NovelToon NovelToon
A Penliba

A Penliba

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Kacang Kulit

"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.

"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.

Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.

***

Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 - Bodoh

Di sinilah mereka sekarang. Enam remaja tengah duduk dalam satu meja di sebuah restoran yang tidak jauh dari sekolah mereka. Dengan wajah yang sedikit masam, akhirnya Nando menyetujui permintaan Giselle untuk mentraktir mereka. Jangan heran, ketua kelas XI IPS 2 itu termasuk anak sultan yang uangnya tidak akan habis hanya untuk mentraktir lima orang temannya. Hitung-hitung, bersedekah.

"Gila-gila, gue bangga punya temen kayak kalian. Keren banget tadi," ujar Farhan dengan kagum.

"Bener, ihh. Suka banget sama penampilan kalian," sahut Pipit.

"Nggak salah gue pilih kalian sebagai perwakilan kelas," ujar Nando tak ingin kalah.

"Halah, gue duluan yang nyaranin mereka buat tampil ya," sahut Danu. Tentu pemuda itu merasa kesal karena Nando berlagak seperti sangat berjasa.

"Berisik kalian semua." Libra mendengus kesal. Kenapa bisa ia mempunyai teman-teman seperti mereka.

Keramaian di sekitarnya tak membuat Giselle merasa senang. Entah mengapa, gadis itu terlihat sedikit murung. Meski sesekali tersenyum tipis melihat perdebatan teman-temannya.

"Kenapa?" tanya Libra dengan suara pelan. Sengaja, agar teman-temannya yang sedang sibuk makan, tidak mendengar pembicaraannya bersama Giselle.

"Nggak papa," ujar Giselle singkat.

Libra tahu, gadis itu berbohong. Pasti ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

"Mau pulang?" tanya Libra lagi. Pemuda itu menghentikan kegiatan makannya. Fokusnya tertuju sepenuhnya pada Giselle.

"Nanti aja," ujar Giselle sembari tersenyum, mencoba menenangkan Libra. Ia sendiri tidak mengerti dengan dirinya. Firasatnya mengatakan, akan terjadi sesuatu.

"Yaudah, lanjutin makannya, baru kita pulang."

...***...

Pukul lima sore, Giselle dan Libra telah sampai di rumah. Keduanya memutuskan untuk langsung masuk ke rumah masing-masing. Ketika sampai di depan pintu rumahnya, dahi Giselle berkerut bingung. Tumben sekali pintu rumahnya tertutup rapat. Biasanya ketika sore hari seperti ini, pintu dibiarkan terbuka karena keluarganya sudah pulang.

Ketika tangan Giselle terangkat untuk membuka kenop pintu, pintu itu tak lantas terbuka.

"Loh, kok dikunci?" gumam Giselle panik.

Tok tok tok

Giselle yakin, ibu, ayah, dan kakaknya sudah berada di rumah. Terbukti sebuah mobil terparkir rapi di halaman rumahnya, juga sebuah motor sport milik Abram.

Tok tok tok

"Assalamu'alaikum, Ibuuu!"

Giselle mulai panik ketika tidak ada jawaban sama sekali. Gadis itu mulai khawatir, apa ada yang salah dengan dirinya? Kenapa pintu rumahnya terkunci di saat seluruh anggota keluarganya berada di rumah, kecuali dirinya tentu saja.

Deg

Apa ibunya memang sengaja?

Tapi kenapa?

Apakah ini termasuk dalam hukuman yang harus ia terima? Namun, biasanya ibu memilih untuk mengurungnya di dalam kamar sebagai hukuman. Bukan membiarkannya terkunci di luar rumah seperti ini.

"Ibuuu, Giselle pulang!" ujar Giselle sedikit keras, tetapi tidak berteriak. Takut-takut, para tetangga mendengar.

Giselle menghela napas panjang ketika sampai sepuluh menit lamanya tidak ada yang membukakan pintu. Semua pintu benar-benar tertutup rapat, termasuk pintu bagian belakang. Jendela pun sama. Sama sekali tidak ada akses masuk bagi Giselle.

Pasrah, gadis itu lebih memilih untuk duduk di lantai. Tepat di sebelah pintu. Berharap sebentar lagi ibu atau ayahnya mau membukakan pintu. Beberapa kali Giselle mencoba untuk menelepon ibunya, tetapi tidak pernah diangkat. Bahkan dari tempatnya sekarang, gadis itu bisa mendengar suara nada dering ponsel Atika. Jelas, wanita itu sengaja mengabaikannya.

Baiklah, Giselle mungkin melakukan kesalahan yang membuat ibunya sangat marah. Tetapi apa? Bukankah pagi tadi, semuanya masih baik-baik saja? Giselle sama sekali tidak melakukan apa pun yang memicu amarah Atika, kecuali bernyanyi. Apa mungkin wanita itu tahu, dirinya mengikuti pensi?

Giselle menggelengkan kepalanya, tidak mungkin. Pensi hanya boleh dihadiri oleh murid-murid di SMA Trisakti. Tentu ibunya tidak akan tahu apa yang ia lakukan hari ini.

Lalu apa?

Giselle rasanya ingin menangis saja memikirkan ini semua. Rasa lelah di tubuhnya semakin membuatnya pusing.

Sejenak, pikiran Giselle tertuju pada Libra. Bagaimana kalau ia ke rumah sahabatnya saja? Secepat pikiran itu datang, secepat itu juga Giselle menggeleng.

Tidak, ia tidak ingin membuat ibunya semakin marah.

Baiklah, Giselle akan menunggu sampai ada yang membukakan pintu untuknya.

...***...

Pukul tujuh malam, Giselle masih berada di luar rumahnya. Gadis itu meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan. Air matanya sudah menetes sedari tadi. Isakan kecil sesekali terdengar dari bibirnya. Sebenarnya, apa salahnya sampai Atika tega menghukumnya seperti ini?

Bahkan, lampu teras pun dibiarkan mati. Padahal semua keluarganya tahu, ia tidak suka pada kegelapan. Giselle bisa sangat merasa ketakutan ketika berada di dalam kegelapan sendirian.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara kunci pintu yang diputar, disusul seorang pemuda keluar dari dalam rumah.

Abram menatap sendu pada adiknya yang meringkuk di lantai sembari menangis. Dengan segera, pemuda itu melangkah mendekati Giselle. Berjongkok di depan adiknya.

"Hey, udah ya? Masuk ke dalem, yuk. Di sini dingin," ujar Abram dengan lembut sembari merangkul bahu Giselle. Gadis itu mendongak, wajahnya terlihat sangat berantakan. Melihat tatapan Abram, semakin membuat tangisnya pecah.

"Sssttt, jangan nangis. Ada Kakak di sini." Abram memeluk Giselle dengan erat. Ia benar-benar tidak tega melihat adiknya seperti ini. Ia merasa gagal sebagai seorang kakak.

Beberapa saat kemudian, tangis Giselle berhenti. Abram segera menuntun adiknya untuk bangkit, menggiring tubuh rapuh itu untuk masuk ke dalam rumah. Pemuda itu dengan setia tetap memeluk Giselle seolah tengah memberikan perlindungan. Tidak akan membiarkan siapa pun melukai adik kecilnya lagi.

Di ruang tengah, Atika menatap tajam kedua anaknya. Kemarahan yang sedari tadi ia tahan, sudah siap ia tumpahkan begitu matanya melihat Giselle.

"Ngapain kamu suruh Giselle masuk?" Pertanyaan itu sontak membuat langkah kedua kakak beradik itu terhenti. Giselle sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Ia terus menunduk menatap lantai.

"Seharusnya biarin aja anak itu tetep di luar sampai besok," lanjut Atika.

Abram benar-benar merasa sakit hati mendengar perkataan ibunya, meski itu ditujukan untuk Giselle.

"Kenapa Ibu tega? Nggak seharusnya Ibu bersikap seperti ini," ujar Abram.

Brakk

Atika melempar tumpukan kertas ulangan milik Giselle ke lantai tepat di depan kaki kedua anaknya. Seketika gadis itu mengerti, mengapa Atika terlihat sangat marah.

"Apa-apaan itu Giselle? Dasar bodoh! Kenapa bisa kamu mendapat nilai di bawah rata-rata, bahkan banyak yang mendapat nol. Udah Ibu bilang berkali-kali, kamu itu harus belajar! Ibu bener-bener kecewa sama kamu."

Giselle menunduk, air matanya kembali menetes.

Abram menghela napas panjang, "Bu, kecerdasan anak itu beda-beda. Ibu nggak bisa menyamakan kemampuan akademik semua orang. Giselle mungkin emang nggak pandai dalam bilang akademik, bisa jadi ia punya keahliannya sendiri. Tolong jangan menekan dia lagi soal nilai."

"Ibu nggak mau tahu! Mulai hari ini, kamu nggak boleh keluar rumah selain jam sekolah. Belajar sungguh-sungguh sampai kamu dapet nilai yang memuaskan. Inget itu Giselle!"

Atika berlalu begitu saja menuju kamarnya. Brama yang sedari tadi melihat perdebatan istri beserta anak-anaknya hanya bisa menghela napas panjang. Sudah sering terjadi. Beberapa kali ia mencoba untuk menasihati istrinya agar tidak bersikap seperti itu, tetapi sungguh Atika memang sangat keras kepala.

Brama memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Ini juga salahnya karena tidak bisa bersikap tegas pada Atika. Pria itu begitu mencintai istrinya sampai-sampai tidak ingin memulai perdebatan yang berujung pertengkaran.

...***...

19 Januari 2026

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!