NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 4 bagian 1

Setelah kejadian malam itu polisi disibukan dengan berbagai macam hal. Patroli dilakukan lebih sering dari biasanya dan berbagai macam klinik, toko obat, dan berbagai macam club malam mulai disidak. Hampir di setiap sudut tempat ada penjagaan, membuat situasi terasa sedikit mencekam. Hanya dengan terbongkarnya satu kasus, masalah lain mulai berdatangan dari berbagai arah. Kepolisian benar-benar bekerja ekstra untuk mengatasi semuanya.

Kericuhan terjadi di beberapa tempat setelah berita tertangkapnya pelaku pembunuhan 15 tahun yang lalu. Tidak ada yang tahu pasti apa penyebab utamanya, yang pasti ada beberapa pihak yang terprovokasi setelah adanya berita. Tidak ada satu orang pun yang membayangkan pelaku kejahatan besar itu adalah orang yang sering ada di dekat mereka. Mungkin benar kita harus lebih memperhatikan orang-orang di sekitar kita daripada orang yang tidak kita kenal.

Ridwan memandang berkas laporan di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk. Kesal, marah, lega dan mungkin sedikit kekecewaan. Ia masih tidak percaya kasus yang telah mangkrak selama 15 tahun akhirnya selesai dalam semalam. Ia adalah polisi yang terlibat langsung dalam tragedi pembunuhan 15 tahun yang lalu, namun dia bahkan tidak bisa memberikan kesaksian dengan benar. Saat itu ia sangat bersi keras mengatakan bahwa wanita yang dicekik oleh residivis itu adalah korban, namun pada faktanya dia adalah pelaku yang sesungguhnya. Padahal sudah jelas bahwa data forensik menunjukkan wanita itu telah mati 2 jam sebelum ia masuk.

Semua yang dikatakan oleh anak SMA itu benar, semuanya terbukti. Tulang yang dijadikan gelang oleh kedua tersangka asli memang bagian tubuh yang hilang, tes DNA dari gadis bernama Yulia itu juga cocok dengan DNA korban. Itu artinya dia memang bayi yang hilang, selama 15 tahun mereka masih berpikir kalau bayi itu tidak terlibat dalam hal keji ini. Namun siapa yang menyangka selama 15 tahun hidupnya, ia dibesarkan oleh orang yang membunuh keluarganya untuk dijadikan tumbal. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan gadis itu saat ini meski ia tampak selalu menerima keadaan.

Polisi telah mempublikasikan setiap pernyataan yang tertera dalam dokumen lama milik Dokter Stevani, dan siapa yang menyangka pelaku benar-benar mengatakan apa yang mereka perbuat tanpa penyangkalan. Sepertinya mereka terlalu gila karena anak kandung yang mereka sayangi ternyata dibunuh oleh orang yang mereka anggap murid.

Mungkin jika dulu ia bisa lebih teliti, ia tidak akan mengulur waktu 15 tahun untuk menangani kasus ini. Ia tidak akan dipindah tugaskan atau turun jabatan jika kasus itu selesai lebih cepat. Ah, dia lupa sesuatu. Bukan dia yang menangani kasus ini. Bima dan Andi lah yang telah menyelesaikan kasus ini, meski dengan bantuan seorang masyarakat sipil yang berstatus siswa SMA. Dari mana Bima tahu ada anak yang sepintar ini? Ia lebih pintar dari penyidik yang pernah ia temui.

Meski Bima berkata dia dapat membantu kasus karena ia bisa melihat hantu, ia yakin pemikiran Daniel ini tidak sesederhana itu. Ia tidak melibatkan satu pun unsur supranatural dalam penyelidikannya, tidak seperti dukun atau anak-anak indigo lainnya yang hanya mengatakan melihat sosok mahluk gaib di suatu tempat. Penjelasan dan buktinya benar-benar dapat diselidiki oleh penyidik, bahkan pendapatnya pun terdengar begitu mudah dilogika oleh semua orang.

Suara ketukan pintu membuyarkan semua lamunan Ridwan.

“Masuk, pintunya tidak dikunci”

Begitu pintu dibuka asap rokok masuk ke dalam ruangan, dan setelah itu Bima terlihat dari balik pintu. Tubuhnya yang besar membungkuk, matanya tampak berbayang dan janggutnya terlihat lebih kasar dari sebelumnya. Dia terlihat sangat berantakan, jika dilihat sekilas ia tampak seperti beruang madu yang kelaparan. Sudah 2 hari ia tidak pulang ke rumah, jadi hal yang wajar tampak kelelahan.

“Pak Tua, aku perlu pulang dan beristirahat. Sampai kapan kau akan menyiksaku dengan berbagai macam tugas ini? Kepolisian punya begitu banyak personil, mengapa kau tidak menugaskan mereka untuk turun lapangan?”  ucap Bima. Ia bersandar pada pintu yang terbuka sepenuhnya dan menghirup rokoknya seperti ia menghirup udara.

“Berhenti merokok di hadapanku, aku sedang berusaha menghentikan kebiasaan merokok ku” ucap Ridwan sedikit kesal. Ia mengalihkan pandanganya ke dokumen yang ada di hadapannya. Namun ia tidak membacanya sama sekali, sejak satu jam yang lalu tidak ada satu pun kalimat yang berani ia baca.

“Kalau mau berhenti tinggal berhenti, apa urusannya dengan rokokku? Berhenti mengalihkan perhatian dengan membaca dokumen itu, sebanyak apa pun kau coba baca keterangannya tidak akan pernah berubah. Kau juga perlu disalahkan karena memberi kesaksian palsu mungkin kasusnya tidak akan jadi sepanjang ini” ucap Bima tanpa rasa bersalah.

“Tentu saja ada. Jika aku melihatmu merokok aku akan tertarik untuk melakukannya, dan itu akan membuat usahaku selama beberapa bulan ini hangus. Dan untuk kasus ini, aku tidak memberikan kesaksian palsu. Aku hanya tidak pernah berpikir kalau akan ada peristiwa lain di hari itu” jawab Ridwan. Suaranya memelan di ujung kalimat.

Bima memperhatikan Ridwan yang kini tampak berpikir serius. Mungkin dalam sudut hatinya ia tengah menyalakan dirinya sendiri, ia tidak tahu. Ia tidak berada di posisi Ridwan jadi ia tidak tahu bagaimana situasi TKP sebenarnya. Ini menjadi topik pembicaraan yang tidak tepat untuk saat ini, ia sangat lelah dan perlu tidur dengan nyaman.

Ia mematikan rokoknya pada pot bunga yang ada di dalam ruangan.

“Jika memang seperti itu, mengapa saat itu kau tidak pernah mengingat orang yang memukulmu? Lalu mengapa kalian tidak mempublikasikan hasil temuan tim forensik? Itu membuat begitu banyak masalah” ucap Bima. Ia memandang langsung pada Ridwan, hal yang tidak pernah ia lakukan. Meski mereka berteman, dalam ranah kerja mereka adalah atasan dan bawahan, rasa sungkan itu diperlukan.

“Aku juga tidak tahu. Untuk publikasi data, aku hanya mengerjakan apa yang atasan katakan. Mana mungkin aku berani membantah” jawab Ridwan. Ia tidak bisa memandang mata Bima, atau ia akan hancur. Mungkin jika dulu ia bisa melakukan apa yang Bima lakukan kasusnya tidak akan sepanjang ini. 

“Lalu bagaimana dengan dua remaja gila itu? Bisa-bisanya mereka menyiksa orang hanya karena cemburu” Tanya Bima. Ia duduk di kursi yang disediakan di hadapan Ridwan dan memainkan papan namanya.

“Hakim belum memutuskan apa hukuman yang setimpal untuk gadis itu, sedangkan pria itu hanya merekam dan memberi ide seharusnya dia mendapatkan hukuman yang lebih ringan, meski aku tidak menerimanya” jawab Ridwan sambil memejamkan mata.

Belum genap sebulan ia menjabat, ada 2 kasus gila yang harus ia tangani. Pada saat malam kejadian 2 remaja itu sudah diintrogasi oleh polisi, dan mereka sama sekali tidak mengelak. Mereka menjawab apa pun pertanyaan yang polisi ajukan, mereka bahkan menjelaskan bagaimana mereka membunuh Danila, yang notabennya adalah teman mereka.

Namun saat polisi meminta kalung yang Krista pakai ia menolak dengan tegas,

“Jika aku memberikan kalung ini kalian akan memasangkannya kembali ke tubuh Danila, itu tidak boleh terjadi. Arwahnya harus ada di bumi sampai pemimpin menemukan jiwa yang cocok sebagai pasangannya. Aku adalah teman yang baik, dan aku tidak ingin Danila merebut kekasihku. Jadi aku membunuh Danila agar ia punya pendamping. Raja iblis adalah mahluk yang baik hati”

Itu adalah kalimat yang dikatakan oleh gadis gila itu. Namun begitu polisi memberi tahu bahwa Danila adalah putri dari Teguh Santoso, keduanya langsung histeris dan tanpa ragu memberikan kalung itu.

“Kami telah melakukan kesalahan besar, cepat bebaskan jiwa nona muda atau Tuan akan marah. Cepat lakukan!” ujar Krista setelah menangis keras. Dia memberikan kalung itu tanpa banyak berpikir.

Mengapa Krista memanggil Teguh Santoso dengan sebutan Tuan? Sebenarnya siapa dia? Kalimat itu kah yang membuat polisi melakukan penggeledahan di rumah dan tempat kerja pasutri maut itu. Namun yang mereka temukan adalah begitu banyak hal yang tidak terduga. Ada begitu banyak file dan data pembunuhan yang pernah mereka lakukan selama 15 tahun ini. Mereka lebih terlihat seperti algojo daripada manusia.

“Hey, Bima. Sebenarnya siapa remaja itu? Mengapa ia tahu begitu banyak hal?” Tanya Ridwan mencoba mengalihkan pembicaraan. Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan.

“Dia teman keponakanku, orang tuanya adalah seorang pelaku bisnis Atk dan sejenisnya di pusat kota. Aku dengar saat ini mereka juga memproduksi sendiri barang yang mereka jual. Dan untuk mengapa ia tahu banyak hal, bukankah aku sudah bilang dia bisa melihat hantu? Dia tidak ingin orang lain mempercayai itu namun ia membuktikan bahwa mereka benar-benar mencari pertolongan. Pada awalnya aku juga meragukan apa perannya yang sesungguhnya, namun akhirnya aku sadar dia tidak terlibat. Dalam beberapa kasus terakhir ia hanya dimintai tolong oleh temannya, siapa yang menduga itu akan mengungkap begitu banyak kasus” jawab Bima.

Ia kembali mengambil rokok dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. Ia menyulut satu rokok, menghirupnya dan menghembuskannya seperti kereta. Ruang itu seketika penuh dengan asap rokok.

“Kau sempat mencurigainya juga?”  Tanya Ridwan terkejut.

“Tentu saja. Dalam kasus pertama aku punya sudut pandang yang sama dengan apa yang kau lihat. Dia tahu terlalu banyak dan orang yang tahu banyak hal biasanya terindikasi sebagai pelaku. Namun pada akhirnya aku sadar tidak ada alasan baginya untuk melakukan hal itu. Dia hanya ingin membantu” jawab Bima.

Ridwan yang memperhatikan bagaiman cara Bima merokok akhirnya tidak tahan juga. Ia segera merebut sekotak rokok yang masih ada di meja dan membakarnya begitu saja.

“Benteng pertahanan yang tidak berguna”  dengus Bima.

Ridwan tidak menjawab ejekan itu, ia malah mengalihkan pembicaraan.

“Lalu bagaimana dengan gadis itu?”

Ridwan adalah orang yang membawa Yulia ke rumah sakit. Dia juga orang yang harus menjelaskan apa yang terjadi. Meski Yulia tampak seperti gadis yang tegar, ia yakin saat itu ia sangat ingin menangis.

“Sudah kembali ke sekolah. Minggu depan akan ada ujian tengah semester jadi dia cukup sibuk dengan pembelajarannya. Pihak sekolah menerima siswa itu sebagai anak berprestasi dan saat ini diperbolehkan tinggal di asrama. Pihak kepolisian dan catatan sipil pun berusaha untuk memulihkan data anak itu” jawab Bima.

“Sungguh kasian, dia dibesarkan seperti kambing kurban” sahut Ridwan pelan.

“Jika pasutri gila itu adalah penganut satanik, maka kamu tidak bisa menyebut anak itu sebagai kambing kurban. Menurut data yang pernah aku baca lord tertinggi dalam satanik itu manusia berkepala kambing. Kalau kau mengorbankannya, siapa yang akan menjadi lord mereka?”  jawab Bima berusaha untuk bercanda. Namun karena sejak awal situasi ruangan sudah sangat berat itu tidak mencairkan suasana, malah semakin memperkeruhnya.

“Syukurlah kalau anak itu baik-baik saja”  desah Ridwan.

Keheningan segera terjadi. Bima tampak akan segera tidur dan Ridwan tidak suka dia tidur di hadapannya, bukan karena apa-apa ia juga mengantuk.

“Untuk pertanyaan pertamamu tentang mengapa aku menyuruhmu bukan orang lain. Kasus yang saat ini terjadi adalah kasus yang besar. Aku kira semuanya akan selesai setelah pembunuhnya ditangkap, namun siapa sangka ini akan merembet ke kasus yang lain. Para personel polisi baru cenderung punya etik kerja lebih rendah dari senior nya, aku hanya tidak ingin mengambil resiko besar dengan menurunkan mereka langsung. Kau tahu sendiri bagaimana cara mereka bekerja” ucap Ridwan setelah beberapa saat terdiam.

Kasus pembunuhan berencana yang terjadi 15 tahun yang lalu. Pelakunya adalah 2 orang yang berkerja sama membangun klinik aborsi, namun setelah ditelusuri lebih dalam tidak ada satu pun janin yang tertinggal di tempat itu. Seolah klinik sesat itu tidak pernah berdiri. Lalu kemana perginya janin-janin itu? Tentu saja diperjual belikan, itu juga yang menjawab pertanyaan mengapa pelaku sangat kaya. Dari olah TKP ditemukan banyak beda yang berkaitan dengan satanik, dan menurut beberapa sumber janin-janin itu adalah bagian utama dalam upacara seperti itu.

Jika kepolisian mempublish semua hal yang berkaitan dengan kasus ini, mungkin 1 halaman koran tidak akan cukup untuk memuat datanya. Ini benar-benar rumit dan panjang dan kemungkinan besar juga akan menyeret begitu banyak nama. Beberapa platform berita telah mengungah begitu banyak data tentang bisnis jual beli organ atau manusia itu sendiri, membuat suasana yang tidak kondusif semakin kacau. Jika orang yang tidak tepat diturunkan untuk mengatasi kasus, kemungkinan besar jumlah kasus akan semakin bertambah.

“Kau memujiku untuk memperbanyak pekerjaanku, pak tua kau sungguh luar biasa” ucap Bima semakin kesal. Ia keluar dari ruangan itu dengan bantingan pintu yang keras.

Selama 2 hari Bima hanya tidur kurang lebih 3 jam, dan kepalanya kini terasa sangat pening dan pandangan nya mulai berkunang-kunah.Siapa yang menyangka kasus ini akan merembet kemana-mana? Aborsi ilegal, jual beli janin, pengedaran benda-benda terlarang hingga kasus satanik. Kepalanya hampir meledak. Jika gajinya tidak naik bulan ini, ia akan dengan senang hati membakar tempat ini.

Dia membuka pintu dengan suara ‘brak’ yang keras, membangunkan Andi yang terlelap sejak 30 menit yang lalu. Keadaannya tidak jauh berbeda dengannya, bahkan jauh lebih parah. Ia tampak seperti orang yang hampir sekarat. Pipinya semakin tirus dan wibawanya hilang dalam sekejap mata.

“Bagaimana pak?” tanyanya tanpa semangat.

“Kita bekerja dengan baik”  jawab Bima.

“Apa artinya itu?”

“Artinya kita akan menginap hingga 2 hari ke depan."

Andi benar-benar lemas mendengarnya. Siapa yang menyangka di awal karirnya sebagai polisi dia akan menerima kasus sebesar ini. Padahal pada awalnya ia tidak berharap akan terlalu berguna, namun sayangnya semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya. Tampaknya menyusun berkas perkara akan menjadi salah satu keahliannya saat ini.

 

 

1
humairoh anindita
terima kasih sudah mampir, siap kakak.
ysl
kenapa kyanya namanya kebolak balik ya jadi bingung... ini Sora apa Hani?
humairoh anindita: terima kasih atas koreksinya ya, itu Hani.
total 1 replies
Rahmawaty24
Lanjut thor sumpah ceritanya bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!