Lanjutan novel SON OF THE RULER (S 1 & 2).
Cinta mempersatukan mereka untuk menjalani kehidupan yang disebut rumah tangga.
Kisah cinta romantis empat putra penguasa yang memiliki sisi gelap, yang sama sekali tidak di ketahui oleh masing-masing pasangan mereka.
"Kehidupanku penuh dengan rahasia, dan hanya bisa diketahui oleh beberapa orang tertentu. Aku tidak akan membuat keluarga kecilku ikut didalamnya, cukup aku saja," Revan Li.
"Jauh dari istri membuat aku belajar akan pentingnya kepercayaan, berbeda dengan orang yang LDR. Saling mempercayai adalah bagian penting untuk sebuah hubungan bertahan hingga maut memisahkan." Revin Li.
"Kehidupan, kematian dan rejeki, ditentukan oleh tuhan. Tapi hubungan yang bertahan hingga maut memisahkan hanya bisa ditentukan dengan kepercayaan satu sama lain." Carlos Sia.
"Penantian membuahkan hasil, jika kita sabar dan teguh dalam menjalaninya. Selesaikanlah masalah itu dengan kepala dingin dan hadapi masalah itu dengan keberanian yang kuat, maka kehidupan yang baik akan selalu bersamamu." Reon Sang.
***
Kisah rumah tangga yang sering kali membawa tawa bagi mereka.
Penasaran yuk liat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENCULIKAN
Pukul 6 pagi.
Revan terbangun dari tidurnya, dan tersentak saat sebuah tangan bermain didada bidangnya. Revan menatap Rania yang kini menatap kearahnya.
"Good morning," ucap Revan dengan senyum diwajahnya.
"Morning too," balas Rania, lalu memeluk erat tubuh suaminya itu.
"Ada apa?" tanyanya Revan, ia merasa aneh dengan sikap istrinya.
"Jangan terlalu keras pada jika berbicara pada Revin, itu tidak baik. Suatu hari nanti dia pasti akan merubah fikirannya," ucap Rania, yang membuat Revan memghembuskan nafas.
"Baiklah, lainkali aku tidak akan seperti itu lagi," ucap Revan, yang dibalas senyuman oleh Rania.
"Ingin mandi bersama sayang?" tanya Revan, dan dengan cepat Rania menganggukkan kepalanya.
Revan mendudukkan diri perlahan diatas tempat tidur, lalu mengendong tubuh Rania ala bridel style turun dari tempat tidur berjalan kearah kamar mandi.
Di kamar Revin.
Pria itu bangun lebih pagi dari biasanya, ia menoleh kearah Vivian yang tengah duduk diatas tempat tidur.
"Maaf ya, sayang. Hari ini aku akan pergi ke kota M mengurus sesuatu," ucap Revin, merasa bersalah pada istrinya itu. Baru juga sehari menghambiskan waktu bersama, tapi hari ini harus keluar kota mengurus bisnisnya.
"Cuma sehari aja kok, nanti malam sudah pulang. Tidak masalahkan jika aku pergi? Jika kamu keberatan, aku tidak akan pergi," ucap Revin lagi, dan kini mendapat tatapan aneh dari istrinya.
"Sudah sana, jangan menunda lagi. Katanya mau mandi dan pergi, kenapa belum mandi juga," ucap Vivian dan kini memasang raut wajah kesalnya.
Revin tersenyum kecil melihat hal itu, lalu berjalan mendekat kearah pintu kamar mandi. Revin menghentikan langkahnya diambang pintu kamar mandi, lalu menoleh pada istrinya.
"Ingin mandi bersama?" tanya Revin, dan Vivian pun bangkit dari duduknya berlari kecil menghampiri suaminya itu.
"Bilang dari tadi dong," ucap Vivian, lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi bersama Revin.
* * *
Tiga puluh menit kemudian.
Revan, Rania dan Vivian kini duduk dimeja makan, sarapan bersama. Revan menatap kearah kursi disamping Vivian, yang masih kosong tanpa kehadiran adiknya.
"Revin mana?" tanya Revan pada adik iparnya itu.
"Sudah pergi sejak lima belas menit yang lalu, kak Revan. Katanya ada urusan bisnis di kota M," jawab Vivian, dan Revan mengangguk-angguk mengerti.
"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana hari ini kan, Vi?" tanya Revan, dengan mulut yang menguyah makanan.
"Iya, kak. Cuma dirumah aja kok, bareng kak Rania," jawab Vivian dengan senyum diwajahnya.
"Tolong ya, Vi. Kalau ada sesuatu telfon aku," ucap Revan, dan Vivian mengangguk mengerti.
"Beres kak," ucap Vivian yang mengundang tawa Revan.
Tidak lama kemudian.
Revan kini telah bersiap untuk pergi ke perusahaannya, ia sedikit menunduk dan mengecup singkat kening Rania.
"Aku pergi dulu, sayang. Jaga dirimu oke. Aku pergi dulu, Vi," ucap Revan, berpamitan pada dua wanita itu.
"Hati-hati dijalan," ucap Rania, dengan menatap Revan yang berjalan keluar dari rumah.
"Vi, mau belajar masak?" tanya Rania tiba-tiba, membuat Vivian mengernyit.
"Tadi malam Liona mengirim pesan padaku, katanya hari ini dia ingin memasak bersama dirumah," ucap Rania dengan senyum diwajahnya.
"Boleh lah kak, biar aku bisa masak buat Revin," ucap Vivian dengan membalas senyum Rania.
"Ya udah, kita nunggu jam satu siang. Karena Liona bilang buat belanja bahan makannya dulu, sayur-sayuran didalam lemari pendingin juga udah mau habis," ucap Rania lagi.
Vivian memberikan jempol pada Rania, tanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh kakak iparnya itu.
* * *
Lima belas menit kemudian.
Revan tiba dibasemant perusahaannya, lalu turun dari mobilnya dan berjalan kearah lift yang akan mengantarkannya langsung ke lantai ruangannya.
Revan terdiam saat memasuki lift, merasa aneh. Seperti ada seseorang yang tengah memata-matainya.
'Ada yang aneh,' batin Revan, dan kini memasang raut wajah datarnya.
Ting!
Pintu lift terbuka saat tiba dilantai enam puluh. Revan melangkahkan kakinya keluar dari lift dan berjalan mendekat kearah pintu ruangannya, di mana sudah ada sekertarisnya disana, bersiap untuk membuka pintu itu untuknya.
"Selamat pagi, tuan," sapa Vin pada bosnya itu.
"Pagi," ucap Revan, membalas sapaan tangan kanannya itu. "Vin!" panggil Revan, membuat Vin yang berniat menutup pintu menghentikan gerakannya.
"Iya, tuan?" ucap Vin, yang merasa aneh dengan bosnya itu.
"Coba periksa cctv basemant perusahaan, beritahu padaku jika kau menemukan hal yang janggal," ucap Revan, kembali melanjutkan langkahnya ke kursi kebesarannya.
"Baik, tuan," ucap Vin, lalu menutup pintu dan mendekat kearah lift untuk kelantai tiga puluh, tempat ruang keamanan berada.
Sementara itu, Revan tidak bisa fokus dengan dokumen dihapadannya, ia terus memikirkan tentang Rania.
"Tenang Revan, tidak akan ada yang terjadi. Tenang," ucap Revan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
* * *
Pukul 1 siang.
Vivian dan Rania masih setia duduk disofa ruang tamu, dengan memakan cemilan yang mereka ambil dari lemari pendingin.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari pintu, Vivian bangkit dari duduknya untuk membuka pintu rumah meninggalkan Rania yang masib asyik memakan cemilan dipangkuannya.
Vivian terdiam saat membuka pintu, dan melihat Liona yang berdiri disana dengan senyum mereka diwajahnya.
"Vivian!" ucap Liona terkejut, lalu memeluk erat Vivian.
"Aku fikir kamu tidak ada dirumah, aku fikir kamu masih ada di Negara B," ucap Liona, lalu berjalan beriringan dengan Vivian ke ruang tamu.
"Kemarin baru pulang kak," jawab Vivian, dengan senyum diwajahnya.
"Rania!" ucap antusias Liona, lalu berlari kecil menghampiri Rania. "Aku rindu ingin memasak bersamamu," ucap Liona, dengan memeluk erat Rania.
"Iya-iya, tolong lepaskan pelukannya," ucap Rania, yang merasa sesak dipeluk begitu erat oleh Liona.
"Hehe, maaf," ucap Liona dan tersenyum canggung pada Rania.
"Ya udah, sekarang kita ke minimarket untuk membeli bahan-bahannya," ucap Liona antusias, ia benar-benar tidak sabar untuk memasak bersama dengan Rania. "Kamu juga ikut Vivian," lanjutnya dengan menatap Vivian.
Vivian menganggukkan kepalanya, lalu mereka pun bersiap untuk pergi ke minimarket dan membeli bahan makanan yang mereka inginkan.
Dua puluh menit kemudian.
Tiga wanita itu kini berada didepan minimarket yang cukup jauh dari kediaman Revan.
"Ayo Rania," ajak Liona, lalu menarik pelan kedua tangan Rania dan Vivian.
Terlihat dari seberang jalan, seseorang didalam mobil yang sedari tadi mengikuti mereka tengah tersenyum penuh arti dibibirnya.
"Wanita itu memasuki minimarket, bersiap," ucap pria itu, pada dua bawahannya yang duduk dikursi belakang.
Dua pria itu mengangguk mengerti, lalu keluar dari mobil setelah memastikan tidak ada yang mencurigai mereka.
Lima menit kemudian.
Rania memghembuskan nafasnya, membuat Liona dan Vivian menoleh kearahnya.
"Ada apa kak Rania?" tanya Vivian, yang hanya dibalas senyuman oleh Rania.
Rania menoleh kearah luar minimarket itu, dan menatap permen kapas yang dijual dipinggir jalan, diseberang minimarket.
"Aku ke sana dulu ya, mau beli itu," ucap Rania dengan menunjuk kearah penjual permen kapas tersebut.
"Oke," sahut Liona dan Vivian.
Rania pun berjalan keluar dari minimarket untuk keseberang jalan. Vivian terdiam sejenak, lalu menoleh kearah Rania yang siap untuk menyebrang jalan.
"Kak Liona, aku temani kak Rania dulu ya. Baru balik lagi kesini nanti," ucap Vivian, yang merasa tidak enak.
Liona menganggukkan kepalanya, dan Vivian pun segera keluar dari minimarket untuk menyebrang jalan, menghampiri Rania.
Saat Vivian bersiap menyebrang jalan, ia terkejut saat tiba-tiba dua orang pria membekap mulut Rania hingga pingsan.
"KAK RANIA!" Teriak Vivian dan seketika dua orang itu buru-buru membopong tubuh Rania masuk kedalam mobil dan segera pergi meninggalkan tempat itu.