Hai, nama ku Kyra. Aku sekarang ini bekerja di sebuah perusahaan yang berkecimpung dalam bidang teknologi. Aku memiliki cita-cita menjadi seorang Astronot. Sejak kecil aku suka dengan cerita mitologi Yunani.
Kali ini aku diberi kesempatan untuk membuktikan kualitas kinerjaku dengan cara diberi tugas menyelesaikan permasalahan di kantor cabang yang ada di Kanada. Aku menerima tawaran ini bukan sekedar membuktikan kualitas ku tapi berlibur.
Tak seperti ekspektasi ku, tak hanya bekerja dan berlibur tapi banyak sekali hal yang terjadi selama aku di Kanada....
Bahkan aku juga mendapat teror selama 5 tahun terakhir di liburanku ini. Siapakah pelaku teror yang tak lelah mengejarku bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun🙀
Aku butuh kalian untuk selalu mendukungku, memberi support dan semangat lewat jejak kalian 🥰
~ Happy reading ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindahan
Semalam aku tidak tidur nyenyak. Di penginapan sendirian ditambah lagi aku mendapat teror. Aku sudah mendapat teror seperti itu sejak 5 tahun terakhir, ku kira dengan kepergian ku ke Kanada dapat menghindarkan ku dari sang peneror tapi ternyata aku salah.
Sebenarnya apa yang sudah ku lakukan sampai dibenci sedalam ini? Tidak mungkin hanya orang iseng karena aku mendapat teror sejak 5 tahun lalu.
Hanya itu yang terlintas di kepalaku semalaman. Tidak hanya pisau dan kotak yang sudah ku kumpulkan, ada berbagai macam benda tapi tak ku bawa, semua ku tinggal di rumah.
"Semalam kamu tidak tidur?" tanya Felix sembari mengemudi.
"Hm gimana Lix?"
Aku yang terlarut dengan pikiranku sendiri tak dapat mendengar dengan jelas apa yang Felix ucapkan.
"Sepertinya kamu kurang tidur. Apa ada masalah?" Felix terlihat khawatir.
"Tidak ada, semua baik-baik saja. Aku hanya menyelesaikan tugas kantor semalam jadi aku tidur larut," ujar ku berbohong.
Aku tidak mau melibatkan Felix untuk saat ini. Terlalu cepat jika Felix mencampuri urusanku.
"Oh begitu," Felix menganggukkan kepala.
"Lix, aku boleh minta tolong nggak?"
"Apa Ky?"
"Bantu aku pindahan hari ini."
"Kamu pindah hari ini?"
"Iya, setelah pulang kerja nanti bisa bantu aku?"
"Baiklah. Pulang nanti aku jemput kamu."
"Terima kasih," aku tersenyum. Felix membalas senyumanku.
Awalnya aku berencana untuk pindah setelah Auris kembali dari rumah sakit tapi sekarang aku memutuskan untuk pindah secepatnya.
***
Davin memanggilku ke ruangannya setelah rapat. Proyek kali ini dia percayakan padaku sehingga aku mengambil andil banyak.
Tok tok tok (aku mengetuk pintu)
Aku masuk ke ruangan Davin. Ada seorang perempuan yang sudah berdiri di sana berbincang bersama Davin.
"Kamu sudah datang Ky," ucap Davin semangat.
"Iya, ada apa Vin?"
"Kenalin ini Sheryl, dia dari divisi perencanaan yang akan membantumu dalam proyek," Davin mengenalkan Sheryl pada ku.
Sheryl tersenyum padaku dan sedikit membungkuk hormat. Aku membalas senyuman Sheryl.
"Oh iya."
Aku keluar kantor Davin diikuti Sheryl.
"Nona Kyra, tunggu," ucap Sheryl menghentikan ku.
"Ada apa?"
"Nona maaf, sebenarnya saat saya melihat Nona tadi saya merasa kagum dengan Nona. Saya anak tunggal, saya ingin sesekali memiliki kakak. Kalau anda berkenan maukah anda berteman dekat dengan saya?" Sheryl memohon pada ku. Dia menatapku dengan tatapan puppy eyes yang membuatku sulit untuk menolak.
"Iya. Mari kita berteman baik. Jangan panggil saya Nona panggil saya Kyra saja," aku tersenyum pada Sheryl.
"Ah baik. Terima kasih," Sheryl tersenyum padaku.
***
Hari sudah sore, aku segera membereskan ruang kerja. Aku berjalan dengan sedikit berlari menuju pintu keluar kantor.
"Kita pergi sekarang?" Felix menyambutku.
Aku menganggukkan kepala dan segera masuk mobil.
"Bagaimana pekerjaan hari ini?" Felix memulai obrolan di dalam mobil.
"Tidak ada masalah."
Ring ring ring (telefonku berdering)
Aku segera menjawab telfon masuk itu karena yang menelfon adalah Davin. Siapa tau ada urusan penting dalam proyek.
"Halo."
"Kyra, kamu udah pulang?"
"Udah Vin. Ada apa?"
Felix yang mendengar kata "Vin" langsung menoleh seketika. Aku hanya bisa menggeleng.
"Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajakmu makan malam sekalian mengantarmu pulang."
Terdengar suara Davin yang kecewa.
"Maaf, mungkin lain kali."
"Iya. Hanya bisa berharap dilain waktu."
"Iya."
"Emmm... Kamu hati-hati ya pulangnya."
"Iya."
Aku menutup telefon dan kulihat Felix menekuk wajah masamnya.
"Main tebak-tebakan yuk!" ucapku antusias.
"Apa?" Felix sedikit tertarik.
"Kamu tebak ya. Buah, buah apa yang berdosa?"
"Buah durian?"
"Salah!"
"Apa dong?"
"Melon Kundang. Ahahahaha."
"Gantian, aku yang tebak kamu yang jawab."
"Oke."
"Kenapa matahari tenggelam?" Felix terlihat percaya diri.
"Karena perputaran bumi," jawabku polos.
"Salah!"
"Kok salah sih?"
"Karena matahari nggak bisa berenang. Mwahaha," Felix tertawa lepas. Sepertinya mood Felix sudah sedikit membaik.
"Ck. Kamu tebak lagi."
"Apa?"
"Apa itu cemilan?"
"Emm... makan ringan."
"No. No. No!" aku menggelengkan kepala.
"Emm.. Snack?"
"Ah... Bukan."
"Apa dong?"
"Cemilan itu cecudah celapan, cebelum cepuluh." (sesudah delapan, sebelum sepuluh)
Felix diam saja dan menatapku, aku menahan tawa melihat raut wajah Felix yang sedikit tidak terima. Tak terasa kami sudah sampai di depan penginapan. Semua barang milikku dan barang milik Auris sudah ku kemas sejak semalam, beberapa barang ku masukkan ke dalam kardus. Aku dan Felix memindahkan semua barang ke mobil.
"Sudah semua?" Felix menaruh barang terakhir ke dalam bagasi.
"Sudah. Ayo."
Aku masuk ke dalam mobil diikuti Felix. Felix melajukan mobilnya menuju apartemen baruku.
***
Felix menurunkan barang-barang ku satu persatu.
"Aku akan bawa koper ke dalam,". ucapku.
"Baiklah. Aku akan membawa barang-barang ini."
Aku berjalan memasuki apartemen. Felix membawa tumpukan kardus yang sangat tinggi masuk sehingga menutupi arah pandangnya.
"Ku bantu," aku mengambil tumpukan kardus paling atas.
Felix menaruh tumpukan kardus di dekat Shofa.
"Terima kasih," ucapku tulus.
"Hanya terima kasih?" Felix memajukan wajahnya menggodaku.
Aku diam saja karena kaget dengan wajah Felix yang tiba-tiba mendekat. Felix semakin mendekatkan wajahnya hingga aku dapat merasakan hembusan nafas di pipiku. Detak jantungku berdegup sangat kencang, pipiku memerah.
Cup
Felix mencium keningku. Mata ku terbelalak dan menatap Felix. Felix memberikan senyum dan tatapan hangat, "istirahat yang cukup. Jangan sampai sakit."
"Ah.. I..iya," aku gelagapan. Detak jantungku masih saja berdebar. Aku melangkah menjauh dari Felix.
"Ka.. Kamu mau mi.. Minum?" tanyaku terbata-bata.
"Tapi hanya ada air putih," imbuh ku.
Felix mengangguk.
Ponsel Felix berdering, Felix menatap sebentar layar ponselnya dan berjalan menuju balkon. Dia berbincang ditelfon cukup lama.
"Ada apa?" tanyaku saat Felix kembali.
"Aku harus pergi. Ada beberapa masalah yang harus ku selesaikan," ucap Felix dengan mimik sedikit tidak enak.
"Apakah mendesak?" aku khawatir saat ku lihat ada sedikit raut cemas di wajahnya.
"Eemm... Masalah kantor. Aku akan segera menyelesaikannya. Kamu tenang saja."
"Baiklah. Hati-hati."
Felix keluar apartemen dengan sedikit tergesa-gesa. Masalah apa yang ada di kantornya aku tidak tahu. Ku harap semua dapat cepat terselesaikan dan dia dapat segera beristirahat. Seharian ini dia pasti sudah melakukan banyak hal.
Aku menata barang-barang sesuai tempat. Kotak yang ku dapat kemarin tergeletak di dalam kardus paling akhir. Aku sudah berusaha mencari pelakunya tapi hasilnya nihil.
*Pelaku bertindak sangat hati-hati dan penuh perhitungan. Aku berharap orang-orang yang ada didekatku tidak terkena imbasnya.
*
*
*
*
*
Hai teman-teman. Jangan lupa untuk like, komen, dan tap tombol love ya. Mohon dukungannya* 🙏🥰
Harap tinggalkan jejak ☺️
klo diliat sekilas, pemilihan kata2nya cukup baik. semoga didalamnya banyak ilmu baru yg bermanfaat.. 😘
mampir bawa 3 like ya ❤️❤️❤️❤️
Boleh intip "Pengantin Pengganti"