NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Marah

SELAMAT MEMBACA!

Malam itu, Dara pulang dengan perasaan kesal, bahkan ia uring-uringan. Gadis itu makan dengan cepat, menghabiskan sate yang dia beli. Setelahnya, Dara pergi ke kamar untuk tidur karena sudah merasa sangat marah.

Dara membanting pintu, kemudian mematikan lampu, membuat kamar terlihat gelap tanpa cahaya. Dara menarik selimut hingga menutupi setengah tubuhnya. Ia segera memejamkan mata. Namun, Dara mendengar suara ketukan pintu.

Mata Dara terbuka lebar, ia mendengus kesal, kemudian beranjak dari tempat tidur. Dia tadi mengunci pintu karena tidak mungkin akan tidur tanpa menguncinya. Lalu, Dara melangkahkan kaki untuk membukakan pintu, yang sepertinya itu adalah Dino.

Dengan kesal dan hentakan kaki. Kemudian Dara membuka pintu itu. Benar saja, suaminya berdiri di sana dan tersenyum ke arahnya. Dara tidak menanggapi, kemudian ia melenggang kembali ke kamar membuat Dino mengerutkan kening. "Positif. Dara lagi marah," gumam Dino, memandangi istrinya yang menghilang.

Tentu saja. Tadi, Aga melihat Dara datang ke kerumunan itu. Setelah balapan selesai dan Dino mendapat kemenangan, Aga memberitahukan kepada Dino bahwa dia melihat Dara.

Dino memarahi Aga karena tidak memberitahu dengan cepat. Lalu, lelaki itu bergegas pulang karena berpikir istrinya pasti sangat marah. Benar dugaan Dino, Dara bahkan terlihat enggan untuk bertatap muka dengannya.

"Ra," panggil Dino. Lelaki itu sudah sepuluh menit berdiri di depan kamar. Istrinya tidak mau membukakan pintu. Dino menyandarkan tubuhnya di dinding, kemudian mengetuk pintu untuk yang ke sekian kalinya. "Ra, bukain pintunya!"

Tidak terdengar sahutan dari dalam sana. Dara yang sedang bersiap untuk tidur, merapikan seprai sambil menggerutu. "Siapa suruh bohongin aku," gumam Dara.

"RA! GUE MINTA MAAF! GUE TAHU GUE SALAH. MAAFIN GUE!" Suara teriakan Dino menggetarkan seisi rumah. Lelaki itu mengetuk pintu dengan kekuatannya, menimbulkan sedikit guncangan di kamar hingga membuat Dara terkejut. "RA! BUKAIN PINTUNYA! GUE MAU TIDUR," sambung Dino.

Dara mendengus kesal, jika ia tidak merespon, pasti suaminya itu semakin menjadi dan tak berhenti. "GAK MAU, NO! KAMU TIDUR DI KAMAR SEBELAH, AJA! AKU MAU TIDUR SENDIRI!" balas Dara, dengan berteriak.

Dino sontak terkejut, wajahnya kelelahan dan terlihat melas sekali. "Ra, gue mohon maafin gue!" ujar Dino lagi, sambil mengetuk pintu.

Dara merasa sedikit kasihan, tetapi ia masih sangat kesal. Lalu, dia melangkah mendekati pintu dan mendekatkan wajahnya di sana. "Aku nggak suka kamu bohong, No. Aku maafin kamu sekarang, nggak ada maaf lagi kalau kamu mengulangi," kata Dara, dari balik pintu membuat Dino mematung.

"Sekarang bukain pintunya ya, Ra?"

"NGGAK!" Dino tersentak kaget. "Kamu tidur di kamar sebelah malam ini," ucap Dara, penuh penekanan. Lalu, ia segera menjauhi pintu dan pergi ke kasur untuk mengistirahatkan tubuh.

Pasrah, Dino menghela napas panjang dan pergi ke kamar kosong di sebelah. Mungkin, mereka hanya berpisah kamar. Namun, rasanya sudah seperti berada di dunia yang berbeda dengan jarak sejauh langit dan tanah. Lelaki itu dengan perasaan sedih, merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, tatapan kosong terarah ke langit-langit kamar dan hatinya terus merutuki diri.

"Gue udah buat Dara kecewa sama kata-kata gue. Gue harusnya jujur kalau gue mau balapan." Kedipan Dino begitu lelah, sorot matanya sangat hampa, kemudian terdengar helaan napas berat dari lelaki itu. "Gue harus bisa buat Dara percaya lagi sama gue," kata Dino.

Sebuah hubungan memang wajar jika terdapat pertengkaran di dalamnya. Jika tidak dibumbui emosi, mungkin perjalanan cinta akan terasa sangat mudah dan kurang menantang. Namun, juga memerlukan sebuah solusi di setiap masalah agar terus bertahan dan tak berubah menjadi mantan.

Pagi baru saja datang, tetapi Dara sudah merasa sangat kesal karena melihat Dino menunggunya di depan pintu kamar mandi, saat ia selesai mandi untuk pergi bekerja. Suaminya itu menatapnya dengan sinis, seperti sedang melihat seorang mangsa. Namun, Dara tak acuh dan melewati Dino begitu saja.

Dino keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia dengan istrinya saling menatap dengan tajam. Dara yang dari kamar dan sudah siap dengan pakaian rapi, melenggang pergi. "Aku berangkat kerja sendiri," ucap Dara, sambil memakai sepatu.

"Gue anterin, Ra," ucap Dino. Lelaki itu mendekati sang istri yang berjongkok untuk memakai sepatu. "Tunggu gue pakai baju dulu!"

Gadis itu tidak menjawab, kemudian berdiri dan menatap suaminya. "Aku berangkat sendiri. Kalau makan, itu aku udah goreng telur dadar."

Dara hendak pergi, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Dino membuatnya berbalik badan. "Gak! Gue anterin!" seru Dino, penuh penekanan. "Tunggu bentar." Lalu, Dino berlari ke kamar untuk bersiap.

Memakai baju dengan cepat, kemudian menyemprotkan sedikit minyak rambut dan menyisirnya. Dino menatap tampilan dirinya di kaca, terlihat sudah rapi. Lalu, bergegas ia mengambil jaket yang berada di kasur dan pergi keluar kamar.

Dino mematung di tempat, maniknya membulat karena tidak mendapati keberadaan sang istri di sana. Dino melangkah cepat keluar rumah. Namun, Dara tak terlihat. Dino berlari, menyusuri jalan mencari Dara yang dia pikir belum jauh dari area perumahan.

Helaan napas panjang keluar dari bibir Dino. "Semarah itu lo sama gue, Ra?" gumam Dino. Lalu, ia melangkahkan kakinya dengan pelan kembali ke rumah.

Dino menatap telur dadar di atas piring yang tadi Dara masak untuknya. Lalu, ia mengambil nasi dan kembali duduk di kursi. "Meski lo marah, lo masih peduli, Ra," kata Dino. Senyuman tipis terukir di wajah Dino. "Maaf, gue udah buat lo kecewa."

Dino menyadarinya, bahwa ini semua sepenuhnya kesalahannya. Dia sudah mengatakan sebuah janji untuk tidak balapan, tetapi ia ingkar. Lalu, diri itu sudah mengatakan kebohongan. Pantas saja jika Dara marah besar seperti ini.

...🦕...

Hari ini, terasa begitu berbeda bagi Dara. Ia tidak bisa fokus dengan pekerjaan dan melakukan banyak kesalahan. Gadis itu berganti pakaian karena jam kerjanya telah usai. Ia berjalan untuk pulang, melewati rak dengan setumpuk produk. "Aku nggak usah minta jemput Dino, deh," gumam Dara.

Langit sore membuat Dara mendongak sejenak, ia melihat matahari condong di sebelah barat. Lalu, Dara melangkahkan kaki dengan kepala yang menunduk menatap sepasang sepatu.

Dia begitu kosong dengan tatapannya. Bahkan, ia sampai tidak sadar, bahwa dia melewati Dino yang duduk di atas motor di parkiran. "RA!" teriak Dino karena Dara terus berjalan. Dara yang terkejut, segera mengehentikan langkah kakinya, kemudian menoleh dan mendapati Dino menjalankan motornya mendekati.

"Ngapain di sini?" tanya Dara, dengan ketus. Dia menatap tajam ke arah Dino, suaminya itu hanya melemparkan senyum tipis mengejek.

"Kalau jalan itu jangan ngelamun!" tutur Dino.

Dara tak acuh. Alisnya saling bertautan, kemudian mendengus kesal dan beranjak pergi. "RA! Kok gue ditinggal, sih!" Dino menyusulnya dengan motor. "Ayo, naik!" Namun, Dara tak kunjung menghentikan langkahnya.

Lelaki itu terus mengikuti langkah kaki istrinya sambil memanggil namanya, berusaha untuk menghentikan Dara. Namun, Dara benar-benar tidak menggubrisnya. "Ra, berhenti, Ra!" seru Dino.

Dino sudah kehabisan kesabaran, ia membanting stir dan berhenti mendadak di depan Dara, membuat gadis itu menabrak Dino.

Dara memegangi lututnya yang tertabrak motor Dino, sambil mendesis kesakitan. "Mampus! Siapa suruh nabrak," celetuk Dino, kemudian menertawai istrinya.

Dara mengerut kesal, bibirnya maju, kemudian ia memukul lengan Dino dengan keras. "Ngeselin!" bentak Dara. Gadis itu mengusap matanya yang berair, napasnya sesenggukan.

"Kok nangis sih, Ra." Dino mencoba mengusap air mata yang menetes dari manik Dara, tetapi gadis itu menepis tangannya dengan cepat. "Serem banget lo kalau marah, Ra," seloroh Dino.

Lagi dan lagi, Dara memukul lengan Dino dengan keras berulang kali. Hidung Dara memerah, pipinya basah karena air mata. Sedangkan Dino, lelaki itu hanya menarik kedua sudut bibirnya melihat istrinya. "Udahan nangisnya! Udah!" ujar Dino dengan lembut.

"Pulang, yuk!" ajak Dino. Dara tidak menjawab, ia hanya menunduk. Lalu, jemari Dino berjalan di pipi Dara dan mengelap air mata dari sana. "Ingus lo mau keluar, Ra."

Dara sontak menatap tajam Dino. Wajahnya merah karena marah sambil menangis.

"Udah! Ayo, pulang!" Lalu, Dara terpaksa ikut dengan suaminya yang menyebalkan itu. "Pegangan!" pinta Dino, ketika Dada sudah berada di boncengan motornya.

Tangan Dara bergerak, mencengkram di pinggang Dino.

Setelah itu, Dara belum keluar dari kamar lagi. Terakhir Dino melihat istrinya, ketika gadis itu selesai mandi. Dino berusaha masuk, tetapi Dara mengunci pintu dan tidak menyahuti teriakan suaminya dari luar.

Dino yang sudah lelah akan permusuhan ini, ia berinisiatif untuk membujuk istrinya dengan hal romantis. "RA, GUE MASAKIN BUAT MAKAN MALEM, YA!" teriak Dino. Tidak terdengar sahutan dari kamar.

Dengan semangat, Dino menyiapkan bahan masakan. Tidak bisa memasak, Dino mendapat bantuan dari google. "Enak atau gak, itu urusan nanti. Yang penting gue mau berusaha," ujar Dino. Lalu, ia mulai mengikuti arahan resep yang dilihat di layar ponselnya.

Di dalam kamar, Dara curiga karena terdengar suara berisik dari luar. Dia mengerutkan kening mendengar pekikan Dino yang sepertinya sedang menggoreng ikan. Namun, Dara kembali fokus dengan novel di tangannya. "Terserah dia mau apa," katanya.

Dino sangat bersemangat menggoreng ikan, entah jenis ikan apa karena bentuknya sudah tidak terlihat karena menempel di wajan dan dagingnya hancur. Namun, Dino masih berusaha untuk menggorengnya agar matang. "Gue tinggal potong kentang dulu, deh. Nanti kalau mateng, pasti kecium baunya," ucapnya.

Kentang dengan potongan kecil, Dino taburi dengan garam. Lalu, ia mencampurinya dengan tepung terigu. "Pasti enak, nih." Dino mengaduknya hingga permukaan setiap potong kentang tertutup tepung berwarna putih. "Ikannya udah mateng, kayaknya. Udah bau soalnya," gumam Dino, yang masih sibuk dengan kentang.

Lelaki itu berbalik badan, menuju kompor yang menyala dengan wajan di atasnya. Namun, pandangan Dino masih tidak beralih dari mangkok berisi kentang di tangannya. Senyuman lebar Dino menghilang seketika. "Kok?"

Ikan itu menempel di wajan, tidak tersisa sedikitpun minyak di sana. Tampilannya gosong berwarna hitam dan dagingnya hancur. Kepulan asap muncul dari wajan. Lalu, Dino mengambil baskom dan diisinya dengan air. Tanpa meletakkan kentang, kedua tangannya terisi.

Sialnya, air yang dituang ke wajah malah membuat asap semakin keluar banyak. "ARGH! RA! TOLONGIN GUE, RA!" Saking terkejutnya, mangkok berisi potongan kentang itu jatuh berserakan ke lantai. "Loh?" Matanya terbelalak.

Dara yang mendengar teriakan itu, ia bergegas keluar dari kamar. Betapa terkejutnya Dara melihat kondisi dapur berantakan. "No, kamu ngapain, sih!" Dara menggerutu.

Dara mendekati Dino, berdiri di sampingnya. Ia melihat kompor yang mengeluarkan banyak kepulan asap. Lalu, Dara segera mematikan kompor yang masih menyala itu. "NO! APA-APAAN, SIH!" Gadis itu mengedarkan matanya, mendapati kentang berserakan mengotori lantai.

"Gue mau masakin lo, Ra," kata Dino.

"KENAPA SIH, NO!" bentak Dara. Bentakannya begitu keras hingga membuat Dino menundukkan kepalanya. Dara melihatnya, kemudian ia mengigit bibir. "Kacau." Dara menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

Gadis itu menahan tawa melihat suaminya. Bayangkan saja jika rumah kebakaran karena Dino sedang memasak. "No, jangan coba-coba lagi, deh!" ujar Dara.

"Ra, maafin gue. Gue tahu lo marah sama gue. Gue janji gak akan ngulangin kesalahan yang sama," kata Dino, memohon dengan suara lirih.

"Kamu mau coba kesalahan yang lain?"

"Gak gitu, Ra."

Wajah melas dan mata berair Dino membuat Dara iba. Lelaki itu menangis di depannya. "Bersihin semua sampai bersih! Aku udah capek, No," ujar Dara. Lalu, ia melenggang pergi ke kamar meninggalkan Dino yang semakin melas ketika melihat dapur hancur karenanya.

...🦕...

POV:

...HOT NEWS!...

...SEBUAH RUMAH KEBARAKAN KARENA SUAMI NGOTOT MASAK UNTUK MEMBUJUK ISTRI YANG SEDANG MARAH!...

Mahen berkata, "Si Bos bisa salah juga."

Hamid menambahi, "Udah masuk club STI. Suami takut istri."

"Galakan istrinya daripada si bos sekarang," kata Darwin.

(dunia lain.)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!