NovelToon NovelToon
ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

ANTARA KETIGA DALANG ITU Dan AKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Duniahiburan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wawancara dengan Keluarga Sasongko

Setelah berhari-hari mempersiapkan diri, akhirnya hari yang dinanti-nantikan tiba. Sekar dan Dirga telah mengatur jadwal wawancara dengan Kanjeng Temenggung Ki Arya Sasongko dan Prasetyo Sasongko, MPP. Mereka berdua merasa sedikit gugup, namun juga sangat bersemangat untuk menggali lebih dalam pemikiran dua tokoh penting dalam dunia seni dan kebijakan ini.

Pagi itu, mereka berkumpul di rumah Dirga. Di tengah kesibukan menyiapkan peralatan kamera, audio, dan perlengkapan lainnya, Sekar tampak gelisah. "Mas Dirga, aku masih khawatir. Pertanyaan-pertanyaan kita sudah cukup menantang belum ya? Aku takut wawancaranya jadi membosankan," ujarnya sambil menggigit bibir bawah.

Dirga tersenyum menenangkan. "Mbak Sekar, kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Pertanyaan-pertanyaan kita sudah cukup mendalam dan relevan. Yang penting, kita tulus ingin belajar dan menggali pemikiran mereka. Percaya deh, wawancaranya pasti akan menarik," jawab Dirga, berusaha meyakinkan.

Setelah mempersiapkan semua peralatan, mereka berdua berangkat menuju kediaman Kanjeng Temenggung Ki Arya Sasongko. Rumah Ki Arya terletak di daerah Makam Haji, Solo. Saat mobil memasuki jalanan kampung, Sekar merasakan suasana yang berbeda. Jalanan lebih sepi dan tenang, seolah menjauhkan diri dari hiruk pikuk kota. Dari balik tembok tinggi yang mengelilingi rumah, samar-samar terdengar suara gendhing Jawa yang syahdu.

Sesampainya di sana, mereka disambut dengan ramah oleh Ki Arya dan Prasetyo. Ki Arya tampak berwibawa dalam balutan batik parang rusak yang klasik, sementara Prasetyo memancarkan aura intelektual dengan kemeja linen berwarna khaki.

"Selamat datang, Dirga, Sekar. Silakan masuk," kata Ki Arya dengan senyum tipis yang membuat Sekar merasa sedikit lega.

Ruang tamu itu bagaikan museum kecil. Di dinding tergantung berbagai macam wayang kulit dengan rincian yang rumit, masing-masing dengan ekspresi dan karakter yang unik. Seperangkat gamelan Jawa yang terbuat dari perunggu tampak berkilauan di bawah cahaya lampu. Di rak buku yang menjulang tinggi, berjajar rapi buku-buku tentang seni, budaya, filsafat Jawa, dan juga buku-buku tebal tentang kebijakan publik, seolah mencerminkan dua dunia yang digeluti oleh Ki Arya dan Prasetyo.

Setelah duduk dan bertukar sapa, Dirga membuka percakapan. "Terima kasih banyak atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan kepada kami, Kanjeng Temenggung, Mas Prasetyo. Kami merasa sangat terhormat bisa berada di sini," kata Dirga dengan tulus.

Ki Arya mengangguk. "Sama-sama, Dirga. Saya selalu senang bertemu dengan generasi muda yang memiliki minat terhadap seni dan budaya," jawab Ki Arya.

Prasetyo menambahkan dengan senyum ramah. "Iya, Dirga. Apalagi kalian berdua aktif membuat konten tentang wayang kulit. Itu sangat bagus untuk mempromosikan seni tradisional kepada masyarakat luas," kata Prasetyo.

Sekar memberanikan diri untuk memulai wawancara. "Kanjeng Temenggung, sebagai seorang dalang senior yang sangat dihormati dan juga penerima gelar dari Kanjeng Sinuhun, bagaimana Kanjeng Temenggung menjaga tradisi pakem dalam mendalang di tengah gempuran modernisasi?" tanya Sekar dengan suara yang sedikit bergetar.

Ki Arya tampak berpikir sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Pertanyaan yang bagus, Sekar. Bagi saya, tradisi pakem itu seperti akar pohon yang menancap kuat di dalam tanah. Tanpa akar, pohon akan tumbang diterjang angin. Begitu juga dengan wayang kulit. Tanpa tradisi pakem, wayang kulit akan kehilangan jati dirinya," jawab Ki Arya dengan suara yang berwibawa.

"Namun, saya juga tidak ingin menjadi seperti katak dalam tempurung. Saya menyadari bahwa zaman terus berubah, dan kita tidak bisa menutup diri dari inovasi. Oleh karena itu, saya berusaha untuk mencari keseimbangan antara menjaga tradisi pakem dan beradaptasi dengan perkembangan zaman," lanjut Ki Arya.

"Saya selalu mengingatkan diri saya dan para nayaga (pemain gamelan) untuk tidak melupakan dasar-dasar karawitan. Kita harus terus berlatih dan mengasah kemampuan kita, supaya bisa menghasilkan gendhing (musik) yang berkualitas dan menyentuh hati," kata Ki Arya.

Prasetyo mengangguk setuju. "Betul sekali, Bapak. Sebagai generasi muda, saya juga merasa punya tanggung jawab untuk melestarikan karawitan. Saya berusaha untuk terus belajar dari para senior dan mengembangkan kemampuan saya dalam memainkan gamelan," kata Prasetyo dengan bangga.

"Selain itu, saya juga berusaha untuk memperkenalkan karawitan kepada generasi muda lainnya. Saya sering mengadakan workshop dan pelatihan gamelan di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa karawitan itu bukan seni yang kuno dan membosankan, tapi seni yang indah dan penuh dengan nilai-nilai luhur," lanjut Prasetyo.

Dirga merasa terinspirasi dengan semangat yang ditunjukkan oleh Ki Arya dan Prasetyo. "Saya sangat kagum dengan dedikasi Kanjeng Temenggung dan Mas Prasetyo dalam melestarikan seni wayang kulit dan karawitan. Ini menjadi contoh yang sangat baik bagi kami sebagai generasi muda," kata Dirga.

Sekar pun menambahkan. "Saya juga sangat termotivasi untuk terus berkontribusi dalam mempromosikan seni tradisional kepada masyarakat luas melalui konten-konten yang kami buat di YouTube dan media sosial lainnya," kata Sekar.

Kemudian, Dirga beralih ke pertanyaan selanjutnya. "Mas Prasetyo, sebagai seorang yang berlatar belakang kebijakan publik, bagaimana Mas melihat peran seni dan budaya dalam pembangunan suatu daerah?" tanya Dirga.

Prasetyo tersenyum. "Pertanyaan yang menarik, Dirga. Menurut saya, seni dan budaya itu bukan hanya sekadar hiburan atau warisan leluhur. Seni dan budaya itu juga memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Jika dikelola dengan baik, seni dan budaya bisa menjadi mesin penggerak perekonomian suatu daerah," jawab Prasetyo.

"Contohnya, kita bisa mengembangkan potensi seni dan budaya lokal sebagai daya tarik wisata. Kita bisa mengadakan festival seni dan budaya, membangun museum, atau membuat paket wisata yang berbasis seni dan budaya. Dengan begitu, kita bisa menarik wisatawan datang ke daerah kita dan meningkatkan pendapatan masyarakat," lanjut Prasetyo.

"Selain itu, seni dan budaya juga bisa menjadi alat untuk memperkuat identitas daerah. Dengan melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya lokal, kita bisa menunjukkan kepada dunia bahwa kita memiliki keunikan dan keunggulan yang tidak dimiliki oleh daerah lain," kata Prasetyo dengan penuh semangat.

Ki Arya pun menimpali. "Saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Prasetyo. Seni dan budaya itu adalah aset yang sangat berharga bagi bangsa kita. Kita harus menjaga dan melestarikannya dengan sebaik-baiknya," kata Ki Arya.

Tiba-tiba, di tengah suasana yang serius dan penuh semangat, terdengar suara kucing mengeong dengan keras dari luar rumah. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dan tertawa.

"Sepertinya ada yang ingin ikut nimbrung dalam wawancara ini," kata Prasetyo sambil tersenyum.

"Mungkin dia juga tertarik dengan seni dan budaya," timpal Dirga sambil tertawa.

Ki Arya pun ikut tertawa. "Kucing saya memang suka begitu. Dia selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi di sekitarnya," kata Ki Arya.

Setelah suasana kembali tenang, Sekar melanjutkan pertanyaan. "Kanjeng Temenggung, sebagai seorang dalang yang sudah malang melintang di dunia pewayangan, apa pesan yang ingin Kanjeng Temenggung sampaikan kepada generasi muda yang ingin menjadi dalang?" tanya Sekar.

Ki Arya tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Menjadi seorang dalang itu bukan hanya sekadar bisa memainkan wayang dan membawakan cerita. Lebih dari itu, seorang dalang harus memiliki jiwa seni yang mendalam, pengetahuan yang luas, dan karakter yang kuat. Seorang dalang harus bisa menjadi role model bagi masyarakat, dan bisa memberikan inspirasi dan motivasi kepada mereka melalui seni pewayangan," kata Ki Arya dengan suara yang penuh wibawa.

"Selain itu, seorang dalang juga harus terus belajar dan mengembangkan diri. Jangan pernah merasa puas dengan apa yang sudah kita capai. Kita harus terus menggali potensi diri dan mencari inovasi-inovasi baru, supaya seni pewayangan tetap relevan dan menarik bagi generasi muda," lanjut Ki Arya.

Prasetyo pun menambahkan. "Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bapak. Menjadi seorang dalang itu adalah sebuah panggilan jiwa. Seorang dalang harus memiliki kecintaan yang besar terhadap seni pewayangan, dan harus memiliki komitmen yang kuat untuk melestarikannya," kata Prasetyo.

"Sebagai seorang yang berlatar belakang kebijakan publik, saya juga melihat bahwa pemerintah perlu memberikan dukungan yang lebih besar kepada para dalang. Pemerintah bisa memberikan beasiswa kepada para generasi muda yang ingin belajar menjadi dalang, memberikan bantuan dana untuk проведения pertunjukan wayang, dan mempromosikan seni pewayangan kepada masyarakat luas," lanjut Prasetyo.

Dirga dan Sekar merasa sangat terinspirasi dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh Ki Arya dan Prasetyo. Mereka merasa bahwa wawancara ini tidak hanya memberikan pengetahuan dan informasi yang berharga, tetapi juga memberikan motivasi dan semangat untuk terus berkontribusi dalam melestarikan dan mempromosikan seni tradisional Indonesia.

Setelah beberapa jam berlalu, wawancara pun akhirnya selesai. Dirga dan Sekar mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ki Arya dan Prasetyo atas waktu dan kesempatan yang telah diberikan kepada mereka.

"Kami sangat berterima kasih atas segala ilmu dan pengalaman yang telah Kanjeng Temenggung dan Mas Prasetyo bagikan kepada kami. Kami berharap wawancara ini bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat luas, khususnya bagi generasi muda," kata Dirga dengan tulus.

Ki Arya tersenyum. "Sama-sama, Dirga, Sekar. Saya senang bisa berbagi dengan kalian berdua. Saya berharap kalian bisa terus berkarya dan memberikan kontribusi yang positif bagi bangsa dan negara," kata Ki Arya.

Prasetyo pun menambahkan. "Jangan pernah berhenti belajar dan berinovasi. Teruslah berkarya dan menginspirasi orang lain melalui seni dan budaya," kata Prasetyo.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!