Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: AYAH YANG MENANGIS
#
Piring bersih semua.
Aku lap tangan pake lap kusam yang udah item. Pak Hadi keluar dari dapur sambil ngitung uang di tangan.
"Satria, hari ini kamu lembur kan? Dari jam tujuh sampe sekarang. Udah lima jam. Ini tambahannya."
Dia kasih aku lima lembar uang lima ribuan. Dua puluh lima ribu tambahan.
Total hari ini aku dapet enam puluh ribu.
Cukup buat fotokopi rapor dari semester satu sampe sekarang. Buat cetak surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. Sama buat beli amplop cokelat buat nyimpen berkas.
"Terima kasih banyak, Pak Hadi."
Aku sungkem dalam. Pak Hadi cuma senyum. Dia tau aku butuh uang. Dia selalu kasih aku lembur kalau aku minta.
Aku keluar warung. Langit udah gelap banget. Jalanan sepi. Gak ada angkot lagi lewat jam segini.
Jam dinding di warung sebelah nunjukin pukul dua belas lewat dua puluh menit.
Tengah malam.
Aku jalan kaki. Cepet. Takut kenapa-kenapa.
Gang-gang gelap. Lampu mati semua. Cuma cahaya bulan yang samar-samar.
Kakiku pegel. Sepatu udah aus banget. Sol kanannya udah bolong. Kerikil-kerikil kecil suka masuk. Sakit. Tapi aku terus jalan.
Lima kilometer terasa kayak sepuluh kilometer kalau jalan tengah malam gini.
Dingin.
Sepi.
Cuma suara anjing gonggong di kejauhan.
Aku peluk badanku sendiri. Dingin banget.
Akhirnya aku sampe di gang kontrakan. Gang yang sempit. Bau got menyengat. Cahaya bulan gak bisa masuk karena tertutup atap-atap seng rumah-rumah yang rapat.
Aku jalan pelan. Takut ngebangunin tetangga.
Sampai di depan pintu kontrakan, aku denger sesuatu.
Suara.
Suara orang nangis.
Bukan suara ibu.
Suara laki-laki.
Ayah.
Jantungku langsung berdetak kenceng.
Aku deket-deketin pintu. Aku intip lewat celah pintu yang gak rapat.
Di dalam, lampunya redup. Cuma lampu lima watt yang kedip-kedip.
Ayah terbaring di kasur. Badannya kurus kering. Tulang rusuknya nongol jelas. Mukanya pucat. Matanya merah.
Dia nangis.
Nangis keras. Isakannya keluar. Napasnya tersengal-sengal.
Ibu duduk di sebelahnya. Tangan ibu yang kasar dan pecah-pecah pegang tangan ayah. Ibu juga nangis. Tapi ibu coba tahan.
"Bang... jangan nangis... jangan..." suara ibu serak. Gemetar.
Ayah geleng-geleng. Air matanya terus jatuh. Basahin bantal tipis yang udah compang-camping.
"Aku beban kalian... aku gak guna lagi... aku cuma... cuma nambah masalah... Lebih baik... lebih baik aku mati aja, Min..."
Kata-kata ayah kayak belati.
Nusuk tepat di jantung aku.
Ibu langsung tutup mulut. Ibu nangis makin keras.
"Jangan bicara begitu, Bang! Jangan! Abang jangan bilang begitu... Abang itu suami saya... ayahnya Satria... Kita butuh Abang... Satria butuh Abang..."
Ayah geleng lagi. Tangannya yang kurus gemetar pegang tangan ibu.
"Tapi aku gak bisa ngapa-ngapain... aku gak bisa kerja... gak bisa cari uang... gak bisa bantuin kamu... Kamu capek, Min... kamu kerja terus... tanganmu sampe kayak gini..." ayah angkat tangan ibu. Dia liat tangan ibu yang merah, kasar, pecah-pecah, ada luka-luka kecil. "...ini semua gara-gara aku... gara-gara aku yang gak guna ini..."
"Abang bukan gak guna! Abang tetep ayahnya Satria! Abang tetep suami saya! Kita bertahan buat Satria, Bang... buat Satria..."
Ayah nangis makin keras. Badannya getar.
"Satria... Satria juga capek, Min... dia kerja sampe malem... dia jalan jauh tiap hari... dia... dia diejek temen-temennya... Aku dengar Satria nangis kemarin malem... dia nangis pelan di pojok... dia pikir aku gak denger... tapi aku denger, Min... aku denger anakku nangis... dan aku gak bisa apa-apa... aku cuma bisa terbaring di sini... kayak mayat hidup..."
Aku gak kuat.
Aku gak kuat denger ini.
Tanganku gemetar. Kakiku lemas.
Air mataku jatuh.
Tapi aku gak bisa nangis keras. Nanti mereka denger.
Aku gigit bibir bawah. Kuat. Sampe berdarah.
Ibu peluk ayah. Erat. Ibu belai rambut ayah yang udah tipis.
"Kita akan baik-baik aja, Bang... Satria anak yang kuat... dia pinter... dia bakal berhasil... dia bakal bikin kita bangga... kita harus bertahan, Bang... harus..."
Ayah cuma nangis. Nangis di pelukan ibu.
Mereka berdua nangis.
Aku di luar pintu juga nangis.
Keluarga kami bertiga nangis dalam kegelapan malam.
Gak ada yang tau.
Gak ada yang peduli.
Aku lap air mata cepet-cepet. Aku tarik napas dalam.
Aku ketuk pintu pelan.
Tok tok tok.
Suara nangis di dalam langsung berhenti.
Aku tunggu sebentar. Aku dengerin ibu bisik-bisik sama ayah. Terus ibu bilang, "Masuk."
Aku buka pintu. Aku masuk sambil senyum. Senyum yang dipaksain banget. Sampe pipi aku sakit.
"Ayah, Ibu... Satria pulang."
Ibu langsung lap air matanya cepet-cepet pake ujung kain bajunya. Dia senyum. Senyum yang juga dipaksain.
"Satria... kenapa pulangnya telat? Ibu khawatir..."
"Tadi lembur, Bu. Dapet tambahan uang. Buat fotokopi berkas beasiswa."
Aku tunjukin uang enam puluh ribu di tangan.
Ibu megang dadanya. "Alhamdulillah... syukurlah... tapi lain kali jangan terlalu malam, Nak. Bahaya..."
Aku angguk. Aku liat ayah. Ayah liat aku. Matanya masih merah. Pipinya masih basah.
Aku langsung duduk di sebelah kasur ayah. Aku pegang tangannya. Tangan yang kurus. Tulangnya kerasa jelas. Kulitnya keriput.
"Yah... Satria dapet beasiswa nanti. Satria janji. Nanti Satria jadi dokter. Satria operasi Ayah biar Ayah bisa jalan lagi. Ibu juga gak usah cuci baju lagi. Kita bakal pindah dari sini. Kita tinggal di rumah yang bagus. Yang gak bocor. Yang pintunya bisa dikunci. Yang ada kamar mandi beneran. Satria janji, Yah..."
Suaraku gemetar. Aku coba kuat. Coba gak nangis.
Tapi air mata tetep jatuh.
Ayah liat aku. Mata ayah berkaca-kaca lagi.
Dia angkat tangannya yang gemetar. Dia pegang pipi aku. Tangannya dingin.
"Satria... maafin ayah... maafin ayah yang gak bisa ngasih kamu kehidupan yang layak... maafin ayah yang cuma jadi beban..."
"Ayah bukan beban! Ayah itu... itu ayah Satria! Satria sayang sama Ayah! Satria gak akan kemana-mana tanpa Ayah!"
Aku peluk ayah.
Erat.
Tubuhnya kecil banget di pelukan aku. Badannya cuma tulang dan kulit. Gak ada dagingnya.
Aku nangis di pundak ayah yang tulangnya nongol.
Ayah nangis juga. Tangannya yang lemas belai punggung aku.
"Satria... anakku... anakku yang kuat..."
Ibu ikutan peluk kami berdua. Ibu nangis. Kami bertiga nangis bareng.
Pelukan keluarga yang hancur tapi masih bertahan.
Gak ada yang ngomong apa-apa lagi.
Cuma tangisan.
Tangisan yang penuh sakit. Penuh penyesalan. Penuh harapan yang nyaris mati.
***
Pagi itu, aku bangun lebih pagi dari biasa.
Jam tiga pagi aku udah bangun. Aku bantu ayah ke kamar mandi. Aku mandiin dia. Aku pakaiin baju. Aku taruh dia balik ke kasur.
Ayah udah gak nangis lagi. Tapi matanya kosong. Menatap langit-langit yang bocor.
"Yah... Ayah mau makan?"
Ayah geleng pelan.
"Ayah harus makan, Yah. Biar kuat."
Ayah masih geleng.
Aku ambil piring. Di dalamnya ada nasi putih sisa semalam. Dingin. Keras. Aku kasih ke ayah.
"Ayah... kumakan ya..."
Aku suapin ayah. Pelan. Ayah ngunyah pelan. Susah banget nelen. Tapi dia maksa.
Setelah tiga suap, ayah geleng. "Cukup, Nak... ayah kenyang..."
Bohong. Aku tau ayah bohong. Ayah cuma gak mau ngabisin makanan. Biar aku dan ibu bisa makan.
Aku simpen piring itu. Aku gak maksa ayah.
Aku ganti seragam. Seragam yang sama. Udah aku cuci semalam pake sabun batangan murah. Tapi baunya masih belum ilang sepenuhnya.
Aku berangkat pagi-pagi. Masih gelap. Udara dingin menusuk.
Aku jalan sambil mikir.
Ayah kemarin bilang mau mati aja.
Ibu nangis.
Aku... aku gak boleh gagal.
Aku harus dapet beasiswa itu.
Aku harus.
Kalau aku gagal... keluarga aku bakal hancur sepenuhnya.
"Aku gak akan gagal. Aku Satria Bumi Aksara. Aku bintang untuk ayahku. Untuk ibuku. Mereka injak aku. Mereka hina aku. Mereka remehkan aku. Tapi aku akan bersinar. Aku akan bersinar lebih terang dari bintang manapun. Diinjak untuk bersinar. Itu jalan aku."
Aku bisik sendiri sambil jalan.
Langit masih gelap. Tapi di timur, ada sedikit cahaya merah. Matahari mulai terbit.
Aku tersenyum tipis.
"Ya Allah... kuatkan aku. Aku gak minta kekayaan. Aku gak minta kemudahan. Aku cuma minta... minta kekuatan buat terus berdiri. Buat terus berjuang. Buat ayah dan ibu. Kumohon..."
Doaku terbang ke langit yang mulai terang.
***
Sampai di sekolah, udah ada pengumuman baru di papan.
Aku langsung lari ke sana.
Kerumunan anak-anak udah berkumpul.
Aku dorong-dorong badan mereka. Aku baca pengumuman itu.
**SELEKSI TAHAP PERTAMA BEASISWA PRESTASI KEDOKTERAN**
**AKAN DILAKSANAKAN SENIN, 27 JANUARI 2026**
**PUKUL 08.00 - 12.00**
**RUANG AULA LANTAI 3**
**HARAP MEMBAWA:**
Formulir yang sudah diisi lengkap
Fotokopi rapor semester 1-5
Surat Keterangan Tidak Mampu dari Kelurahan
Fotokopi KTP orang tua
Pas foto 3x4 (2 lembar)
**TAHAP PERTAMA: TES TULIS (MATEMATIKA, IPA, BAHASA INGGRIS)**
**TAHAP KEDUA: WAWANCARA**
Senin depan.
Tinggal lima hari.
Aku harus fotokopi semua. Aku harus ke kelurahan minta surat. Aku harus...
"Wah, banyak banget yang daftar ya."
Suara di sebelah aku. Aku toleh.
Bagas.
Bagas berdiri sambil senyum-senyum. Di sebelahnya ada Keyla sama tiga temen gengnya.
"Aku juga daftar lho. Ayahku bilang, beasiswa ini bagus buat masa depan. Meskipun aku gak butuh, tapi kan buat prestise aja."
Prestise.
Dia daftar buat prestise.
Sementara aku... aku daftar karena ini satu-satunya jalan hidup aku.
Keyla ketawa. "Sayang, kamu pasti menang lah. Kamu kan jagoan."
Bagas nyengir. "Ah, biasa aja. Tapi ayahku udah bicara sama Pak Julian kemarin. Jadi... ya gitu deh."
Aku beku.
Ayahnya Bagas udah bicara sama Pak Julian?
Pak Julian Mahendra. Wakil Kepala Sekolah. Orang yang ikut ngatur beasiswa ini.
Bicara tentang apa?
Aku liat Bagas jalan pergi sambil ketawa-ketawa sama temen-temennya.
Aku jalan ke arah lain. Aku mau ke toilet. Tapi di tengah koridor, aku liat sesuatu.
Pak Julian lagi ngobrol sama seseorang di pojok tangga. Mereka gak sadar aku lewat.
Aku berhenti. Aku bersembunyi di balik pilar.
Aku intip.
Orang yang ngobrol sama Pak Julian itu...
Pria gede. Berperut buncit. Pake jas mahal. Jam tangan emas di tangannya.
Aku gak kenal dia.
Tapi aku tau siapa dia. Dari cara Pak Julian membungkuk hormat. Dari cara Pak Julian senyum-senyum lebar.
Pria itu keluarin amplop cokelat. Tebal. Kayak isinya banyak.
Dia selipin amplop itu ke tangan Pak Julian.
Pak Julian terima amplop itu cepet-cepet. Dia masukin ke dalam tas kerjanya.
"Terima kasih, Pak. Saya pastikan putra bapak lolos seleksi. Jangan khawatir."
Suara Pak Julian pelan. Tapi aku denger jelas.
Pria itu mengangguk. "Bagas harus menang. Saya udah transfer juga ke rekening Pak Bambang. Jadi semuanya lancar kan?"
Pak Bambang.
H. Bambang Sutrisno. Kepala Yayasan Sekolah.
Jadi... jadi bener. Bener kata Pak Joko. Hasilnya udah diatur.
Uang suap.
Korupsi.
Aku berdiri di balik pilar itu dengan tangan mengepal.
Gemetaran.
Marah.
Sedih.
Putus asa.
Mereka... mereka udah ngatur semua.
Bagas bakal menang.
Aku... aku gak punya kesempatan.
Meskipun nilaiku sempurna.
Meskipun aku paling butuh beasiswa itu.
Meskipun aku yang paling berhak.
Tapi mereka udah ngatur.
Dengan uang.
Dengan korupsi.
Aku jalan gontai ke toilet. Aku masuk ke bilik paling pojok.
Aku tutup pintu.
Aku duduk di atas kloset.
Aku pegang kepala.
"Kenapa... kenapa harus begini...?"
Bisikku pelan.
Air mata jatuh.
"Ya Allah... aku udah berusaha... aku udah berjuang... tapi kenapa... kenapa dunia sejahat ini...?"
Aku nangis sendiri di toilet sekolah yang bau pesing.
Gak ada yang tau.
Gak ada yang peduli.
***
*