Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kabut Ungu di Lembah Hijau
Tiga hari telah berlalu sejak Xiao Chen memberikan cairan penempa tulang kepada para banditnya.
Di bawah naungan bulan sabit yang tertutup awan, tiga puluh orang berjubah hitam bergerak dalam kesunyian yang sempurna menuju lembah di balik bukit.
Mereka bukan lagi bandit yang berisik dan serampangan; gerakan mereka terkoordinasi, napas mereka teratur, dan mata mereka memancarkan kilatan dingin yang tidak wajar.
Target mereka adalah Sekte Daun Hijau. Meskipun ini hanyalah sekte kelas tiga, mereka memiliki benteng batu yang kokoh dan sekitar seratus murid yang terlatih.
Pemimpin mereka, Ketua Ye, dikabarkan telah mencapai puncak Ranah Pengumpulan Qi, sebuah level yang seharusnya mustahil dikalahkan oleh sekelompok bandit.
"Tuan, kita sudah di batas penjagaan," bisik Li Wei. Tubuhnya kini jauh lebih tegap, dan di punggung tangannya terdapat tanda hitam tipis—efek samping sekaligus simbol kekuatan dari racun Xiao Chen.
Xiao Chen berdiri di atas dahan pohon tinggi, menatap gerbang kayu besar Sekte Daun Hijau. Angin malam memainkan jubah abu-abunya yang baru. "Li Wei, Zhao Hu, bawa masing-masing sepuluh orang. Gunakan 'Bubuk Penidur Jiwa' yang kuberikan di lubang udara asrama mereka. Jangan ada yang membunuh sebelum aku memberi perintah."
"Siap, Tuan!"
Xiao Chen melompat turun dengan sangat ringan, hampir tanpa suara. Meskipun ia baru berada di Ranah Pembersihan Tubuh tingkat puncak, pengetahuan teknik pergerakan dari masa lalunya membuatnya lebih gesit dari pendekar Ranah Pengumpulan Qi mana pun.
Ia berjalan santai menuju gerbang utama. Dua penjaga yang sedang mengantuk tiba-tiba tersentak melihat sosok asing mendekat.
"Siapa di sana?! Berhenti atau kami—"
Kalimat mereka terputus. Xiao Chen hanya melambaikan tangan, dan dua jarum halus yang terbuat dari tulang ikan beracun menancap di leher mereka. Keduanya jatuh tanpa suara, tubuh mereka lumpuh seketika.
Di dalam sekte, kekacauan mulai terjadi secara senyap. Satu per satu murid Daun Hijau jatuh pingsan di tempat tidur mereka saat kabut tipis berwarna ungu merayap masuk ke kamar-kamar mereka.
Namun, di aula utama, lampu masih menyala. Ketua Ye sedang bermeditasi saat ia merasakan aura asing yang sangat pekat masuk ke wilayahnya.
"Siapa yang berani mengusik ketenangan Sekte Daun Hijau?!" Ye melesat keluar, pedangnya bersinar dengan energi Qi hijau.
Ia tertegun saat melihat halaman sektenya telah dipenuhi oleh pria-pria berjubah hitam yang berdiri tegak.
Dan di tengah-tengah mereka, duduk di atas meja batu tempat para murid biasanya berlatih, adalah seorang pemuda dengan tatapan mata yang seolah-olah telah melihat ribuan tahun kematian.
"Namamu Ye, bukan?" Xiao Chen bertanya datar sambil memainkan sebuah daun hijau di jarinya. "Sekte ini memiliki pondasi yang bagus, tapi teknik Qi kalian terlalu dangkal. Kau membuang-buang potensi tempat ini."
"Berani sekali kau, pengemis rendahan!" Ye meraung, merasa terhina. Ia mengayunkan pedangnya, melepaskan gelombang energi hijau tajam ke arah Xiao Chen. "Tebasan Daun Surgawi!"
Xiao Chen bahkan tidak berdiri. Ia hanya menjentikkan daun di jarinya. Daun yang tadinya lembut itu mendadak menjadi hitam legam dan mengeras seperti baja setelah dialiri sedikit energi racun murni.
Clang!
Daun kecil itu mematahkan tebasan energi Ye dan terus melesat hingga menggores pipi sang ketua sekte. Luka kecil itu seketika menghitam dan mengeluarkan darah ungu.
"Apa?! Kau... kau pengguna racun?!" Ye memegangi pipinya yang terasa terbakar. Ia mencoba menggerakkan Qi-nya untuk menawarkan racun tersebut, namun ia justru mendapati bahwa Qi-nya membeku saat menyentuh racun Xiao Chen.
"Jangan buang tenagamu," ucap Xiao Chen sambil berdiri dan berjalan mendekati Ye yang mulai gemetar. "Racun ini disebut 'Belenggu Sepuluh Ribu Tahun'. Ia tidak membunuhmu, tapi ia akan memakan seluruh kultivasimu jika kau melawannya. Kau punya dua pilihan, Ye."
Xiao Chen berdiri tepat di depan Ye, menatapnya dengan mata yang kembali berkilat ungu. "Bergabunglah dengan Sekte Maut Tersembunyi (Yin Wang Zong) sebagai Penatua Luar, dan aku akan mengajarimu cara mencapai Ranah Inti Bumi dalam satu tahun. Atau, mati di sini dan biarkan aku menggunakan mayatmu sebagai bahan eksperimen untuk murid-murid baruku."
Zhao Hu dan Li Wei maju ke depan, memancarkan aura ganas yang baru mereka dapatkan. Ye melihat ke sekeliling; murid-muridnya sudah tidak berdaya, dan ia sendiri tidak bisa mengangkat senjatanya.
Ye menjatuhkan pedangnya dan bersujud di hadapan Xiao Chen. "Hamba... Ye Fan... bersedia mengabdikan hidup dan sekte ini kepada Tuan."
Xiao Chen menatap langit malam. Satu faksi telah jatuh. Ini baru permulaan dari rencananya untuk menyatukan seluruh wilayah Canglan menjadi satu kekuatan tunggal.
"Bagus. Zhao Hu, kumpulkan semua sumber daya obat di gudang mereka. Li Wei, siapkan upacara penyatuan besok pagi." perintah Xiao Chen.
Ia berjalan menuju kediaman ketua sekte yang kini miliknya. Di dalam dadanya, ia merasakan sedikit kehangatan dari sisa jiwa Bai. Seolah-olah "dia" sedang tersenyum melihat tuannya mulai membangun kembali singgasananya dari dasar yang paling rendah.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.