Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Ketukan di Tengah Malam
Tengah malam.
Jam dinding di kamar Kiara menunjukkan pukul 01.38.
Dan seperti dua jam sebelumnya—
ia masih terjaga.
Ironis sekali.
Dulu, begadang adalah hal yang menyenangkan. Headset di telinga, layar laptop menyala, jari lincah menekan tombol keyboard, adrenalin naik karena pertandingan online. Kalau kalah, tinggal bilang “last match” lalu lanjut lagi sampai subuh.
Sekarang?
Kiara berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Tidak ada musik. Tidak ada layar. Hanya pikirannya sendiri yang berisik.
Overthinking level nasional.
“Lucu ya,” gumamnya pelan. “Dulu kurang tidur karena game. Sekarang kurang tidur karena mikir.”
Sky melayang di atasnya, posisinya seperti orang rebahan di udara—tangan disilangkan di belakang kepala, kaki sedikit ditekuk, menatap langit-langit juga meski jelas-jelas tidak butuh.
“Kamu sudah naik level,” komentar Sky santai.
“Level stres,” balas Kiara datar.
Sky tertawa kecil. “Prestasi juga itu.”
Kiara mendengus. Ia memiringkan badan, menarik selimut sampai dagu. Matanya terpejam, tapi otaknya tetap bekerja.
Bayangan mata merah itu.
Cakar hitam di leher Bima.
Geraman rendah yang seolah masih bergaung di telinganya.
“Berhenti,” bisiknya pada diri sendiri.
Sky menurunkan tubuhnya sedikit, melayang lebih dekat ke ranjang. “Kalau kamu terus maksa tidur, kamu malah makin nggak bisa.”
“Aku tahu,” jawab Kiara. “Tapi aku juga nggak mau mikir.”
“Pikiran kamu keras kepala,” kata Sky. “Mirip kamu.”
Kiara membuka satu mata. “Kamu belain aku atau nyindir?”
“Dua-duanya.”
Kiara hendak membalas ketika—
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pelan terdengar dari arah jendela.
Tubuh Kiara langsung menegang.
Semua rasa kantuk yang nyaris datang menguap seketika.
Ia menoleh perlahan ke arah jendela. Tirai tipis sedikit bergerak, tertiup angin malam.
Kamarnya berada di lantai dua.
Tidak ada balkon.
Tidak ada tangga luar.
Hanya ada dua kemungkinan.
Yang mengetuk itu bukan manusia—
Atau…
Pikiran Kiara terhenti saat suara familiar terdengar dari luar.
“Kia…”
Nada itu pelan, setengah berbisik.
“Buka jendelanya, aku ada bawain martabak.”
Kiara memejamkan mata.
Lalu membuka lagi dengan ekspresi datar.
Atau…
orang gila.
Sky menoleh ke arah jendela, lalu ke Kiara. “Itu… Aditya?”
“Sayangnya, iya.”
Kiara bangkit dari tempat tidur, melangkah ke jendela, lalu menariknya terbuka.
Dan benar saja.
Aditya tergantung di luar, satu tangan mencengkeram pinggiran jendela, kaki berpijak di tonjolan tembok yang bahkan Kiara sendiri tidak yakin cukup kuat. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya kusut, dan di satu tangan lainnya…
Kotak martabak.
“Kakak ngapain masuk lewat jendela?” tanya Kiara datar.
Aditya tersenyum lebar. “Surprise?”
“Kan bisa ketok lewat pintu,” lanjut Kiara.
“Kalau lewat pintu kurang dramatis, Ki,” jawab Aditya santai. “Lagian dari dulu aku pengen banget nyoba manjat begini. Biar kayak Spiderman.”
Kiara menatapnya dari atas ke bawah.
Lama.
“Kakak jauh lebih mirip cicak sekarang.”
Sky yang melayang di samping jendela langsung tertawa terbahak-bahak.
“HAHAHA—CICAK!”
Aditya terkejut. “Eh? Kamu denger ada yang ketawa gak sih?”
Kiara refleks menoleh ke Sky. “Diam.”
Sky menutup mulutnya, masih tertawa. “Maaf. Tapi itu lucu banget.”
Aditya menggeram pelan. “Enak aja. Cakep-cakep gini disamain sama cicak.”
Ia berusaha naik sedikit, tapi malah terpeleset. “Eh-eh-Ki! Tolongin napa! Jangan diem aja!”
Kiara menghela napas panjang. Dengan malas, ia meraih lengan Aditya dan menariknya masuk.
Prosesnya tidak elegan.
Sedikit tarik-menarik.
Sedikit hampir jatuh.
Dan akhirnya-
BRAK.
Aditya berhasil masuk, tapi mendarat dengan posisi setengah tersungkur di lantai kamar Kiara.
“Selamat datang di rumah,” kata Kiara datar.
Aditya bangkit, menepuk-nepuk celananya. “Kamu nggak punya karpet ya? Kamar kok horor begini.”
“Keluar aja lagi,” balas Kiara.
Aditya nyengir. Ia meletakkan kotak martabak di meja belajar Kiara. “Nih. Martabak manis.”
“Cewek biasanya kalau lagi nggak mood doyan yang manis-manis.”
Kiara menatap kotak itu. Lalu menatap Aditya.
“Tapi aku nggak suka manis, Kak.”
Aditya melongo.
“…Hah?”
“Aku lebih suka asin,” lanjut Kiara tenang.
Aditya menunjuknya pelan. “Fiks. Kamu cewek jadi-jadian.”
Sky tertawa lagi. Kali ini sampai hampir terguling di udara.
“AKU SUKA DIA,” kata Sky antusias.
Aditya mengusap wajah. “Tolong bilang itu bercanda.”
Kiara duduk di tepi ranjang. “Makasih martabaknya.”
“Sama-sama,” jawab Aditya. “Walaupun aku merasa dikhianati secara gender.”
Kiara membuka kotak martabak. Aroma cokelat dan keju memenuhi kamar. Ia mengambil satu potong kecil, menggigit sedikit.
“…Lumayan.”
Aditya mendengus puas. “Nah, gitu dong.”
Ia melirik Kiara. “Kamu nggak tidur?”
“Belum.”
“Mikir?”
“Lumayan.”
Aditya terdiam sebentar. Lalu duduk di kursi belajar Kiara dengan posisi terbalik, dagu bertumpu di sandaran. “Tentang temen kamu?”
Kiara tidak langsung menjawab.
“Itu berat, ya?” lanjut Aditya lebih pelan.
Kiara mengangguk kecil.
Aditya menghela napas. “Aku nggak tahu detailnya. Tapi kalau kamu butuh orang buat diem bareng, aku ada.”
Sky menatap Aditya lama. “Dia lebih peka dari yang aku kira.”
Kiara melirik Sky sekilas, lalu kembali ke Aditya. “Kakak nggak takut ketahuan Tante?”
Aditya tersenyum miring. “Kalau ketahuan, paling disuruh turun. Worth it.”
Kiara menggeleng pelan. Untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang hangat di dadanya.
Mereka makan martabak dalam diam beberapa menit. Tidak canggung. Tidak perlu banyak kata.
Aditya tiba-tiba berkata, “Eh, Ki.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari kamu ngerasa sendirian banget…”
Kiara menoleh.
“Jangan sok kuat sendiri,” lanjut Aditya. “Kamu bukan sendirian di rumah ini.”
Kiara terdiam.
Sky menatap Kiara dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Dan,” tambah Aditya sambil berdiri, “kalau ada apa-apa yang bikin kamu takut… bilang. Walaupun aku nggak ngerti, aku bisa denger.”
Kiara menelan ludah.
“Makasih, Kak.”
Aditya tersenyum lebar. “Nah, gitu dong. Sekarang aku turun sebelum cicak beneran jatuh.”
Ia berjalan ke jendela, lalu berhenti. “Eh, satu lagi.”
“Apa?”
“Kalau nanti kamu pengen martabak asin, bilang. Aku beliin.”
Kiara terkekeh kecil.
Setelah Aditya pergi, kamar kembali sunyi.
Tapi sunyi yang berbeda.
Sky melayang mendekat. “Keluarga kamu aneh.”
“Itu pujian atau menghina?”
“Pujian,” jawab Sky. “Aneh yang hangat.”
Kiara berbaring kembali. Kali ini, matanya terasa lebih berat.
Namun, tepat saat ia hampir terlelap-
Udara di kamar mendadak terasa lebih dingin.
Sky menegang.
“Kiara…”
“Hm?”
“Ada yang dengar kita,” bisik Sky.
Kiara membuka mata.
Di sudut kamar, bayangan tipis bergerak.
Dan hembusan pelan, sangat pelan…
mengalun dari tempat yang seharusnya kosong.