Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..
Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.
Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.
Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.
Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.
Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Pria Bertopeng
Di sore harinya rombongan tiba di luar gerbang Kota Qingle, tapi sebelum tiba Kepala Desa meminta Aruna untuk menyimpan semua kereta kuda, dia hanya menyisakan dua dan satu gerobak sapi. Dia melakukannya karena melihat ada banyak rombongan pengungsi di luar gerbang dia tidak ingin terlalu mencolok sehingga menimbulkan masalah yang tidak diinginkan.
Setelah melapor ke penjaga gerbang Kepala Desa meminta untuk segera memasang tenda dan memasak untuk makan malam, seperti sebelumnya jika banyak rombongan pengungsi mereka hanya memasak makanan yang tidak tercium jauh aromanya, tentu para warga tidak protes, mereka sudah pernah melewati yang namanya kelaparan.
Kepala desa juga mendapatkan informasi jika setiap pagi dan sore hari mereka para pengungsi mendapat bubur putih gratis, katanya itu dibiayai oleh Pangeran Kedua.
Tapi para petugas juga hanya membiarkan mereka untuk tinggal selama dua hari, jadi tidak ada yang membuat kecurangan untuk tetap tinggal untuk makan gratis. saat ini ada sekitar 5 rombongan pengungsi, tapi ternyata mereka bukan dari daerah yang sama, desa-desa tersebut berasal dari kota yang satunya lagi.
***
Di pagi hari mereka tetap bangun lebih awal untuk latihan, tapi mereka tidak melakukannya terlalu lama karena takut mengundang keributan.
Seperti yang diketahui sebelumnya, mereka benar-benar mendapat bubur putih secara gratis, setiap desa mendapatkan satu panci besar yang dibawa langsung ke tenda mereka.
Sebelum pergi para pengawal itu mengatakan untuk membagi bubur itu secara merata, jika ada yang tidak kebagian itu bukan urusan mereka. Kepala Desa meminta Bibi Suyu untuk membaginya segera, agar mereka bisa melanjutkan perjalanan.
Para penjaga merasa bingung mengetahui jika Desa Suning ingin melanjutkan perjalanan, biasanya para pengungsi akan tinggal salama dua hari untuk mendapatkan makanan gratis, sedikit menghemat perbekalan mereka sekaligus untuk mengisi tenaga.
Tapi melihat kondisi tubuh rombongan Desa Suning yang terlihat sehat tanpa raut wajah lelah membuat mereka berasumsi bahwa Desa Suning memilik banyak uang dan perbekalan, para penjaga juga tidak terlalu banyak tanya, setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menghasilkan uang.
Kota Qingle sangat luas, dari pengamatan Aruna, makin dekat mereka di Ibukota, maka kota-kota yang mereka lewati juga makin luas dan makmur, jadi mereka butuh beberapa jam untuk keluar dari Kota.
Atas perintah Aruna, di jam makan siang mereka tetap melanjutkan perjalanan, barulah mereka berhenti beristirahat di pinggiran hutan setelah lewat satu jam, meski terlambat mereka tetap makan siang dengan enak, Aruna memiliki banyak stok nasik kotak di dalam ruangnya.
Nasi kotak dimasak Bibi Ying dengan para Bibi lainnya, mereka akan memasak jika akan menginap lebih dari sehari, mereka melakukannya tanpa banyak tanya, dan sekarang akhirnya mereka mengerti, nasi kotak bisa dimakan saat tidak ada waktu untuk memasak.
Mereka makan dengan lahap, nasi kotak itu berisi ayam goreng, acar, mie goreng dan sambelnya.
Setelah makan siang, Aruna beristirahat sejenak di dalam kereta. Dia masuk ke dalam ruangnya untu mencari sebuah pedang, matanya berkilat tajam dan menyeringai.
Turun dari kereta, dia menghampiri Ozian dan yang lainnya. "Apakah kalian sudah siap?" tanya Aruna dengan santai.
"Siap!"
Aruna menuju hutan bersama dengan mereka yang memiliki Kekuatan Elemen, dia sengaja lebih mendahulukan mereka, karena jika ingin mengendalikan Elemen membutuhkan banyak tenaga, maka dari itu mengajak ke hutan karena ada latihan bela diri lagi, kali ini kekuatannya lumayan kuat, setingkat dari mereka.
Di tempat peristirahatan hanya mengandalkan para pria dewasa dan pemuda lainnya. Bela diri mereka juga bisa dikatakan lumayan, jika bertemu para bandit seperti sebelumnya mereka sudah bisa menang tanpa luka.
Di dalam hutan mereka berjalan seolah-olah sedang berburu dan mencari kayu bakar. Yang mengikuti mereka dari Kota Qingle ada delapan orang, tapi Aruna merasa kedelapan orang itu tidak sekubu.
"Mari berpencar, jika sudah mengumpulkan kayu bakar kita berkumpul kembali dibawa pohon besar ini!" Setelah mengatakan itu Aruna menebas batang pohon itu sebagai tanda.
"Baik, kalian cari kayu bakar saja aku ingin berburu!" Ozian juga sudah bersiap.
Mereka berpencar dengan berbagai arah, tapi tidak dengan Aruna dia duduk bermeditasi di bawah pohon besar itu dan merasakan aura spiritual yang sangat tipis. Tapi sebelum itu Aruna mengeluarkan Rex ( serigala ), mau bagaimanapun dia berasal dari hutan, dia menggunakan kekuatan mentalnya agar orang dibalik bayangan itu tidak melihatnya.
Aruna menebak, jika dikubu pertama sedang mengincarnya dengan yang lainnya, mungkin mereka juga Klan sindikat penculikan itu. Tapi Aruna tidak bisa menebak dengan tujuan dikubu yang kedua. Karena tidak menemukan jawaban membuatnya kesel sendiri.
"KELUAR..!" Suara Aruna sangat datar, dia meminta orang itu keluar tanpa membuka matanya.
Di balik kegelapan, sosok itu menggunakan jubah yang bertudung, wajahnya tertutup topeng emas, bagian mata tertutup lapisan kain sehingga orang lain tidak bisa melihatnya.
Dia sudah sebulan di Kota Qingle untuk untuk menyelidiki kasus penculikan yang terjadi, tapi tidak ada hasil sama sekali entah siapa orang besar dibalik semua ini? Sebelumnya, dia juga sudah menyelidiki kasus itu di Ibu Kota, tapi karena tidak ada hasil makanya dia ada di Kota Qingle.
Beberapa hari yang lalu dia mendapat kabar, jika para Bandit gunung yang berada di daerah Kota Jingwe sudah tertangkap, tapi sayang sekali, orang yang berhasil menangkap Ketua Bandit itu hanya menyisakan kepalanya saja, sehingga mereka tidak bisa mengintrogasinya.
Dan baru saja kemarin, mereka kembali mendapat kabar bahwa Bandit laut yang suka menculik Pria muda tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak. Hari itu juga mereka langsung ingin menuju ke daerah tersebut, tapi saat mereka sedang bersiap, seseorang datang menyampaikan pesan jika ada pergerakan di luar gerbang Kota Qingle sehingga mereka membatalkan perjalanan.
Dia melihat ada sekitar lima orang yang sedang mengintai salah satu dari rombongan pengungsi, membuatnya siap siaga. Karena dari rombongan pengungsi itulah yang paling banyak laporan penculikan.
Tapi yang membuatnya heran, mereka hanya fokus ke rombongan Desa yang baru saja tiba, setelah mencari tau, Desa tersebut bernama Desa Suning. Dia mengikuti kelima pengintai itu bersama dua rekannya.
Dia mengikuti sampai ke dalam hutan, saat mendengar mereka ingin berpencar untuk mencari kayu bakar dia langsung meminta dua rekannya untuk mengikuti para gadis itu saja dan tak lupa dia meminta bala bantuan, dan dirinya ingin mengikuti seorang gadis yang menggunakan topi, tapi gadis itu malah duduk bersantai di bawah pohon.
Dia mendengar gadis itu meminta seseorang untuk keluar, tapi tidak ada orang lain disekitarnya selain dirinya, "Mungkinkah? Tidak mungkin!" gumamnya dalam hati.
"Ya, kau yang bertopeng, Keluarlah!" pinta Aruna seolah mengetahui isi hati orang yang ada dibalik kegelapan.
Pria bertopeng tersentak, dia begitu terkejut karena Aruna menyadari keberadaannya, hanya beberapa detik dia mengendalikan perasaannya kembali, karena sudah ketahuan dia menampakkan diri dan mendekat karena jaraknya lumayan jauh.
Aruna membuka matanya setelah merasakan orang itu sudah mendekat, dari aura dan kekuatannya sudah menandakan jika orang ini buka orang biasa, kekuatannya setera dengannya yang berada ditingkat 9. Di zaman itu, kekuatan belada diri mereka yang paling tinggi berada ditingkat 12. Ozian dan yang lainnya saat ini sudah berada ditingkat 5. Itu sudah termasuk luar biasa, jika itu orang lain membutuhkan bertahun-tahun.
Baru kali ini bertemu dengan kekuatan yang setara dengannya, tapi Aruna sedang malas untuk berlatih jadi tidak menyerang orang bertopeng itu, bisa saja jika dia ingin melihat wajahnya dengan menggunakan kekuatan mental, namun setiap orang punya privasi.
Aruna membuka topinya yang berumbai, sehingga wajah cantiknya yang putih menawan terlihat jelas di mata pria bertopeng, "Apa tujuanmu?"
Pria bertopeng terpaku melihat Aruna yang sangat cantik, jantungnya berdegup lebih kencang, perasaan yang sangat asing yang baru dia rasakan sepanjang umurnya, perasaan yang sulit dijelaskan.
"Saya minta maaf sebelumnya!" Ucapnya dengan mengakui kesalahannya "saya dalam tugas pendidikan kasus penculikan, makanya saya berada di sini karena sedang mengikuti orang yang mencurigakan itu" Dia merasa sedikit malu berada di posisi seperti itu karena pertama kalinya dia ketahuan dan diinterogasi langsung.
Aruna mengangguk lalu terdiam, dia merasa penculikan ini benar-benar meresahkan, dia menata pria bertopeng itu yang juga sedang menatapnya. "Mereka akan segera kembali!"
Pria bertopeng hanya mengangguk, dia sudah menebak yang akan kembali pasti teman-teman Aruna yang mengalahkan para penguntit, Aruna bisa mengetahui keberadaannya saja sudah menandakan jika Aruna memiliki kekuatan yang lebih tinggi darinya, membiarkan teman-temannya melawan para penguntit maka teman-teman Aruna juga tak kalah hebatnya.
Melihatnya masih berdiam Aruna berkata, "Apakah kau membiarkan yang lainnya melihatmu?"
Pria bertopeng menatap Aruna sejenak, lalu menghilang kembali dalam kegelapan untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya. Dia sungguh penasaran apakah teman-teman Aruna bisa mengalahkan orang-orang itu?
Selang beberapa menit Ozian dan yang lainnya kembali, begitupun dua rekan pria bertopeng. Namun dia sedikit bingung melihat wajah dua rekannya yang terlihat syok, dia baru saja ingin bertanya apa yang terjadi? Tapi aksi teman-teman Aruna malah membuatnya terkejut, akhirnya dia sadar apa yang terjadi dengan dua rekannya.
Para penguntit itu tiba-tiba muncul begitu saja, seolah-olah baru dikeluarkan di tempat yang tidak terlihat. Hal seperti itu hanya bisa dilakukan orang yang memiliki batu penyimpanan, dan setaunya batu penyimpanan itu sangat langka dan hanya di miliki oleh orang istana dan beberapa bangsawan tingkat satu.
Jadi, apakah itu benar-benar batu penyimpanan? Tapi bagaimana cara mereka mendapatkannya? Baru kali ini dia dibuat penasaran, ada banyak pertanyaan dalam pikirannya, tapi tidak tau kepada siapa dia harus bertanya.
lanjut thorr💪💪💪