NovelToon NovelToon
Istri Bawel Ustadz Galak

Istri Bawel Ustadz Galak

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Malam itu, pesantren kembali ke ritme tenangnya. Suara sayup-sayup santri yang sedang mendaras Al-Qur'an terdengar seperti melodi pengantar tidur yang damai. Namun, di dalam kamar ndalem, Namira justru sedang sibuk menata "studio dadakan" di atas meja belajarnya.

"Mas, bantuin dong! Senter ini taruh di mana biar muka aku nggak kayak hantu di kamera?" Namira sibuk menggeser lampu meja sementara ponselnya sudah terpasang di tripod.

Ayyan yang baru saja selesai salat sunnah ba'diyah isya, menoleh dengan dahi berkerut. "Namira, ini sudah jam sembilan malam. Kamu mau bikin konten jam segini?"

"Ih, Mas nggak tahu ya? Jam segini itu prime time! Waktunya netizen pada laper dan butuh hiburan," jawab Namira sambil sibuk membetulkan letak cobek batu yang tadi ia "pinjam" dari dapur Umi. "Ayo Mas, bantuin pegang senternya di sebelah sini!"

Ayyan menghela napas pasrah. Dengan masih mengenakan sarung dan baju koko, ia mendekat dan memegang lampu meja sesuai instruksi istrinya. "Hanya sepuluh menit ya. Mas tidak mau kamu begadang."

"Siap, Kapten!" Namira menekan tombol record.

"Halo semuanya! Balik lagi sama aku, Ning Namira! Banyak banget yang minta resep 'Lodeh Red Velvet' yang bikin Gus Ayyan minum air se-galon kemarin. Rahasianya bukan di santan, tapi di sini..." Namira mengangkat segenggam cabai rawit merah dengan ekspresi sangat dramatis.

Ayyan yang berada di balik kamera hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Namun, saat melihat Namira begitu bersemangat dan matanya kembali berbinar—setelah seharian tertekan karena masalah admin gosip—hati Ayyan terasa hangat. Ia tidak keberatan menjadi "asisten lighting" asalkan senyum itu tetap ada.

Keesokan paginya, video itu meledak. Bukan hanya karena resep lodehnya yang unik, tapi karena di akhir video, Ayyan tak sengaja terekam sedang memberikan segelas air sambil bergumam pelan, "Jangan terlalu banyak cabainya, nanti perutmu sakit, Sayang."

Komentar netizen benar-benar tidak terkendali:

"GUS AYYAN SOFT BANGET PAS MANGGIL SAYANG! MELEPEH AKU!"

"Tutorial dapet suami paket lengkap: jago kitab, jago IT, jago jagain istri dari netizen jahat!"

"Beneran definisi 'Good Rekening, Good Looking, Good Akhlaq'. Namira lu dapet jackpot!"

Namira sedang asyik membaca komentar sambil sarapan di ruang makan bersama Umi dan Abah ketika ia tiba-tiba tersedak.

"Kenapa, Mira? Pelan-pelan makannya," tegur Umi Fatimah lembut.

"Ini Mi... netizen pada heboh gara-gara suara Mas Ayyan masuk di video," Namira melirik Ayyan yang sedang tenang menyendok nasinya.

Ayyan berhenti makan sejenak, lalu menatap Namira datar. "Sudah Mas bilang, potong bagian suara Mas itu. Kenapa malah diunggah?"

"Ya habisnya suaranya bagus, Mas! Sayang kalau dibuang. Lagian netizen jadi tahu kalau Gus Kulkas ini sebenernya bisa mencair juga," balas Namira sambil nyengir lebar.

Abah Kyai tertawa kecil. "Sudahlah Ayyan, biarkan saja. Selama itu membawa kebahagiaan dan tidak melanggar syariat, anggap saja itu cara Namira syiar kalau kehidupan pesantren itu juga bisa asyik dan penuh kasih sayang."

Suasana sarapan yang hangat itu tiba-tiba terhenti saat seorang santri datang membawa sebuah surat resmi bertali pita emas.

"Gus... ini ada surat undangan dari Jakarta. Katanya dari Asosiasi Pengusaha Muslim Indonesia. Mereka mengundang Gus Ayyan dan Ning Namira untuk menjadi pembicara di seminar 'Membangun Keluarga Berkah di Era Digital'."

Namira hampir menjatuhkan sendoknya. "Hah?! Jadi pembicara?! Mas, aku kan cuma jago masak lodeh sama ngomel, masa disuruh jadi pembicara?!"

Ayyan mengambil surat itu, membacanya dengan teliti. Ia lalu menatap Namira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sepertinya 'ketenaran' kamu ini benar-benar membawa kita kembali ke Jakarta lebih cepat dari dugaan, Namira."

Namira menelan ludah dengan susah payah. Bayangan Jakarta—dengan segala kemacetan, hiruk-pikuk, dan tentu saja memori tentang Randi—mendadak berkelebat di kepalanya.

"Tapi Mas... aku belum siap! Nanti kalau aku ditanya soal hukum fikih yang susah-susah gimana? Masa aku jawab pakai analogi seblak?" Namira mulai panik, tangannya bergerak gelisah merapikan taplak meja.

Ayyan melipat surat itu dengan rapi, lalu menatap istrinya dengan senyum tipis yang menenangkan. "Di surat ini tertulis, Mas yang bicara soal landasan agamanya, dan kamu bicara soal bagaimana menjaga iffah (kehormatan) dan etika di media sosial sebagai muslimah modern. Itu kan bidangmu, 'Ning Seratus Juta Followers'."

Namira mengerucutkan bibirnya. "Mas mah bisa aja ngeledeknya! Tapi... kalau kita ke Jakarta, berarti kita bakal ketemu orang-orang lama dong?"

"Jika maksudmu keluarga Pak Surya, Mas dengar mereka juga anggota asosiasi itu," jawab Ayyan tenang. "Tapi ingat, Namira. Kamu yang sekarang bukan Namira yang dulu bisa mereka rendahkan. Kamu datang sebagai istri dari perwakilan pesantren, dan kamu datang dengan kebenaran yang sudah terbukti."

Satu minggu kemudian, sebuah hotel bintang lima di pusat Jakarta menjadi saksi kembalinya Namira. Ia tampil sangat anggun dengan kebaya modern berwarna emerald yang dipadukan dengan hijab satin yang ditata simpel namun mewah. Di sampingnya, Ayyan tampak sangat gagah dengan jas hitam yang membalut baju koko premiumnya, memberikan kesan perpaduan antara intelektual muda dan pemuka agama yang kharismatik.

Baru saja mereka memasuki ballroom, kilatan lampu kamera wartawan langsung menyambar.

"Gus Ayyan! Ning Namira! Benarkah kehadiran kalian di sini juga sebagai bentuk perdamaian dengan keluarga Pak Surya?!" teriak salah satu wartawan media daring.

Ayyan hanya mengangguk sopan tanpa menghentikan langkahnya, tangannya menggenggam jemari Namira yang mulai terasa dingin. "Kami datang untuk memenuhi undangan seminar, mohon beri jalan," ucap Ayyan dengan suara baritonnya yang tegas.

Saat mereka menuju kursi VIP, langkah Namira mendadak kaku. Di barisan depan, duduk Pak Surya bersama istrinya. Dan di sana, berdiri Randi dengan wajah yang jauh lebih kuyu, mengenakan kemeja rapi namun tanpa binar kesombongan yang biasanya ada.

Pak Surya langsung berdiri dan menghampiri mereka.

"Gus Ayyan, Namira... terima kasih sudah berkenan hadir. Randi, kemari!"

Randi melangkah mendekat dengan ragu. Ia menunduk di depan Ayyan dan Namira. "Gus, Namira... lusa saya berangkat ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Papa tidak memberi saya pilihan lain. Saya di sini mau minta maaf secara langsung, tanpa kamera, tanpa settingan. Saya sadar, saya hampir menghancurkan sesuatu yang sangat indah."

Namira terdiam. Jiwa "bawel"-nya yang biasanya langsung ingin menyemprot, tiba-tiba merasa haru. Ia melirik Ayyan, meminta kode. Ayyan memberikan anggukan kecil.

"Ya sudah," ucap Namira akhirnya, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Belajar yang bener di sana. Jangan cuma pamer foto di depan piramida. Pulang-pulang harus bisa baca kitab lebih jago dari Mas Ayyan!"

Randi tersenyum tipis, benar-benar senyum tulus yang pertama kali Namira lihat. "Itu kayaknya mustahil, Ra. Tapi saya bakal berusaha. Makasih ya."

Acara seminar berjalan sukses. Namira memukau audiens dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos namun berisi, sementara Ayyan menutupnya dengan pesan-pesan spiritual yang menyentuh hati.

Malamnya, saat mereka sedang duduk di balkon hotel yang menghadap lampu-lampu kota Jakarta, Namira menyandarkan kepalanya di bahu Ayyan.

"Mas... ternyata Jakarta nggak semenakutkan yang aku kira ya, kalau pulangnya sama Mas," bisik Namira.

Ayyan mengecup puncak kepala istrinya. "Ke mana pun kita pergi, rumah kita adalah di mana hati kita tenang. Dan hati Mas... selalu tenang kalau ada di dekat kamu, Ning Bawel."

Namira nyengir lebar. "Ciye... Mas Ayyan makin pinter gombal ya sekarang! Pasti gara-gara sering baca komen netizen di akun aku!"

Ayyan tertawa, memeluk Namira lebih erat di bawah langit Jakarta. "Mungkin. Tapi satu hal yang pasti, Mas sudah siapkan 'hadiah' buat kamu karena seminar hari ini sukses besar."

"Apa Mas? Perhiasan? Mobil baru?!"

Ayyan membisikkan sesuatu di telinga Namira yang membuatnya melotot. "Besok pagi, sebelum kita balik ke Jawa Timur, Mas anterin kamu ke tempat seblak paling legendaris di Jakarta. Kita beli semua levelnya."

"WAAAA! MAS AYYAN EMANG JODOH DUNIA AKHIRAT AKUUU!"

1
Ayumarhumah
Hay ... aku sudah mampir tetap semangat ya 💪💪💪
Rina Casper: iya makasih ya kakk sudah mampir🤭 semoga suka dengan novelnya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!