali berjalan tertib dan lancar, seolah tidak pernah terjadi kekacauan.

Tak lama kemudian, Rahmat Hendarto tiba. Fauzan memperkenalkannya kepada Nora Ananta, dan mereka bertiga menikmati hidangan bersama. Masakan sang juru masak utama benar-benar luar biasa.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

Tiba-tiba, Pardi Sugara bergegas masuk dengan wajah tegang.

“Bos, ada masalah besar! Sekelompok orang yang mengaku sebagai tim inspeksi kesehatan datang ke bawah. Mereka mengatakan kebersihan restoran tidak memenuhi standar dan menuntut penutupan sementara!”

Alis Fauzan mengerut. Ia baru saja mengambil alih restoran ini, dan badai sudah datang. Dalam sekejap, ia menyadari akar masalahnya—Herlambang Ahda.

Wajah Rahmat Hendarto langsung menggelap.

Dirinya sedang makan di lantai atas, sementara bawahan berulah di bawah. Ini bukan sekadar masalah restoran—ini menyangkut wibawa dan martabatnya.

“Dokter Fauzan,” katanya tegas, “serahkan urusan ini padaku. Aku akan turun dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.”

“Kita pergi bersama,” jawab Fauzan singkat.

Dengan itu, Fauzan Arfariza, Nora Ananta, dan Pardi Sugara melangkah menuju lobi—menuju babak konflik baru yang tak terelakkan, di mana kekuasaan, dendam, dan kebenaran akan kembali beradu tanpa ampun.

1
Achmad
gasss thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat Thor lanjut jangan pernah kendor
culuns
ini cerita Indonesia apa cina kok campur2
Nanang: translit ing
total 1 replies
Hary
PEREMPUAN MA GAMPANG, yg SUSAH itu DUIT...!!!
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT
O'Liong: ➕2️⃣1️⃣🤭
total 1 replies
sitanggang
novelnya mirip bgt, kek sebelah...tapi disebelah pakai nama china/Korea gitu. 🫣🫣
O'Liong
Sip
O'Liong
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!