Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian & Ritual
Nam, yang baru saja selesai bernegosiasi harga dan logistik ritual bersama Tuan Vongrak di ruang tamu, terkejut melihat pesan dari Freen. Meskipun Freen mengatakan "hampir kalah," fakta bahwa Rebecca stabil adalah kemenangan besar.
Nam segera bangkit. Ia tahu dia harus segera mengakhiri enam jam penyiksaan spiritual Freen dan menunjukkan bukti keberhasilan kepada klien, terutama Tuan Vongrak yang masih skeptis.
Nam berjalan cepat ke lantai atas, tempat Nyonya Vongrak menunggu dengan gelisah di depan pintu kamar putrinya.
"Nyonya Vongrak," panggil Nam dengan suara lantang dan penuh keyakinan.
"Nyonya, ini saya, Nam. Asisten Nona Freen. Anda boleh buka pintunya sekarang."
Nyonya Vongrak, yang sedari tadi mondar-mandir dan berdoa, langsung mendekati pintu dengan mata panik.
"Apa? Tapi Nona Freen bilang enam jam! Baru tiga jam!"
"Nyonya, Nona Freen telah berhasil melakukan negosiasi yang sangat sulit dengan para Roh Leluhur," jelas Nam, memegang aura profesionalnya.
"Pertarungan batinnya begitu intens hingga ia berhasil memutus ikatan spiritual di antara mereka lebih cepat dari perkiraan."
Nam melanjutkan, "Energi jahat sudah pergi, dan Rebecca sudah stabil. Nona Freen sendiri sangat lelah karena pertempuran ini, tetapi dia berhasil. Sekarang, Anda harus melihat kondisi Rebecca dan Nona Freen untuk memulihkan hati Anda, dan yang lebih penting, untuk membulatkan tekad Tuan Vongrak agar Ritual Persembahan besok pagi harus dilaksanakan. Ini adalah gencatan senjata, bukan kemenangan penuh."
Mendengar Rebecca stabil, kekhawatiran Nyonya Vongrak langsung berubah menjadi kelegaan luar biasa. Ia segera membuka kunci pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
Nyonya Vongrak tersentak melihat pemandangan di dalam kamar. Di tengah ruangan, Freen Sarocha tergeletak di karpet berbulu tebal, bersandar di dinding dengan wajah pucat dan mata tertutup.
Di sampingnya, ada baskom berisi air garam dan kelopak mawar putih yang kini terlihat layu dan menghitam, seolah semua energi buruk telah diserapnya.
Namun, perhatian Nyonya Vongrak segera tertuju pada putrinya.
Di tempat tidur, Rebecca terbaring tenang. Kulitnya tidak lagi pucat kehijauan, napasnya teratur, dan suhu tubuhnya terlihat sudah menurun. Wajah yang tadinya tegang dan tersiksa, kini terlihat damai.
Nyonya Vongrak menangis haru. Ia berlari ke samping tempat tidur, menyentuh kening Rebecca dengan lembut.
"Rebecca... Sayangku..." isaknya.
Freen, yang mendengar suara panik dan haru itu, membuka matanya. Ia merangkak bangkit, terlihat sangat payah.
"Nam..." Freen berbisik pelan, hampir tak bersuara.
"Bawa aku keluar. Aku butuh udara. Dan pastikan Tuan Vongrak... mengurus ritual itu."
Nam segera membantu Freen berdiri. Freen, meskipun lemah, menyempatkan diri untuk berbicara pada Nyonya Vongrak yang masih terisak.
"Nyonya Vongrak," kata Freen, suaranya serak. "Putri Anda aman untuk saat ini. Tetapi Roh-roh Leluhur itu masih menuntut janji Tuan Vongrak. Mereka akan kembali jika ritual perdamaian besok gagal. Jangan biarkan Tuan Vongrak membatalkannya. Hanya itu yang bisa mengunci keselamatan Rebecca."
Nyonya Vongrak, yang melihat kelelahan dan kesungguhan Freen, langsung percaya seratus persen.
"Saya janji, Nona Freen. Saya akan pastikan suami saya melakukannya. Terima kasih... terima kasih banyak."
Nam membawa Freen keluar dari kamar. Sebelum Freen menutup pintu, ia sempat melihat Tuan Vongrak yang kini berdiri di ambang pintu, menyaksikan istrinya memeluk Rebecca yang damai. Ada ekspresi terkejut, ketakutan, dan rasa bersalah yang mendalam di wajah Tuan Vongrak.
Freen tahu, ia telah memenangkan pertempuran kecil ini. Kini, Nam dan Tuan Vongrak harus memastikan pertempuran besar, yaitu ritual perdamaian, berjalan sesuai rencana.
Dan Freen Sarocha, akhirnya, bisa mendapatkan istirahat yang pantas setelah menghadapi musuh yang nyata.
Nam dengan hati-hati menuntun Freen kembali ke ruang tamu. Freen nyaris tidak bisa menahan beban tubuhnya sendiri. Ia langsung ambruk ke sofa yang mewah, memejamkan mata. Nam segera mengambil air mineral dan menyodorkannya pada Freen.
"Minum, Freen. Kau terlihat seperti mayat hidup," kata Nam, nadanya penuh perhatian.
Freen meneguk air itu perlahan. Mustika Merah Delima di lehernya kini terasa dingin, seolah energinya terkuras habis untuk melawan serangan spiritual tadi.
Tak lama kemudian, Tuan Vongrak menuruni tangga. Ekspresinya sudah berubah total. Kemarahan dan kesombongannya hilang, digantikan oleh rasa takut dan syukur yang campur aduk. Ia mendekati Freen.
"Nona Freen," katanya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
"Saya... saya minta maaf karena sempat meragukan Anda. Rebecca benar-benar terlihat lebih baik. Apa pun yang Anda lakukan, itu berhasil."
Tuan Vongrak duduk di seberang Freen. "Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya akan melakukan ritual itu. Berapa pun biayanya, saya akan bayar. Katakan pada saya, apa yang harus saya lakukan untuk menenangkan mereka?"
Freen membuka matanya, menatap Tuan Vongrak. Walaupun lelah, aura wibawa yang tersisa dari Mustika Merah Delima masih membantunya.
"Tuan Vongrak, Anda harus benar-benar tulus," kata Freen, suaranya masih serak.
"Ritual itu bukan sekadar persembahan uang. Itu adalah permintaan maaf dari hati. Nam sudah menyiapkan semua detail logistiknya. Anda harus memastikan Biksu yang dipilih benar-benar bersih dari kepentingan duniawi dan memiliki niat murni."
Nam segera mengambil alih. "Tuan Vongrak, kami menyarankan Anda menghubungi Kuil Agung di perbatasan kota. Mereka terkenal karena ritual perdamaian leluhur. Sediakan persembahan berupa makanan, bunga, dan yang terpenting, sumbangkan dana besar atas nama pemulihan nama baik leluhur yang makamnya terganggu. Ritual harus dilakukan besok pagi, tepat saat matahari terbit di lokasi proyek."
Tuan Vongrak mengangguk cepat. "Saya akan siapkan. Sekarang juga. Berapa... berapa biaya yang harus saya bayarkan untuk Nona Freen?"
Freen tersenyum tipis. Inilah momen yang ditunggu-tunggu Nam.
"Biaya konsultasi dan penyelamatan spiritual tahap pertama adalah..." Freen menyebutkan angka yang sangat besar, cukup untuk membayar semua hutang rusunnya, biaya rumah sakit Ibu Khai, dan modal hidup mereka selama satu tahun.
Tuan Vongrak bahkan tidak bernegosiasi. "Saya akan transfer sekarang. Dan setelah ritual besok berhasil, saya akan berikan bonus dua kali lipat."
"Terima kasih, Tuan Vongrak," kata Freen, merasa sangat lega. Akhirnya, karma yang membawa uang.
Setelah Tuan Vongrak sibuk dengan urusan Biksu dan transfer bank, Freen dan Nam ditinggalkan sendirian di ruang tamu. Freen menerima notifikasi transfer bank di ponselnya—jumlahnya mengejutkan.
"Kita kaya, Freen! Kita benar-benar kaya!" bisik Nam, melompat kegirangan.
"Belum, Nam. Tugas belum selesai. Ritual besok adalah ujian terakhir. Kita harus hadir di lokasi proyek. Kita harus memastikan Tuan Vongrak tidak curang. Dan aku harus siap jika roh-roh itu memutuskan untuk kembali," kata Freen, meskipun ia merasa sangat lelah.
"Kita istirahat sebentar. Lalu kita harus segera menuju lokasi proyek malam ini. Kita harus mengamati tempat itu, Freen," kata Nam.
"Kita harus tahu persis apa yang kita hadapi di sana sebelum Biksu itu memulai ritualnya."
Freen menutup matanya lagi. "Baik. Setengah jam tidur di sini. Lalu kita pergi ke makam kuno itu. Aku harus mempersiapkan diriku untuk perpisahan yang tenang dengan para leluhur itu."
Misi spiritual di Ibu Kota ternyata jauh lebih menguras tenaga dan emosi, tetapi imbalannya sepadan. Freen Sarocha, kini resmi menjadi Paranormal sejati yang sangat mahal.