Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesepakatan Rahasia
Gudang logistik itu terasa makin sempit saat hening menyelimuti mereka. Suara keriuhan dari aula kini benar-benar hanya menjadi gumaman samar di latar belakang, membuat setiap tarikan napas Genta yang pendek terdengar jelas di telinga Rara. Cahaya dari ventilasi atas mulai bergeser, kini jatuh tepat di atas kepala Rara, memberinya aura seperti seorang hakim yang sedang menunggu pembelaan dari terdakwa.
Genta masih berdiri bersandar pada peti kayu. Ia nampak seperti baru saja lari maraton sejauh sepuluh kilometer. Matanya menatap ujung sepatu Rara, tak berani mendongak.
"Jadi... bantuan apa yang kamu maksud?" tanya Genta akhirnya. Suaranya masih rendah, namun ketegangan yang tadi meledak-ledak kini mulai mereda, berganti dengan kepasrahan.
Rara memutar-mutar ponsel di tangannya. "Begini, Tuan Presma. Sebagai mahasiswa semester tiga di jurusan Ilmu Komunikasi, aku punya tugas besar untuk mata kuliah Pengantar Jurnalisme. Kami diminta membuat profil mendalam tentang sosok berpengaruh di kampus. Judul tugasnya adalah 'The Human Behind the Power'."
Rara berhenti sejenak, sengaja memberi jeda untuk efek dramatis. "Tentu saja, semua anak di kelasku berebut ingin mewawancarai kamu. Mereka ingin menulis tentang betapa hebatnya Genta Erlangga, betapa disiplinnya kamu, betapa sempurnanya hidupmu. Tapi bagiku, itu membosankan. Aku nggak mau nulis tentang robot."
Genta mendongak sedikit, dahinya mengernyit. "Maksudmu?"
"Aku mau mewawancarai kamu," lanjut Rara, suaranya kini terdengar serius. "Tapi bukan tentang jabatamu, bukan tentang prestasimu, dan bukan tentang topeng es yang kamu pakai itu. Aku mau menulis tentang Genta yang asli. Genta yang tangannya gemetar kalau mau pidato. Genta yang suka main game RPG sampai jam tiga pagi. Genta... yang sebenarnya adalah Paladin-ku."
Genta terkesiap. Wajahnya yang tadi sudah mulai tenang kini kembali menegang. "Itu mustahil. Kalau tulisan itu terbit, semua orang akan tahu. Reputasiku... karir politikku yang sudah dibangun Ayah... semuanya akan hancur."
Rara menggeleng perlahan. "Nggak, Bodoh. Aku ini jurnalis, aku tahu cara menjaga anonimitas kalau perlu. Tapi poinnya bukan itu. Aku mau kamu jadi narasumber eksklusifku. Kamu ceritakan semuanya padaku. Bagaimana rasanya hidup di balik ekspektasi orang lain. Aku akan mengemasnya sedemikian rupa sehingga orang-orang akan melihatmu sebagai manusia, bukan sebagai dewa yang nggak bisa disentuh."
Genta terdiam, nampak sedang menimbang-nimbang risiko yang ia hadapi. Namun, Rara belum selesai dengan syaratnya.
"Dan ada satu hal lagi," tambah Rara. Kali ini ia melangkah mendekati Genta, masuk ke dalam ruang pribadinya yang dingin. "Wawancara itu cuma tugas formalnya. Syarat aslinya adalah... setiap kali kita cuma berdua, baik di kampus, di game, atau di mana pun... aku nggak mau lihat 'Pangeran Es'."
Genta menatap Rara dengan bingung. "Maksudnya?"
"Berhenti akting di depanku," tegas Rara. "Kalau kamu capek, bilang capek. Kalau kamu takut, jangan disembunyiin. Kalau kamu mau gemetaran, ya gemetaran aja. Aku nggak mau kamu pakai suara bariton palsu itu kalau bicara sama aku. Kamu harus jadi Genta yang asli, si pemalu yang butuh buff keberuntungan dariku."
Rara menyentuh lengan jas almamater Genta dengan ujung jarinya. "Di dunia game, aku adalah healer-mu, kan? Di dunia nyata pun sama. Aku nggak bisa 'menyembuhkan' kamu kalau kamu terus-terusan pakai armor yang ketutup rapat kayak gitu. Armor itu mungkin ngelindungin kamu dari orang lain, tapi itu juga yang bikin kamu sesak napas, Genta."
Kalimat itu nampak menghantam Genta lebih keras daripada serangan naga mana pun. Selama bertahun-tahun, tidak ada satu pun orang, bahkan ayahnya sendiri, yang menyadari bahwa armor kesempurnaan itu sebenarnya sedang mencekiknya pelan-pelan.
Genta menghela napas panjang. Sangat panjang. Bahunya yang tadi kaku perlahan-lahan merosot. Ia menundukkan kepalanya, membiarkan rambut hitamnya menutupi matanya yang lelah.
"Kamu benar-benar menyebalkan, Ra," gumam Genta. Namun, kali ini nada suaranya berbeda. Tidak ada lagi otoritas dingin di sana. Suaranya terdengar... manusiawi. Sedikit serak, sedikit rapuh, dan sangat jujur.
"Aku tahu," jawab Rara dengan senyum jahil.
"Melelahkan sekali," bisik Genta lagi, hampir tidak terdengar. "Setiap pagi aku harus berdiri di depan cermin selama setengah jam cuma buat memastikan ekspresiku nggak pecah. Setiap langkah yang aku ambil di koridor kampus, aku merasa seperti ribuan orang sedang menunggu aku buat jatuh. Dan Ayah... dia nggak akan pernah terima kalau aku nggak jadi nomor satu."
Genta menutup matanya. Untuk pertama kalinya di lingkungan kampus, ia merasa tidak perlu menahan napasnya. Ada rasa lega yang luar biasa saat menyadari bahwa rahasia terbesarnya sudah terbongkar. Beban raksasa yang ia panggul sendirian selama ini seolah-olah kini terbagi dua.
"Oke," kata Genta akhirnya. Ia menatap Rara, kali ini dengan pandangan yang lebih jernih. "Aku setuju. Aku akan jadi narasumbermu. Dan aku... aku akan mencoba jadi diri sendiri kalau sama kamu. Tapi tolong, Rara... jangan sampai ada orang lain yang tahu. Aku belum siap buat kehilangan segalanya."
Rara tersenyum puas. Ia merasa seperti baru saja menyelesaikan misi quest tersulit dengan reward yang sangat tinggi. Ia mengulurkan tangan kanannya, melipat semua jarinya kecuali jari kelingkingnya yang kecil.
"Janji?" tanya Rara.
Genta menatap jari kelingking itu dengan ragu. "Ini konyol. Kita bukan anak SD."
"Di game kamu mau-mau saja melakukan gestur aneh," sindir Rara. "Ayo, janji kelingking. Ini simbol kesepakatan rahasia antara Healer dan Paladin-nya. Kalau dilanggar, karakternya bakal kena curse keberuntungan buruk selamanya."
Genta mendengus pelan, sebuah suara yang hampir menyerupai tawa. Ia perlahan mengangkat tangannya. Jari kelingkingnya yang panjang dan ramping tertaut dengan kelingking Rara yang mungil. Sentuhan itu terasa hangat di tengah dinginnya gudang logistik.
"Janji," ucap Genta mantap.
Di antara tumpukan kardus berdebu dan tiang-tiang besi yang berkarat, mereka mengikat janji. Sebuah kesepakatan yang sama sekali tidak masuk akal bagi seorang Presiden Mahasiswa dan seorang mahasiswa semester tiga.
Genta menatap tangan mereka yang masih bertautan. Untuk sesaat, ia merasa detak jantungnya yang tadi liar kini mulai berirama dengan tenang. Ia menyadari bahwa mulai detik ini, hidupnya yang 'sempurna' telah berakhir, namun sebuah petualangan baru yang jauh lebih mendebarkan baru saja dimulai.
"Sekarang, gimana cara kita keluar dari sini?" tanya Genta, kembali menyadari realitas sosialnya. "Kalau kita keluar barengan, orang-orang bakal mikir yang aneh-aneh."
Rara melepaskan tautan kelingking mereka dan merapikan rambutnya yang berantakan. "Ya biarin aja mereka mikir. Lagian, makin banyak gosip, makin aman posisi kita, kan? Orang bakal ngira kita lagi berantem soal logistik, bukan lagi bahas soal Paladin."
Rara berjalan menuju pintu, tangannya sudah memegang kunci. "Siap buat jadi bahan gosip kampus, Paladin?"
Genta menarik napas dalam, merapikan jas almamaternya untuk terakhir kali, dan memakai kembali wajah datarnya, meski kali ini, matanya memancarkan cahaya yang berbeda saat menatap Rara. "Ayo. Habiskan saja darahku sekalian, Healer."